
Keesokan harinya, Livy kembali menjalankan rutinitas paginya untuk membuatkan sarapan dan juga bekal untuk Hizkiel. Sedangkan Mila sudah bersiap untuk menuju ke bandara dan kembali ke London diantar oleh Mom Merry dan supirnya.
Hari ini ia mempersiapkan semuanya lebih awal karena setelah mengantar Hizkiel ke sekolah, ia harus ikut bersama Marcho menuju ke kantor mempersiapkan meeting dengan pihak Lichie Group dan juga Grand Mall.
Livy sengaja menyiapkan 2 kotak bekal untuk Hizkiel dan juga untuknya karena ia tidak mungkin sarapan terlebih dahulu di apartemen mengingat ia juga belum membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
“Good morning, Mommy!” sapa Hizkiel yang menuju ke ruang makan bersama daddynya.
Keduanya sudah tampak lengkap dengan seragam mereka masing-masing.
“Morning, Hizkiel!” balas Livy.
“Waaah, ini havermout kesukaan aku Mom!” ucap Hizkiel dengan mata yang berbinar.
“Sekarang Hizkiel nikmati sarapannya sama daddy yaa, Mommy harus bersiap dulu!”
“Siap Mommy!” balas Hizkiel.
Blueberry Almond oatmeal buatan Livy kali ini kembali memanjakan lidah Marcho dan juga Hizkiel sampai mereka menghabiskan sarapan mereka dalam mangkok tanpa tersisa.
☘️☘️☘️
Setelah mengantarkan Hizkiel ke sekolahnya, kini Marcho dan juga Livy sudah berada di kantor untuk mempersiapkan meeting hari ini.
Kepiawaian Livy dalam mengatur desain pemasaran dua perusahaan perhiasan memang sangat menarik dan Marcho mulai mengagumi kecerdasan istrinya kali ini. Namun, ia tidak mau memperlihatkan kekagumannya di depan Livy karena tentunya akan membuat Livy justru besar kepala.
“Semua persiapan meetingnya sudah selesai, Tuan!” ucap Livy yang benar-benar mempersiapkan semuanya secara apik dan rapi.
“Oke, sekarang kau bisa menikmati sarapanmu, Livy!” balas Marcho sambil menunjuk ke arah meja sofa yang sudah tersedia sarapan untuk Livy.
“Tidak perlu, Tuan. Saya juga sudah membawa bekal makan sendiri!” jawab Livy menolak tawaran Marcho secara halus.
“Aku tidak suka dengan penolakanmu, Livy!” ucap Marcho sambil menarik tangan Livy dan mengajaknya untuk duduk di sofa.
“Makanlah dengan baik sebelum kita meeting!” titah Marcho.
“Baik, Tuan!” jawab Livy yang bersiap untuk menikmati sarapannya.
“Satu lagi, Livy! Jangan panggil aku Tuan saat di depan orang banyak! Aku tidak mau semua orang curiga dengan hubungan kita!”
__ADS_1
“Oke sayang!” jawab Livy dengan santai menimpali titah Marcho barusan.
Deg!
Sebutan sayang yang keluar dari mulut Livy barusan membuatnya darah Marcho berdesir dan jantungnya berdegup tidak karuan.
“Katakan saat di depan orang banyak, Livy! Bukan saat kita sedang berdua seperti ini!” gertak Marcho sambil mengusap wajahnya kasar.
“Saya hanya takut salah ucap karena tidak terbiasa, Tuan! Maka dari itu saya harus berlatih dengan baik!” balas Livy.
“Memangnya kenapa kalau saya berlatih memanggil anda dengan sebutan -sayang- saat kita sedang berdua?” tanya Livy sambil memandang ke arah Marcho.
“Jangan banyak tanya dan cepat habiskan sarapanmu! Setelah itu kita menuju ke Grand Hotel untuk meeting!” titah Marcho yang beranjak dari sofa dan keluar dari ruang kerjanya.
Marcho tidak mau Livy menangkap rasa gugupnya saat Livy memanggilnya sayang seperti tadi.
Livy pun bergegas menghabiskan sarapannya dan menyiapkan berkas meeting yang diperlukan. Setelah itu ia dan juga Marcho langsung menuju ke Grand Hotel.
