
Tiga bulan kemudian,
Livy sudah mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan di perusahaan mamanya. Sedangkan Marcho sendiri kembali mengurus perusahaannya dan rutin mengunjungi istrinya satu minggu atau dua minggu sekali bersama Hizkiel tentunya.
Julio dan seluruh anak buahnya kini sudah tinggal di pulau isolasi bagi pengidap HIV/AIDS, begitu pula dengan Reggy dan juga Randy. Sedangkan Mama Widya sudah meninggal dunia terlebih dahulu sebelum dibawa ke pulau tersebut.
Hari ini, Livy tengah sibuk memasak di pantry mengingat Marcho, Hizkiel dan Mom Merry akan datang berlibur di kotanya. Dua jam lagi mereka akan tiba dan tentunya Livy bersama dua orang bodyguardnya yang akan menjemput di bandara.
Tiba-tiba ponsel Livy pun berdering dan tampak Hizkiel tengah menelfonnya.
“Mommy!” teriak Hizkiel di ujung panggilan.
“Hai sayang, Mommy akan menjemputmu di bandara nanti!”
“Tapi daddy telah menggagalkan penerbangan hari ini karena masih ada urusan di kantor. Sedangkan aku dan oma tidak diizinkan untuk pergi hari ini!” lapor Hizkiel membuat Livy langsung terduduk lemas.
“Lalu, kapan kalian akan datang?” tanya Livy kemudian.
“Kata daddy lusa kita baru akan memesan tiket penerbangan, Mommy!” balas Hizkiel.
Livy menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Bayangan kebersamaannya dengan Marcho, Hizkiel dan Mom Merry seketika buyar begitu saja. Ia merasa semakin sepi dan sendiri tinggal di Mansion sebesar ini.
“Tidak masalah Hizkiel. Mommy akan menunggu kalian.”
“Jangan sedih ya Mom. Hizkiel sayang mommy!”
“Oke sayang! Salam buat daddy dan oma yaa. Oh iya, Hizkiel tidak ingin panggilan video dengan Mommy?” tawar Livy.
“Maaf Mommy, Hizkiel masih di toilet. Nanti kalau udah keluar, Hizkiel akan melakukan panggilan video dengan mommy!”
“Yaaa Ampuun, Hizkiel!” teriak Livy dan Hizkiel langsung mematikan panggilannya.
Sedangkan Livy pun menepuk dahinya sendiri. “Dasar yaa! Anak ini semakin besar semakin ada-ada saja!” gumam Livy sambil mematikan kompor.
“Tidak jadi dimasak Nona?” tanya Maid yang membantu Livy memasak.
“Tidak perlu bu, mereka tidak jadi datang hari ini. Ibu bisa melanjutkan masak untuk Bobi, Terra,dan maid yang lainnya!” balas Livy.
“Baik, Nona!”
Livy langsung berbalik dan kembali ke kamarnya. Namun saat hendak menaiki anak tangga, langkahnya terhenti karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
“Eh!” Livy terkejut dan berbalik untuk melihat siapa yang berani memeluknya.
“Sayaaang!” pekik Livy saat melihat Marcho kini tengah mendekap tubuhnya.
__ADS_1
“SURPRISEEEE!” ucap Marcho, Hizkiel, Mom Merry, dan Mila.
“Kaliaaaaaan!” Livy kini tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia pun langsung memeluk suaminya dengan sangat erat dan Hizkiel pun memeluk Mommynya dari belakang.
“Maaf sudah membohongi Mommy. Mana mungkin Hizkiel bisa menahan rasa kangen Hizkiel sama Mommy!” balas Hizkiel.
Livy pun melepaskan pelukannya dengan Marcho dan berbalik memeluk putranya.
“Mommy juga sangat merindukanmu sayaaaang!” balas Livy.
Selepas itu Livy menyalami mom Merry dan menyapa Mila yang kebetulan memang sedang berlibur. Kemudian Livy mengajak mereka semua menuju ke ruang keluarga. Mereka pun langsung meluahkan kerinduan mereka di sana.
Mila, adik kandung Marcho langsung mengambil bantal dan menyalakan televisi. Mom Merry juga langsung duduk di kursi goyang yang memang Livy siapkan khusus untuk mertuanya. Marcho dan Hizkiel sama-sama mengapit Livy seolah tidak ingin jauh darinya.
Beberapa Maid pun juga langsung menyiapkan makan dibantu dengan Terra. Sedangkan Bobi mulai menurunkan barang-barang dari mobil.
“Mom, tinggal saja di sini!” pinta Livy mengiba. “Biarkan Hizkiel sekolah disini dan menemani Livy!”
Ini adalah permintaan Livy yang kedua kalinya selepas Mama Widya meninggal dunia. Permintaan yang pertama, Mom Merry tidak setuju karena takut dikira mengambil kesempatan atas harta kekayaan Mama Widya yang tentunya kini menjadi milik Livy sepenuhnya.
