Telat Nikah?

Telat Nikah?
Menikmati Status


__ADS_3

"Jadi gimana?"


Astaga. Aku bahkan baru masuk ke rumah Lina, baru mau mendudukkan pantat di sofa, tapi Monik sudah siap dengan pertanyaannya, yang tidak ku pahami. Gimana apanya coba, baru dateng udah ditanyain aja.


Lina tertawa melihat ekspresi kesalku, yang bahkan sempat menggantungkan niatku untuk duduk saat mendengar pertanyaan Monik.


"Semenjak Lisa lahir, kalian makin akrab ya," canda Lina.


Aku mendengkus sembari menghempaskan pantatku dengan kesal. Sementara Monik, tentu saja masih dengan rasa keingintahuannya yang tinggi.


"Buruan cerita, La, udah penasaran tingkat wahid nih aku," desak Monik tak sabaran.


Aku mendesah, menatap Monik dan juga Lina secara bergantian.


"Aku ketinggalan berita apaan nih?" tanya Lina sembari mencomot pisang goreng bikinan mertuanya.


Aku kembali mendesah. "Aku sama Kenzo udah resmi--"


"Anjir! Udah resmi? Ya ampun, selamat ya, La, akhirnya kawin juga ya. Akhirnya, akhirnya," seru Lina heboh.


Dengan penuh semangat ia berdiri, memelukku dan mencium kedua pipiku secara bergantian, meninggalkan beberapa minyak dari pisang goreng yang masih berada di tangan kanannya.


"Jorok, iih, Lin," amukku jengkel.


Dengan gerakan brutal, aku lansung menarik beberapa lembar tisu yang ada di atas meja, samping piring. Dan bukannya merasa bersalah, Lina justru malah memasang wajah cengengesannya.


"Maaf, kelewat bahagia nih aku."


Monik berdecak, kedua matanya menatap Lina sebal, baru kemudian beralih padaku.


"Bener?" tanyanya memastikan.


Aku menggeleng pelan. "The End," akuku jujur.


Monik mangguk-mangguk paham. Sementara Lina, jelas terlihat bingung dan juga heran.


"Hah? Maksudnya apa itu?"


"The End. Semua sudah berakhir dan aku sekarang single."


"APA?!" pekik Lina shock.


Membuat Monik langsung memukul pahanya.


"Teriaknya B aja. Anak lo bisa bangun nanti," sungut Monik kesal.


"Enggak. Lisa kalau siang itu anteng, paling rewelnya malem, kalau bapaknya udah pulang." Kemudian Lina menatapku. "Kok bisa putus sih? Padahal kalian cocok banget lho, aku tuh suka liat kalian berdua. Bikin iri."


"Belum jodohnya, Lin," kataku berusaha kalem.


Munafik sih kalau aku biasa-biasa saja putus dengan Kenzo. Karena tetap saja, aku cukup merasakan perasaan tidak mengenakkan setelah putus dengan Kenzo, apalagi setelah Kenzo membohongiku agar aku tidak merasa bersalah.


"Pasti ada sesuatu."

__ADS_1


"Emang," sahut Monik tanpa beban. "Udah dapet gebetan baru tuh."


Dengan gerakan cepat Lina menatapku.


"Gitu, La?"


"Nggak bakalan ngaku dia, Lin," balas Monik yang dalam hati aku benarkan.


"Nggak sepenuhnya bener kok," kataku. "Tapi yang nggak sepenuhnya salah juga."


"Setengah bener?"


Aku tertawa kecil sambil mengangguk.


Ekspresi Lina terlihat seperti orang sedang berpikir, lalu menatapku dan juga Monik secara bergantian.


"Umurnya kamu berapa sih, La?" tanya Lina tiba-tiba.


Aku menerjap bingung. "27. Kenapa?"


"27 menuju 28," koreksi Monik, membuatku cemberut.


"Umur segitu malah putus. Harusnya kamu itu nyusun rencana untuk menikah, bukan malah harus mengenal orang baru lagi. Aku tuh nggak ngerti sama kamu, La. Umur kamu itu udah nggak muda lho."


Aku mengangguk, membenarkan. Tidak ku elak sama sekali, karena memang itu sebuah fakta yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat.


"Terus? Kenapa?"


