
Livy mengambil sup yang sudah dingin di kamar dan kembali membuat yang baru. Sedangkan Marcho kali ini sengaja mengikuti istrinya yang mulai berkutat di pantry demi membuatkan sup hangat untuknya.
Marcho terus saja memandangi istrinya sampai Livy merasa salah tingkah. Sampai Livy selesai membuat sup untuk yang kedua kalinya, Marcho masih saja belum memalingkan pandangannya dari Livy.
“Dimakan dulu supnya selagi hangat, setelah itu obatnya bisa segera diminum!” ucap Livy.
Bukannya menimpali titah istrinya, Marcho justru membuka mulutnya memberi kode agar Livy menyuapkan sup ke dalam mulutnya. Sedangkan Livy hanya memutar bola matanya malas sambil mulai menyendokkan sup hangat dan menyodorkan ke mulut Marcho.
“Awh, panas sayang!” pekik Marcho sambil mengipas mulutnya dengan tangan.
“Maaf-maaf! Aku tidak sengaja. Harusnya tadi aku dinginkan lebih dulu.”
Livy langsung ikut mengipas tangannya ke mulut Marcho. Lagi-lagi Marcho memandangi Livy secara intens dan membuat ada perasaan aneh menjalar dalam diri Livy.
“Tidak masalah, sayang! Aku juga yang salah!” timpal Marcho membuat Livy mengernyitkan dahinya.
‘What?! Tuan Marcho tidak marah?’ gumam Livy dalam hati. ‘Aku pikir dia akan mengatai aku bermacam-macam dan bahkan menghukumku.’
Akhirnya Livy kembali menyendokkan sup hangat dan sedikit meniupnya pelan baru menyuapkan ke mulut Marcho. Terus berulang sampai sup buatan Marcho habis tanpa sisa. Padahal Livy memasaknya cukup banyak kali ini.
“Terima kasih sayang. Masakanmu benar-benar sangat lezat!”
Pujian Marcho kali ini seketika merubah rona wajah Livy. Mendapati wajahnya mulai memanas, Livy hanya menjawab pujian suaminya dengan deheman singkat sambil berbalik menyembunyikan wajahnya yang merona.
Livy segera mencuci mangkok sup dan meletakkannya di rak mangkok. Namun saat berbalik betapa terkejutnya Livy saat mendapati Marcho sudah berdiri di belakangnya.
“Eh!” pekik Livy saat Marcho menggendong tubuhnya ala bridal style.
“Tak perlu terkejut seperti itu! Aku hanya tidak mau kau merasa lelah karena ulahku malam ini!” ucap Marcho.
Livy menelan ludahnya kasar terlebih saat menempelkan kepalanya di dada Marcho dan mendengarkan ritme detak jantung Marcho yang berdegub kencang.
‘Debaran jantungnya kenapa terdengar sama dengan debaran jantungku?’
‘Dan perhatiannya saat ini membuatku merasa nyaman berada di dalam dekapannya.’
__ADS_1
‘Hangat dan penuh perhatian. Bahkan aku merasa diperlakukan sebagai istri sungguhan oleh Bosku sendiri.’
‘Istri sungguhan? Tidak-tidak! Aku tidak boleh berkhayal terlalu tinggi!’
Cepat-cepat Livy menepis angan-angannya yang terlalu tinggi hanya karena secepis perhatian dari Marcho. Sesampainya di kamar, Livy pun langsung direbahkan di atas tempat tidur dan tubuhnya diselimuti oleh Marcho.
“Istirahatlah! Aku akan meminum obat yang kau siapkan!” ucap Marcho sambil mengusap kepala Livy.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Livy kali ini. Melayang bagaikan diterbangkan di atas awan. Saat Marcho berbalik meninggalkannya Livy langsung menutup wajahnya dengan selimut.
Tingkah Livy barusan yang tertangkap oleh netra Marcho pun senyum Marcho merekah sempurna.
‘Mulai saat ini, aku berjanji akan membuatmu nyaman berada di dekatku, Livy!’ batin Marcho.
