Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Lunch with Marcho


__ADS_3


Livy yang baru saja selesai memberikan arahan kepada timnya langsung menangkap sosok Marcho yang kini tengah berjalan ke arahnya dengan jas kerja yang ia sampirkan di lengannya.


Pesona Marcho yang tampak semakin mempesona di mata Livy membuat Livy sedikit salah tingkah mendapati Marcho yang terus menatap ke arahnya dan menyunggingkan senyumnya.


Meski statusnya adalah seorang duda beranak satu sebelum menikahi Livy, tetap saja paras Marcho mampu membius para gadis muda yang memandangnya. Terbukti dari segerombolan gadis muda yang sedang cuci mata di Mall berdiri terpaku saat Marcho lewat di depan mereka.


Tatapan gerombolan gadis muda ke arah Marcho membuat Livy merasa sedikit cemburu dan tidak terima. Namun, lagi-lagi Livy tersadar jika ia sama sekali tidak berhak untuk merasa cemburu karena Marcho bukanlah miliknya.


“Hai sayang!” sapa Marcho yang mulai mendekat ke arah Livy.


“Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya sambil mengecup mesra pipi kanan Livy.


Deg!


Sapaan Marcho barusan membuat nafas Livy menderu bagai lari maraton. Ada gelenyar aneh yang mulai menjalari tubuhnya saat mendapatkan perlakuan hangat dari Marcho barusan.


“Ba-baik, sayang!” jawab Livy sedikit tergagap.


“Aku sangat lapar dan ingin makan siang bersamamu!”


Tangan Marcho langsung melingkar ke pinggang istrinya dan mengajaknya menuju ke restoran VIP di Grand Mall yang tentunya sudah reservasi sebelumnya.


“Sayang!” panggil Livy dengan nada berbisik. “Apa kau bisa bersikap biasa saja terhadapku?” tanyanya dengan hati-hati.


“Tentu saja tidak, Livyku sayang!” balas Marcho sambil menoel hidung istrinya. “Aku ingin semua orang tahu jika kau adalah milikku!”

__ADS_1


“Ck, kau sangat berlebihan suamiku!” gerutu Livy pelan saat mereka sudah sampai di tempat yang sebelumnya sudah direservasi.


“Bagaimana jika nantinya tidak ada lelaki yang mau denganku saat kau sudah melepaskan diriku dari tawananmu, suamiku?” tanya Livy sambil duduk tepat di hadapan Marcho.


Marcho terkekeh pelan mendengar pertanyaan Livy barusan. “Bagus dong! Jadi kau akan terus selamanya bersamaku!” jawab Marcho dengan santai.


“Aku tidak mau!”


Livy dengan tegas langsung menampik ucapan Marcho barusan dan tentunya membuat Marcho sangat terkejut.


“Kenapa?”


Perlahan Livy menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.


“Tentu saja karena aku tidak mau menjadi perawan tua! Aku ingin menikah dengan pria yang tampan, penuh perhatian dan kehangatan, dan satu lagi ...”


Livy sendiri berkali kali menelan ludahnya kasar saat menangkap tatapan Marcho yang tampak berbeda dari sebelumnya. ‘Ingat Livy! Jangan sampai terjebak dengan tatapan Tuan Marcho!’ batin Livy mengingatkan dirinya sendiri.


‘Meskipun dia tampan dan mulai bersikap hangat denganmu, tetap saja statusmu saat ini adalah tawanan, tidak lebih!’


“Silakan dinikmati Tuan dan Nyonya!” tutur waiters sambil meninggalkan ruangan dan tentunya membuyarkan lamunan Livy.


“Oh iya, terima kasih!” balas Livy yang sudah siap dengan pisau dan garpunya untuk memotong steak.


“Livy, lanjutkan ucapanmu yang tadi!” pinta Marcho yang tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Livy.


“Emm, aku hanya ingin hidup bahagia dengan pria yang aku cintai!” jawab Livy.

__ADS_1


Jawaban Livy barusan membuat hati Marcho terasa sedikit perih. ‘Berarti Livy sama sekali belum mencintai aku?’ gumam Marcho dalam hati.


 Ada sebersit rasa kecewa yang menjalarinya saat ini. Namun, ia cepat cepat menepis perasaan kecewa tersebut mengingat batas waktu untuk membuat Livy jatuh cinta semakin hari semakin dekat.


“Apa aku tidak bisa masuk dalam daftar pria yang kau cintai, Livy?” tanya Marcho membuat Livy langsung tersedak.


Melihat istrinya batuk batuk sampai mengeluarkan air mata, Marcho pun langsung berpindah untuk duduk di samping Livy, menepuk punggungnya pelan, dan menyodorkan minum ke arahnya.


“Maaf sudah membuatmu terkejut sampai tersedak seperti ini!” ucap Marcho saat Livy tengah meneguk minumannya.


“Eh, tidak apa-apa! A-aku hanya kurang hati-hati aja!” timpal Livy sambil mengusap air yang ada di ujung bibirnya.


“Apa aku bisa masuk ke dalam daftar pria yang kau cintai, Livy?!” tanya Marcho mengulang pertanyaannya. Namun kali ini lebih terdengar begitu mendesaknya.


Lagi-lagi Livy harus menelan ludahnya kasar mendengar pertanyaan Marcho barusan. Apalagi saat ini jarak duduk mereka berdua sangat dekat.


Bahkan aroma maskulin Marcho terhirup jelas dalam penciumannya dan membuatnya begitu nyaman berada di dekat Marcho.


“Emm, aku hanya akan mencintai pria yang juga mencintaiku. Baru setelah itu, masuk ke dalam daftar pria yang aku cintai!”


Jawaban Livy barusan membuat Marcho semakin mengikis jarak antara mereka berdua. Tidak hanya itu, Marcho juga semakin berani merengkuh tubuh Livy hingga tubuh mereka kini tak berjarak.


“Bagaimana jika aku adalah pria yang sangat mencintaimu, menyayangimu, dan sangat ingin bersamamu sampai akhir hidupku, Livy?” tanya Marcho.


💕💕💕


__ADS_1


__ADS_2