Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Gagal Tautan


__ADS_3


Sesampainya di kantor, Livy langsung menuju ke ruangan kerjanya yang lama. Namun cepat-cepat Marcho langsung mengamit lengan Livy dan menariknya untuk ikut dengannya.


“Mau kemana kamu?” tanya Marcho sambil menatap manik mata Livy.


“Balik ke ruang kerja saya, Tuan!” jawab Livy yang langsung disentil keningnya oleh Marcho.


Ctak!


“Aduh, sakit Tuan!” keluh Livy sambil mengusap dahinya.


“Ruang kerja kamu ada di ruang kerja saya!” tegas Marcho.


“Tapi kan meja di ruang Tuan hanya ada satu!” balas Livy lagi mengingat tadi ia terpaksa mempersiapkan bahan meeting di meja kerja milik Marcho.


“Lalu apa masalahnya?”


“Bukankah kita memang sudah mulai terbiasa untuk berbagi ruang bersama?”


Penuturan Marcho barusan membuat Livy mengernyitkan dahinya. Entah kenapa baru 3 hari menikah dengan Bosnya Livy semakin tidak paham dengan pria yang satu ini.


“Aku tidak mau kau tiba-tiba melarikan diri lagi, Livy!” lanjut Marcho kemudian.


Kali ini Livy memilih diam daripada ujung-ujungnya nanti ia kehilangan kesabaran menghadapi Marcho yang terus saja berubah-ubah sikap terhadapnya. Kadang dingin, ketus, kadang juga hangat.


Namun entah kenapa Livy mulai menikmati setiap Marcho mulai mengabsen bibirnya.


‘Ups! Seharusnya aku tidak memikirkan tentang hal ini!’


‘Sadar, Livy! Sadar!’


‘Tuan Marcho hanya menghukummu dan tidak sungguh-sungguh menciummu. Dia juga hanya menjadikanmu Ibu untuk Hizkiel!’


Livy terus saja merutuki dirinya sendiri dalam hati sampai pintu lift terbuka dan kini mereka tiba di depan ruang kerja Marcho.


Namun, baru saja kaki Livy hendak melangkah masuk ke ruang kerja ponselnya bergetar dan tampak satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


✉️ +62 821 321xxxx


My Livy, kapan kita bisa bertemu? Aku benar-benar butuh penjelasanmu, sayang. Randy

__ADS_1


Marcho yang masih berdiri di belakang Livy, tidak sengaja membaca isi pesan yang masuk ke dalam ponsel istrinya. Ia pun langsung merebut ponsel Livy dan melewati Livy begitu saja menuju ke dalam ruang kerja.


Melihat Marcho mulai mengusik privasinya, Livy langsung mengejar langkah Marcho untuk merebut kembali ponsel miliknya.


“Tuan Marcho!” pekik Livy dengan suara yang cukup memekakkan telinga.


“Kembalikan ponsel saya!” tangan Livy langsung menengadah di depan Marcho.


“Aku akan membelikanmu ponsel yang baru! Sekarang kembalilah bekerja, Livy!” titah Marcho yang sama sekali tidak ingin mengembalikan ponsel milik Livy.


“Tidak, sebelum Anda mengembalikan ponsel saya!” balas Livy dengan tegas dan sorot matanya yang terlihat begitu tajam.


“Kau mulai berani lagi melawanku, hah! Apa kau tidak takut aku kembalikan pulang ke rumah Mamamu!” ancam Marcho agar Livy merasa takut.


Sayangnya ancaman Marcho kali ini membuat Livy tidak takut sedikit pun.


“Pulangkan saja, Tuan. Kalau bisa secepatnya. Saya yakin, Randy pasti akan menerima status saya yang janda!” balas Livy membuat Marcho naik pitam.


Ia pun langsung mengikis jaraknya dengan Livy sambil memandang netranya dengan intens.


“Apa kau masih mencintai, Randy?” tanya Marcho yang langsung diangguki kepala oleh Livy.


“Kalau kau memang masih mencintainya? Untuk apa kau justru meninggalkannya satu tahun yang lalu?”


“Itu privasi saya, Tuan! Dan Anda sama sekali tidak berhak untuk mengetahui semua itu!” balas Livy.


Marcho semakin geram dengan jawaban Livy barusan.


“Kalo begitu ambil saja ponselmu di saku celanaku!” tantang Marcho membuat Livy menelan ludahnya kasar.


Pandangan Livy turun ke arah celana Marcho dan seketika tubuhnya sedikit  gemetar. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan kini menari-nari di kepalanya.


‘Oh My God! Ini benar-benar gila! Bisa-bisanya aku mulai membayangkan hal yang tidak-tidak!’


