Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Mulai Jatuh Cinta


__ADS_3


Livy mulai memijit kepala Marcho dengan posisi kepala Marcho yang diletakkan di atas pangkuan Livy.


Baru lima menit berlalu, pijatan Livy mulai mengendur dan lama kelamaan tidak terasa sama sekali hingga membuat Marcho terpaksa membuka matanya.


Betapa terkejutnya Marcho saat melihat Livy memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya di headboard.


"Dia pasti sangat mengantuk karena semalaman terjaga karenaku."


Marcho pun bangun dari pangkuan Livy dan merebahkan tubuh Livy dengan sempurna di atas tempat tidurnya. Diam diam Marcho mengamati wajah Livy yang kini sudah tertidur pulas.


'Dia wanita yang berbeda. Entah kenapa aku sangat nyaman bersamanya dan tidak ingin ia jauh dariku.'


'Selamanya kau akan menjadi istriku, Livy. Whatever, whenever, and wherever!'


'Aku sadar aku sangat nyaman berada di dekatmu. Mungkin aku telah jatuh cinta, sayangnya aku belum ingin menyatakannya sebelum aku mengetahui jika kau juga mencintai aku, Livy!'


Lama kelamaan Marcho pun turut tertidur di samping Livy.


Selang berapa lama ponsel Livy berdering membuat Livy langsung terjaga dari tidurnya. Ia pun langsung menjauh dari tempat tidur dan mengangkat panggilan yang masuk.


“Livy sayang, kapan kita bisa bertemu?” tanya Randy di ujung panggilan.


“Maaf Randy, aku belum bisa memastikannya, suamiku kini tengah sakit.”


“Aku benar-benar butuh penjelasan darimu, sayang!”


“Emmm, setelah suamiku sembuh, aku akan memintanya untuk menemaniku bertemu denganmu!” jawab Livy membuat Marcho yang sengaja menguping pembicaraan mereka tersenyum tipis.


“Bisa tidak jika kita bertemu hanya berdua saja?” tanya Randy. “Aku sangat tidak leluasa jika berbicara ada suamimu di antara kita.”


Livy terdiam cukup lama. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat ingin menemui Randy dan menceritakan semuanya yang telah terjadi padanya. Bahkan ia juga ingin meminta bantuan Randy untuk menariknya keluar dari masalah ini.

__ADS_1


Ia sama sekali tidak peduli dengan Marcho sedikit pun karena menurutnya ancaman Marcho tidak berarti apa-apa lagi untuknya. Hanya saja saat ini yang Livy pikirkan adalah Hizkiel. Ia tidak ingin menyakiti hati anak laki-laki Marcho yang sudah sangat tulus menyayanginya.


“Livy, kau masih ada di sana kan?” tanya Randy membuyarkan lamunan Livy.


“Eh, i-iya. Aku akan mencoba meminta izin suamiku untuk bertemu denganmu, Randy!” jawab Livy.


“Baiklah, aku akan menunggu kabar baik darimu. Katakan di mana nanti aku harus menjemputmu!”


“Oke!” jawab Livy singkat sambil memikirkan bagaimana caranya meminta izin dengan Marcho.


Sedangkan di sisi lain, Marcho mengepalkan tangannya dengan sangat geram. ‘Sial, Livy mulai berani memutuskan akan menemui Randy seorang diri!’ gerutu Marcho dalam hati.


Marcho pun kini tidak kembali ke tempat tidur melainkan duduk di sofa kamarnya sambil melipat tangannya di depan dada menunggu Livy. Sayangnya lima menit berlalu, Livy masih saja ada di balkon kamar dan tidak kunjung masuk ke dalam.


“Kenapa belum masuk juga?” tanya Marcho bermonolog dengan gusar.


Sepuluh menit berlalu dan lagi-lagi Livy belum menampakkan batang hidungnya di hadapan Marcho. Akhirnya karena tidak sabar, Marcho pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar menuju ke balkon kamar untuk melihat apa yang sebenarnya sedang Livy lakukan.


Langkah Marcho terhenti sejenak saat melihat Livy ternyata sedang mondar mandir di balkon dan tampak memikirkan sesuatu. ‘Apa yang sebenarnya dia lakukan?’ batin Marcho sambil membuka pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon.


Kini netra mereka pun beradu. Namun cepat-cepat Livy mengalihkan pandangannya saat ia merasa sedikit berbeda dengan tatapan Marcho kali ini. Terlebih saat detak jantung Livy mulai mempercepat ritmenya ketika Livy berada di dalam dekapan Marcho.


