Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
The Wedding


__ADS_3


Livy yang sudah duduk di dalam mobil pengantin kini terus saja membuang wajahnya ke luar jendela. Ia terus saja merutuki kebodohannya sepanjang jalan. Marcho yang melihat Livy sangat mengabaikannya mulai membuat perhitungan Livy kali ini.


“Kita langsung menuju Carl Resto saja, Fredy! Aku akan sarapan lebih dulu dengan keluargaku sebelum melangsungkan pernikahan!” titah Marcho.


“Baik Tuan!”


Fredy pun langsung memenuhi titah dari Tuannya. Pernikahan mereka memang akan dihelat jam 11 siang. Sedangkan saat ini waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi.


Namun entah kenapa perasaan Livy mulai tidak enak saat mendengar Marcho akan mengajaknya sarapan dengan keluarganya.


Sesampainya di tempat yang dituju, Livy memutuskan untuk tidak ikut makan bersama Marcho. Ia memilih untuk menunggu di lobby sampai Marcho menyelesaikan sarapannya.


“Aku masih kenyang. Jadi aku akan menunggu Anda selesai sarapan di sini!” ucap Livy yang bersiap untuk duduk di sofa tunggu.


Namun dengan cepat Marcho langsung mengamit lengan Livy.


“Tidak bisa!”


“Kau harus tetap ikut denganku!” titah Marcho dengan tegas.


Dengan terpaksa Livy pun mengikuti langkah Marcho untuk masuk ke dalam restoran. Perasaan Livy yang merasa tidak tenang semakin berkecamuk dalam hati.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat matanya menatap sosok yang sangat ia kenal.


“Mama!” pekik Livy pelan dengan suaranya yang tertahan.


Secepat kilat Livy menghempaskan tangan Marcho dengan kasar dan siap berbalik untuk melarikan diri. Namun sayangnya sosok Livy langsung tertangkap oleh Mama Widya.


Melihat putrinya siap untuk melarikan diri saat melihatnya, Mama Widya pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Livy. Jangan ditanya bagaimana kalang kabutnya Livy saat ini. Terlebih saat Mama terlihat datang bersama papa tirinya.


“Kau benar-benar penipu ulung paling bengis yang aku kenal, Tuan!” umpat Livy gusar.


“Aku tidak akan melakukan semua ini jika dari awal kau menurut denganku, Livy!”


“Bahkan aku pastikan hari ini juga kau akan kembali kepada kedua orang tuamu jika kau berani lagi melarikan diri!” ancam Marcho membuat Livy terpaku sambil membuang nafasnya kasar.


‘Aaaaarrrrgggghhhh!’ teriak Livy dalam hati.


‘Kenapa harus seperti ini jadinya?!’


“Livy sayang! Akhirnya Mama bisa menemukanmu, Nak!” ucap Mama Widya dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Sudah lama ia menantikan putrinya pulang ke Mansion, namun sudah setahun berlalu Livy tidak kunjung kembali. Sampai saat Marcho memberinya kabar jika ia bertemu dengan Livy, secepat kilat Mama Widya terbang ke tempat di mana putrinya berada.


Livy hanya menundukkan kepalanya saat Mamanya memeluknya dengan erat tanpa membalas pelukan mamanya. Sikap Livy membuat Mama Widya tersadar jika putrinya masih marah dengannya.


Mama Widya sangat paham dengan sikap putrinya yang sama sekali belum menerima Julio sebagai papa tirinya.


“Mama sangat merindukanmu, sayang! Maafkan Mama yang belum bisa memenuhi semua keinginanmu hingga menyebabkan kamu pergi dari Mansion Utama!” ucap Mama Widya panjang lebar.


Sayangnya Livy hanya bungkam tidak menanggapi ucapan mamanya sedikit pun.


Sedangkan Marcho yang melihat sikap Livy justru semakin penasaran, apa yang membuatnya kabur dari kemewahan yang selama ini melekat dalam dirinya.


"Nyonya, lebih baik kita duduk dan bicara dengan baik-baik!" ucap Marcho sambil menarik Livy dari pelukan mamanya.


"Aku benar-benar sangat membencimu, Tuan!" gumam Livy pelan saat mereka berdua melewati Mama Widya dan duduk di tempat yang sudah dipesan.


"Terserah! Yang jelas aku hanya minta kau patuh padaku!"


"Karena jika tidak, aku akan mengembalikanmu kepada mamamu sekarang juga!" ancam Marcho.


"Aku berjanji akan patuh. Tapi aku mohon jangan pulangkan aku!" pinta Livy memohon dengan sungguh-sungguh.


"As you wish, baby!" balas Marcho.


