Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Tidak Bisa Berkutik


__ADS_3


“Akhirnya, aku bisa menikmati kehidupan yang sebenarnya kali ini!” gumam Fredy sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur king size di apartemen yang sudah ditinggalkan Randy.


“Apartemen mewah ditinggalkan begitu saja untukku. Untungnya aku juga sudah mendapatkan banyak uang dari Randy!”


“Huuuh, ternyata memanfaatkan orang orang kaya bodoh itu sebahagia ini!”


Fredy pun memejamkan matanya. Beberapa hari ini ia merasa begitu lelah menyembunyikan dirinya dari Marcho dan juga kejaran polisi.


Namun baru saja terlelap, terdengar suara bel apartemen yang berdering berkali-kali dan membuatnya terkejut dan langsung membuka matanya.


“Aaarrrgggghhhh! Siapa yang sudah mengganggu tidurku kali ini!”


Dengan gusar Fredy turun dari tempat tidurnya dan langsung membuka pintu apartemen. Tampak 3 orang bertubuh kekar berdiri tegak di apartemennya.


“Siapa kalian?!” tanya Fredy yang matanya terlihat begitu merah.


“Anda harus mengosongkan apartemen ini sekarang juga dan membayar biaya yang sudah Anda janjikan di awal perjanjian!” todong salah satu pria di antara mereka bertiga.


“Apa maksud kalian? Aku benar-benar tidak paham!”


“Tuan Randy Clift Allison telah membayar down payment pembelian apartemen sebesar dua belas juta rupiah dan berjanji akan membayar sisanya seminggu setelahnya. Namun sampai satu bulan, janjinya tidak kunjung ditepati hingga saat ini!”


“Dan kini Anda dikenai penalti untuk membayar tagihan apartemen sebesar tiga puluh juta rupiah dan harus meninggalkan apartemen ini sekarang juga. Karena jika tidak, Anda terpaksa akan kami gelandang ke markas debt collector!”


Mata Fredy langsung membelalak sempurna. Nafasnya terasa begitu tercekat di tenggorokan. ‘Sial! Benar-benar sial! Aku benar-benar sudah tertipu oleh Randy!’ umpatnya dalam hati.


“Aku bukan Randy, dia sedang pergi keluar dan sebentar lagi akan kembali!” ucap Fredy yang sudah bersiap untuk melarikan diri.


Sayangnya kedua tangannya langsung dicekal oleh kedua debt collector yang ada di depannya.


“Tuan Randy sudah mengalihkan penagihan ini atas nama Anda dengan bukti transfer yang ia kirimkan kepada kami. Anda yang bernama Fredy bukan?” tanya debt collector sambil memperlihatkan bukti transfer sebanyak tiga puluh juta ke dalam rekeningnya.


“Loh itu adalah uang gajiku yang memang harus ia bayarkan!” kilah Fredy membela diri.

__ADS_1


“Kami tidak mau tahu, yang jelas segera kirim uang itu ke rekening kami sekarang juga atau Anda harus ikut kami ke markas debt collector!”


“Aaarrrggghhh! Kurang ajar kau Randy! Aku akan membuat perhitungan denganmu!”


***


Di sisi lain, Livy kini tengah menikmati kehangatan keluarga kecilnya di meja makan. Hizkiel tampak begitu lahap menikmati masakannya malam ini. Begitu juga dengan Marcho dan juga Mom Merry.


“Ayam panggang buatan Mommy benar-benar sangat nikmat. Bahkan rasanya mengalahkan masakan restoran bintang tujuh!” puji Hizkiel yang sudah menghabiskan dua piring.


“Kalo Hizkiel memang suka, Mommy akan sering-sering membuatkannya khusus untukmu, sayang!” balas Livy sambil tersenyum bahagia melihat masakannya malam ini benar-benar habis tak bersisa.


“Kenapa hanya dikhususkan untuk Hizkiel?” protes Marcho dengan nada kesal. “Aku juga sangat menyukai ayam panggang buatanmu, sayang!”


“Oh yaa?” tanya Livy sambil mengerutkan dahinya. “Bukannya dulu ada seseorang yang mengatakan jika masakanku belum tentu enak? Bahkan sampai takut jika diracuni.”


Kali ini Livy mulai berani meledek suaminya mengingat betapa menyebalkannya Marcho di awal pernikahannya dulu. Sedangkan Hizkiel pun ikut menimpali pertanyaan Mommynya.


