
"Jadi mau bicara di mana?"
Aku menengok ke sekelilingku, jalanan tidak terlalu ramai. Mobil Reynand pun sudah terparkir di tepi jalan, di depan sebuah warung toko. Sepertinya jika kita ngobrol di sini saja tidak masalah. Toh, kami hanya akan mengobrol sebentar.
"Di sini, tidak masalah bukan?"
Reynand melihat ke luar kaca sambil celingukan sebelum akhirnya mengangguk.
"Saya mau mengakui sesuatu."
"Tentang?"
"Menggunakan jasa kamu. Sebenarnya, saya tidak mencari arsitek atau ingin membangun rumah. Itu hanya basa-basi."
"Oh, saya kira apa," guman Reynand. "Bagaimana kabar kamu, sudah sembuh?" tanyanya kemudian. Entah hanya untuk berbasa-basi atau memang khawatir denganku.
Aku mengangguk. "Tante Linda, apa kabar?"
Reynand mengangguk. "Udah rajin ngomel sih, berarti udah sehat lah," guraunya sambil menoleh ke arahku.
Aku mendadak gugup ditatap seperti itu. Dengan gerakan cepat aku memalingkan wajahku, rasanya akan sangat memalukan jika dia melihat wajahku yang sedang salah tingkah.
"Kamu... apa kabar dengannya?" tanya Reynand terdengar lirih.
Dengannya? Siapa yang dia maksud, aku tidak paham.
"Pacar kamu," koreksi Reynand terlihat sedikit kesal.
"Kami baik-baik saja," jawabku sambi mengangguk. "Meski sudah berakhir, bukan berarti hubungan kami menjadi buruk," imbuhku setelahnya.
"Berakhir? Maksudnya?" Reynand melebarkan kedua matanya. Ia menatapku tak sabaran.
"Ya, berakhir. Aku dan dia menjalani hidup masing-masing."
"Kapan? Kapan kalian putusnya?"
Aku berpikir sejenak, mencoba mengingat. "Dua bulan," gumanku tak yakin.
"Sudah selama itu?" pekik Reynand kaget.
Aku kembali mengingat. "Mungkin belum ada dua bulan, satu setengah bulan mungkin lebih tepat."
Reynand memandangku tak percaya. "Itu sama lamanya, Aqilla. Dan kenapa kamu baru bilang?" tanyanya terlihat seperti orang frustasi.
Hei, kenapa dia harus frustasi?
"Memangnya kamu pernah bertanya? Tidak kan?"
"Astaga. Tapi saya pernah bilang bukan, kalau kamu harus menghubungi saya setelah kamu berakhir dengan kekasihmu yang dulu."
Aku mendengkus tak percaya. Jadi, selama ini dia menunggu telfon dariku? Sebentar, jadi harusnya aku yang gerak duluan gitu? Enak aja.
Aku kemudian meliriknya sinis. "Kenapa saya harus melakukannya?"
Ekspresi Reynand terlihat tercengang. "Kamu bertanya kenapa?"
Aku mengangguk.
"Tentu saja agar saya bertindak di waku yang tepat. Saya tidak ingin kamu dicap wanita tidak baik karena merespon ketertarikan saya terhadap kamu, padahal kamu masih berstatus pacar orang. Saya tidak seegois itu, Aqilla."
Aku langsung bungkam. Ucapannya terdengar manis dan membuat kedua pipiku memerah secara reflek. Aku tersanjung, serius.
Aku melirik wajah Reynand dengan takut-takut. "Maaf, aku.... aku sedikit malu jika harus menghubungi kamu duluan."
Reynand menaikkan alisnya. "Gengsi?"
Wajahku memanas. Dengan malu-malu, aku pun mengangguk. Reynand langsung tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya salah tingkah.
"Kenapa saya tidak kepikiran, ya. Wanita dan gengsinya." Reynand berguman dengan suara cukup jelas, membuatku merengut kesal.
__ADS_1
"Terima kasih, itu pujiankan?" tanyaku sengaja menyindirnya, sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Memasang mode merajuk.
"Ya," jawab Reynand santai.
Aku melotot kesal. "Hei!!" bentakku tidak terima.
"Saya benar. Wanita dengan gengsinya sementara pria dengan egonya," balas Reynand sambil mengangkat kedua bahunya.
Aku menaikkan alis tak percaya. "Memang begitu?"
Reynand kembali mengangkat kedua bahunya. "Katanya sih gitu." Ia kemudian menoleh ke arahku. "Mau balik ke toko sekarang?" tanyanya setelah tadi sempat melirik arlojinya.
