
Livy bergegas untuk membuatkan sarapan untuk Hizkiel. Kali ini Livy memilih breakfast wrap sebagai menu sarapan yang membutuhkan bahan bahan yang tersedia di kulkas dan tidak menghabiskan waktu yang lama untuk membuatnya.
Setelah mengambil tortilla, telur, sosis, serta keju, Livy langsung membuat telur orak arik dan kemudian menumis sosis hingga matang. Setelah itu ia masukkan ke dalam tortilla dan menggulungnya dengan rapi.
Tak lupa Livy juga menyiapkan susu hangat untuk Hizkiel dan juga yang lainnya. Setelah semuanya tersaji, Livy kembali berkutat untuk membuat Mushroom Egg Bake untuk bekal Hizkiel ke sekolah. Tepat saat Hizkiel keluar dari kamarnya dengan mengenakan seragam sekolahnya, bekal untuknya juga sudah siap untuk dikemas.
“Apa yang mommy masak?” tanya Hizkiel yang langsung mendekati Livy.
“Breakfast Wrap dan Mushroom Egg Bake untuk bekal sekolah Hizkiel nanti!” jawab Mom Livy yang langsung mendapat sanggahan dari Marcho.
“Hizkiel tidak perlu membawa bekal ke sekolah karena aku sudah memesan catering lengkap di sekolahnya!” balas Marcho dengan nada ketus.
“Tapi aku lebih suka dengan masakan Mommy! Jadi tidak masalah jika aku tetap membawa bekal, Daddy!” balas Hizkiel.
“Ck, masakan mommy mu ini juga belum tentu enak, Hizkiel! Daddy takut Mom Livy malah akan meracunimu nanti!” tutur Marcho yang langsung menuai protes dari Mom Merry dan juga Mila.
“Marcho! Jaga ucapanmu itu! Mana mungkin Livy meracuni Hizkiel!” sanggah Mom Merry tidak terima.
“Iya ini, asal ngomong aja. Cobain dulu masakan kakak ipar, baru protes kalo memang gak enak!” timpal Mila. “Orang baru nyium baunya ajaa sudah menggugah selera, apalagi kalo nyicipin. Iya kan Hizkiel?”
“Bener tante Mila. Kalo memang daddy gak mau makan masakan Mom Livy, Daddy kan bisa sarapan di kantin kantor!” tutur Hizkiel membuat Marcho semakin geram.
Bisa-bisanya pagi ini tidak ada yang membelanya sama sekali. Semua bahkan berpihak kepada Livy dan sangat kompak untuk menyerangnya.
Namun memang tidak bisa dipungkiri jika aroma masakan Livy begitu menggugah selera. Sayangnya ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
“Lagi pula siapa yang mau menikmati masakan buatannya? Aku benar-benar takut sakit perut meski hanya mencicipinya!” Lanjut Marcho sambil menarik kursi makan dan duduk menikmati susu hangat buatan Livy.
“Oh, iya Livy. Mulai hari ini kau tidak perlu lagi bekerja di kantor. Cukup mengantar dan menjemput Hizkiel ke sekolah!” titah Marcho.
“Baik!” jawab Livy singkat.
__ADS_1
“Hizkiel, nikmatilah sarapanmu! Semoga kamu suka dengan masakan mommy ya.”
“Mommy akan bersiap membersihkan diri dan akan mengantarmu ke sekolah!” ucap Livy.
“Okey, Mom. I’ll waiting you, here!” balas Hizkiel yang mulai menarik kursi makan dan siap untuk menikmati sarapannya.
Marcho terus saja memandangi putranya yang mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Wow! It’s so delicious, Oma! Try it now!” pekik Hizkiel sambil menyodorkan wrap yang lainnya ke arah Omanya.
Mila pun turut mencicipi masakan buatan Livy karena penasaran dengan penilaian Hizkiel barusan. Hizkiel termasuk tipikal anak yang picky eater. Ia selalu saja menolak untuk mencicipi makanan yang baru ia kenal. Tidak hanya itu, Hizkiel juga terlalu memilah milih makanan yang akan ia konsumsi.
“Ini benar-benar sangat lezat. Bahkan rasanya menandingi restoran bintang 5!” celoteh Mom Merry.
