Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Membuat Kecewa


__ADS_3

Kini Livy sudah berada di apartemen Marcho untuk memenuhi panggilan makan malam dengan Nyonya Merry, Milla, dan juga Hizkiel. Sepanjang perjalanan dari kantor menuju ke apartemen, Marcho terus saja mengingatkan Livy untuk berhati-hati memberikan informasi kepada Mom Merry mengingat Mommynya memiliki penyakit asma yang bisa kambuh sewaktu-waktu.


Kali ini Mila sengaja menyiapkan makanan di atas meja dengan posisi table maner sesuai dengan permintaan Mommynya. Tujuannya kali ini tidak lain adalah untuk melihat seberapa pantas Livy untuk menjadi menantu dan juga istri dari seorang pengusaha seperti Marcho.


Tampak berbagai jenis sendok yang di antaranya adalah soup spoon, dinner spoon, dessert spoon, dan coffee or tea spoon. Selain itu, garpu sendiri juga terdapat berbagai macam antara lain dinner fork, dessert fork, fish fork, dan steak fork. Dan yang terakhir adalah pisau yang juga terdiri berbagai macam antara lain dinner knife, steak knife, dan butter knife.


“Kita mulai sekarang ya makan malamnya!” ajak Mommy Merry dan Livy langsung menganggukkan kepalanya dengan santun.


Kini semua mata tertuju pada Livy untuk melihat bagaimana Livy menikmati makan malamnya kali ini. Livy yang sudah terbiasa makan di restoran mewah pun tidak kaget dengan tampilan yang ada di hadapannya. Ia justru sangat merindukan menikmati makan seperti ini karena setelah kabur dari Mansion Utama, tidak sekali pun ia dapat menikmatinya.


Ia pun membuka serbet dan melipatnya dengan bentuk segitiga kemudian meletakkan di pangkuannya. Setelah itu ia mulai meraih alat makan yang tertata di paling ujung terlebih dahulu, karena ia sangat paham jika penataan jejeran alat makan tersebut sesuai dengan hidangan yang disajikan.


Livy juga memegang alat makan tersebut dengan benar dan sangat bersesuaian dengan kebiasaan orang Inggris yang memiliki cara makan lebih simple dalam memakan daging dengan tidak mengganti tangan untuk memegang garpu.


Semua gerak gerik Livy sama sekali tidak luput dari pandangan Mom Merry dan juga Mila. Dari situlah mereka berdua mulai yakin jika Livy memang bukan orang sembarangan. Setelah jamuan makan malam selesai, kini waktunya Livy bercengkerama dengan Mom Merry untuk membicarakan sesuatu.


“Nyonya Merry... Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan!” ucap Livy dengan sangat santun dan tentunya menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami oleh Mom Merry.


“Katakan saja Livy!” ucap Mom Merry.


Livy pun akhirnya mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak sedang hamil. Dan yang dilakukannya di apartemen Marcho tempo hari tidak lain adalah murni kesalahpahaman.


“Saya mohon maafkan saya, Nyonya karena sudah membuat Anda salah paham hingga menuju ke mari!” ucap Livy dengan penuh kehati-hatian.


Hizkiel yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Omanya dengan Livy pun langsung mendekat dan duduk di antara mereka.


"Jadi onty tidak hamil?" tanya Hizkiel yang sudah mendambakan seorang adik.


Livy pun langsung menggelengkan kepalanya, "No, Hizkiel. I'm not pregnant!" jawab Livy.


"Tapi kau akan tetap menjadi mommyku kan dan memberikan adik untukku?" tanya Hizkiel sambil menggenggam tangan Livy.


Kini Livy hanya mampu menekan ludahnya kasar. Entah kenapa suaranya tercekat dan susah untuk menjawab pertanyaan Hizkiel kali ini.


Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tidak ingin menikah secepat ini terlebih dengan seorang duda. Namun di sisi lain, ia tidak ingin membuat anak laki-laki di hadapannya kecewa dengan jawabannya.


"Tentu saja, Hizkiel. Onty Livy akan tetap menjadi Mommy ku sayang!" tukas Oma Merry yang langsung menjawab pertanyaan cucu kesayangannya.

__ADS_1


"Mulai sekarang mulai lah belajar untuk memanggil nya Mommy!" pinta Oma Merry.


"Hai, Mommy!" panggil Hizkiel membuat Livy mau tidak mau mengusap kepala Hizkiel dengan lembut.


Usapan tangan Livy membuat Hizkiel sangat nyaman dan langsung meletakkan kepalanya di atas pangkuan Livy.


"Kau tahu Mommy, aku sangat bahagia sekali karena akhirnya aku bisa mengatakan kepada semua teman-temanku jika saat ini aku memiliki Mommy!" ucap Hizkiel yang seketika membuat mimpi Livy buyar.