“Iya, Hizkiel juga inget waktu masih ada tante Mila. Bukannya Daddy sangat jual mahal untuk mencicipi masakan Mom Livy?”


“Ck, mana ada seperti itu?” kilah Marcho. “Bahkan sejak awal daddy sudah sangat menyukai masakan Mom Livy.”


“Apa masakan pertama Mom Livy yang menurut Daddy sangat lezat itu Mushroom Egg Bake?” tanya Hizkiel menelisik.


“Tepat sekali!” jawab Marcho penuh percaya diri.


Sedangkan dalam ingatan Livy, ia tidak pernah membuatkan Mushroom Egg Bake untuk suaminya.


“Tapi aku tidak pernah membuatkan itu untukmu, sayang!” gumam Livy membuat Marcho mulai menyadari kesalahannya. Sayangnya ia terlambat karena Hizkiel sudah lebih dulu melayangkan protesnya.


“Jadi Daddy orang yang sudah mencuri kotak bekal punya Hizkiel yang berisi Mushroom Egg Bake dulu?” tembak Hizkiel membuat Mom Merry dan Livy langsung menatap tajam ke arahnya.


“Emmmm!” Marcho langsung salah tingkah. Tangannya langsung menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


“Bener ya yang dituduhkan Hizkiel barusan?” tanya Livy mendesak suaminya agar mengakui kesalahan konyolnya di masa lalu.

__ADS_1


“Tentu saja benar! Karena Hizkiel menemukan kotak bekal itu di bawah jok di dalam mobil Daddy!” lanjut Hizkiel yang tentunya membuat Marcho kini tidak bisa berkutik lagi.


“Oke, oke. Daddy kini mengaku salah.” Marcho mengangkat kedua tangannya seperti anak kecil yang siap untuk dihukum.


“Daddy memang mencuri bekal makan Hizkiel karena daddy sangat ingin mencicipi masakan Mom Livy. Hizkiel tahu sendiri kan kalo dulu Daddy masih malu untuk meminta Mom Livy membuatkannya untuk Daddy!”


“Ck, Daddy itu gengsinya memang gede banget. Mommy, malam ini kita hukum Daddy yaa?” pinta Hizkiel.


“Hukum apa?” tanya Livy.


 Hizkiel pun membisikkan sesuatu kepada Mommynya dan tentunya membuat Marcho sangat penasaran.


“Sudah, ngomong saja Hizkiel. Gak usah pakai bisik-bisik kayak begitu!” tukas Marcho yang tampak begitu kesal melihat Livy lebih dekat dengan Hizkiel daripada dengannya.


Mom Merry pun langsung menepuk bahu putranya. “Kamu ini sama anak sendiri masa’ cemburu. Yaudah, Mommy istirahat dulu yaaa!”


Mom Merry pun meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Sedangkan Livy kini tengah berpikir hukuman apa yang harus ia berikan kepada suaminya setelah Hizkiel berbisik untuk memberikan hukuman yang membuat daddynya jera.


“Emmm, bagaimana jika mommy menghukum daddy untuk tidur sendiri malam ini dan akan tidur di kamar Hizkiel?” tawar Livy


“Duuh, hukumannya jangan kayak gituh dong sayang!” protes daddy.


“Hizkiel juga kurang setuju dengan tawaran Mommy!” timpal Hizkiel membuat Marcho merasa begitu lega karena putranya kini berada di pihaknya.


“Lalu menurut Hizkiel bagaimana baiknya kira-kira?” tanya Mom Livy yang memberikan kesempatan putranya untuk mengambil keputusan.


“Harusnya bukan hanya malam ini daddy tidur sendiri, tetapi dalam satu minggu daddy harus tidur sendiri dan Mom Livy tidur di kamar Hizkiel!” jawab Hizkiel membuat Marcho kembali membeliakkan matanya.


“Apaaaaa?! Gak bisa gituuh dong Hizkiel. Daddy kan hanya mengambil satu kotak bekal. Ini kenapa hukumannya jadi seminggu sih!”


Marcho tampak gusar dan tentunya sama sekali tidak terima dengan hukuman yang diberikan oleh putranya. Bagaimana ia bisa terima jika ia harus berpuasa satu minggu lamanya dengan Livy.


Sekarang saja ia sendiri sudah tidak tahan untuk bercumbu dengan istrinya di kamar. Apa lagi jika harus menundanya selama satu minggu.


“Intinya daddy gak terima dengan keputusan Hizkiel. TITIK!”

__ADS_1


 


__ADS_2