“Yup, benar sekali. Aku tidak menyangka kakak ipar ternyata sangat pandai memasak!” timpal Mila.
Kini Marcho hanya dapat menelan ludahnya kasar. Terlebih saat semua keluarganya tampak begitu menikmati masakan Livy barusan.
Breakfast wrap tersebut kini hanya tersisa 2 potong saja yang memang sengaja untuk disisihkan untuk Livy. Jauh dalam lubuk hati Marcho, ia sangat ingin mencicipi masakan buatan Livy itu. Namun, ia tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri di depan keluarganya.
2 potong breakfast wrap tersebut sengaja ia masukkan ke dalam kotak bekal agar menantunya bisa menikmati sarapan sembari mengantarkan Hizkiel ke sekolah.
“Loh, bukankah yang 2 potong itu untuk Livy sarapan?” tanya Hizkiel sambil mengerutkan dahinya.
“Memang betul, Mommy hanya mengemasnya agar dia bisa menikmatinya saat mengantar Hizkiel ke sekolah!” balas Mom Merry.
‘Ck, sial! Padahal saat Livy pergi mengantar Hizkiel, aku sangat ingin mencicipinya meski hanya satu!’ gerutu Marcho dalam hati.
Ia pun akhirnya berdiri dan membawa gelas bekas minumnya ke pantry. Setelah itu, ia langsung bergegas pergi menuju ke kantor.
“Aku berangkat dulu ya Mom!” pamit Hizkiel.
“Hizkiel, Daddy berangkat dulu. Jangan lupa untuk memberitahu Mom Livy kapan dia harus menjemputmu!” pesan Marcho kepada putranya.
__ADS_1
“Siap Daddy!” jawab Hizkiel.
Tak lama kemudian Livy pun keluar dari kamarnya dan hanya bisa melihat punggung Macho yang sudah beranjak menuju pintu keluar.
“Hai Mom, ini adalah sarapan terlezat dan aku sangat menyukainya!” ucap Hizkiel.
“Waaah, Mommy senang mendengarnya. Kalau begitu segera masukkan bekal makanan untukmu ke dalam tas dan kita langsung berangkat ke sekolah!” balas Livy.
Hizkiel pun langsung berlari menuju ke pantry untuk mengambil bekal makanannya yang sudah disiapkan oleh Mommynya.
“Livy, ini sarapanmu! Kau bisa menikmatinya di mobil saat mengantar Hizkiel nanti!” ucap Mom Merry menyerahkan breakfast wrap yang baru ia kemas.
“Thanks Mom!” ucap Livy yang begitu terharu dengan perhatian ibu mertuanya itu.
“Harusnya Mommy yang berterima kasih denganmu. Masakanmu hari ini benar-benar sangat lezat! Bahkan Hizkiel yang selalu pilah pilih makanan pun menyukainya!” balas Mom Merry.
Belum sempat membalas ucapan ibu mertuanya, Hizkiel datang dari pantry sambil menanyakan di mana Livy meletakkan kotak bekal makanannya.
“Mommy, di mana kotak bekalku? Kenapa aku tidak melihatnya?”
“Tadi Mommy letakkan di kulkas, Hizkiel!” jawab Livy sambil menuju ke arah pantry di mana ia meletakkan bekal makanan Hizkiel.
“Aku juga tadi sudah melihatnya ada di sini! Tetapi kenapa sekarang tidak ada?” tanya Hizkiel.
Sedangkan di sisi lain, Marcho kini menuju ke kantor sambil menikmati masakan Livy yang seharusnya dibawa oleh Hizkiel sebagai bekal sekolahnya.
“Gila! Ini benar-benar gila!” rutuk Marcho sambil mengunyah Mushroom Egg Bake buatan Livy.
“Bagaimana mungkin ia bisa memasak selezat ini!”
Marcho kembali menikmati Mushroom Egg Bake tersebut sampai habis tidak tersisa.
“Ck, benar kata Hizkiel. Ini benar-benar sangat lezat! Kalau memang seperti ini, aku akan memberikan Livy tugas baru lagi. Memasak untukku dan mengantarkannya ke kantor saat jam makan siang!” gumam Marcho yang tidak terpikir sedikit pun bagaimana saat ini putranya sedang kehilangan kotak bekal makanannya.
__ADS_1