Telat Nikah?

Telat Nikah?
Harap Bersabar! Ini Ujian


__ADS_3

Menyaksikan perdebatan yang dilakukan oleh kedua orangtua kita sendiri itu rasanya nggak enak, ya. Canggung, serba salah, dan juga bingung. Seperti yang sedang kualami sekarang ini, menyaksikan Bapak dan juga Ibu berdebat sengit karena masalah acara lamaranku. Sebenarnya, Bapak biasa saja sih, masih terlihat tenang dan juga kalem. Hanya Ibu yang sedikit terbawa suasana dan emosi. Aku maklum sih, perasaan Ibu yang menginginkan acara lamaran anaknya tidak biasa saja. Semua Ibu di dunia ini, kalau merasa mampu, pasti ingin acara pernikahan dan ***** bengeknya itu, terasa spesial dan nggak biasa saja.


Ya, aku paham maksud dan keinginan Ibu. Tapi yang menjadi masalah saat ini, aku sedikit tidak tertarik mengadakan untuk mengadakan Engagement Party seperti yang sedang booming itu. Aku tidak tertarik sama sekali. Menurutku itu tidak terlalu penting. Selain karena itu pemborosan, menurutku juga hanya akan buang-buang waktu. Nyiapin persiapan ini itu tetap akan menghabiskan dana dan waktu kan? Lagian, ini hanya semacam memenuhi syarat saja begitu. Reynand kan sudah melamarku secara pribadi, jadi sekarang giliran ia melamarku melalui Bapak, cuma ya, acaranya ngundang keluarga inti saja menurutku cukup, tidak perlu lah sampai mengundang para tetangga dan sampai harus menyewa EO.


"Pokoknya Ibu nggak setuju kalau nggak ada acara apa-apa untuk lamaran Qilla. Enak saja! Anaknya Pak RT saja lamaran sampai pasang deklet, masa Qilla yang anaknya Juragan tanah di sini, nggak ada acara apa-apa. Malu to, Pak. Isin. Bapak mau dibilang pelit sama warga?"


"Lho kenapa Bapak harus malu? Lha wong ini, itu kemauannya Qilla dewe kok. Yang penting Bapak ndak pelit, Bapak cuma mau nyenengin anak gadis Bapak. Bukan mau memenuhi ekspektasi warga. Yo, biar warga mau mikir bagaimana, itu urusan mereka. Bukan urusan kita," balas Bapak kalem.


Tidak ada nada suara yang dinaikkan atau pun ekspresi marah. Bapak terlihat tenang dan kalem seperti biasa. Berbeda jauh dengan Ibu yang kini terlihat makin tersulut emosinya.


"Bukan urusan kita piye to, Pak?"


Bapak menghela nafas, sambil melirikku. Kepalanya digerakkan ke samping, mengkodeku agar segera meninggalkan mereka. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berdiri meninggalkan ruang tamu, keluar rumah dan berjalan menuju rumah Mbak Lusi.


Saat aku tiba di Mbak Lusi, rumahnya terlihat sepi. Hanya ada Mbak Lasti, tetangga sebelah yang Mas Adi pekerjakan untuk membantu Mbak Lusi beres-beres rumah dan memasak belum lama ini, yang kini sedang menjemur pakaian.


"Jemur, Mbak," kataku menyapa Mbak Lastri.


Mbak Lastri tersenyum sambil menoleh ke arahku. "Iya, Mbak. Cari Mbak Lusi? Ada di dalem sama Kayla."


Aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih sebelum masuk ke dalam rumah. Dan menaiki anak tangga menuju kamar Mbak Lusi.


"Halo, keponakan Bulek yang paling cantik," sapaku saat memasuki kamar Mbak Lusi.


Mbak Lusi menoleh ke arahku dengan kedua mata melototnya. "Baru tidur ini, jangan berisik!" omelnya tanpa suara.


Aku terkekeh geli lalu mengacungkan jariku membentuk huruf V, baru kemudian berjalan ke arah sofa dan mendudukkan bokongku di sana.


"Semalem rewel?" tanyaku sambil memangku bantal sofa.


Mbak Lusi dengan wajah lesu dan kantung mata yang menghitam, mengangguk lalu duduk di sebelahku.


"Nggak mau tidur kalau nggak digendong. Jadi begadang deh," ucap Mbak Lusi sambil menguap.


Aku meringis. "Jadi Ibu itu susah, ya, Mbak?"


