
######
Setelah selesai menggoreng telur ceplok untuk Kafka dan Reynand, aku mencuci piring dan juga wajan untuk menggorang tadi. Sedang kedua laki-laki berbeda generasi itu entah pergi kemana, aku tidak tahu. Padahal tadi samar-samar, aku masih mendengar suara mereka yang terdengar sedang berebut entah apa, tapi beberapa detik yang lalu, suasana mendadak hening dan saat aku mengintip ke ruang tamu, aku sudah tidak menemukan keduanya.
Aku kemudian langsung mengeringkan kedua tanganku dan berjalan ke luar rumah. Motor Mbak Lusi tidak ada. Itu artinya mungkin mereka sedang pergi. Aku mendengkus sebal, lalu berjalan masuk ke rumah kembali untuk mencari ponsel. Setelah menemukan ponselku, aku kemudian langsung menghubungi Reynand. Namun, sebelum sambungan terhubung, aku mendengar suara motor, membuatku langsung mematikan sambungan telfonku dan berjalan keluar rumah.
"Dari--Astagfirullah! Kakak kok makan es krim?" omelku saat mendapati tangan Kafka membawa cup es krim rasa strawberry dan sendok kecil berwarna merah.
"Yang beliin Om, Bulek. Kakak tadi udah nolak kok, tapi dipaksa Om."
Pandanganku kemudian beralih pada Reynand, yang kini sedang meringis salah tingkah.
"Eh, nggak boleh makan es krim, ya?"
Aku berdecak sebal lalu melotot ke arah Kafka, yang kini sedang sibuk menyendok es krim dan melahapnya dengan senang. Ini bocahnya, diomelin belum kelar malah asik makan es krim.
"Kakak! Kenapa itu diterusin makannya?!" seruku heboh. Gemas banget aku rasanya, astagfirullah!
"Mubazir, Lek. Kata Pak Ustad, kita sebagai manusia itu nggak boleh mubazir, supaya nggak jadi temennya setan. Bulek dulu itu ngaji kayak Kakak nggak sih, masa begitu aja nggak tahu."
Seketika aku langsung melongo. Sementara Reynand? Jangan tanyakan dia sedang apa. Karena jelas, sekarang ini ia sedang mati-matian untuk menahan tertawa.
"Kan, bisa ditaruh di kulkas dulu, Kak. Bisa Kakak makan lain kali," kataku menjelaskan. "Nanti kalau Kakak batuk lagi terus yang diomelin Bulek, Kak. Tadi pagi, Papa kamu udah pesen--"
"Kok Bulek ngomong gitu? Bulek doain Kakak batuk lagi?"
Hah?
"Ingat, Bulek! Ucapan itu adalah doa."
Setelah Mengucapkan itu, Kafka langsung masuk ke dalam rumah tanpa perasaan bersalah. Mengabaikan ekspresiku yang sudah kacau, antara ingin teriak dan mengomelinya habis-habisan, tapi kok nggak ada kalimat yang keluar sama sekali. Lalu secara tiba-tiba, aku merasakan elusan ringan di pundakku.
"Sabar ya, sayang," bisik Reynand sambil mengedip genit lalu terkikik geli dan berlari masuk ke dalam, menyusul Kafka.
Aku mengeram jengkel sambil memejamkan kedua mataku sejenak, sebelum akhirnya menyusul mereka masuk ke dalam.
"Hape kamu bunyi terus dari tadi," kata Reynand sambil menyodorkan ponselku yang kini masih berdering. Dan nama Mas Adi yang tertera di layar.
"Ya, halo. ass--wallaikumussalam. Kenapa, Mas?"
"Kafka sudah dijemput?"
"Sampun, Ndoro."
"Sudah makan?"
"Udah."
"Sama apa?"
"Telor ceplok sama kecap."
"Astagfirullah! Pelit banget sih kamu, La. Masa anak Mas cuma dikasih telor ceplok sama kecap," protes Mas Adi terdengar kesal.
"Anakmu sendiri yang minta, Mas. Enak aja malah ngatain aku pelit. Udah dibantuin jagain juga, kok malah ngatain," gerutuku sebal.
"Ya udah, kalau begitu kamu ajak tidur siang, ya. Nanti habis dzuhur kamu bawa ke sini. Nanti nomor kamarnya Mas kirim lewat WA."
"Hmmm."
"Langsung Mas tutup. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Aku langsung meletakkan ponselku di atas meja dan beralih ada Kafka yang asik bermain lego bersama Reynand.
