Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
I Love You


__ADS_3


 “Bagaimana jika aku adalah pria yang sangat mencintaimu, menyayangimu, dan sangat ingin bersamamu sampai akhir hidupku, Livy?” tanya Marcho.


Deg!


Debaran di dada Livy semakin bergemuruh tidak menentu. Jantungnya saat ini seperti menabuh genderang perang yang terdengar begitu bertalu-talu.


Siapa yang tidak ingin menjadi wanita yang spesial di hati Marcho? Pria dewasa yang tidak hanya tampan, tetapi juga mapan dengan sejuta kharisma yang ia punya.


Namun di sisi lain, Livy masih sedikit merasa ketakutan jika apa yang diucapkan Marcho hanyalah jebakan yang nantinya akan mempermalukan dirinya sendiri.


‘Ini serius atau cuma main-main?’ tanya Livy dalam hati.


‘Kalo hanya main-main dan jebakan yang dibuat oleh Tuan Marcho, kenapa sorot matanya mengatakan jika apa yang ia ucapkan adalah sebuah keseriusan?’


‘Aku harus jawab apa yaa? Aduuh, kenapa jadi gak karuan gini sih?’


Perang batin dalam diri Livy kini membuatnya begitu sesak dan merasa sulit untuk bernafas.


Sedangkan Marcho kini tengah menunggu jawaban yang keluar dari mulut Livy. Sayangnya Livy justru mendorong dadanya untuk sedikit menjauh dan memalingkan wajahnya dari tatapan maut Marcho.


“Candaanmu tidak lucu suamiku!” balas Livy membuat Marcho mengerutkan dahinya.


“Siapa yang bercanda? Aku serius Livy!” tegas Marcho.


“Aku benar-benar jatuh cinta denganmu!”


“Dan aku ingin kau selamanya menjadi istriku, membina rumah tangga denganku, den membesarkan Hizkiel serta anak-anak kita bersama!”

__ADS_1


Livy terdiam dan semakin terjun dalam kebimbangannya atas ucapan Marcho barusan. Antara iya dan tidak, antara benar dan hanya pura-pura.


“Stop, Tuan! Aku mohon jangan menyiksaku seperti ini!” bentak Livy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Bagaimana jika aku menganggap jebakan anda benar adanya?”


“Bagaimana jika aku sudah tenggelam dalam perasaan cinta dan sayang terhadap anda?”


“Bagaimana jika aku nantinya tidak bisa move on darimu saat kau benar-benar melepasku pergi?”


“Apa kau pernah memikirkan bagaimana sakitnya aku?”


Tangis Livy pecah seketika setelah mengungkapkan segala kebimbangannya dalam hati. Meski kini hatinya begitu teriris iris, setidaknya ia lega sudah meluahkan segala kebimbangannya.


Dengan sigap Marcho langsung merengkuh tubuh Livy dan memeluknya dengan sangat hangat. Ia membiarkan Livy menangis dalam pelukannya meski kemejanya harus basah karena air mata Livy.


“Aku benar-benar tulus mencintai dan menyayangimu.”


“Perjanjian yang aku buat tak lain hanya karena aku takut kehilangan dirimu yang selalu saja berusaha melarikan diri dariku!”


“Aku akan menuruti semua permintaanmu agar kau percaya padaku jika ini bukan jebakan, melainkan kesungguhan aku, sayang!” jelas Marcho panjang lebar sambil mengusap kepala Livy dengan sangat lembut.


Penjelasan Marcho barusan terasa seperti tetesan embun yang begitu menyejukkan hati Livy. Seketika hatinya bersorak gembira tiada tara mendengar pernyataan Marcho barusan.


Bahkan Livy serasa terbang melayang dibuatnya antara percaya atau tidak. Jika Marcho sebelumnya memperlakukan dirinya dengan begitu dingin, ketus, dan sangat menyebalkan. Kini sudah tidak lagi.


Livy merasa bagai ratu yang memperoleh kehangatan dari suaminya yang bukan orang sembarangan. Duda tampan yang penuh perhatian. Ah, seperti mimpi bagi Livy yang tidak ingin terbangun dari mimpinya.


Namun, Livy yang mulai tersipu malu hanya bisa mengucapkan satu kata dengan nada manja yang keluar dari bibirnya. “Bohong!”

__ADS_1


Marcho langsung melepaskan pelukannya dan memegang dagu Livy serta menatapnya lebih intens. Perlahan ia mengusap bekas air mata yang masih tertinggal di wajah Livy.


“Aku tidak berbohong sayang! Kau bisa memberi hukuman padaku jika kali ini aku berbohong dan main-main denganku!” balas Marcho.


Lagi-lagi Livy hanya bisa terdiam karena ia tidak tahu harus berkata apa. Kini ia sudah menaruh kepercayaannya seratus persen terhadap Marcho jika pria yang menjadi suaminya saat ini benar-benar begitu mencintainya.


“Aku sangat mencintai dan menyayangimu, Livy!” ucap Marcho yang terus mengulang pernyataan cintanya.


Kali ini Marcho sambil mengusap bibir ranum Livy yang sedari awal sudah membuatnya begitu kecanduan. Sedangkan Livy sendiri mulai berani melingkarkan tangannya di leher Marcho.


“Aku juga sangat mencintaimu, Tuan Tampan!” balas Livy.


Marcho langsung mendaratkan bibirnya tanpa aba-aba ke bibir istrinya. Ia langsung mengabsen bibir Livy dengan sangat lembut tapi begitu menuntut, hingga Livy mau tidak mau harus membalas pagutan dari Marcho.


Keduanya kini sama sama tenggelam dalam luahan pernyataan cinta yang baru saja terungkap dari masing-masing mereka.


Meski Marcho sudah mempersiapkan kencan romantis malam ini untuk menyatakan perasaannya, ia tidak menyesal jika harus mengungkapkannya terlebih dahulu.


Bukan tanpa alasan, ia sendiri sudah tidak sanggup mengutarakan isi hatinya dengan Livy jika harus menunggu sampai nanti malam.


Makan siang mereka kali ini begitu memberikan kesan terdalam. Marcho yang sudah melepaskan pagutannya kini memandangi wajah cantik istrinya yang tengah merona sambil mengusap bekas pagutannya di bibir Livy.


“Terima kasih sudah membalas perasaanku, Livy. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia!”


 


💕💕💕


__ADS_1


__ADS_2