
Saat Julio hendak menekan tombol pintu lift, tiba-tiba rombongan tim medis pihak rumah sakit memanggil namanya dan membuatnya mengurungkan niatnya.
“Tuan Julio!” panggil salah satu tim medis yang paling depan.
“Yes I am!”
“Anda kami minta ikut dengan kami sekarang juga karena ada beberapa hal yang sangat urgent!”
“Mengenai apa, dokter? Saya sedang buru-buru saat ini!” jawab Julio yang sangat enggan berurusan dengan dokter dan sudah tidak sabar untuk mengetahui keberadaan Livy.
“Kami mendapat laporan dari pihak penting jika Anda kemungkinan mengalami HIV/AIDS mengingat selama ini Anda berhubungan dengan wanita yang terjangkit virus tersebut!” jelas dokter tersebut membuat Julio berdecih pelan.
“Cih, mana mungkin hal itu terjadi. Jika istriku memang terkena virus HIV/AIDS, bukan berarti aku juga mengalaminya karena selama 2 bulan ini aku sama sekali tidak menjamah tubuhnya!”
“Istri Anda justru baru akan kami periksa. Jadi, belum tentu ini semua berasal dari istri Anda!”
“Hai!” gertak Julio geram. “Apa Anda pikir saya adalah tipe pria yang suka bergonta ganti pasangan?”
“Kami tidak akan pernah menuduh tanpa bukti, Tuan Julio!”
“Reggy yang sering berhubungan dengan Anda kini tengah dirawat karena mengidap HIV/AIDS. Maka dari itu, kami akan membawa Anda untuk diperiksa!” jelas dokter membuat Julio terkejut bukan main.
Akhirnya Julio mengikuti dokter tanpa perlawanan sedikit pun. Pikirannya mulai melayang kemana-mana saat ia mendengar Reggy terkena HIV/AIDS.
Saat Julio dibawa ke ruang pemeriksaan, Livy dan Marcho langsung menuju ke ruang dimana mama Widya dirawat. Mereka berdua sedikit merasa tenang setelah melaporkan jika Julio memiliki potensi terkena HIV/AIDS lewat rekaman yang ada di ponsel Marcho mengenai pernyataan yang terlontar dari bibir Reggy sendiri.
“Thanks a lot sayang! Kau membuatku merasa tenang dengan ide seperti ini. Aku sekarang bebas dan tidak perlu khawatir untuk bertemu dengan mama.” Livy memeluk lengan suaminya dengan sangat erat.
“Sama-sama istriku, sayang. Aku akan selalu melakukan segala hal yang membuatmu bahagia!” balas Marcho sambil mengecup kepala istrinya.
Sayangnya saat tiba di ruang rawat Mama Widya, Livy tidak menemui mamanya karena saat ini mamanya sedang menjalani tes untuk mengetahui ia juga terkena HIV/AIDS atau tidak. Akhirnya Livy dan Marcho menunggu di sofa sampai keduanya sama-sama tertidur dengan bersandar di sofa rumah sakit sambil berpelukan.
__ADS_1
Satu jam berlalu, Mama Widya kembali ke ruangannya dengan keadaan yang shock saat mendengar keterangan dokter jika ia dan suaminya terkena penyakit HIV/AIDS. Terlebih saat melihat keberadaan Livy dan Marcho yang tengah tertidur pulas di ruangannya.
Jika sebelumnya ia benar-benar menunggu kehadiran putrinya, kali ini ia justru tidak ingin bertemu dengan Livy karena ia sangat malu dengan putrinya sendiri setelah mengetahui hal ini.
Ia pun meminta kepada dokter untuk memindahkan ruangannya dan merahasiakannya kepada Livy dan juga Marcho. Ia benar-benar tidak siap untuk bertemu putrinya meski rasa rindu sudah begitu membuncah dalam hatinya.
“Mama!” panggil Livy yang tanpa sengaja mendengar permintaan mamanya untuk pindah ruangan.
“Apa mama benar-benar tidak ingin berjumpa dengan Livy?” tanya Livy sambil mendekat ke arah mamanya.
Widya langsung memalingkan wajahnya dari Livy. Bohong jika dia tidak ingin berjumpa dengan putrinya. Bahkan ia ingin memeluk putrinya dengan sangat erat saat ini untuk meluahkan kerinduannya.
