Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Penjelasan Marcho dan Livy


__ADS_3


Kini Marcho sudah duduk di ruang kerja dengan posisi yang saling berhadapan dengan Mommynya. Tatapan tajam dari Mom Merry membuat Marcho menelan ludahnya dengan kasar sambil mencoba untuk menenangkan dirinya.


“Jelaskan semuanya, Marcho!” pinta Mom Merry.


Marcho langsung menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Rasa dingin di ruang kerjanya semakin terasa menusuk kulitnya.


“Mommy sudah tahu bukan jika Livy salah masuk ke apartemenku dan mengaku jika dirinya hamil?” tanya Marcho.


“Jangan mengulang cerita yang Mommy sudah tahu, Marcho. Yang mommy butuhkan dari penjelasan kamu adalah Kenapa Livy masih memanggilmu dengan sebutan Tuan, padahal kalian berdua sudah menikah?”


“Bukankah dulu kamu mengatakan pada Mommy jika kamu sudah menemukan wanita yang tepat untuk menjadi istri dan juga mommy untuk Hizki? Kamu juga mengatakan jika kamu dan Livy benar-benar saling mencintai satu sama lain?”


“Bahkan sampai Mommy sesegera mungkin memesan tiket penerbangan untuk datang ke sini dan melihat kalian berdua menikah!”


“Apa semua ini kebohongan kalian?”


Marcho pun akhirnya mengakui jika awalnya dia sendiri yang menjadikan Livy tawanan cintanya demi memenuhi janjinya kepada Hizkiel. Janji yang baru 7 tahun dapat ia penuhi untuk membuat Hizkiel merasa memiliki Mommy.


Dan benar saja, kedatangan Livy di kediamannya membuat Hizkiel selalu gembira dan bersemangat setiap harinya.


“Kalau begitu kau sudah menyiksa Livy dan Mommy sama sekali tidak membenarkan hal itu.”


“Tapi, Mom...”


“Mommy yakin, kalian pasti belum melakukan hubungan suami istri bukan?” tanya Mom Merry yang langsung diangguki kepala oleh Marcho.


“Kalau begitu ceraikan dia, biarkan Livy bebas karena Mommy tidak mau ia tertekan dan terpaksa tinggal di sini!” titah Mom Merry membuat Marcho sangat terkejut.


Marcho pun langsung bersimpuh di kaki Mommynya dan memohon agar Mommynya mencabut permintaannya kali ini.


“Jangan Mom! Aku mohon jangan!”


“Kenapa?”


“Aku sudah mulai mencintainya, Mom!” ungkap Marcho membuat Mom Merry terkekeh pelan.


“Cih, Mommy sangat mengenalmu, Marcho! Jangan mengaku cinta demi membuat Hizki bahagia dan membuat Livy merana seperti ini!”


“Kau adalah anak mommy yang tidak mungkin jatuh cinta semudah itu!”


“Tapi aku benar-benar sudah mencintai Livy, Mom!” balas Marcho. “Dan aku tidak akan melepaskannya dari hidupku!”


“Livy tahu akan hal ini?” tanya Mom Merry dan Marcho pun menggelengkan kepalanya.


“Aku masih belum mengungkapkannya, Mom. Aku tidak mau cintaku bertepuk sebelah tangan.”


“Lalu?” tanya Mom Merry sambil mengernyitkan dahinya.


“Bantu aku kali ini untuk mendapatkan cintaku. Aku mohon, Mom. Aku benar-benar sudah mencintai Livy. Setelah Livy membalas cintaku, maka aku akan langsung mengungkapkan perasaanku padanya.”


“Tapi bagaimana jika Livy ternyata memang tidak bisa membalas cintamu? Kau justru akan membuatnya semakin tersiksa, Marcho!”

__ADS_1


“Aku mohon beri aku waktu 3 bulan Mom. Jika memang Livy tidak bisa mencintaiku, maka aku akan melepaskannya.”


“Satu bulan, Mommy hanya akan mengizinkanmu menjadikan Livy sebagai tawanan selama satu bulan dan setelah itu kau harus melepaskannya!”


“Dua bulan, Mom. Aku mohon beri aku waktu dua bulan dari sekarang!” pinta Marcho.


“Tidak, Marcho! Satu bulan atau tidak sama sekali. Mom tidak tega membuat anak orang menderita selama itu.”


Marcho mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar harus berjuang selama satu bulan untuk mendapatkan cinta dari Livy.


“Oke, Mom. Aku terima!” balas Marcho seiring dengan ketukan pintu di ruang kerjanya.


“Mom, boleh Livy masuk?” tanya Livy dari luar.


“Masuklah, Livy!” balas Mom Merry.


Livy pun masuk dan duduk di samping Marcho. Kali ini wajah Livy terlihat lebih santai dibandingkan wajah Marcho yang tampak sedikit tegang.


“Oke, karena Livy sudah ada di sini, Mommy butuh kejelasan dari kalian berdua!”


“Siapa dari kalian yang akan menjelaskan kepada Mommy, kenapa Livy memanggil suaminya dengan panggilan TUAN?” tanya Mom Merry mempertegas kalimat ujungnya.


“Suamiku, Mom!” “Livy, Mom!” ucap Marcho dan Livy secara serempak.


“Karena Livy yang memanggil seperti itu, jadi Mommy minta Livy yang harus menjelaskan hal ini!” ucap Mom Merry yang sudah ingin mendengar penjelasan dari menantunya.


“Emm, Livy hanya salah panggil Mom. Kebiasaan kalau di kantor kan dulunya manggil Tuan Marcho!” jawab Livy dengan santai.


