
###
"Ris, Kakak kamu itu arsitek kan?" tanyaku pada Arisha.
Saat ini aku sedang berada di toko kuenya. Selain untuk membelikan camilan untuk anak-anak di butik, aku memiliki maksud lain datang ke tokonya. Ya, kalian benar sekali. Aku memang sedang mengorek informasi dari Arisha. Bukan tanpa sebab sih, kenapa aku melakukan ini. Karena semenjak pertemuan kita di rumah sakit seminggu yang lalu, Reynand belum menghubungiku sama sekali dan jelas itu membuatku sangat penasaran. Apakah pria itu masih hidup di kota ini atau sudah pindah ke planet lain.
Arisha sedikit mengerutkan dahinya bingung, sebelum akhirnya mengangguk, membenarkan.
"Dia ngerjain proyek apa aja sih?"
"Mas Rey sih, apa aja diambil selagi ngasilin duit. Tapi proyek yang diambil sih kebanyakan hunian rumah, Mbak. Kenapa, Mbak Qilla pengen gunain jasanya Mas Rey, buat rumah?"
Aku meringis canggung. "Tanya-tanya aja dulu, Ris, kali aja kalau udah ada rejeki bisa kesampean."
Arisha mangguk-mangguk setuju. "Masalah harga nanti aku bantu ngomong sama Mas Rey, Mbak. Santai."
Aku tersenyum sambil mengangguk. "Dia lagi banyak proyek nggak sih?"
"Duh, aku kurang tahu kalau masalah itu. Cuma akhir-akhir ini sering pulang telat, semenjak Bunda udah keluar RS."
Oh, jadi dia sibuk. Pantas saja dia tidak menghubungiku. Astaga, untuk apa juga dia menghubungiku. Kayak aku penting saja baginya.
Aku mangguk-mangguk sambil ber'oh'ria. "Mungkin lagi banyak proyek kali, ya?"
"Bisa jadi iya, bisa jadi enggak juga sih, Mbak. Soalnya Mas Rey sering pulang lebih awal sih."
Aku tertegun. Mungkinkah?
"Lagi pedekate sama cewek mungkin kali ya," guman Arisha tak yakin.
Aku membisu. Aku seperti orang linglung. Apa tadi katanya? Pedekate sama cewek? Lalu bagaimana denganku?
"Mbak," panggil Arisha yang berhasil membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung.
"Ya?"
"Kok malah ngelamun. Itu ada Mas Rey. Kali aja mau nanya langsung sama orangnya."
Arisha langsung memanggil Reynand tanpa menunggu jawabanku. Tak lama setelahnya Reynand sudah berdiri di sampingku. Menatapku dan juga Arisha dengan tatapan bingungnya secara bergantian.
"Kenapa?"
"Ini, Mas, Mbak Qilla mau tanya sama kamu."
Reynand mengerutkan dahinya sebelum menoleh ke arahku.
"Mau tanya apa memangnya?" tanya Reynand, lebih kepada Arisha. Karena saat ia sedang menanyakan pertanyaan itu, kedua matanya menatap Arisha. Bukan ke arahku.
Fix. Emang udah dapet gebetan baru sepertinya.
"Lah, kenapa tanyanya ke aku? Tanya orangnya langsung dong," decak Arisha sewot.
"Lah, ini aku juga tanya ke orangnya langsung. Kamu aja yang kepedean," gerutu Reynand ikut sewot.
Arisha kembali berdecak jengkel. "Mbak Qilla pengen gunain jasa kamu, Mas," ucapnya jengah. Aku kurang paham juga sih, kenapa dia jengah.
"Kan kamu juga yang jawab," gerutu Reynand sebelum menoleh ke arahku. "Kamu mau bangun apa memang?"
__ADS_1
Bangun cinta atau bangun rumah tangga bareng kamu......
Serius. Itu bukan aku yang bilang. Tapi si Author kalian yang emang keganjenan. Oke. Balik ke Reynand. Eh, ke story.
Mampus. Aku panik. Harus aku jawab apa ini?
Aku mengigit bibir bawahku karena panik. Astaga!!!
"Bangun rumah dong, Mas, pastinya," celetuk Arisha gemas.
Sementara aku hanya menunduk. Meski menunduk, aku bisa merasakan tatapan tak mengenakkan dari Reynand. Membuatku kesulitan menelan ludahku.
"Udah sama-sama sukses. Pasti yang disiapin ya, rumah dong. Ya, kan, Mbak?"
Karena panik, aku pun mengangguk spontan. Yang langsung aku sesali di detik berikutnya. Bagaimana kalau Reynand berpikir jika aku masih menjalin hubungan dengan Kenzo. Meski pada kenyataannya memang benar sih, walau hubungan kami hanya sebatas teman sekarang ini. Astaga. Kau memang bodoh Aqilla.
