
Malam harinya, seperti biasa Livy selalu menemani Hizkiel sampai tertidur dan setelah itu ia akan kembali ke kamarnya.
Jika malam sebelumnya Livy kembali saat Marcho sudah terlelap. Kali ini Marcho justru masih terjaga sambil memeriksa beberapa surat elektronik yang masuk ke dalam emailnya.
"Anda belum tidur, Tuan?" tanya Livy sambil melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam sebelas malam.
Marcho hanya menggelengkan kepalanya sambil tetap fokus menatap layar ipad di tangannya.
Livy yang tadinya sudah mengantuk pun akhirnya berbalik lagi keluar dari kamar dan menuju ke pantry untuk membuatkan sesuatu untuk Marcho.
Tak perlu menunggu waktu yang lama, kini Livy kembali ke kamar dengan membawa secangkir teh camomile hangat beserta kue jahe. Livy pun langsung meletakkannya di atas nakas tepat di samping Marcho.
"Terima kasih banyak, Livy. Jika kau tidak keberatan, maukah kau memijit kepalaku?" pinta Marcho yang sedari tadi sore kepalanya sedikit terasa sakit.
"Entah kenapa kepalaku terasa sangat sakit sekali!"
"Emmmh, baik Tuan!" jawab Livy yang bergegas naik ke atas tempat tidur dan siap untuk memijit kepala Marcho.
Marcho pun menikmati teh hangat buatan Livy dan juga kue jahe yang dibawakan untuknya sambil menikmati pijatan Livy di kepala nya.
Badan Marcho yang sedikit lebih tinggi dari Livy membuatnya sedikit kesusahan memijit kepalanya. Akhirnya setelah tehnya habis, Marcho langsung meletakkan kepalanya di atas pangkuan Livy.
"Eh!" Livy sedikit terkejut saat melihat Marcho sudah berada dipangkuannya dan kini tengah menatapnya dari bawah.
"Tidak perlu terkejut Livy! Lakukan saja!" titah Marcho tanpa mengalihkan pandangannya.
Livy pun kembali memijat kepala suaminya dengan sangat lembut membuat Marcho merasa sakitnya sedikit berkurang.
'Hemm, ternyata begini ya nikmatnya memiliki istri. Bisa bermanja-manja dan menikmati pijatan senikmat ini!' gumam Marcho.
'Sudah cantik, pintar memasak, mengurus Hizkiel dengan baik, bahkan pekerjaan di kantor juga beres!'
'Dan kini dia juga mengurusku dengan sangat baik!'
'Ups, Sial! Untuk apa aku memujinya seperti ini!'
'Tidak, tidak! Seharusnya dia tidak perlu mengurusku seperti ini!'
Marcho langsung beranjak dari pangkuan Livy dan kini ia tidur membelakanginya. Lagi lagi Livy kembali terkejut dengan sikap Marcho.
Namun ia sadar diri apa posisinya kali ini. Perlahan ia turun dari ranjang Marcho dan siap untuk tidur di sofa panjang.
"Mau ke mana?" tanya Marcho.
__ADS_1
"Tidur di sofa, Tuan!" jawab Livy.
"Tidak boleh! Kau harus tidur di sini bersamaku!" titah Marcho.
Livy pun akhirnya menurut dan segera menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tidak ada hal apapun yang terjadi di antara mereka seperti malam yang sebelumnya. Bahkan selalu ada pembatas di tengah-tengah mereka berdua.
Namun saat tengah malam, tiba-tiba tubuh Marcho menggigil dan mulutnya terus saja menceracau. Livy pun mengerjapkan matanya perlahan dan mencoba untuk mengecek suhu tubuh Marcho.
"Oh My God, demamnya sangat tinggi!" gumam Livy.
Tanpa menunggu lama lagi, Livy segera mengambil kompres dan segera mengompres kening Marcho.
Livy pun kemudian menuju ke pantry untuk membuatnya sup hangat untuk Marcho beserta dengan minumannya. Tak lupa Livy juga membawakan obat penurun panas untuk Marcho dari kotak P3K.
"Tuan, bangunlah sekejap! Saya akan menyuapi sup hangat untuk anda!" bisik Livy membuat Marcho mengerjapkan matanya perlahan.
"Kepalaku sakit Livy!" keluh Marcho sambil menyandarkan tubuhnya di headboard.
"Sup ini akan mengurangi demam dan sakit di kepala anda, Tuan!" balas Livy yang siap untuk menyuapi Marcho.
