Telat Nikah?

Telat Nikah?
Pria Nyebelin Yang Sok Ganteng


__ADS_3

####


Begitu selesai memangambil siomay di catering stand, aku langsung bergegas mencari tempat duduk yang kosong. Meski dengan sedikit menggerutu sekaligus bersyukur. Karena saat menikmati siomay Bandung yang ku ambil, ternyata bumbu sambal kacangnya sangat tidak mengecewakan. Bahkan dalam hati, aku cukup berterima kasih atas paksaan Reynand yang memintaku tidak pulang sebelum mencicipi hidangan yang disajikan. Aku bahkan berpikir untuk nambah jika saja aku tidak memiliki urat malu. Namun beruntung, aku masih memilikinya.


"Bagaimana, rasanya sangat tidak mengecewakan bukan?"


Tanpa menoleh ke asal suara aku mengangguk membenarkan, karena sudah sangat hafal siapa pemilik suara itu dan memilih kembali sibuk menikmati siomayku ketimbang menolehnya, yang mungkin saja akan menyebabkan adu mulut tak berkesudahan. Mengingat kami yang sama sekali tak pernah akur. Oke, perlu aku ralat. Dia yang menyebalkan, sehingga sulit untukku akur dengannya.


"Kamu terlihat seperti maniak siomay Bandung," sindir Reynand setengah tertawa geli.


Aku langsung mengangkat wajahku dan menatapnya datar, karena tersinggung, "Apa itu terdengar seperti sebuah lelucon?"


"Tentu saja, tidak." Reynand menggeleng dengan tegas.


"Lalu kenapa tertawa?"


"Entah." Reynand mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saya sedang menertawakan diri saya sendiri," gumannya sambil tersenyum khasnya.


Diam-diam aku tertarik dan juga penasaran. Apa yang sedang ditertawakan olehnya?


"Kamu terlihat seperti sedang sangat penasaran," sindirnya yang membuatku nyaris tersedak.


"Percaya diri sekali anda," balasku ikut menyindir. Yang langsung disambut tawa renyah darinya.


"Tentu saja. Percaya diri itu modal utama, apalagi menghadapi makhluk ciptaan Tuhan seperti kamu. Saya rasa, percaya diri saja tidak cukup. Justru saya rasa, saya harus memotong atau bahkan membuang urat malu saya."


"Terima kasih atas pujiannya," ucapku setengah menyindirnya dan bangkit berdiri setelah siomayku habis.


Namun dengan tidak sopannya, Reynand kembali mencekal tanganku. Membuatku memutar kedua mataku dengan jengkel.


"Sebenarnya mau kamu itu apa sih?" semburku galak.


"Mau saya? Gampang. Jadi mantu Ibu saya," ucapnya tak tahu malu.


Aku langsung menatapnya tajam, membuat Reynand mengendurkan cekalan tangannya secara reflek dan memasang wajah cengengesannya.


"Astaghfirullah! Saya hanya bercanda. Jadi melototnya biasa aja, bisa?"


"Enggak," ketusku langsung pergi meninggalkannya begitu saja.


Namun, dengan sangat tidak beruntungnya aku. Reynand berhasil mengejarku.


"Masa saya ditinggalin gitu aja sih," protesnya tak terima.


Aku memilih mengabaikannya dan mempercepat langkah kakiku lagi. Saat kutengok ke belakang, Reynand sudah tak mengejarku.


"Harus banget saya kejar nih?" teriaknya di sela nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.


Aku masih mengabaikannya.


"Berhenti di sana! Atau saya kejar pake backsound lagu India," teriaknya emosi.


Secara otomatis aku berhenti dan berbalik. Di sana Reynand malah mengoyangkan ponselnya, yang sebenarnya tak cukup aku yakini ada lagu Indianya. Namun, anehnya aku tak bergerak sedikit pun. Masih diam mematung, menunggu kedatangan Reynand. Apaan deh, menunggu kedatangan? Kayak lirik lagu aja.


"Gadis pintar," kedipnya genit saat sudah berada tepat di hadapanku. "Saya lupa memberitahu sesuatu," imbuhnya kemudian.


Aku menghembuskan nafas pasrahku, membiarkan Reynand berbicara.


"Saya memutuskan untuk berjuang," ucapnya tiba-tiba.