"Kak, bobo dulu, yuk," ajakku sambil mendudukkan bokongku di sofa.
Kafka menggeleng tidak setuju dan masih asik bermain legonya. "Nanti, Kakak masih mau main ini. Belum ngantuk."
"Kalau nggak bobo sekarang, nanti nggak Bulek ajak loh."
"Ke mana?" tanya Kafka sambil melirikku penasaran.
"Liat adek dong."
"Adeknya Kakak?"
Kedua bola mata Kafka langsung berubah makin antusias, saat aku mengangguk yakin. Dengan gaya hebohnya, Kafka langsung berdiri dan loncat-loncat kegirangan.
"Asik-asik liat adek," seru Kafka terlihat senang.
"Eits, tapi bobo dulu. Kalau nggak bobo dulu, nggak boleh ikut."
"Oke, Kakak mau bobo sekarang," kata Kafka dengan penuh semangat, membuatku dan juga Reynand tersenyum geli melihat tingkahnya.
"Beresin dulu mainannya," kataku mengingatkan, saat Kafka sudah bersemangat untuk naik ke lantai atas.
Bocah itu nyegir. "Hehe, hampir aja Kakak lupa." lalu dengan semangat ia memasukkan mainannya ke dalam wadah khusus, yang memang dikhususkan untuk menaruh mainannya. Setelah beres, ia kemudian mengajakku naik ke lantai atas.
"Om, Kakak bobo dulu, ya," pamit Kafka sambil mencium sebelah pipi Reynand.
Wah, mereka cepet banget akrabnya.
"Aku temenin Kafka tidur dulu, ya," kataku lalu berniat menggendong Kafka, tapi bocah berumur empat tahun ini mengelak.
"Kakak udah besar, Lek, nggak boleh gendongan," decak Kafka dengan ekspresi cemberutnya.
Aku hanya mampu menghela nafas pendek dan mengangguk pasrah. Lalu kami naik ke kamarku.
"Mau didongengin nggak?" tawarku saat kami sudah berada di dalam kamar. Kafka sudah berbaring di kasur dengan anteng, sementara aku masih berdiri di samping ranjang, mana tahu ini bocah perlu didongengin dan aku harus pergi ke kamar Mas Adi untuk mengambil buku cerita.
__ADS_1
"Enggak. Kakak mau langsung bobo."
"Oke, Bulek temenin, ya," kataku lalu ikut berbaring di sampingnya dan memeluk Kafka. "baca doa dulu sebelum bobo," kataku mengingatkan.
Dengan mata mulai terpejam, Kafka mengangguk. Lalu tak lama setelahnya, kami tertidur dan tahu-tahu sudah mendengar suara berisik di lantai bawah. Seketika aku langsung turun dari ranjang dan berlari kecil menuruni anak tangga dengan langkah terburu-buru.
"Kenapa lari-lari to?" tanya Bapak heran.
Aku nyengir lalu memperlambat langkah kakiku dan menyalami Bapak. "Kapan pulangnya, Pak?"
"Barusan. Kenapa kamu nggak bilang kalau ke sini bareng Nak Rey to, Nduk?"
Aku duduk di sebelah Bapak. "Kan Bapak nggak tanya Qilla," cengirku kemudian.
"Kamu ini, Kafkanya kemana?"
"Masih tidur di atas."
"Mau diajak jengukin adiknya?"
Aku mengangguk sebagai tanda jawaban. Karena memang Mas Adi yang menyuruhku untuk mengajak Kafka ke rumah bersalin untuk menjenguk adik barunya.
Bapak kemudian ikut mengangguk lalu menoleh ke arah Reynand. "Kamu mau ikut jenguk dulu, apa langsung pulang ke Jogja, Nak?"
Aku kemudian ikut menoleh ke arah Reynand. Pria itu tersenyum lalu mengangguk.
"Ikut jenguk dulu, Pak, baru balik ke Jogja."
Bapak mengangguk sekali lagi. "Ya, sudah kalau begitu. Bapak tak pernah istirahat dulu."
"Ponakanku cewek apa cowok, Pak?" tanyaku kepo.
Bapak yang tadinya sudah berdiri dan berniat meninggalkan ruang tengah, kini mendadak berhenti dan berbalik menoleh ke arahku.
"Kamu nanti ikut nganterin Kafka kan?" Bapak malah balik bertanya.
"Iya, ikut."
"Ya udah, nanti liat sendiri, cewek apa cowok."
"Iiih, Bapak, kan Qilla penasaran. Apa susahnya sih ngasih tahu," decakku memprotes dengan ekspresi cemberut.