“Ma-af Tuan, saya tidak tahu jika Tuan berdiri di belakang saya tadi!” ucap Livy sedikit merasa tidak enak.


“Apa yang sedang kau lakukan di sini?!”


Tatapan tajam Marcho kali ini terlihat begitu mengintimidasi dan membuat Livy menundukkan kepalanya. Perlahan Livy menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya sedikit kasar.


‘Ayo Livy! Kamu harus memperjuangkan dirimu untuk merdeka dari Marcho!’ batin Livy menguatkan dirinya sendiri.


“Emm, Tuan Marcho, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda!”


“Jika kau ingin meminta izinku untuk menemui Randy tanpa aku, maka aku tidak akan mengizinkannya!” tegas Marcho.

__ADS_1


Livy sangat terkejut saat Marcho dengan terang-terangan tidak mengizinkannya menemui Randy seorang diri, padahal ia belum mengatakan apa yang ia ingin bicarakan.


“Bagaimana Tuan bisa tahu?” tanya Livy sambil mengerutkan dahinya. “Jangan bilang Anda barusan menguping pembicaraan saya.”


“Cih, menguping katamu? Untuk apa aku melakukan pekerjaan yang sia-sia?” balas Marcho tidak mengaku.


“Saya memang ingin meminta izin untuk menemui Randy tanpa Anda, Tuan! Saya harus menjelaskan banyak hal dengannya, setidaknya agar dia bisa mengerti jika status saya adalah istri Anda!”


“Sayangnya aku sama sekali tidak percaya lagi dengan omong kosongmu, Livy! Ingat, pergi denganku atau tidak sama sekali!”


“Aku sangat faham, kau pasti akan mencoba melarikan diri dariku dengan meminta bantuan Randy bukan? Jangan pernah menggunakan cara bodoh itu Livy atau kau akan sangat menyesal karena setelahnya, kau aku pastikan akan menghabiskan seluruh hidupmu di dalam bui!”


Ancaman Marcho kali ini terdengar lebih tegas dan keras membuat Livy bergidik ngeri.


‘Ayolah otak cerdasku, mengapa saat ini kau tidak mengeluarkan ide brilian agar aku bisa terlepas dari duda menyebalkan ini!’ batin Livy.


‘Oke, aku harus bersikap lembut dan menjadi penurut di hadapan Tuan Marcho untuk mengecohnya kali ini! Yang jelas, aku harus bisa menceritakan semuanya dengan Randy. Aku yakin Randy tidak akan membiarkan aku mendekam di dalam penjara!’


“Baiklah, Tuan. Saya akan menemui Randy bersama Anda. Kira-kira kapan Anda ada waktu?” tanya Livy.


“Aku tidak akan pernah ada waktu hanya untuk hal sia-sia seperti itu Livy. Kamu pikir kamu siapa, hah?!” jawab Marcho sambil berbalik meninggalkan Livy yang masih berdiri di balkon kamar.


Mendengar jawaban Marcho barusan membuat Livy sangat kesal dibuatnya. Ingin rasanya ia menendang semua yang ada di depannya sampai mengenai kepala Marcho. Kemudian ia bayangkan Marcho akan terkapar di hadapannya dan akhirnya ia bebas dari Tawanan Duda yang tidak tahu diri ini.


Sedangkan Marcho sendiri kini langsung menuju ke ruang kerjanya dan tidak lupa ia mengunci Livy di dalam kamarnya. Sesampainya di ruang kerjanya sendiri, Marcho segera menghubungi Fredy.


“Fredy, tolong cari tahu tentang Randy dan juga hubungannya dengan Livy secara lengkap!” titah Marcho saat panggilannya sudah tersambung.


“Siap Tuan Marcho, saya akan mencari informasi tentangnya dan akan mengabarkan kepada Anda secepatnya!” jawab Fredy di ujung panggilan.


“Oke Fredy, aku juga akan menghubungi yang lainnya untuk mencari informasi tentang Randy!” balas Marcho yang kemudian mengakhiri panggilannya.


“Livy! Aku pastikan kau tidak akan pernah lepas dariku!” gumam Marcho sambil menghubungi Terra dan juga bodyguard lainnya untuk membantunya mencari tahu informasi tentang Randy secara lengkap.

__ADS_1



__ADS_2