“Mommy tidak ingin Hizkiel merepotkanmu, sayang! Terlebih Marcho tidak bisa selalu mendampingimu!”
“Livy tidak repot Mommy!” balas Livy sambil mengusap kepala Hizkiel yang kini tidur di pangkuannya.
“Hizkiel!” panggil Livy dengan sangat lembut. “Kamu mau kan tinggal di sini bersama dengan Mommy?” tawar Livy dan Hizkiel pun tidak langsung menjawab, melainkan justru memandang ke arah Marcho yang duduk di samping Livy.
“Hizkiel...” panggil Livy lagi.
“Sssttt...!” Marcho langsung memberi kode kepada Hizkiel untuk tidak mengatakan sesuatu kepada Livy.
“Memang apa kata daddy?” tanya Livy sambil melirik tajam ke arah Marcho.
Hizkiel tidak berani lagi menjawab pertanyaan dari mommynya. Dan ini membuat Mila langsung ikut menimpali pertanyaan Livy. “Bang Marcho cemburu kalau Hizkiel yang tinggal sama Mommynya!”
Livy langsung menatap tajam ke arah Marcho. “Sayaaaaang!”
Panggilan Livy barusan membuat Marcho menelan ludahnya kasar dan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
“Bukan seperti itu maksudnya, sayang! Aku hanya sedang berusaha agar kita bisa hidup bersama di sini. Jadi aku meminta Hizkiel untuk bersabar.”
“Tapi kan Hizkiel, Mom Merry dan juga Mila bisa tinggal di sini kan sambil menunggu?” balas Livy.
“Mila juga bisa membantuku mengatur perusahaan. Aku bahkan sangat berharap ia tidak kembali ke London!”
Semuanya kini terdiam dan saling pandang satu sama lain. Mereka mulai bimbang dengan tawaran Livy.
“Apa kalian juga tidak ingin menemaniku yang sedang mengandung?” tanya Livy kemudian.
__ADS_1
“Kakak ipar hamil?” tanya Mila.
“Kamu mengandung, sayang?” tanya Mom Merry.
“Di perut Mommy udah ada adik Hizkiel ya?” Hizkiel langsung bangun dari pangkuan Livy dan mengusap perut mommynya.
“Kamu hamil, sayang?” tanya Marcho dengan mata yang berkaca-kaca.
Livy tersenyum dan langsung menganggukkan kepala. Marcho langsung tersungkur dan bersujud di lantai setelah mendengar kehamilan istrinya. Sedangkan Mila dan Mom Merry langsung menghambur memeluk Livy. Ruang keluarga saat ini penuh dengan kegembiraan tiada tara saat mendengar kehamilan Livy.
“Kalau begitu, Mommy, Mila, dan Hizkiel tidak perlu lagi pulang. Aku akan mengurus barang-barang kalian di penthouse dan membawanya kemari.”
“Mila juga tidak perlu lagi kembali ke London. Lebih baik kau bekerja bersama istriku di sini. Dan Hizkiel juga akan melanjutkan sekolahnya di sini!” tutur Marcho yang langsung membuat keputusan.
Awalnya, Marcho merasa tidak enak jika harus tinggal di Mansion mewah milik istrinya. Namun mendengar kehamilan istrinya, ia sendiri tidak mau menjadi suami yang egois dan membiarkan istrinya tinggal sendiri.
Ia pun menepuk bahu Mom Merry dan juga Mila pelan sambil memberi kode jika ia ingin membawa Livy ke kamar.
“Ehmmm!”
“Pelukannya udah dulu yaa. Sekarang gantian daddy!” ucap Marcho sambil melepaskan tangan Hizkiel yang memeluk Livy.
“No daddy! Hizkiel masih mau sama Mom Livy! Kan Hizkiel mau jaga adik yang ada di perut Mommy!” balas Hizkiel sambil menatap tajam ke arah daddynya.
Pertarungan antar daddy dan anak laki-lakinya pun di mulai. Untung saja Mila punya cara jitu untuk mencegahnya.
“Hizkiel, bagaimana jika kita berenang?” tawar Mila.
Benar saja, Hizkiel langsung melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya.
“Mommy, Hizkiel boleh berenang?” tanya Hizkiel.
“Tentu saja boleh sayang!”
“Mommy juga sudah menyiapkan semua yang Hizkiel butuhkan di sana!” balas Livy.
“You’re always the best mommy!” puji Hizkiel sambil mencium pipi Livy dan kemudian menarik tangan Mila.
“Ayo tante, kita berenang!”
“Oke, Hizkiel!” Mila pun mengikuti langkah Hizkiel sambil memberi kode kepada Marcho.
“Jangan lupa ya bang, berapa digit ke rekening Mila!”
🍄🍄🍄
Naaaah, kira-kira Marcho mau ngapain yaaa?
__ADS_1
Sambil menunggu kelanjutannya, mampir yuk ke Novel aku uang lainnya.