Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Apa Yang Harus Aku Katakan?


__ADS_3


Marcho mendapati Livy kembali tertidur pulas di atas ranjang king sizenya membuatnya tidak tega untuk mengganggu istirahat Livy. Perlahan-lahan ia pun mendekati Livy dan mencari ponsel istrinya.


Marcho kini kembali mengusik privasi Livy dengan berusaha mengecek ponsel istrinya dan tentunya tanpa izin dari Livy. Setelah menautkan jari Livy untuk membuka kunci layar, dengan cepat Marcho bergerak untuk menautkan ponsel Livy dengan ponsel miliknya.


Sambil menunggu penautan berhasil, Marcho merebahkan tubuhnya di samping Livy dan memandangi wajah istrinya yang tertidur secara intens.


‘Kau benar-benar wanita yang tepat untuk menjadi Mommy untuk Hizkiel! Aku harap kau bisa menyayanginya seperti anakmu sendiri seiring berjalannya waktu!’


Tak lama kemudian tautan yang dilakukan oleh Marcho berhasil dan Marcho cepat-cepat mengembalikan ponsel Livy ke tempatnya yang semula. Gerakan Marcho barusan membuat Livy menggeliat pelan.


Tiba-tiba saja Livy menjatuhkan tangannya di atah bahu Marcho dan seketika membuat senyum Marcho merekah sempurna. Marcho pun mulai berani mengikis jaraknya dengan Livy.


“Hai istriku!” bisik Marcho sambil menggerakkan jari telunjuknya mengabsen wajah Livy.


Bisikan Marcho barusan membuat Livy perlahan membuka matanya. Betapa terkejutnya Livy saat mendapati dirinya kini tengah memeluk Marcho bahkan terlihat begitu agresif dengan suaminya sendiri.


Cepat-cepat Livy menarik tangannya dari Marcho. “Maaf Tuan, saya tidak sengaja!”


“Hemm, tidak masalah!” balas Marcho yang kemudian berbalik membelakangi istrinya.


Sedangkan Livy kini mulai mengatur nafasnya yang mulai tidak karuan. ‘Kenapa aku tadi mendengar Tuan Marcho memanggilku dengan sebutan istri ya?’ gumam Livy dalam hati.


‘Bahkan aku juga merasakan sentuhan jemarinya yang mengabsen wajahku.’


‘Oh, tidak-tidak! Ini pasti tidak benar! Mana mungkin Tuan Marcho memanggilku sebagai istri?’


‘Sepertinya halusinasiku saat ini semakin tinggi dan mengada-ada. Tidak mungkin Tuan Marcho melakukan hal konyol dan tidak masuk akal seperti itu!’


“Tuan, bagaimana keadaan Anda saat ini?” tanya Livy dengan sangat hati-hati.


“Sudah lebih baik!” jawab Marcho dengan posisi yang masih membelakangi Livy.


Niatnya yang semula ingin bertanya dengan Livy sejak kapan ia menjalin hubungan dengan Randy pun ia urungkan. Terlebih saat sayup-sayup terdengar jika putranya sudah pulang dari sekolah dan menanyakan kabar daddynya.

__ADS_1


Kesempatan ini pun digunakan dengan sebaik-baiknya oleh Livy agar ia tidak kembali terkunci di dalam kamar. “Maaf Tuan, saya akan menyiapkan makan siang untuk Hizkiel. Dia baru saja mengikuti tes di sekolahnya. Sudah dipastikan saat ini pasti merasa lapar!”


“Hemm,” jawab Marcho singkat dan Livy pun bergegas keluar dari kamarnya.


“Mommy!” teriak Hizkiel yang kemudian menghambur memeluk Livy. Belum ada sehari, Hizkiel tampak sudah merindukan Livy.


“Hai sayang! Bagaimana tadi tesnya? Apa kau bisa mengerjakan semuanya?”


“Tentu saja bisa!” jawab Hizkiel dengan bangga. “Semua yang mommy ajarkan tadi malam membuat Hizkiel mudah dalam menjawab semua pertanyaan evaluasi hari ini!”


“Great Job, Hizkiel!” puji Mom Livy sambil mengusap kepala Hizkiel dengan sangat lembut.


“Kalau begitu siang ini Mommy akan membuatkan spaghetti spesial untukmu, bagaimana?”


“That’s sounds good, Mommy! Hizki akan mengganti pakaian dulu dan siap untuk menikmati masakan lezat buatan Mommyku.”