Aku mengerutkan dahi heran sekaligus tak paham.


"Awalnya saya ingin menyerah saat Risha bilang kamu sudah memiliki kekasih. Tapi setelah dua kali melihatmu pergi ke kondangan sendirian, membuat saya berpikir ulang. Bahwa saya, mungkin berpeluang sama besarnya dengan pria di luaran sana. Atau bahkan, mungkin sama dengan kekasihmu saat ini. Bagaimana pun, saya bukan orang yang mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Tapi kamu tidak perlu terlalu khawatir, karena cara saya berjuang mungkin agak sedikit berbeda dengan pria kebanyakan."


Aku hanya melongo, saat mendengar penuturannya yang panjang kali lebar masih ditambah tinggi, ini. Itu apa maksudnya?


"Jadi, sebaiknya mulai detik ini, kamu harus mempersiapkan diri. Saya sangat senang menciptakan takdir jika takdir tidak sedang berpihak kepada saya. Percayalah! Kamu pasti akan terkesan."


Setelah mengatakan itu, Reynand langsung pergi begitu saja. Membuatku diam tak berkutik seperti orang bodoh.

__ADS_1


Itu tadi apa?


Udah kehilangan kewarasaannya kali.


Sambil bergidik ngeri aku langsung mempercepat langkah kakiku menuju tempat parkir. Lama-lama di sini membuatku ngeri sendiri.


****


Aku merasakan ponselku bergetar saat tanganku hendak membuka pintu mobil. Dengan sedikit menggerutu, aku pun merogoh clucth bag-ku dan mengambil benda pipih yang sedari tadi meraung minta disentuh.


"Assalamualaikum!"


"Wallaikumsalam. Ada apa, Rin?" balasku sambil membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam.


"Kamu di mana sih, Za?" sembur Airin, membuatku mengerutkan dahi heran.


"Di Jogja. Mau di mana lagi emang?"


"Lebih spesifik!"


"Di tempat parkir."


"Kapan pulang?"


"Ya, harusnya sih tadi udah jalan, kalau kamu nggak nelfon."


"Ya udah, buruan pulang! Aku tungguin."


"Ok-, eh, pulang ke mana dulu ini? Kamu nggak-"


"Enggak," potong Airin cepat. "Pulang ke butikmu sekarang! Aku hampir lumutan nungguin kamu dari tadi. Udah, aku tutup. Assalamualaikum!"


"Wa'allai-"


Tut Tut Tut


Tanpa menunggu jawaban salam dariku, Airin langsung mematikan sambungan teleponnya. Membuatku terheran-heran. Pasalnya sahabat sepermainanku dari zaman orok sampai duduk di bangku SMA ini tipekal wanita penyabar, dan kenapa dia terdengar sangat kesal. Apakah karena dia sedang berantem dengan calon suaminya yang kebetulan berprofesi sama dengannya, yaitu guru.


"Lama banget sih," sambut Airin dengan wajah cemberutnya.


Saat aku sudah tiba di hadapannya. Respon pertamaku hanya senyum simpul dan membukakan pintu untuknya, baru kemudian mempersilahkan Airin untuk masuk.


"Maaf, weekend kan emang biasa jalan rame. Jadi agak macet dikit," cengirku langsung mengajaknya naik ke atas. "Lagian ada acara apaan nih si ibu guru main ke sini, sendirian pula. Biasanya juga bareng bapak guru."


"Enggak kok, aku emang ke Jogja sama Mas Ridwan. Cuma Mas Ridwan lagi ada urusan. Lebih tepatnya, aku yang maksa ikut sih."


"Tumben-tumbenan. Mau nonton Ahjussi gagal tua-mu itu?" sindirku setengah bercanda.


Dengan ekspresi cemberut, Airin menghentikan langkah kakinya dan menatapku tajam.


"Iiih, kamu nyebelin banget sih, udah tahu aku nggak bisa liat mereka. Sengaja banget mau bikin aku gagal move on?"


Mendengar gerutuannya membuatku tertawa terbahak-bahak dan sukses membuatku mendapatkan pukulan manja darinya. Ini orang meski badannya kecil, tapi kalau mukul orang bisa bikin memar loh. Dulu aku pernah tuh, waktu SMP.


