Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Apa alasannya?


__ADS_3


Livy’s Point of View


Ternyata sebahagia ini merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Meski ini bukan pertama kalinya, tetap saja hatiku sangat berbunga-bunga.


Dulu, aku pernah memiliki impian akan menikahi seorang pria tampan yang akan menjadikan aku ratu dihatinya. Merasakan cinta, kasih sayang, dan kehangatan atas segala perhatiannya.


Dan, akhirnya mimpiku terkabul saat ini. Aku tidak menduga jika Tuan kejam yang aku kenal selama ini bisa juga jatuh cinta. Aku fikir dia hanya pria egois yang sama sekali tidak bisa jatuh cinta denganku.


Ternyata aku salah menilainya. Dia bahkan lebih hangat dan romantis dibandingkan kekasihku yang sebelumnya. Aku benar-benar bahagia bisa merasakan keluarga yang lengkap bersamanya.


Mommynya yang penuh kasih sayang, putranya yang sangat manja dan perhatian, dan suami yang tampan yang tentunya membuatku nyaman saat berada di dekatnya.


💕💕💕


Tak lama kemudian terdengar suara protes dari dalam perut Livy karena sedari tadi belum ada sesuap makanan pun yang masuk ke dalam mulutnya.


Marcho pun langsung meminta Livy untuk segera menikmati makan siangnya dan berpindah ke tempat duduknya yang semula.


“Akhirnya aku bisa mendapatkan cinta darimu, Livy.”


“Andai saja kau tahu, awalnya aku benar-benar sangat ragu jika kau juga mencintai aku.” Ucap Marcho yang sudah siap dengan pisau dan garpu di tangannya.


“Ragu?” tanya Livy membalas ucapan Marcho.


“Bagaimana tidak ragu, segala perhatianku selama ini selalu saja kau acuhkan. Bahkan aku selalu melihat kau tidak nyaman saat di dekatku!” balas Marcho yang sudah mulai terbuka dengan Livy.


“Kata siapa tidak nyaman? Aku hanya tidak mau larut dalam perasaanku yang sia-sia belaka karena mencintai Duda tampan yang selama ini menjadikan aku sebagai tawanannya!”

__ADS_1


“Lagi pula apa yang membuatmu jatuh cinta terhadap wanita yang sudah kau tawan ini?” tanya Livy sambil menikmati steaknya yang sudah mulai dingin.


“Tentu saja karena kau istriku!” balas Marcho yang tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Livy.


“Itu bukan alasan yang tepat, suamiku. Bagaimana jika aku tidak menjadi istrimu? Apa kau juga masih akan mencintaiku?”


Pertanyaan Livy barusan membuat senyum Marcho merekah sempurna. “Jika kau tidak menjadi istriku, maka aku akan tetap mencarimu dan memintamu untuk menjadi istriku, Livy!”


“Dih, gombal! Alasan yang tidak masuk akal sama sekali!” gerutu Livy kesal.


“Memangnya kau sungguh-sungguh ingin mendengarkan alasan kenapa aku mencintaimu?” tanya Marcho dengan nada yang menggoda.


Livy pun langsung menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Marcho. Ia memang sangat penasaran apa yang sudah membuat Marcho tampak seperti bertekuk lutut mencintainya.


“Oke, aku akan menyebutkan semua alasanku mencintaimu yang tentunya tidak akan habis satu hari satu malam jika aku menyebutkannya.”


Kali ini Livy terkekeh mendengar penuturan suaminya yang terdengar begitu berlebihan.


“Bahkan kau juga berhasil membuat Mom Merry begitu menyayangimu dibandingkan aku yang nota benenya adalah anak kandungnya sendiri!”


“Yang kedua, aku jatuh cinta dengan paras cantikmu. Mulai dari mata, hidung, pipi, dan bibirmu yang membuat aku sangat ketagihan ingin selalu memagutnya. Terlebih saat kau mulai membuka mulut dan membalas pagutan yang aku berikan!”


Blam! Penjelasan Marcho barusan membuat wajah Livy langsung memerah sempurna seperti kepiting rebus. Ia tidak menyangka jika Marcho akan menuturkan hal seperti ini kepadanya.


“Oke-oke, tidak perlu dilanjutkan lagi!” pinta Livy yang sudah sangat dirundung malu. Sayangnya permintaan Livy kali ini sama sekali tidak diindahkan oleh Marcho.


“Mana bisa dihentikan? Aku akan melanjutkannya sampai akhir, sayang!”


“Dan sekarang alasan yang ketiga, tubuhmu membuatku tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya Livy. “

__ADS_1


Kali ini Livy menelan ludahnya kasar.


“Kau tahu bukan, aku adalah pria normal yang sudah lama tidak pernah menyalurkan hasratku. Meski selama ini aku memilih hidup sendiri untuk mengurus Hizkiel, bukan berarti aku tidak butuh untuk menyalurkan hasratku dengan wanita yang sah menjadi istriku.”


“Sayangnya, setelah pernikahan sahku. Aku tidak kunjung bisa menyalurkan hasratku dengan istri sahku sendiri!” terang Marcho yang sedari awal sengaja membuat Livy semakin kelabakan.


“Emmm, ammm, a-aku sudah tidak ingin mendengarkan alasanmu lagi, sayang. Bukankah kita harus menjemput Hizkiel di sekolah?”


Livy sengaja mengalihkan pembicaraan mereka karena tidak ingin mendengarkan alasan Marcho lebih dalam lagi. Ia langsung mengelap mulutnya dengan tissue saat makan siangnya sudah habis.


“Ayo, kita langsung menjemput Hizkiel!” Ajak Livy. “Aku tidak mau membuatnya menunggu lama!”


“Tapi aku belum selesai menjawab pertanyaanmu sayang!”


“Ti-tidak perlu dilanjutkan lagi!” balas Livy kembali tergagap.


“Baiklah, meskipun begitu aku akan tetap menjelaskannya secara terperinci denganmu apa saja alasan aku begitu mencintaimu, istriku sayang!”


Marcho pun berdiri dan menggandeng tangan Livy dengan mesra. Keduanya kini berjalan beriringan sambil berpegangan tangan tanpa berbicara sedikit pun.


Meski begitu, bahasa tubuh Marcho dan Livy saling berbicara tentang perasaan mereka berdua yang baru saja terungkap. Sesekali Marcho juga mengecup punggung tangan istrinya dengan mesra sampai mereka masuk ke dalam mobil.


 


💕💕💕


 


__ADS_1


 


__ADS_2