Mbak Lusi terkekeh. "Ya, susah-susah gampang sih. Tinggal kitanya gimana mau menjalaninya juga, La. Kalau ikhlas ya, rasanya nggak terlalu berat. Cuma kalau kebanyakan ngeluh, ya, jadi rasanya berat banget, kayak mau cari letak kamera di mana, terus melambaikan tangan ke kamera."


Aku kemudian ikut terkekeh. "Emangnya lagi uji nyali."


"Ya, emang bukan uji nyali sih, tapi tetep aja, rasanya nyali kita tuh kayak diuji, La."


"Segitunya ya, Mbak?" tanyaku mulai khawatir.


"Ya, emang sebegitunya. Makanya kalau ngerasa belum siap-siap banget, mending tunda dulu," kata Mbak Lusi sambil menggeleng. "Eh, kamu udah berapa sih, La?"


Aku menerjap bingung. "Berapa apanya, Mbak?"


"Umur."


"28."


"Oh, kalau segitu jangan ditunda deh. Mending langsung disegerakan," goda Mbak Lusi sambil menyenggol lenganku. "Jadi kapan?"


"Akhir minggu."


Ekspresi Mbak Lusi berubah terkejut. "Serius?" tanyanya tak percaya.


Tanpa keraguan, aku mengangguk laly mengiyakan.


"Kok aku nggak percaya, ya?" guman Mbak Lusi sambil melirikku curiga.


"Emang akhir minggu nanti kok acara lamarannya."


"Lah, masih lamaran to. Kupikir ijab qobulnya."


Aku terkekeh. "Step by step, Mbak."


"Kok tumben Ibu adem ayem, nggak heboh?"


"Siapa yang bilang? Noh, di rumah lagi perang dingin sama Bapak. Nggak tahu deh, siapa yang menang."


"Kenapa emang? Kamu minta acara lamarannya biasa-biasa aja, ya?" tanya Mbak Lusi.


Aku mengangguk, mengiyakan. Lalu memeluk bantal sofa dengan erat. Bayangan Bapak gagal membujuk Ibu, agar tidak perlu ada acara apa-apa untuk lamaranku, tiba-tiba terlintas dalam otakku. Aku menoleh ke arah Mbak Lusi dengan wajah memelas.


"Gimana, ya, Mbak?"


"Ya, enggak gimana-gimana sih, La. Ikut aja lah kata Ibu, daripada jadi anak durhaka," balas Mbak Lusi pasrah. "Lagian, seru juga kan pake acara Engagement Party gitu. Lumayan buat postingan di Instagram," imbuh Mbak Lusi sambil memainkan alisnya naik-turun.

__ADS_1


Aku langsung mendengkus. Aku bukan selebgram yang membutuhkan postingan bagus di Instagram. Lagian buat apa sih yang begitu-begituan. Cuma demi postingan di Instagram atau sosial media, aku harus merogoh kantong yang tidak sedikit begitu? Enak saja. Itu sama saja pemborosan. Allah nggak suka dengan umatnya yang boros. Meski aku bukan wanita muslimah-muslimah amat, yang memakai jilbab atau semacamnya, tapi seenggaknya aku tahu tentang agama, meski hanya sedikit.


"Tapi aku maunya biasa aja, Mbak. Nggak usah ada acara apa-apa gitu loh, nanti kalau pas acara nikahannya mau minta yang kayak gimana, aku nggak masalah. Tapi kalau acara lamaran, ya, nggak usah pake acara gede-gede."


"Ya, enggak papa, La, kan Bapak sama Ibu mampu," balas Mbak Lusi.


"Bukan masalah mampu atau enggak mampu, Mbak. Tapi nyaman enggaknya di aku. Yang mau dilamar aku loh, Mbak, bukan Ibu," kekeuhku ngotot.


Mbak Lusi mendesah pasrah. "Iya, sih, cuma--"


"Assalamualaikum!!"


Baik aku dan Mbak Lusi langsung menoleh ke arah pintu. "Wa'alaikumussalam," balas kami bersamaan lalu berdiri menyambut tamu Mbak Lusi yang sepertinya mau menjenguk Mbak Lusi dan bayinya. Ya, kalau dilihat dari plastik besar yang mereka bawa bertuliskan nama toko perlengkapan bayi. Sudah jelas pasti ingin menjenguk bayi Mbak Lusi dan juga Mas Adi kan?