‘Milik Tuan Marcho begitu terlihat menyembul di ...’


“Hei, saku celanaku Livy!” gertak Marcho membuyarkan lamunan Livy. “ Bukan yang lain!” lanjutnya lagi membuat Livy mulai tergagap.


Sekilas Livy memalingkan wajahnya yang mulai memerah dan mencetak senyuman smirk di wajah Marcho. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Marcho yang semakin mengikis jaraknya dengan Livy.


“Jika kau memang ingin menemui Randy tanpa aku, lebih baik siang ini kita melakukan malam pertama kita yang tertunda, Livy!” bisik Marcho membuat Livy meremang.

__ADS_1


“Sepertinya kau sudah menginginkannya, bukan?” lanjut Marcho lagi yang sengaja menggoda Livy yang wajahnya sudah tampak seperti kepiting rebus.


‘Apa-apaan ini?’ gumam Livy dalam hati. ‘Kenapa wajahku terasa panas hanya karena sikap Tuan Marcho barusan?’


‘Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Seharusnya kedatangan Randy menjadi peluang untukku melepaskan diri dari tawanan Tuan Marcho! Tapi bagaimana dengan Hizkiel?’ batin Livy yang kemudian tersadar dan cepat-cepat menggelengkan kepalanya untuk menjawab tawaran Marcho kali ini.


“Emm, saya akan menemui Randy dengan Anda, Tuan!” balas Livy menolak tawaran Marcho yang hampir membuatnya kesulitan bernafas meski hanya membayangkannya.


“Oke, aku akan mengembalikan ponselmu nanti setelah aku tautkan semua isinya ke dalam perangkat milikku!”


“What?!!” pekik Livy tidak setuju.


“Itu privasi saya, Tuan!” tegas Livy untuk ke sekian kalinya.


“Tapi kau ISTRIKU, Livy! Seharusnya aku mengetahui semua seluk beluk tentangmu! Termasuk dengan siapa kau berhubungan selama ini!” jelas Marcho.


“Kalau begitu, saya juga harus mengetahui semua seluk beluk tentang Anda, Tuan!” balas Livy yang tidak mau kalah dengan Marcho.


Lagi-lagi Marcho tersenyum smirk mendengar ucapan Livy barusan. “Itu hal yang mudah, Livy! Jadilah istriku seutuhnya, maka kau akan mengetahui seluk beluk tentangku! Semuanya!”


“Hisssh, mana ada seperti itu! Ternyata semua laki-laki sama saja! Dia hanya senang mempermainkan wanita sesuka hatinya!”


“Setelah bosan pasti langsung dibuang ke mana pun ia mau!”


“Tidak semua laki-laki seperti itu, Livy!” bentak Marcho tidak terima.


Dengan kesal Marcho pun duduk di kursinya dan siap untuk menautkan isi ponsel Livy ke dalam perangkatnya. Waktu ini pun digunakan Livy dengan sebaik-baiknya.


Perlahan ia mendekati Marcho dan memberanikan diri untuk berbisik tepat di telinganya.


“Jika memang semua laki-laki tidak seperti itu, jangan-jangan Anda sudah mulai jatuh cinta dengan saya, Tuan Marcho?” tanya Livy sambil menyibakkan rambutnya dengan gaya yang terlihat sengaja menggoda Marcho.


Kali ini gantian Marcho yang menelan ludahnya kasar. Jantungnya mulai berdegup tidak karuan sampai ia tidak sadar jika tangan Livy sudah mulai tergerak untuk mengambil kembali ponselnya yang kini ada di atas meja.


Parfum Livy yang mulai ter hidu oleh Marcho membuatnya terlena dengan kedekatan mereka kali ini. Bahkan Marcho juga mulai nyaman dengan keberadaan Livy yang kini ada di sampingnya.


Setelah Livy berhasil mengambil kembali ponsel miliknya, Ia pun segera menjauh dari Marcho untuk bersiap-siap menjemput Hizkiel.


“Maaf Tuan, saya tidak sungguh-sungguh dengan pertanyaan saya barusan! Lagi pula sangat tidak mungkin bukan jika Anda mencintai saya!” lanjut Livy.


“Saya akan pergi menjemput Hizkiel dulu ya Tuan! Selamat menautkan perangkat!” pamit Livy sambil memamerkan ponsel miliknya yang berhasil ia rebut kembali dari meja kerja Marcho.

__ADS_1


“Arrrrgghhh! Sial! Bisa-bisanya dia mengecohku dengan seperti ini!” gerutu Marcho sambil mengusap wajahnya kasar.


__ADS_2