Aku menepuk dahiku. Astaga. Aku sampai lupa kalau tujuanku tadi hanya untuk membeli cemilan.
"Dahinya tidak salah, Aqilla. Jangan kamu sakiti begitu," celetuk Reynand.
Aku melongo. Aku hanya menepuk dahiku pelan, bagian mananya sih yang menyakiti.
"Berlebihan sekali anda," gerutuku sengaja menyindrinya.
Reynand langsung terkekeh. "Namanya juga sayang."
Sial. Pipiku memanas. Duh, kenapa mobil Reynand tiba-tiba pengap gini sih.
"Jalan sekarang?" tanya Reynand memastikan sekali lagi.
Aku hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.
****
"GoFood! GoFood!"
Suara Sandra secara otomatis menghentikan gerakan tanganku memotong kain. Aku menaikkan alis sambil bersedekap, setelah meletakkan gunting, menatap kantong kresek yang ia pegang dengan tatapan bingung.
"Apaan itu?" tanyaku heran, masih menatap kantung kresek yang Sandra pegang. Yang kemungkinan besarnya itu untukku.
"Loh kok, ini bukan pesenan Mbak Qilla?" Kini giliran Sandra yang menatapku bingung. "Nasi padangkan?"
"Lha terus ini punya siapa?" tanya Sandra bingung.
Aku mengangkat bahu. "Simpen aja dulu, nanti kalau ada yang ambil ya tinggal kamu kasih lagi. Paling juga bentar lagi ada yang nyari, kalau ada yang merasa kehi--" Aku menghentikan kalimatku saat melihat ponselku berkedip.
Reynand:
Aku & tim pesen nasi padang. Aku pesenin kamu sekalian.
Reynand:
Apa sudah sampai?
"Eh, tunggu!" seruku spontan, saat melihat Sandra hendak kembali turun.
"Kenapa, Mbak?"
"Itu, nasi padangnya tinggalin di meja aja. Itu punyaku."
Sandra tak langsung menurutiku, ia malah menyipitkan kedua matanya curiga. Namun, beberapa detik kemudian ia mengangguk paham.
"Saya taruh di meja counter ya, Mbak?"
"Sip. Thanks ya," ucapku sebelum Sandra keluar dari ruanganku.
Sandra mengangguk sambil mengacungkan jempolnya, baru kemudian keluar. Sementara aku mengetik balasan untuk Reynand.
Me:
Ya, sudah sampai.
Thanks.
__ADS_1
Me:
Tapi lain kali gak usah repot2
Me:
Kan klo ketagihan, kmu yg susah๐
Tak berapa lama balasan Reynand muncul. Wah, gercep juga ya, padahal statusnya tadi tidak sedang online loh.
Reynand:
Klo ketagihan, ya gampang.
Tinggal aku krmin setiap hari๐
Aku mendengkus samar saat membaca balasannya. Ya, hubungan kami memang semakin membaik semenjak kami mengobrol di mobilnya tempo hari. Meski kami belum bisa bertemu kembali setelah kejadian itu, karena kesibukan masing-masing. Reynand pun tidak terlalu sering menghubungiku, karena sibuk dengan proyeknya, katanya. Toh, saat ia menghubungiku, ia hanya akan bilang rindu dan ingin bertemu, yang sampai sekarang belum kesampean. Kalau kalian bertanya status apa yang sedang kami jalani, aku sendiri pun tidak tahu.
Belum juga aku mengetik balasan untuknya, Reynand kembali mengirimiku pesan.
Reynand:
Saya rasa rindu yang saya rasakan semakin tak tertolong. Bagaimana kalau kita mengatur jadwal untuk bertemu๐
Me:
๐ค
*sedang mode berpikir keras
Reynand:
๐
*sedang mode merajuk
Aku tersenyum secara spontan. Kemudian mengetik balasan untuk Reynand.
Me:
Kamu bisanya kapan?
Reynand:
๐ถbelum tahu.
Me:
๐๐ anda lucuh sekali sih๐
Reynand:
Malam ini aku mampir ya?.
Me:
Mampir saja.
Aku juga nggak ngelarang
Reynand:
Oke.
Duh, kok jadi deg-degan?
Tanpa sadar aku meremas ponselku karena gugup. Kira-kira aku harus menyiapkan apa ya, malam ini? Makanan berat atau cemilan ringan saja? Atau dua duanya? Ahhh, aku bingung.
Tbc,
__ADS_1
Masih adakah yang nunggu cerita ini?๐