"Eh, Budhe Yuni," sapa Mbak Lusi lalu menjabat tangan ibu-ibu dengan gamis dan jilbab lebarnya. Aku pun ikut menjabat tangan Ibu-ibu itu lalu yang kutebak, sepertinya saudara jauhnya Mbak Lusi. Sebelum beralih pada seorang perempuan muda yang kutaksir masih berumur dua puluhan awal.


"Nggak kuliah, Jan?" tanya Mbak Lusi pada perempuan muda itu, sebelum mempersilahkan keduanya untuk duduk.


"Cuti. Lekasan, Lus, loyo. Dilarang suaminya kuliah dulu."


Oh, dugaanku salah. Aku pikir usianya masih di awal dua puluhan. Ternyata, sudah menikah dan akan jadi seorang Ibu. Awet muda juga ya.


"Oh, udah isi, Jan? Selamat, ya, udah berapa bulan?" tanya Mbak Lusi antusias.


"Baru masuk bulan ke tiga, Mbak," jawab perempuan yang Mbak Lusi Jan itu. Entahlah, aku belum tahu nama lengkapnya.


Mbak Lusi ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk.


"Ini siapa, Lus, kok agak mirip sama Adi yo?"


"Oh, ini emang adiknya Mas Adi, Bude."


"Oalah, pantesan mirip. Anaknya sudah umur berapa, Nduk? Saya ini Budenya Lusi."


Aku meringis malu, sambil menggaruk kepalaku yang mendadak gatal. Pertanyaannya sensitif, membuat moodku yang tadinya sedang tidak bagus, kini mendadak memburuk.


"Kebetulan saya belum menikah, Bu," jawabku sambil memaksakan sedikit senyumku.


"Loh, belum menikah? Emang umurnya berapa?" tanya Bude Yuni.


Kok aku merasa pertanyaannya sedikit tidak sopan, ya. Aku kemudian melirik ke arah Mbak Lusi dengan ekspresi datar, bermaksud meminta bantuan agar Budenya Mbak Lusi ini nggak menanyakan hal sensitif semacam ini. Serius. Aku tuh benar-benar tidak suka dengan pertanyaan barusan. Tapi Mbak Lusi tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya mengucapkan maaf dengan perasaan bersalahnya tanpa suara. Membuatku akhirnya dengan terpaksa menjawab pertanyaan Ibu-ibu tadi.


"28, Bude."


"Ya, nunggu jodohnya sih, Bude. Emangnya mau nunggu apalagi."


"Jangan kesibukan kerja, Nduk, kodratnya perempuan itu ya, segera menikah dan mengurusi keluarganya to. Resikonya gede lho, melahirkan di usia matang."


Lah, ini Ibu-ibu mau ceramahin aku atau jengukin bayi Mbak Lusi sih. Kok dari tadi malah bahas jodohku terus. Lagian, aku lebih berani ngambil resiko besar waktu melahirkan di usia matang, dari pada menikah di usia muda tapi secara mental aku belum punya kesiapan untuk menjadi Ibu. Jadi Ibu itu kan amanah dan juga tanggung jawab kan? Nggak sekedar kondratnya wanita setelah menikah. Kalau aku sendiri belum siap jadi Ibu, masa maksain diri segera menikah dan jadi Ibu karena takut dengan resiko melahirkan di usia matang. Padahal resiko menikah di usia muda dan belum terlalu siap jadi Ibu juga sama besarnya loh, dan bahkan berdampak pada anak dan keluarga kecil kita.


"Anak saya saja yang baru dua puluh tahun saja sudah menikah, sudah mau punya anak juga lho. Masa kamu yang sudah dua puluh delapan belum to, Nduk."


Oh, ternyata dugaanku benar. Anaknya masih di usia awal dua puluhan. Menikah muda rupanya.


"Ibu, nggak boleh gitu, ah," bisik si anak sambil tersenyum tak enak ke arahku.


Sebisa mungkin aku memaksakan senyumku. "Nggak papa. Lagian kan nasib orang beda-beda," jawabku sekenanya.


"Apa perlu Bude bantu cariin," ucap Bude Yuni tiba-tiba.


Jujur aku agak kaget sih. Kenapa mendadak antusias begitu.


"Bude ada kenalan. Anaknya temen saya. Pns, ganteng, mapan--"


Mbak Lusi meringis tak enak ke arahku, lalu tertawa sumbang. "Dia sudah punya calon sendiri, Bude. Masa masih mau dijodohin, nanti calonnya mau dikemanain?"