"Awas ya, kalau besok sampai memar gara-gara pukulan kamu barusan. Aku tuntut kamu," ancamku galak.


"Lebay!" Airin mendesis sebelum menghempaskan bokongnya di sofa. "Kok, dapurnya di atas. Kenapa nggak di bawah?"


"Di bawah ada juga kok, cuma lebih super minimalis."


Airin mangguk-mangguk sambil ber'oh'ria, "Ohya, kamu abis dari mana?"


"Menurut kamu, tempat paling pasti untuk didatengi pas pake kebaya gini, kemana?"


"Keraton?" ucapnya tak yakin.


Aku langsung berdecak. "Kondangan," ucapku setengah jengkel.


"Sendiri atau-"

__ADS_1


"Sendiri," potongku cepat.


Dengan wajah penasarannya, Airin mencondongkan tubuhnya ke arahku.


"Kalian berantem?" bisiknya kemudian.


Aku tersenyum kecut kemudian menggeleng, "Dia lagi ke Bogor nganter Kesha."


"Ngapain?"


Aku mengangkat kedua bahuku tak tahu. Kemudian bangkit berdiri dari sofa menuju dapur, untuk mengambil air dingin.


"Kok kamu bisa nggak tahu? Kamu kan pacarnya."


"Aku cuma pacarnya, bukan Ibunya," balasku sambil meletakkan gelas kosongku dengan sedikit kasar.


"Kok sewot? Yakin nggak lagi berantem?"


Airin memandangku curiga, membuatku menghela nafas pasrah.


Bukannya aku mau sok nyembunyiin keadaan hubunganku dan Kenzo. Hanya saja, aku sendiri juga nggak paham. Kami ini lagi berantem atau udah baikan.


"Nggak tahu lah, Rin, bahas lain aja lah," ucapku sengaja menghindari pertanyaannya.


"Jadi beneran berantem? Kenapa lagi sih? Cerita, sini cerita!"


Dengan gerakan sigap, Airin langsung berdiri dan menghampiriku.


"Enggak tahu, mungkin kita perlu waktu."


"Untuk?"


"Lanjut atau udahan," lirihku nyaris tak terdengar.


Dan dengan tak tahu malunya, kedua mataku tiba-tiba mengeluarkan air mata. Airin mengangguk paham, meski tak kutakini seratus persen benar-benar paham, kemudian menarik kepalaku untuk disandarkan di pundaknya. Membuatku terharu sekaligus malu.


"Kenapa bisa sampai mikir udahan?"


Aku menggeleng, "Enggak tahu. Takut aja kalau emang bakalan udahan," ucapku jujur sembari menarik selembar tisu untuk mengusap ingusku. "Udah ah, aku nggak mau bahas ini. Mumpung kamu di sini, aku mau cerita deh."


Airin menaikkan alisnya, seperti sedang heran.


"Tentang?"


"Pria yang super nyebelin dan sok ganteng."


"Kok aku mencium bau-bau yang tak biasa."


"Maksudnya?" Aku menatap Airin tak terima.


Airin hanya menjawabnya dengan menaikkan kedua bahunya acuh, kemudian berdiri, "Eh, Mas Ridwan udah ada di bawah. Aku langsung pamit deh," katanya tiba-tiba setelah tadi sempat mengotak-atik ponselnya.


"Eh, kok buru-buru?" protesku sebal.


"Salah sendiri kamunya malah sibuk sama 'pria nyebelin yang sok ganteng itu'."


Kedua mataku membulat secara reflek. "Eh, kok kamu tahu kalau aku abis ketemu dia lagi?"


Airin hanya tersenyum kemudian menggeleng. "Wah, sepertinya progressnya naik terus ya."


"Apaan sih? Nggak jelas banget."


"Udah ah. Ayuk, anterin aku turun!"


Dengan sedikit tak sabaran, Airin menarik tanganku.


"Baru duduk beberapa menit udah balik. Nggak seru kamu, ah," gerutuku saat kami berjalan beriringan menuruni anak tangga.


"Ya maaf, Mas Ridwan ada acara sore ini. Jadi nggak bisa lama-lama, lain kali deh aku main-main lagi.

__ADS_1


Tbc,


😣😣 vusing mikirin judul untuk part ini. Maaf kalau nggak nyambung😔. Sampai bertemu di next part.


__ADS_2