Satu hal yang tidak dipahami oleh Livy adalah Mamanya yang otoriter itu mengizinkan Marcho menikahinya tanpa melayangkan protes sedikit pun.


Hanya papa tirinya yang tampak tidak setuju ia menikah dengan Marcho. Namun Papa tirinya juga hanya bisa diam tanpa membantah sedikit pun.


Setelah mengantongi izin dari orang tua Livy, pernikahan mereka pun dihelat dengan sakral dan sangat meriah. Bukan lagi dengan sembunyi-sembunyi seperti apa yang tertulis dalam surat perjanjian kemarin.


Kini Livy sudah resmi menjadi Nyonya Marcho dan juga Mommy dari Hizkiel.


Setelah serentetan prosesi pernikahan terlewati, kini Marcho menatap Livy secara intens sambil melingkarkan tangannya di pinggang Livy cukup erat.


Kedua netra mereka pun bertemu dan entah kenapa membuat hati Livy sedikit berdesir.


'Sial! Kenapa bos duda ini terlihat sangat tampan di mataku?' batin Livy yang berusaha membuang pikirannya jauh-jauh.


'Jangan terkecoh dengan penampilannya, Livy! Sampai kapan pun dia tetaplah duda yang habis manis sepah dibuang!'


Perlahan Marcho mengangkat dagu Livy dan mengikis jarak mereka berdua lebih dekat lagi.


"Lakukan dengan baik, Livy!" bisik Marcho pelan dan Livy langsung memejamkan matanya sebagai tanda jika dia kini sudah siap.

__ADS_1


Tanpa mengulur waktu lagi, Marcho pun mendaratkan bibirnya di bibir Livy yang statusnya kini telah sah menjadi istrinya.


Sedangkan Livy pun membuka bibirnya sedikit dan membalas permainan Marcho hingga membuat Marcho menekan tengkuk leher Livy dan memperdalam ciumannya.


Semua tamu undangan yang hadir pun tampak terkesima dengan kedua mempelai yang terlihat sedang di mabuk asmara.


Satu ciuman mesra membuat Marcho hampir terlena karena diam-diam ia begitu menikmati permainannya tadi. Ia pun mulai melepaskan pagutan mereka dan mengusap bibir Livy yang sedikit membengkak karena ulah nya itu dengan sangat lembut.


'Kenapa bibirnya terasa sangat manis dan memabukkan seperti ini?' tanya Marcho dalam hati.


'Tidak tidak! Dia sama sekali bukan wanita yang pantas untuk aku cintai!'


'Aku hanya sedang menjadikannya tawanan untuk membantuku mengurus Hizkiel. Tidak lebih!'


Kini tiba saatnya pemberian ucapan selamat kepada kedua mempelai. Hampir 95% Livy tidak mengenal tamu undangan yang hadir.


Hanya beberapa rekan di kantornya saja yang Livy kenal dan itu pun mereka sangat terkejut saat mendapat kabar jika Livy adalah wanita yang dipilih Tuan Marcho sebagai istrinya.


"Mommy, akhirnya aku bisa memiliki Mommy sekarang!" ucap Hizkiel sangat bahagia.


Livy pun langsung memeluk Hizkiel dengan begitu hangat.


"Mulai saat ini, Mommy akan membacakan cerita untukmu sebelum tidur, sayang!" ucap Livy sambil mengusap kepala Hizkiel.


"Benarkah?" tanya Hizkiel dengan mata berbinar.


"Tentu saja!" jawab Livy dengan mantap karena tujuannya menikah hanya untuk Hizkiel dan juga Mom Merry.


"Bahkan Mommy juga akan membuatkan bekal untuk sekolah setiap hari!" lanjut Livy.


"Oh Daddy, kau benar-benar sangat pintar mencarikan Mommy untukku. I Love You So Much, Dad!" ucap Hizkiel yang benar-benar terlihat sangat bahagia.


"Love You too, Son!" balas Marcho. "Kembalilah duduk bersama dengan tante Mila dan juga Oma! Setelah acara selesai kau bisa bermanja-manja lagi dengan Mommy Livy!"


"Oke Daddy!"


Hizkiel pun langsung menjauh dari Marcho dan bergabung di meja onty Mila dan juga Omanya.


"Akhirnya aku melihat binar matanya yang terlihat sangat gembira! Padahal kali ini bukan aku yang pintar mencari Mommy untuknya, melainkan ada kelinci bodoh yang terperangkap di dalam apartemenku!" gumam Marcho yang terdengar jelas di telinga Livy.


"Ck, kenapa tidak Anda lepaskan saja kelinci bodoh nya?" tanya Livy sedikit kesal.


"Untuk apa dilepas, jika kelincinya justru sangat lezat untuk dinikmati?" balas Marcho berbisik.

__ADS_1


__ADS_2