Tujuannya untuk menggagalkan pernikahannya dengan Marcho kini jadi berantakan karena apa yang ia dapatkan justru semakin menguatkan jika sebentar lagi ia akan menjadi Istri yang tentunya sama sekali tidak dianggap oleh Marcho.


"Tapi bagaimana jika aku tidak bisa menjadi Mommy yang baik untukmu, Hizkiel?" tanya Livy.


"Kenapa kau tidak bisa menjadi Mommy yang baik untukku?" tanya Hizkiel balik bertanya.


"Apa kau juga akan seperti Mom Paula yang meninggalkan aku dan Daddy demi karir dan cita-citanya?"


Mata Hizkiel mulai berkaca-kaca dan membuat Livy tidak tahu harus menjawab apa.


Melihat Livy terdiam, Hizkiel pun langsung bangun dari pangkuan Livy dan berlari menuju ke kamarnya dengan raut yang tampak sangat kecewa.


Marcho yang sengaja mendengarkan dan mengintip percakapan mereka dari kamarnya pun langsung mengepalkan tangannya dengan geram.


Marcho yang diselimuti amarah pun langsung keluar dari kamarnya dan segera menarik tangan Livy untuk ikut dengannya.


"Mom, aku harus berbicara dengan Livy," ucap Marcho kepada Mom Merry.


"Oh, silakan saja! Mom juga akan menghibur Hizkiel. Sepertinya ia sedikit sensitif kali ini!"


Mom Merry langsung menuju ke kamar cucunya, sedangkan Marcho langsung menarik tangan Livy sedikit kasar dan membawanya ke dalam kamar.


"Awh! Sakit Tuan!" pekik Livy sambil mengibaskan tangannya yang sedikit memerah.


"Kenapa kau membuat putraku kecewa?!" tanya Marcho dengan nada menggertak Livy sambil terus mengikis jarak antara mereka sampai Livy terpojok di dinding kamar Marcho.


"Bukankah sudah aku bilang, bicarakan dengan baik tanpa harus membuat orang kecewa!" hardik Marcho membuat Livy menelan ludahnya kasar.


Luapan amarah Marcho kali ini membuat nyalinya ciut.

__ADS_1


"Saya hanya bertanya saja karena saya benar-benar tidak ingin menjadi istri anda, Tuan!"


Ucapan Livy barusan ternyata membuat amarah Marcho semakin menjadi-jadi. Tangannya langsung mencengkeram dagu Livy dan menatapnya dengan sangat tajam dan terlihat begitu mengerikan.


"Apa kamu bilang?!" gertak Marcho.


"Kalo memang kamu tidak ingin menjadi istriku, lebih baik aku menghubungi keluargamu untuk segera menjemputmu dan membawamu pulang sekarang juga!"


Deg!


Livy langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Jangan, Tuan. Saya mohon jangan!"


"Oke oke, saya akan menjadi Istri anda dan menjadi Mommy yang baik untuk Hizkiel!" ucap Livy.


"Bohong! Aku benar-benar tidak bisa mempercayai lagi! Berulang kali kau berilah dan membuat masalah denganku!"


"Kali ini saya benar-benar berjanji, Tuan. Dan anda bisa memegang janji saya kali ini!" ucap Livy dengan sungguh-sungguh membuat Marcho langsung melepaskan cengkeramannya.


"Temui putraku sekarang juga dan hibur dia. Jika dia tidak bisa memaafkanmu, jangan harap kau masih bisa bernafas dengan bebas Livy?!" titah Marcho.


Livy cepat-cepat keluar dari kamar Marcho dan menuju ke kamar Hizkiel. Perlahan Livy mendekati Hizkiel yang masih merajuk dan sedang dihibur oleh omanya.


"Mommy tidak bermaksud membuatmu kecewa, Hizkiel. Mommy hanya bertanya saja tadi. Tapi, Mommy berjanji akan belajar menjadi Mommy yang terbaik untuk Hizkiel!" ucap Livy sambil mengusap kepala Hizkiel.


"Benarkah?" tanya Hizkiel dengan mata yang berbinar.


Livy pun langsung menyunggingkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja, Hizkiel sayang. Mulai sekarang kau bisa meluahkan semua keluh kesahmu dengan Mommy!" ucap Livy.


Hizkiel langsung memeluk Livy dengan sangat erat. Akhirnya apa yang selama ini ia inginkan pun terwujud.


Sedangkan Livy hanya bisa pasrah dengan apa yang kini akan terjadi ke depannya.


'Selamat datang di kehidupan baru mu, Livy. Kali ini kau menikah hanya untuk menjadi Mommy tanpa tahu kapan berakhirnya semua ini!' batin Livy sambil membalas pelukan Hizkiel.

__ADS_1


 


__ADS_2