"Oh, sudah punya to? Bude pikir belum punya gitu lho."


Aku kembali memaksakan senyumku dan bangkit berdiri.  "Mbak, aku tak pamit, ya, takut dicariin Ibu," pamitku kemudian. "Mari, Bude, Mbak, mampir ke rumah!" basa-basiku kemudian.


"Iya, iya, silahkan!"


Aku kemudian langsung bergegas keluar kamar dan berlari kecil saat menuruni anak tangga, langkah kakiku mendadak berhenti saat melihat Kafka masuk rumah.


"Kakak!" seruku heboh sambil merentangkan kedua tanganku.


"Bulek!!" seru Kafka ikut-ikutan heboh, kemudian berlari ke arahku dan memelukku. Karena gemas, aku kemudian mengangkat tubuhnya dan mencium pipinya secara bergantian.


"Belajar apa tadi di sekolah?"

__ADS_1


"Gambar."


"Kakak gambar apa?"


"Mobil."


Aku langsung menurunkannya dan menuntunkan menuruni anak tangga. "Kok gambar mobil sih?"


"Soalnya kata Bu guru gambar bebas. Jadi, Kakak gambar mobil sama truk. Dapat bintang loh, Bulek."


"Ohya? Dapat bintang berapa?"


"Banyak."


"Banyaknya berapa?"


Kafka menggaruk kepalanya, yang kuyakini tidak gatal. "Pokoknya banyak, Bulek."


Aku tertawa lalu mengangguk. "Tadi Kakak pulangnya bareng siapa?"


"Ayah."


"Terus sekarang Ayahnya ada di mana?"


"Itu," kata Kafka sambil menunjuk ke arah pintu masuk.


"Mbakmu mana?" tanya Mas Adi.


"Ada di atas. Lagi ada tamu."


"Siapa?"


"Lupa. Bude Yuli," ucapku tak yakin, aku kemudian mencoba mengingat-ingat kembali. "eh, salah, bukan Bude Yuni maksudnya," ralatku kemudian.


"Orangnya agak gemuk?" tebak Mas Adi.


Aku mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Pake jilbab lebar?"


Aku menerjap kebingungan. Lah, kenapa malah tebak-tebakan begini? Namun, meski agak kebingungan, aku akhirnya tetap mengangguk, membenarkan.


"Ya, sudah kamu bantu Kafka ganti baju, ya. Mas mau ke pabrik dulu."


"Loh, nggak nemuin saudaranya Mbak Lusi dulu, Mas?"


Dengan gelengan tegas, Mas Adi menjawab, "Males, La. Orangnya--"


"Kelewat ramah, ya, Mas," sambungku cepat.


Mas Adi mendengkus samar. "Bukan main ramahnya. Ya, khas orang Indonesia asli gitu lah, ramah level wahid."


Sontak aku langsung terbahak mendengar pengakuannya. Setidaknya, aku jadi tahu sih, kalau Budhe-nya Mbak Lusi tadi memang orang kelewat ramah.


"Ya, sudah, Mas langsung jalan."


"Ya, hati-hati!" kataku sambil berteriak.


Mas Adi mengacungkan jempol kanannya tanpa menoleh. Namun, saat aku hendak ingin mengajak Kafka naik ke kamarnya, Mas Adi tiba-tiba berbalik dan menghampiri kami.


"Kenapa, Mas? Ada yang ketinggalan?"


"Ada."


"Apa Mas? Biar Qilla bantu nyarinya."


"Enggak perlu."


"Loh, kok nggak perlu, Mas?" tanyaku bingung.


"Ya, memang nggak perlu. Lha wong yang ketinggalan itu pesen buat kamu."


Aku mengernyit tak paham. "Pesan buat Qilla?" tanyaku tak paham.


"Jangan beliin Kafka es krim. Ingat!" kata Mas Adi sambil mengacungkan telunjukknya.


Aku mendengkus kesal. Rasanya, seperti ingin mematahkan jari telunjuknya yang ia gunakan untuk menunjuk-nunjukku. Huh, dasar nyebelin.


"Awas kalau sampai kecolongan lagi. Mas nggak kasih izin kamu buat nikah, ya," ancam Mas Adi, yang sama sekali tidak membuatku takut.

__ADS_1


Ya, kali takut nggak dikasih izin menikah. Orang aku masih punya Bapak. Orang yang paling berhak atas aku selain diriku sendiri dan juga Ibu. Emang ngaco ini orang.


Tbc,


__ADS_2