Marcho pun menurut, sedikit demi sedikit ia menikmati sup buatan Livy sampai habis tidak bersisa. Setelah itu Livy pun langsung memberikan obat untuk Marcho dan lagi-lagi Marcho menurut dengan Livy.
Perhatian Livy kali ini membuat Marcho merasa sangat nyaman. Hingga tanpa Marcho sadari ia meminta Livy untuk terus mendekap nya sepanjang malam.
"Tapi Tuan... "
"Malam ini saja, Livy!" pinta Marcho sungguh-sungguh dalam alam bawah sadarnya.
Livy yang memegang kening Marcho masih sangat tinggi suhunya, mau tidak mau langsung naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama. Marcho langsung menyingkirkan guling pembatas di antara mereka dan langsung memeluk tubuh Livy.
Kini bukan Livy yang memeluknya seperti apa yang Marcho minta tadi, melainkan justru sebaliknya.
Jantung Livy pun berdegup tidak menentu saat Marcho mendekap nya dengan sangat erat dan lembut. Ia pun merasa sedikit meremang saat hembusan nafas Marcho mulai menyapu tengkuk lehernya.
Livy pun kini benar-benar terjaga semalaman di dalam pelukan Marcho sambil terus mengecek suhu tubuh Marcho secara berkala.
Hingga saat alarm di ponsel Livy berbunyi, Livy pun terlepas dalam pelukan Marcho dan bangun untuk mempersiapkan sarapan dan bekal untuk Hizkiel.
"Morning Livy!" sapa Mom Merry yang baru saja selesai mandi saat Livy sudah selesai membuatkan sarapan.
"Morning, Mom!" balas Livy sambil menata makanan di atas meja.
"Apa Marcho sudah bangun?" tanya Mom Merry menanyakan putranya yang biasanya sudah siap bersama dengan Hizkiel.
__ADS_1
"Emmm, semalam suhu tubuhnya sangat tinggi Mom. Sekarang ia masih beristirahat di kamar." jawab Livy.
"Daddy sedang sakit?" tanya Hizkiel yang baru saja keluar dari kamarnya.
Livy pun langsung menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Hizkiel kali ini.
"Aku akan menjenguk Daddy dan membawakan sarapan untuknya!"
Hizkiel pun mengambil segelas susu hangat dan sepiring sandwich dan membawanya ke kamar daddynya.
Sesampainya di kamar, Marcho yang sudah bangun pun langsung menyambut kedatangan putranya.
"Morning Hizkiel!" sapa Marcho.
"Morning, Dad! Apa yang menyebabkanmu sakit seperti ini?" tanya Hizkiel kemudian,
"Daddy hanya terlalu lelah sayang. Terima kasih sudah membawakan sarapan untuk Daddy!" tutur Marcho yang langsung menikmati susu hangat yang dibawakan oleh Hizkiel.
Hizkiel pun memegang kening Daddynya yang suhunya sudah mulai turun.
"Sepertinya Mom Livy merawat Daddy dengan baik! Buktinya suhu tubuh Daddy sudah normal!" tutur Hizkiel.
"Tapi kepala Daddy masih sangat sakit, sayang. Bisa tidak jika kali ini Oma Merry yang mengantarmu ke sekolah?" tanya Marcho.
"Daddy masih sangat membutuhkan Mom Livy untuk memijit kepala Daddy!" lanjutnya lagi.
"Oke, Daddy! Kalau begitu aku akan memanggil Mom Livy ke mari!"
"Speedy recovery, Daddy!" ucap Hizkiel sambil keluar dari kamar daddynya.
'Ternyata sakitku kali ini cukup menyenangkan. Aku bisa mendapatkan perhatian dari Livy tapa gangguan dari Hizkiel!' gumam Marcho dalam hati.
'Oh My God! Apa yang sedang kau fikirkan Marcho! Sadarlah!' rutuk Marcho sambil menepuk jidatnya sendiri.
Tak lama kemudian Livy pun datang dan mendekat ke arah Marcho.
"Apa anda memanggil saya, Tuan?" tanya Livy.
"Emm, I-iya Livy!"
"Kepalaku terasa sangat sakit, Bisakah kau kembali memijit kepalaku?" tanya Marcho kemudian.
"Tapi Tuan, bukankah saya masih harus mengantar Hizkiel ke sekolah?"
"Hizkiel hari ini biar diantarkan oleh omanya. Dan kau khusus merawatku sampai sembuh Livy!" jawab Marcho.
__ADS_1
"Baik Tuan," jawab Livy sambil menahan kantuknya karena semalaman terjaga.
Perlahan Livy pun naik ke atas tempat tidur dan Marcho pun langsung meletakkan kepalanya di atas pangkuan Livy.