
Livy enggan menolak Marcho yang ingin ikut bersamanya. Ia tidak mau banyak berdebat dengan pria yang saat ini sudah sah menjadi suaminya. Kini mereka sudah duduk berdampingan di seat belakang dan Terra, bodyguard Livy juga sudah siap untuk mengemudikan mobilnya.
Tanpa sengaja Marcho melihat kotak bekal Livy yang tadi pagi disiapkan oleh Mom Merry di atas dashboard mobil dan belum sempat di makan sama sekali. Tiba-tiba muncul keinginan Marcho untuk mencicipi breakfast wrap buatan Livy tersebut.
Sayangnya keinginannya harus pupus saat Livy meminta Terra untuk mengambilkan bekal makan tersebut untuknya.
“Terra, bisa kau ambilkan bekal makan milikku yang ada di depan?” pinta Livy yang mulai merasakan lapar karena sedari pagi ia memang belum makan.
“Siap Nona!” balas Terra yang langsung menyerahkan bekal makan milik Livy.
Livy pun langsung membuka bekal makan miliknya dan menikmati sarapannya yang tertunda tanpa menawari Marcho sedikit pun. Sedangkan Marcho hanya mampu menelan ludahnya kasar saat melihat Livy menikmati setiap gigitannya.
“Awh!” pekik Marcho meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
“Ada apa, Tuan?!” tanya Livy sambil meletakkan sisa breakfast wrap miliknya ke dalam kotak bekal dan mengecek keadaan Marcho.
“Perutku sangat sakit, Livy!” keluh Marcho sambil merintih.
“Aku melewatkan sarapanku karena ada meeting pagi ini!” lanjutnya lagi sambil berharap penuh dalam hatinya agar Livy mau berbagi breakfast wrap yang kini hanya tinggal 1.
“Emmm, di depan ada restoran Tuan. Anda bisa turun untuk makan terlebih dahulu. Saya akan kembali menjemput Anda sepulang dari mengantar bekal milik Hizkiel!” balas Livy membuat Marcho memutar bola matanya malas.
‘Dasar tidak peka! Harusnya kan beri pertolongan pertama dulu dengan memberikan sisa breakfast wrapnya untukku!’ gerutu Marcho dalam hati.
‘Ini kenapa malah menyarankan aku untuk mampir di restoran sih!’
“Tidak perlu Livy, aku bisa menahannya. Aku juga ingin bertemu dengan putraku di sekolah!” kilah Marcho memberikan alasan.
“Tapi Tuan, bagaimana jika nanti terjadi apa-apa dengan Anda dan membuat nyawa Anda justru tidak tertolong?” tanya Livy yang tampak begitu khawatir.
Senyum Marcho pun langsung terlukis mendengar kekhawatiran Livy barusan.
“Kau mengkhawatirkan aku ya?” tanya Marcho yang dengan cepat langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Livy.
“Bukan begitu, Tuan. Saya justru mengkhawatirkan diri saya sendiri!”
“Meski sebenarnya itu sangat menguntungkan untuk saya jika nyawa Anda tidak tertolong, tapi saya sangat takut untuk berurusan dengan polisi!” jelas Livy membuat Marcho melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
“Apa kamu bilang barusan?” tanya Marcho sambil mengikis jaraknya dengan Livy.
__ADS_1
“Emm, Tuan mau mengganjal perut dengan breakfast wrap yang tinggal satu?” tawar Livy membuat Marcho seketika melupakan amarahnya.
“Yaa, meskipun Tuan tidak menyukai masakan saya, tapi tidak ada salahnya untuk memakannya dari pada Tuan jatuh sakit!” lanjut Livy membuat Marcho kembali duduk pada posisinya sambil merapikan jasnya.
“Berikan padaku!” ucap Marcho sambil mengalihkan pandangannya dari Livy.
Livy pun menyodorkan kotak bekalnya ke arah Marcho dan langsung diterima dengan senang hati oleh Marcho.
‘Akhirnya, aku bisa menikmati yang ini!’ sorak Marcho dalam hati.
Ia pun langsung menghabiskan breakfast wrap tersebut dengan cepat tanpa sisa. Sedangkan Livy yang masih menyisakan setengah wrap hanya tercenung melihat Marcho yang sudah lebih dulu menghabiskan wrap buatannya.
“Apa masih kurang, Tuan?” tanya Livy sambil menggigit sisa wrap miliknya.
‘Ternyata wrapnya benar-benar sangat lezat dan membuatku sangat kurang jika hanya memakannya satu. Tapi aku tidak tega jika meminta lagi, apalagi Livy justru belum sarapan sama sekali!’ gumam Marcho dalam hati.
“Tidak!” jawab Marcho sambil mengusap perutnya dan memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela mobil.
“Bagaimana rasanya?” tanya Livy kemudian.
“Biasa!”