"Apaan deh, kenapa jadi ngomongin telat nikah," gerutuku hendak memprotes. Memandang Monik dan Lina dengan ekspresi sebal.


"Mo, temen kamu ini lho. Jelasin dulu deh sama standarnya masyarakat Indonesia. Kalau perempuan umur segitu itu harusnya udah nyusun rencana pernikahannya bareng pacar, bukan malah putus sama pacar. Syukur-syukur udah mikirin anak kedua malah."


"Standar apaan itu? Siapa yang bikin? Kayaknya baru denger," protesku tidak terima.


Melihat reaksi Lina yang seperti itu kenapa aku mendadak kepikiran dengan reaksi Ibu di Semarang, ya. Bisa lebih heboh mungkinnya.


"Lina yang bikin, barusan. Kamu perempuan pertama yang dikasih tahu, dan mungkin kamu harus bangga," celetuk Monik di sela tertawanya.


Aku merengut.


"Terus udah sejauh mana progress-nya sama yang baru," tanya Lina, kali ini lebih kalem, meski ia tetap tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.


Aku diam. Tiba-tiba teringat kalau sampai detik ini aku belum menghubungi Reynand sama sekali, meski aku dan Kenzo sudah putus hampir seminggu. Rasanya sedikit memalukan jika harus menghubungi duluan. Jadi, aku memilih untuk tidak menghubunginya untuk sementara waktu. Kenapa sementara waktu? Karena aku sedang menunggu takdir mempertemukan kita, jika takdir tidak mempertemukan kita, baru mungkin aku akan menghubunginya dahulu, untuk menciptakan takdir itu.


"Malah ngelamun," gerutu Lina terlihat kesal.


Aku menoleh ke arahnya. "Masih gini-gini aja," kataku santai.


Lina langsung melotot kaget, sementara Monik hanya menatapku dalam.


"Emang sakit ini bocah."


Aku hanya mengangkat bahu tidak perduli. Karena memang sudah paham betul dengan sifat Lina.

__ADS_1


"Kamu belum menghubungi dia sejak itu, La?" tanya Monik, yang aku jawab dengan gelengan kepala.


"Kenapa?"


"Gengsi," kataku setengah bercanda.


"Bentar, ini siapa yang menghubungi siapa?" tanya Lina terlihat bingung.


Aku menghela nafas, lalu menatap Monik. Menginterupsi agar ia menjelaskan apa semuanya. Meski dengan raut wajah malas, ia tetap menjelaskan kepada Lina.


"Oh, begitu." Lina langsung mangguk-mangguk setelah mendengar penjelasan dari Monik, lalu beberapa detik kemudian menatapku.


"Pinjem hape," ucapnya tiba-tiba.


Aku memandang Lina cukup lama, curiga dengan apa yang akan dilakukan Lina jika aku memberinya pinjaman ponsel.


"Bentar doang," decak Lina tak sabaran.


Aku menggeleng tegas, sesaat setelah sadar kemungkinan apa saja yang akan Lina lakukan.


"Pelit banget sih!"


"Bodo. Jangan kamu pikir aku nggak tahu ya, sama isi otak kamu ini," balasku tak mau kalah.


Lina kembali berdecak. "Astaga! Aku cuma bantu."


"Thanks," ucapku sungguh-sungguh. "Tapi aku nggak butuh, Lin. Untuk sementara aku mau nunggu takdir yang mempertemukan kita. Dan kalau takdir tidak segera mempertemukan, baru aku mau buat takdir itu biar aku bisa ketemu Rey."


"Karepmu."


"Makasih," ucapku tulus.


"Tahu lah, aku mau naik dulu, liat Lisa." Lina langsung berdiri.


"Ikut," seruku semangat.


"Enggak. Aku masih kesel sama kamu," kata Lina jutek.


"Pelit!" balasku tak kalah jutek.


Lina mengangkat bahunya cuek. Lalu melenggang santai melewatiku, dan segera menaiki anak tangga setelahnya.


"Kamu yakin?" tanya Monik tiba-tiba.


Aku sedikit mengerutkan dahiku tak paham, baru kemudian mengangguk saat Monik menyebutkan nama Reynand.


"Mau menikmati status dulu, Mo," ujarku menenangkan.


Monik mengangguk. "Kalau itu emang keputusan kamu, aku bakalan dukung. Semoga jadi keputusan terbaik, La."


"Thanks."


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2