Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Masalah Kecil di Mobil


__ADS_3


Selepas mengantarkan Hizkiel ke sekolah, Marcho dan Livy langsung menuju ke Grand Mall. Hari ini Livy akan mulai mempersiapkan berbagai desain pemasaran yang ia rencanakan dalam meeting sebelumnya.


Marcho sendiri bertekad untuk selalu mengawal Livy meski di kantor banyak berkas yang harus ia cek dan ia tanda tangani. Ia tidak mau istrinya terhasut oleh Randy dan kembali berusaha untuk meninggalkannya.


“Tuan, eh suamiku!” panggil Livy saat Marcho memerintahkan supirnya untuk langsung menuju ke Grand Mall.


“Bukankah di kantor juga banyak pekerjaan yang harus diselesaikan?”


Marcho terdiam sejenak dan menganggukkan kepalanya. “Memang benaar!” jawabnya singkat.


“Emmm, aku akan ke kantor setelah pekerjaanmu selesai!”


Livy membuang nafasnya kasar dan menatap ke arah suaminya.


“Percayakan pekerjaan ini padaku! Aku akan profesional menghadapi Randy saat bekerja.”


“Jangan khawatir, aku juga tidak akan menjelaskan apapun dengannya setelah melihat Randy jalan dengan wanita lain!” jelas Livy membuat Marcho sedikit bisa bernafas lega.


“Emm, tapi bagaimana jika ia tiba-tiba meminta maaf padamu dan berjanji untuk berubah dengan syarat kau meninggalkan aku dengan Hizkiel?” tanya Marcho kemudian.


Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi mengingat Livy masih saja bersikap datar terhadapnya dan belum memperlihatkan signal cinta.


“Tenang saja, aku tidak akan meninggalkan Hizkiel dan akan tetap menjadi mommynya kapan pun Hizkiel butuhkan. Bahkan saat perjanjian usai dan kita bercerai, aku masih tetap bersedia menjadi mommy untuk Hizkiel!”


“Aku tidak akan menceraikanmu, Livy! Sampai kapan pun!” tegas Marcho sambil mengepalkan tangannya.


Livy hanya menghela nafasnya panjang dan memandang ke arah suaminya.


“Aku wanita normal yang butuh cinta dan kasih sayang. Aku butuh pernikahan yang sehat bukan pernikahan gila seperti ini denganmu!” jelas Livy yang sangat tidak terima saat mendengarkan Marcho tidak akan menceraikannya sampai kapan pun.


“Oke, aku bisa mewujudkan semua keinginanmu, Livy. Kita buat pernikahan gila ini menjadi pernikahan sehat seperti yang kau inginkan!” balas Marcho yang sudah mengikis jaraknya dengan Livy.


“Aku pria normal yang butuh untuk melampiaskan h4sr4tku yang terus membuncah semenjak ada wanita yang tidur bersamaku!” Marcho mulai melepaskan jas yang ia kenakan dan membuangnya ke belakang.


“Kau tidak pernah tahu bukan bagaimana aku meredam keinginanku selama ini setiap berduaan dengan mu di kamar?” Kali ini Marcho mulai mengendurkan dasinya dan melepaskannya.


Livy tergagap sambil menelan ludahnya kasar. Ia sadar sudah membangunkan singa yang sedang tertidur pulas. Tangan Livy langsung menahan tubuh Marcho yang semakin mendekat ke arahnya.


“Aku mohon jangan gila, Tuan!”


“Sudah berkali kali aku katakan padamu, Livy! Aku ini suamimu, bukan Tuanmu! Dan aku akan membuktikannya padamu sekarang juga jika aku adalah suamimu!”


“Jangan, jangan! Aku mohon jangan!” pinta Livy mulai ketakutan. “Kau memang suamiku dan aku adalah istrimu!”

__ADS_1


“Oh yaa?! Sayangnya aku sama sekali tidak percaya ucapanmu, Livy!”


“Bagaimana caranya agar kau bisa percaya dengan ucapanku?” tanya Livy mulai gemetar.


Melihat istrinya tampak begitu ketakutan, Marcho kembali duduk di tempatnya dan kembali merapikan dasinya. “Sekali lagi aku dengar kau memanggilku Tuan, maka aku tidak akan segan-segan menjadikanmu istri yang sesungguhnya dan menanam benihku di dalam perutmu!”


“Dan ingat! Aku tidak suka mendengarmu membahas perceraian. Pernikahan kita baru hitungan hari Livy!”


“Baik, maafkan aku!” ucap Livy yang sudah merasa lega saat Marcho kembali ke tempat duduknya.


Diam diam Livy mencuri pandang ke arah Marcho yang kini sedang mengenakan jasnya kembali. ‘Ternyata Tuan Marcho begitu menyayangi Hizkiel sampai tidak rela jika aku bercerai dengannya!’