Reynand mangguk-mangguk sambil ber'oh'ria panjang.
"Oke. Kapan-kapan kita bisa bahas. Untuk sekarang saya tidak bisa. Lain kali kita bisa atur waktunya, sekalian dengan calon suami kamu. Maaf, sepertinya saya harus pergi sekarang karena sudah ada janji dengan salah satu klien saya. Kalau begitu saya permisi," pamitnya kemudian langsung meninggalkan kami begitu saja.
"Saya?" guman Arisha merasa aneh.
Aku mematung sesaat. Calon suami?
Astaghfirullah! Reynand salah paham. Dengan gerakan cepat aku pun berlari menunsulnya.
"Reynand! Tunggu!"
Secara otomatis Reynand menghentikan langkah kakinya dan berbalik.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
Nafasku ngos-ngosan. Aku mengangkat sebelah tanganku, memintanya menunggu sebentar selagi aku menormalkan nafasku. Setelah nafasku kembali normal, baru aku berbicara.
"Tentang?"
Sumpah. Kok ini cowok nyebelin parah ya. Aku bela-belain lari-lari demi ngejar doi, eh, malah gitu responnya.
"Tidak jadi," sanggahku cepat.
Males banget rasanya mau jelasin.
Reynand menatapku sebentar, seolah sedang berbicara 'apa-kamu-yakin?'. Tapi aku tidak perduli, toh setelahnya dia langsung mengangkat bahunya acuh dan masuk mobil. Mengabaikanku begitu saja.
Loh, kok gitu sih?
"Kamu tidak ingin masuk?" tanya Reynand setelah menurunkan kaca mobilnya.
Aku terbengong. "Hah?"
"Masuklah! Saya rasa kita memang perlu bicara."
"Sekarang?" tanyaku heran.
"Tidak. Tunggu kubu satu dan kubu dua akur dulu."
"Apa?!" pekikku spontan.
Kelamaan dong kalau begitu. "Tidak bisa sekarang saja?" tanyaku seperti orang bego.
__ADS_1
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena kamu terlalu banyak berpikir, Aqilla. Kalau kamu ingin bicara, ya silahkan, masuk mobil. Tapi kalau tidak, lebih baik kamu pulang."
Pulang?
Hoho, apa aku baru saja diusir? Enak saja. Dengan tak tahu malu, aku pun masuk ke dalam mobilnya begitu saja.
"Good girl," puji Reynand sambil tersenyum.
Aku mendadak lemas melihat senyumnya. Astaga. Aku sudah tidak waras sepertinya.
"Kita akan ke mana?" tanyaku sambil memasang sabuk pengaman. Aku menoleh ke arahnya yang kini tengah tersenyum.
"Ketemu klien."
"Hah?"
"Saya. Saya yang ketemu klien, dan kita ngobrol di jalan. Kamu tidak masalah bukan?"
Aku memandang Reynand tak percaya. "Lalu kamu ingin saya menungguimu saat kamu bertemu klien?" tanyaku tak percaya.
Reynand mengangguk dengan santai. "Kalau kamu mau menemai saya juga tidak masalah."
Oke. Sepertinya aku menyesal karena ikut masuk ke dalam mobilnya. Kalau dipikir-pikir kenapa aku tadi mau-maunya sih masuk ke mobilnya.
"Gampang banget jawabnya," gerutuku pelan, berharap tidak didengar olehnya. Tapi dilihat dari tatapan matanya, sepertinya ia mendengarnya.
Reynand tiba-tiba meminggirkan mobilnya, menghela nafas sejenak lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Mengutak-atik ponselnya sejenak lalu menghubungi seseorang.
"Hallo, bro. Ini gue Rey."
"....."
"Gue kayaknya datang lumayan telat deh, ada urusan mendadak. Bisa kita undurin jadwal ketemuan kita aja gimana? Gue soalnya nggak tahu apa bakal lama atau cepet urusannya."
"....."
"Sorry, bro. Serius. Ini penting. Antara hidup dan mati gue nih."
"...."
Reynand menoleh ke arah gue.
"Penting banget. Menyangkut masa depan gue nih."
"...."
"Oke, siap. Nanti gue ke tempat lo. Thanks ya, bro. Ntar gue kasih potongan harga spesial."
"..."
"Iya. Ya udah, gue tutup."
Klik.
Reynand mematikan sambungan telefonnya dan menoleh ke arahku sekali lagi.
__ADS_1
"Jadi mau bicara di mana?"
Tbc,