Jawaban Marcho kali ini tidak ditanggapi lagi oleh Livy karena mobil yang mereka naiki kini sudah sampai di gerbang sekolah Hizkiel. Dari kejauhan tampak Hizkiel sudah menunggu kedatangannya di pos satpam.
“Beraktinglah dengan baik Nyonya Marcho!” tuturnya membuat Livy pun menerima uluran tangan Marcho dan keluar dari mobil.
Melihat kedatangan daddy dan juga mommynya membuat Hizkiel terlihat tampak bahagia. Akhirnya ia merasakan keluarga yang lengkap seperti teman-temannya.
Senyum Hizkiel yang terlukis itu membuat Marcho semakin berani melingkarkan tangannya di pinggang Livy agar mereka terlihat mesra.
“Daddy... Mommy...” teriak Hizkiel dengan girang dan langsung menemui kedua orang tuanya.
“Hai, sayang... Daddy akhirnya memenuhi permintaanmu bukan?” tanya Marcho yang langsung diangguki oleh Hizkiel.
“Yes, you’re all right, dad!” jawab Hizkiel sambil menerima bekal dari Livy.
Setelah mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian, Hizkiel pun bersiap untuk kembali ke kelasnya.
“Nanti jangan lupa untuk jemput Hizkiel ya Dad!” pinta Hizkiel sambil melambaikan tangannya yang langsung diangguki oleh Daddynya.
“Sedari dulu Hizkiel terus saja memintaku untuk memberinya seorang Mommy. Hanya saja aku tidak bisa memenuhi permintaannya.”
__ADS_1
“Mommynya meninggalkannya sejak Hizkiel lahir demi mengejar karirnya, dan saat aku sudah mulai kembali jatuh cinta, ternyata wanita yang aku cintai justru telah menikah dengan kolega bisnisku sendiri.”
“Aku berharap kau bisa menjadi mommy untuk Hizkiel meski aku tidak menganggapmu sebagai istri yang sesungguhnya, Livy!”
“Rasanya aku tidak ingin jatuh cinta lagi, karena setiap aku merasa jatuh cinta, maka aku akan terus merana!” tukas Marcho panjang lebar sampai Hizkiel tidak terlihat lagi dari pandangannya.
Livy kini mulai paham bagaimana peliknya kisah cinta Marcho. Namun ia hanya diam tidak menanggapi ucapan Marcho sedikit pun.
Livy juga sangat paham siapa wanita yang pernah dicintai Marcho sebelum menikah dengannya. Namun Livy tidak ingin ikut campur dengan kehidupan pribadi Marcho.
“Oh iya, Livy. Mr. Rein masih menginginkanmu untuk ikut dalam meeting dalam project pemasaran di Grand Mall.”
“Tapi kan saya...”
“Kau akan kembali bekerja di perusahaan ku dengan status Nyonya Marcho. Tentunya kau sangat paham bukan apa saja yang harus kau lakukan sebagai istri seorang Presdir?” tanya Marcho.
Livy terdiam sambil menatap tajam ke arah Marcho. “Kenapa saya rasa Anda sangat plin plan dalam memutuskan segala sesuatu, Tuan?”
“Awalnya A berubah menjadi ABCD sampai Z dan kini kembali ke A lagi!” lanjut Livy memberi gambaran ke tidak tegasan Marcho.
“Ck, tidak perlu banyak komentar! Ikuti saja apa yang aku perintahkan dan aku akan memberikan gaji yang setimpal atas jerih payahmu, Livy!”
“As you wish, Mr Marcho yang terhormat!” balas Livy geram dan kemudian berbalik menuju ke mobil.
Marcho pun mengikuti langkah Livy dan kembali membukakan pintu untuk istrinya. Kini keduanya sudah berada di mobil yang akan mengantarkan mereka pulang.
“Tuan, bukankah saya istri yang tidak Anda anggap sama sekali?” tanya Livy membuka percakapan di antara mereka.
“Yap, tepat sekali!”
“Berarti saya diperbolehkan untuk menjalin hubungan dengan pria lain, dong!”
Penuturan Livy barusan membuat hati Marcho sedikit tercubit. “Tidak bisa!” jawabnya dengan tegas.
“Kenapa?”
“Jangan membuat Hizkiel sakit hati karena melihat mommynya memiliki hubungan dengan pria lain!” jawab Marcho dengan tegas.
“Lagi pula apa kata orang nanti jika ternyata Nyonya Marcho justru memiliki selingkuhan di luar sana!”
“Emm, saya juga tidak akan menjalin hubungan secara terang-terangan. Saya akan menyembunyikan hubungan itu dari siapa pun!” balas Livy lagi membuat emosi Marcho seketika tersulut.
__ADS_1
“Lakukan saja sesuka hatimu jika memang kau sudah bosan untuk hidup, Livy!” gertak Marcho membuat Livy bergidik ngeri.
“Tidak Tuan, maafkan saya!” tukas Livy. “Lagi pula saya juga hanya bertanya saja!”