💕💕💕
Keesokan harinya, Marcho bangun lebih awal dari istrinya. Ia memutuskan untuk menyiapkan keperluannya sendiri dan juga keperluan sekolah Hizkiel. Tidak hanya itu, Marcho juga menyiapkan baju yang akan dikenakan Livy ke kantor hari ini.
Tangannya sedikit bergetar saat memegang bra dan juga ****** ***** milik istrinya. “Argh! Sial! Baru memegang bungkusnya saja senjataku sudah tegak berdiri!” umpat Marcho pelan.
Sedangkan Livy yang mulai mengerjapkan matanya saat mendengar derap langkah Marcho barusan. Ia menyandarkan tubuhnya di headboard dan memandang ke arah tempat tidur yang ada di sampingnya.
Kosong!
‘Tumben Tuan Marcho bangun lebih awal dari aku!’ batin Livy sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Tampak lemari pakaian miliknya terbuka dan tak jauh dari itu terlihat blouse dan bawahan miliknya tergantung berdampingan dengan outfit kerja milik Marcho.
“Apa Tuan Marcho menyiapkan pakaian kerja untukku?”
“Bahkan dia memilihkan warna yang senada. Ck, ada apa sebenarnya dengan Tuan Marcho?”
“Aku rasa semakin hari semakin aneh saja. Atau jangan-jangan ini jebakan.”
Livy menyibakkan selimutnya dan menggulung rambut panjangnya untuk bersiap menuju ke pantry menyiapkan sarapan. Namun saat turun dari tempat tidur dan hendak menutup pintu lemarinya yang terbuka, tampak isi di dalam lemarinya sedikit berantakan.
“Kok berantakan sih!” gerutu Livy merapikan pakaian dalamnya.
“Emm maaf, aku tadi tidak sengaja membuat itu berantakan!” terdengar suara Marcho yang kini sudah berdiri tepat di belakang Livy sambil menunjuk ke arah bra dan juga ****** ***** Livy.
__ADS_1
“Hah?! Bagaimana bisa? Bukankah lemari kita diletakkan di tempat yang berbeda?” tanya Livy sambil berbalik.
“Aaaaaa!” Livy berteriak sambil menutupi mukanya mendapati Marcho yang hanya berbalut handuk selaras pinggang.
Cepat-cepat Marcho menutupi mulut Livy dengan tangannya dan mengunci tubuh istrinya di lemari yang masih terbuka.
“Jangan berteriak pagi buta seperti ini, Livy!”
“Ta-tapi...”
“Bukankah pernikahan kita sudah sah? Aku suamimu dan kamu adalah istriku! Jadi hal seperti ini bukanlah hal yang tabu.”
“Kau harus mulai terbiasa dengan hal seperti ini istriku sayang!”
“Ta-tapii...”
Marcho semakin mengikis jarak mereka membuat Livy mendorong tubuh Marcho agar menjauh darinya. Sentuhan tangan Livy membuat keduanya sama sama berdesir tidak karuan.
“A-aku mohon, jangan mendekat, Tuan!” pinta Livy gugup.
“Aku bukan Tuanmu, tapi suamimu!” tegas Marcho.
“Ta-tapi...”
“Sudah tiga kali kau mengucapkan kata-kata -tapi-, apa aku perlu memberimu hadiah?” tanya Marcho sambil mengusap bibir Livy.
“Morning kiss!” lanjut Marcho lagi yang mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Livy.
Untung saja Livy bisa melarikan diri dengan melorotkan tubuhnya ke bawah dan bergegas meninggalkan Marcho yang masih berdiri di depan lemari.
“Tidak ada morning kiss, suamiku! Maaf, aku harus segera menyiapkan sarapan dan bekal untuk Hizkiel!” ucap Livy sambil berlari.
Marcho hanya mengusap wajahnya kasar melihat Livy berhasil melarikan diri darinya. “Huft, semakin hari semakin membuatku tidak sabar untuk segera memilikimu seutuhnya Livy!”
💕💕💕
__ADS_1