Tapi keadaannya saat ini sangatlah hina dan rasanya tak pantas sedikit pun menyentuh putrinya.
“Mamaaa! Ini Livy maaa. Anak mama!”
“Perawat! Tolong bawa saya pindah ruangan sekarang juga!” titah Mama Widya dengan tegas yang sudah tidak kuat mendengar suara putri kandungnya sendiri.
“Kenapa mama menghindari Livy? Apa karena mama sudah tidak sayang lagi sama Livy?”
“Mama benar-benar tidak menghargai kedatangan Livy jauh-jauh kemari!”
Livy langsung menjauh dari mamanya dan mendekati Marcho yang juga baru terbangun dari tidurnya.
“Perawat! Tidak perlu memindahkan mama ke ruangan mana pun karena aku yang akan pergi dari sini!” Livy langsung memegang tangan Marcho dan mengajaknya pergi. Namun, Marcho masih menahan istrinya untuk tetap tinggal.
“Kita bicarakan baik-baik sayang, Aku yakin mama masih shock dengan hasil tesnya barusan!” tutur Marcho membuat Mama Widya terhenyak.
“Maafkan kami Ma, kami yang meminta dokter di sini untuk melakukan tes HIV/AIDS untuk mama dan Julio karena pasangan **** Julio yang bernama Reggy terkena virus tersebut.”
“Reggy adalah istri dari Randy, mantan kekasih Livy yang juga anak kandung Julio!” jelas Marcho sambil menenangkan istrinya yang sudah mengajaknya pulang.
Deg!
__ADS_1
Mama Widya semakin terkejut mengetahui hal ini justru saat pernikahannya yang sudah berjalan di tahun kedua. Ia sudah tidak kuat menahan air matanya yang sudah tertahan sejak melihat Livy tidur bersama Marcho di sofa tadi.
Kini ia mulai sadar jika menikah dengan Julio adalah keputusan yang salah besar. Dan Mama Widya hanya bisa menyesali hal tersebut setelah ia terkena HIV/AIDS yang tentunya ditularkan oleh Julio.
Sedangkan Marcho kini mulai merayu istrinya untuk mengalah dan mendampingi Mama Widya yang sangat butuh dukungan darinya.
“Mama membutuhkanmu, sayang! Jika dia memang bersalah, maafkanlah. Aku yakin mama pasti menyesal dengan pilihannya menikahi Julio.”
“Mengalahlah sayang, Mama pasti sangat merindukanmu!” tutur Marcho sambil memandangi wajah istrinya.
Akhirnya Livy pun menganggukkan kepalanya menuruti permintaan Marcho. Terlebih saat mendengar tangisan mamanya. Livy pun berbalik dan berjalan perlahan mendekati mamanya.
“Maafkan mamamu ini sayang! Mama sadar selama ini mama salah besar tidak pernah memikirkan perasaanmu dan lebih memilih menikahi Julio.”
“Mama menyesal Livy, mama benar-benar sangat bodoh bisa terpedaya begitu saja dengan Julio. Maafkan mama sayang!” isak Widya.
Livy pun mendekati mamanya dan langsung menggenggam jemari tangan Mama Widya dengan sangat erat.
“Maafkan Livy juga Ma. Livy sayang sama mama!”
Keduanya pun akhirnya meluahkan kerinduan mereka berdua yang sudah setahun lebih tidak hidup bersama. Sedangkan Marcho memberikan kesempatan untuk istrinya meluahkan kerinduannya pada mama Widya sambil mengecek informasi terbaru mengenai Julio, Reggy dan beberapa anak buah yang terjangkit virus tersebut.
Ledakan peningkatan orang yang terkena virus HIV/AIDS langsung menjadi berita viral dan tentunya membuat penderita semakin terisolasi.
Julio dan beberapa anak buahnya langsung dipindahkan ke sebuah pulau yang memang khusus digunakan sebagai tempat isolasi penderita HIV/AIDS. Sedangkan mama Widya pun sebentar lagi juga akan dipindahkan ke pulau tersebut.
Tentunya hal ini membuat Livy nantinya harus terjun langsung menggantikan posisi kedudukan mamanya sebagai pemilik perusahaan tambang minyak di kotanya.
🍄🍄🍄
Halo semuanya, setelah ini plotnya akan dibuat ngebut yaa. Maaf kalo Author jarang update novel ini.
Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lain ya. Terima kasih 😘😘😘
__ADS_1