
Kali ini untuk pertama kalinya Marcho membawa mobilnya sendiri tanpa supir pribadi maupun Bodyguard yang diminta untuk selalu menjaga Livy.
Sepanjang perjalanan, Marcho terus saja menggenggam tangan Livy dengan sangat mesra. Kehangatan Marcho membuat Livy sampai tidak sadar jika sebenarnya Marcho tidak mengarahkan mobilnya menuju ke sekolah Hizkiel dan justru membawanya menuju Hotel Mewah di kota tersebut.
“Loh, kok kita malah pergi ke sini sih?” tanya Livy sambil melepaskan tangan Marcho yang sedari tadi menggenggam tangannya dengan mesra.
“Emm, memangnya kenapa sayang?” Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Marcho justru balik bertanya sambil mengedipkan matanya menggoda Livy.
“Kita harus menjemput Hizkiel bukan?” lanjut Livy yang sudah campur aduk tidak karuan mendapati dirinya kini justru dibawa ke salah satu hotel mewah yang sangat terkenal.
“Hizkiel sudah dijemput oleh Omanya dan juga Terra!” jawab Marcho yang sebelumnya memang sudah meminta tolong kepada Mom Merry untuk menjemput Hizkiel.
“La-lalu kenapa kau tidak bilang jika siang ini kita akan menemui klien di sini?” tanya Livy sedikit tergagap.
Livy bukan anak kecil dan dia paham betul apa yang akan terjadi jika sepasang kekasih menuju ke sebuah hotel. Bukan kekasih, lebih tepatnya suami istri untuk menyebutkan statusnya saat ini dengan Marcho.
Terlebih mereka berdua sama-sama baru saja mengungkapkan perasaan mereka yang terpendam selama ini. Sedangkan Marcho hanya tersenyum dan memilih diam untuk tidak menjawab pertanyaan istrinya.
__ADS_1
Merasa diacuhkan, Livy kembali mengulangi pertanyaannya sambil mengikuti langkah Marcho yang kini tengah merangkulnya menuju ke meja resepsionis.
“Siapa yang akan kita temui di sini, suamiku sayang?”
“Bukan menemui seseorang, melainkan mempertemukan sesuatu yang nantinya akan menjadi anak kita!” jawab Marcho sambil berbisik tepat di telinga Livy.
“Haaah?!” suara Livy tercekat tidak bisa berkata apa-apa. Terlebih saat Marcho mulai memesan kamar tipe presidential suite untuk mereka.
“Silakan Tuan Marcho, ini kartu kamarnya.” Resepsionis hotel memberikan kartu kamar hotel ke arah Marcho.
“Kamar yang anda pesan ada di lantai 11!”
“A-apa yang a-akan kita lakukan di sini, suamiku?” tanya Livy yang sedari tadi sudah sport jantung.
“Make a baby, honey!” jawab Marcho yang semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Livy.
“Aku benar-benar sudah tidak mampu menahannya lagi. Bahkan saat mendengar pernyataan cinta darimu, juniorku langsung tegak berdiri dan membuatnya begitu sesak di dalam sana!”
Marcho menunjuk ke arah celananya yang sedikit menggembung dan tentunya membuat wajah Livy langsung merah padam.
__ADS_1
“Ta-ta-tapi a-aku benar benar belum siap!” balas Livy sedikit gemetar melihat hal baru yang ia temui siang ini. Entah bagaimana isinya, yang jelas jika dilihat dari luar saja, milik Marcho begitu menantang.
Livy langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil membayangkan berapa besar milik Marcho yang sebentar lagi akan menerobos gawang pertahanannya selama ini.
“Aku akan melakukannya dengan perlahan dan sangat lembut. Aku berjanji tidak akan membuatmu kesakitan, sayang!” balas Marcho sambil memainkan helai rambut Livy.
“Ta-tapi, apa ini tidak terlalu cepat?” tanya Livy lagi.
Senyum Marcho kembali mengembang dengan sempurna mendapati istrinya yang lebih cerewet dan banyak bicara hari ini.
“Tentu saja tidak! Bahkan bagiku ini terasa begitu terlambat karena aku baru akan mencicipi tubuh istriku setelah sebulan pernikahan kita!” jawab Marcho.
Livy menelan ludahnya kasar karena ia tidak mungkin mengelak lagi dengan apa yang diinginkan oleh Marcho siang ini. Jika setiap pengantin akan membuat kenangan indah di malam pertama mereka, mungkin hal ini sama sekali tidak berlaku bagi Livy. Karena ia dan Marcho justru akan membuat kenangan di siang pertama mereka.
💕💕💕
Skip bentar yaa. Othor kasih iklan dulu
__ADS_1