Deg!


Entah mengapa sentuhan Livy kali ini membuat darah Marcho berdesir dan jantungnya bertalu-talu. Ia pun membalas genggaman Livy dan langsung mengecup punggung tangan istrinya di depan Mom Merry.


“Tentu saja, sayang!” balas Marcho.


Ucapan Marcho barusan membuat Livy gantian berdebar-debar tidak menentu. Bahkan tubuhnya terasa meremang mendapati Marcho bersikap demikian di depan mertuanya.


‘Ayolah Livy, beraktinglah dengan baik jika kau tidak ingin masuk ke dalam bui!’ gumam Livy dalam hati.


Sedangkan Mom Merry justru memberi penilaian yang berbeda terhadap hubungan Livy dengan putranya.


‘Pintar sekali Livy berakting di depanku. Aku pikir ia akan membuka semua rahasia yang ia tutupi selama ini seperti saat Livy memberi tahukan tentang kebohongannya yang sudah mengaku hamil anak Marcho.’


‘Ternyata dugaanku kali ini tidak tepat!’ gumam Mom Merry dalam hati.


“Berarti saat di kantor kau memanggil putraku dengan sebutan Tuan?” tanya Mom Merry lagi.


Pertanyaan Mom Merry kali ini membuat Livy mulai tergagap tidak tahu harus menjawab apa. Untung saja Marcho langsung menjawab pertanyaan Mommynya dan membuat Livy sedikit merasa lega.


“Tentu saja tidak, Mom. Ia memanggilku seperti itu terkadang hanya sekedar untuk meledekku!” jawab Marcho sambil melingkarkan tangannya di pinggang Livy.


“Ooooh, jadi ini hanya kesalahpahaman Mommy saja?”


Marcho dan Livy sama-sama menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu. Mommy kembali ke kamar dulu. Oh iya Marcho, sepertinya sore ini kau harus mengantarkan Hizkie ke toko buku karena ada beberapa buku yang ingin ia beli.”


“Siap Mommy, aku akan mengantarkan Hizkiel pergi bersama dengan istriku!” balas Marcho yang semakin mengeratkan tangannya di pinggang Livy.


Setelah Mom Merry keluar dari ruang kerja, Livy pun langsung menatap Marcho dengan tatapan protesnya.


“Maaf Tuan, Mom Merry sudah keluar!” Livy mencoba melepaskan tangan Marcho yang masih melingkar di pinggangnya.


“Tuan?” tanya Marcho sambil terus mendekatkan tubuhnya dengan Livy.


“Tuan lagi?” Marcho semakin mengikis jaraknya dan membuat posisi Livy benar-benar terkunci.


“Emm, bukan seperti itu?” balas Livy dengan suaranya yang tercekat.


“Who am I?”


Pertanyaan Marco membuat Livy menelan ludahnya kasar. “Suamiku!” jawab Livy sambil memalingkan wajahnya ke samping.


‘Duuuh, kenapa aku jadi gak karuan gini sih?’ batin Livy.


“Apa kau merasa malu sampai kau memalingkan wajahmu seperti ini?” tanya Marcho.


“Jangan-jangan kau sudah mulai jatuh cinta padaku!” bisik Marcho tepat di telinga Livy.


“Ma-mana mungkin saya jatuh cinta dengan Anda!” protes Livy dan kini ia mulai berani menatap Marcho yang hampir tidak berjarak dengannya.


“Oh yaa? Bagaimana jika itu mungkin, Livy?” Jari telunjuk Marcho mulai menyentuh kening Livy dan turun mengabsen wajah istrinya.


“Sayangnya saya masih mencintai kekasih saya yang dulu!” balas Livy membuat hati Marcho tercubit.


Marcho langsung melepaskan tubuh Livy begitu saja dan duduk di sofa. ‘Ck, sial! Lagi-lagi aku mencintai wanita yang sama sekali tidak mencintaiku dan justru mencintai pria yang sama dengan yang dulu!’


‘Tidak! Tidak bisa kubiarkan! Aku harus membuat Livy membalas cintaku karena aku yakin, Randy bukanlah pria yang tepat untuk dicintai oleh Livy.’


“Kekasih yang mana? Randy maksudnya?” tanya Marcho yang langsung diangguki oleh Livy.


“Memangnya sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan Randy?”


“6 bulan dan setelah itu dengan bodohnya aku justru meninggalkannya selama satu tahun!” balas Livy dengan jujur.


“Apa kau tahu siapa Randy yang sesungguhnya?” tanya Marcho lagi.


“Tentu saja. Bahkan saya juga mengenal keluarganya dengan baik!” jawab Livy dengan mantap.


‘Keluarga? Hemm, sepertinya Livy tipikal wanita yang mudah untuk ditipu. Kita lihat saja apa yang Livy lakukan setelah mengetahui jika Randy bukanlah pria baik seperti yang ia kira!’ gumam Marcho dalam hati.


“Livy, bersiaplah! Kita akan mengantar Hizki ke toko buku!” titah Marcho sambil berdiri meninggalkan Livy.


“Baik, suamiku!” balas Livy yang mulai bisa bernafas lega.


‘Huuuh, untung saja Tuan Marcho tidak marah dan bertanya yang macam-macam tentang Randy! Padahal aku sendiri belum bertemu dengan kedua orang tua Randy. Bagaimana bisa bertemu jika orang tuanya saja berada di London?’ batin Livy yang selama ini hanya berhubungan dengan orang tua Randy lewat telefon dan itu pun hanya beberapa kali saja.


__ADS_1


__ADS_2