‘Untung saja tadi dia hanya mengancamku. Apa jadinya jika ia benar-benar melakukan hal yang sama sekali tidak terbayang olehku?’ gumam Livy dalam hati.


‘Andai saja pernikahan ini bukanlah pernikahan gila yang aku katakan tadi. Aku pasti akan merasa sangat bahagia memiliki suami seperti Tuan Marcho!’


‘Selain tampan, dia juga penuh kasih sayang. Buktinya tadi dia hanya sekedar menggertakku dan masih sangat menjaga batasannya denganku!’


‘Padahal tadi dia mengatakan jika selama ini ia selalu meredam keinginannya saat berdua denganku!’


‘Jangan-jangaaan ...?’ Livy langsung menepis apa yang sedang ia fikirkan kali ini.


‘Tidak-tidak, sepertinya aku sudah berfikiran jauh tentang Tuan Marcho.’


Sedangkan Marcho sendiri justru menyesali sikapnya barusan yang telah membuat Livy ketakutan.


‘Huft, Marcho Marcho. Bagaimana jika Livy justru semakin membencimu dan tidak membalas cintamu sama sekali?’


 ‘Ingat Marcho, semakin hari waktumu akan semakin berkurang! Fikirkan baik-baik!’ batin Marcho yang terus saja merutuki kebodohannya barusan.


“Livy!” panggil Marcho sambil memandangi istrinya.


“Maafkan aku sudah membuatmu ketakutan dan gemetar tadi!” ucap Marcho sambil menggenggam tangan Livy.


“Haah?!” Livy tergagap mendapati Marcho mengucapkan kata maaf terhadapnya.


“Aku minta maaf yaa!” Marcho mengulangi lagi kalimatnya sambil mencium tangan Livy.


“Eh, ada apa denganmu suamiku?” tanya Livy sambil menarik tangannya dari genggaman Marcho.


“Emm, aku hanya merasa bersalah sudah membuatmu ketakutan seperti tadi!” balas Marcho sambil memainkan rambut Livy dengan jarinya.


Sedangkan Livy justru menelan ludahnya kasar mendapati sikap Marcho yang kembali hangat terhadapnya. Tidak seperti tadi. Padahal menurutnya kemarahan Marcho juga karena ucapan yang keluar dari mulut Livy.


“Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membuatmu marah, suamiku!” balas Livy membuat Marcho merekahkan senyumannya.

__ADS_1


“Aku hanya sangat takut kehilanganmu, sayang!” ucap Marcho yang semakin berani membelai Livy.


“Yaa, aku tahu. Rasa sayangmu terhadap Hizkiel membuatmu begitu takut jika Hizkiel kehilangan sosok Mommy nya bukan?”


“Bukan seperti itu Livy!” sanggah Marcho.


“Lalu?”


Marcho terdiam sambil mengalihkan pandangannya dari Livy. “Emmm, kita hampir sampai di Grand Mall.”


“Kali ini aku mempercayai keprofesionalitasan kinerjamu Livy! Kabari aku jika menemui kesulitan!”


“Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menyusulmu dan kita menjemput Hizkiel bersama!” jelas Marcho yang sengaja mengalihkan pembicaraan mereka berdua mengingat dirinya belum siap mengutarakan perasaannya terhadap Livy.


“Okey, Selamat bekerja suamiku!” balas Livy.


“Sekali lagi, terima kasih untuk segala perhatianmu!”


Livy bersiap meraih handle pintu mobil untuk keluar. Namun tiba-tiba ia berbalik dan mencium pipi Marcho sekilas.


“Morning Kiss yang tertunda!” ucap Livy sambil berbalik meninggalkan Marcho.


Kecupan singkat Livy kali ini membuat Marcho salah tingkah. Ia tersenyum sambil mengusap bekas kecupan Livy barusan.


“Ternyata kau cukup berani untuk hal ini ya!”


“Sepertinya aku juga harus lebih berani darimu untuk segera menyatakan perasaanku yang sesungguhnya!”


Marcho langsung meraih ponselnya dan menghubungi Fredy asistennya.


“Fredy, tolong carikan restoran yang romantis untuk nanti malam!” titah Marcho saat panggilannya sudah terhubung.


“Siap, Tuan. Kalau boleh tahu untuk berapa orang?” tanya Fredy di ujung panggilan.


“Tentu saja untuk aku dan Livy. Aku ingin segera membuat pernikahan kontrak ini menjadi pernikahan yang sungguhan!” jawab Marcho.


“Baik, Tuan!”


Marcho langsung memutuskan panggilannya setelah mendengar kesiapan Fredy.


“Malam ini akan menyatakan perasaanku terhadap Livy. Apapun jawabannya nanti, aku akan siap. Bahkan jika ia belum bisa membalas perasaanku, aku akan tetap sabar menanti!”


“Masih ada waktu panjang untuk memberikan pembuktian cintaku padanya!” 


...💕💕💕...

__ADS_1



__ADS_2