Tidak ada percakapan antara keduanya karena mereka sama-sama sibuk dengan gadget masing-masing. Sesampainya di Grand Hotel juga mereka langsung menuju ke lift yang akan mengantarkan mereka ke ruang meeting.
Namun tiba-tiba ada yang memanggil nama Livy saat ia sedang menunggu pintu lift terbuka.
“Livy Cantika!” sapa seorang pria yang kini berdiri di sebelah kiri Livy.
Betapa terkejutnya Livy saat melihat sosok pria yang sangat ia kenal dan kini berdiri di hadapannya.
“Ran-dy!” panggil Livy dengan suara yang tercekat. “Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Livy sedikit tidak percaya dengan apa yang ia temui saat ini.
Sosok pria yang ia tinggalkan begitu saja tanpa kejelasan setahun yang lalu kini berdiri di hadapannya.
Randy adalah kekasih Livy yang selama satu tahun ini terus saja mencari tahu di mana keberadaan Livy yang menghilang tanpa kabar sedikit pun.
“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Livy setelah satu tahun kau menghilang tanpa kabar!” ucap Randy.
Kehadiran Randy kali ini membuat Marcho sedikit gusar, terlebih ia belum mengetahui siapa sebenarnya pria yang kini berbicara dengan istrinya.
Pintu lift pun terbuka dan keduanya kembali meneruskan obrolan mereka berdua.
“Maaf, Randy! Keadaanku saat itu benar-benar sedang di ujung tanduk dan mengharuskan aku pergi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun!” balas Livy.
Randy pun mendekatkan dirinya dan hendak memegang kedua bahu Livy. Namun cepat-cepat Marcho menarik Livy ke dalam pelukannya.
__ADS_1
“Siapa laki-laki ini sayang?” tanya Marcho membuat Randy langkah Randy terhenti.
“Jadi benar kata Tante Widya jika kau sudah menikah Livy?” tanya Randy membuat Livy bingung harus menjawab apa.
Kini Livy hanya bisa menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Randy barusan.
“Emmh, kenalkan ini Randy!” ucap Livy sambil menunjuk ke arah Randy.
“Dan Randy, kenalkan ini suamiku, Marcho!”
Marcho langsung mengulurkan tangannya ke arah Randy dan uluran tangannya pun langsung bersambut.
“Selamat atas pernikahan kalian, aku adalah Randy, kekasih Livy!” tutur Randy membuat Marcho seketika mengeratkan jabatan tangannya di tangan Randy.
“Terima kasih ucapan selamatnya Randy! Aku Marcho Albert, suami SAH dari Livy!” terang Marcho membuat Randy menatap tajam ke arah Livy.
“Aku butuh penjelasanmu, Livy!” pinta Randy.
Sayangnya pintu lift pun langsung terbuka dan Marcho segera memberi kode kepada Livy untuk segera menjauh dari Randy.
“Maaf, Randy. Aku masih harus meeting sebentar lagi.” Livy meraih kartu nama di dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Randy.
“Hubungi aku, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu!” ucap Livy.
“Oke, aku akan menghubungimu, cinta!” balas Randy membuat Marcho langsung menarik Livy sedikit kasar.
Marcho tidak langsung mengajak Livy ke ruang meeting melainkan ke sebuah tempat yang tidak dilalui oleh banyak orang.
“Posisikan dirimu sebagai istriku, Livy!” hardik Marcho dengan tatapan mengintimidasi.
“Aku hanya ingin menjelaskan alasan kepergianku dan menegaskannya untuk melupakan aku karena statusku sudah menikah!” balas Livy sedikit meninggikan suaranya.
“Kalau begitu, kau harus mengajakku saat akan bertemu dengan Randy nanti!” tegas Marcho.
“Ayolah Tuan, beri aku waktu sebentar saja untuk menjelaskan semuanya kepada Randy tanpa Anda!” pinta Livy yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Marcho.
“Tidak bisa! Pergi denganku atau lebih baik tidak pernah menemuinya sama sekali!” ancam Marcho.
Livy memutar bola matanya malas mendengar ancaman dari Marcho barusan.
“Baiklah, aku akan pergi dengan suamiku untuk menjelaskan semuanya kepada Randy!” balas Livy sambil menahan rasa kesalnya.
“Good Answer, Livy!” balas Marcho yang kemudian kembali menggandeng tangan Livy dan mengajaknya ke ruang meeting.
__ADS_1