Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Ucapan Terima Kasih


__ADS_3


Livy terdiam tidak menanggapi celotehan Marcho barusan sambil tetap mengobati wajah suaminya yang babak belur. Ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan saat melihat Randy bersama dengan wanita lain.


Kecewa? Bagaimana bisa merasa kecewa sedangkan Livy sendiri yang lebih dulu meninggalkan Randy tanpa menghubunginya selama satu tahun.


Marah? Untuk apa Livy marah? Ia sendiri tidak berhak atas diri Randy. Statusnya sebagai kekasih Randy baginya sudah tidak ada sejak ia pergi meninggalkan Mansion Utama.


Namun yang membuat Livy bertanya-tanya apa alasan Marcho berkelahi dengan Randy kali ini. Jika masalah bisnis, menurut Livy sudah tidak ada masalah sama sekali.


Di tengah berbagai pikiran Livy yang berkecamuk di dalam kepalanya, Marcho terus saja memandangi wajah Livy tanpa berpaling sedikit pun.


‘Kenapa semakin hari semakin menawan saja? Parasnya, sorot matanya saat memandangku, dan segala perhatiannya membuatku semakin jatuh cinta.’


‘Sayangnya, aku belum tahu bagaimana perasaan Livy terhadapku.’


‘Ck, aku hanyalah seorang duda beranak satu yang habis manis sepah dibuang. Sedangkan Livy adalah gadis belia yang aku tawan dan tentunya masih dalam segel yang utuh.’


‘Huft, kenapa aku malah jadi minder begini sih? Ayolah Marcho, kau harus percaya diri untuk mendapatkan Livy!’ batin Marcho berkecamuk.


‘Buat dia jatuh cinta!’


‘Jangan pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Livy. Waktunya tinggal 29 hari ke depan!’

__ADS_1


Marcho terus saja menyemangati dirinya sendiri sampai ia tidak sadar jika Livy telah selesai mengobatinya.


“Saya sudah selesai mengobati luka Anda. Istirahatlah! Saya akan membuatkan sup hangat dan memberikan Anda obat pereda nyeri untuk Anda!” ucap Livy membuyarkan lamunan Marcho.


Livy pun bergegas meninggalkan Marcho, namun dengan cepat Marcho menarik tangan Livy hingga Livy terjatuh tepat di pangkuan Marcho.


“Terima kasih, Livy!” tutur Marcho membuat Livy salah tingkah.


‘What?! Tuan Marcho mengucapkan terima kasih padaku?’ gumam Livy dalam hati yang tanpa ia sadari wajahnya mulai merona.


“Terima kasih, istriku sayang!” bisik Marcho mengulangi lagi ucapannya tepat di telinga Livy dan membuat Livy mulai meremang.


“Amm, emm, i-iya Tu-Tuan. Eh Su-a-mi-ku!” jawab Livy tergagap.


“Sepertinya kau sangat ingin aku hukum yaaa?” tanya Marcho. “Atau sebenarnya kau mulai ket4gih4n dengan ciuman dariku?”


Livy yang semakin salah tingkah mulai berusaha untuk turun dari pangkuan suaminya, sayangnya kekuatan Livy tidak sebanding dengan kekuatan Marcho yang kini tengah merengkuh tubuh istrinya.


“Lepaskan saya!” pinta Livy menggeliat kan tubuhnya.


“Memohonlah dengan benar, istriku sayang!” balas Marcho membuat Livy menelan ludahnya kasar.


‘Huft, baru kali ini aku terus terusan mengucapkan dan mendengarkan kalimat sayang yang sama sekali tidak ada artinya!’

__ADS_1


‘Baiklah, aku akan ikuti permainanmu, Tuan Marcho!’


Livy menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Marcho dan menatapnya intens.


‘Sial, Tuan Marcho benar-benar sangat tampan. Oh My God, kenapa hatiku jadi dag dig dug gak tentu gini sih!’


“Lepaskan saya, sayang!” pinta Livy.


“Jangan bicara formal seperti itu istriku sayang! Aku ini suamimu, bukan bosmu!” balas Marcho sambil membalas tatapan Livy.


“Lepaskan aku, suamiku sayang!” ulang Livy.


Bukannya menuruti permintaan istrinya, Marcho justru mengangkat tubuh Livy ala bridal style ke atas tempat tidur.


“Kau membuatku tidak sabar untuk membuat bayi denganmu, Livy!” balas Marcho yang h4sr4tnya semakin membuncah mendengar permintaan Livy barusan yang terdengar begitu mesra di telinganya.


“Apaaa?!”


“Jangan macam-macam denganku atau kau akan menyesal seumur hidupmu!” ancam Livy yang sudah mulai was-was.


Sayangnya ancaman Livy hanya angin lalu di telinga Marcho. Ia tetap membawa istrinya yang terus saja mengeliatkan tubuhnya menuju ke tempat tidur.


💕💕💕

__ADS_1



__ADS_2