Hizkiel langsung menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Namun saat ia berbalik, ia berpapasan dengan daddynya yang baru  keluar dari kamarnya.


“How’s your life, daddy?” tanya Hizkiel.


“Daddy sudah lebih baik karena Mommy telah menjaga daddy dengan baik!” jawab Marcho yang sengaja mengencangkan suaranya agar didengar oleh Livy.


“Hizkiel juga tidak sabar untuk punya adik. Apa di perut Mom Livy sudah ada bayinya, daddy?” tanya Hizkiel membuat Livy yang sudah berkutat di pantry menelan ludahnya kasar saat mendengarkan percakapan mereka di ruang tengah.


“Emmm, Daddy berjanji akan segera memberikan adik untukmu, Hizkiel!” timpal Marcho membuat dada Livy bergemuruh tidak karuan.


Saking gugupnya, Livy sampai menjatuhkan tempat sendok sampai isinya berceceran di mana-mana.


“Ada apa itu?” tanya Mom Merry dan Hizkiel bersamaan.


“Biar aku yang melihatnya ke pantry, Mommy dan Hizkiel bisa ke kamar dulu!” ucap Marcho yang bergegas melihat apa yang sudah terjadi di pantry.


Marcho pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke pantry. Sesampainya di sana, tampak sendok dan garpu berceceran di lantai dan Livy sedang berjongkok memungutinya satu per satu untuk ia cuci ulang.


Tanpa diperintah, Marcho pun membantu Livy memunguti sendok dan garpu sampai tanpa sengaja kepalanya terantuk dengan kepala Livy.

__ADS_1


“Awh!” pekik Livy dan Marcho bersamaan.


Betapa terkejutnya Livy saat mendapati Marcho kini ada di hadapannya dan tengah membantunya memunguti sendok dan garpu yang terjatuh.


“Maaf, Tuan Marcho! Saya tidak sengaja menjatuhkannya!” ucap Livy.


“Sssstttt! Jangan panggil aku Tuan! Aku tidak mau Mommy dan Hizki mendengarnya!”


“Oh, iya. Maaf!” timpal Livy.


“Sayangnya Mommy sudah mendengarnya! Kalian berdua harus menjelaskan semua yang kalian sembunyikan dari Mommy dan Hizkiel!” ucap Mom Merry yang sudah berdiri di belakang Marcho dan juga Livy.


“Mommy menunggu kalian di ruang kerja!” lanjutnya lagi sambil meninggalkan Marcho dan juga Livy yang masih diselimuti rasa terkejutnya.


Marcho dan Livy kini saling melempar pandang satu sama lain.


“Bagaimana Tuan?” tanya Livy.


“Entahlah Livy!” balas Marcho sambil mengusap wajahnya kasar. “Seharusnya kau bisa melihat tempat dan keadaan saat memanggilku!”


Kini Livy semakin diliputi perasaan bersalah dalam hatinya. Jika dipikir-pikir ini adalah waktu yang tepat untuknya melepaskan diri dari Marcho. Namun ia tidak mungkin menyakiti perasaan Hizkiel karena Livy sendiri juga sudah menyayangi anak itu.


“Maaf, suamiku! Aku benar-benar tidak sengaja tadi!” tutur Livy.


“Mulai sekarang, kau harus memanggilku seperti itu di mana pun berada. Bahkan saat kita sedang berdua!” tegas Marcho.


“Baik suamiku!” balas Livy membuat Marcho langsung berdiri meninggalkan Livy menuju ke ruang kerja terlebih dahulu memenuhi panggilan Mommynya.


‘Argh! Hanya mendengarnya memanggilku seperti itu saja membuat hatiku jadi tidak karuan seperti ini! Aku harus menjelaskan pada Mommy jika aku kini sungguh-sungguh telah mencintainya dan tidak ingin Livy terlepas dariku!’ gumam Marcho dalam hati.


“Suamiku!” panggil Livy sambil mengejar langkah Marcho. “Tolong jelaskan pada Mommy kalau saya akan membuatkan makan siang untuk Hizki terlebih dulu!”


“Oke!” jawab Marcho dengan singkat.


Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh Marcho. Sedangkan Livy sendiri tengah berpikir apa yang harus ia jelaskan nanti pada ibu mertuanya sambil membuatkan spaghetti untuk Hizkiel.

__ADS_1



 


__ADS_2