"Ya, apa susahnya nunggu sebentar lagi terus nanti lihat sendiri?"
Seketika aku melongo. Bapak lagi bercandain aku ini ceritanya?
"Iiih, Bapak kok nyebelin sih!" protesku kemudian.
Sementara Bapak hanya tertawa lalu meninggalkan aku dan Reynand. Saat kulirik Reynand, pria itu ternyata juga sedang menertawakanku.
"Lucu?"
"Iihh, dasar nyebelin!" teriakku sebal lalu meninggalkan Reynand begitu saja, tanpa memperdulikan teriakannya. Dan aku terus berlari kecil menaiki anak tangga, untuk membangunkan Kafka.
Sesampainya di kamar, aku sudah menemukan Kafka yang sudah duduk di atas ranjang sambil mengucek-ucek kedua matanya, khas bangun tidur.
"Siang, Kakak, udah bangun?"
Masih dengan sedikit mengantuk, Kafka mengangguk.
"Jadi lihat adek baru?"
Kafka mengangguk lalu merentangkan kedua tangannya meminta untuk digendong. Tumben bener.
"Kenapa?" tanyaku lalu meraih tubuhnya dan menggendongnya.
"Mau ikut Bunda," rengek Kafka sambil menempelkan kepalanya di pundakku.
"Ya, nanti ikut Bunda. Sekarang ganti baju dulu, yuk!"
Masih dengan ekspresi ngantuknya, Kafka mengangguk. Aku kemudian mendudukkannya di tepi ranjang, dan mengambil baju untuknya. Setelah selesai menggantikan pakaiannya, aku mengajaknya turun ke bawah. Ekspresinya masih terlihat mengantuk dan masih ogah-ogahan untuk berjalan sendiri.
"Katanya mau jadi Kakak, kok masih gendongan sih," ledekku.
Namun Kafka tidak perduli, dan masih anteng menyenderkan kepalanya di pundakku.
"Titip Kafka dulu dong, aku mau mandi sama ganti baju dulu," kataku sambil menyerahkan Kafka ke Reynand.
"Kakak masih ngantuk?" tanya Reynand sambil menerima tubuh Kafka dan memangkunya. Kafka dengan wajah ogah-ogahannya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Aku kemudian naik ke lantai atas dan bergegas mandi dan berganti pakaian. Setelah siap, aku pun segera turun ke lantai bawah. Aku menghela nafas pendek saat mendapati Kafka kembali tertidur pulas di pangkuan Reynand, bahkan Reynand pun ikut tertidur. Aku kemudian berkecak pinggang. Memangnya aku selama itu apa mandi dan dandannya, sampi dua laki-laki berbeda generasi ini tertidur pulas karena menunggui berdandan.
Aku kemudian menggoyangkan bahu Reynand, untuk membangunkannya. Ia tidak langsung bangun, hanya menggeliat sesaat.
"Rey, bangun!" decakku gemas, lalu menggoyangkan bahu Reynand sedikit kasar.
"Hmmm."
"Bangun! Jadi pergi nggak sih?" gerutu sebal, lalu mengambil alih Kafka dan duduk di sampingnya.
"Udah siap?" tanya Reynand sambil merenggangkan kedua tangannya dan menguap lebar.
Aku mengangguk lalu menepuk bokong Kafka pelan. "Kak, bangun! Katanya mau lihat Adek."
Kafka mengucek-ucek kedua matanya dan menatapku lamat-lamat.
"Udah sampai?" tanyanya polos.
Aku terkekeh. "Ini baru mau berangkat. Kakak masih ngantuk?"
Kafka menjawabnya dengan gelengan kepala lalu menyenderkan kepalanya di pundakku lagi. Aku mendadak panik lalu menyentuh dahi Kafka yang terasa menghangat.
__ADS_1
"Pusing, Kak?"
Dengan wajah lesunya, Kafka mengangguk. Seketika membuatku menoleh ke arah Reynand dengan pandangan horor.
"Kayaknya Kafka mau demam deh."
Reynand langsung menoleh ke arahku dengan wajah paniknya dan menempelkan telapak tangannya di dahi Kafka.
"Iya, agak hangat. Apa jangan-jangan gara-gara makan es krim tadi?"
Aku menggeleng, tanda tidak tahu. "Aku juga nggak tahu. Tapi kayaknya iya deh. Waduh, alamat kena omel Mas Adi, nih."
"Maaf," cicit Reynand dengan perasaan bersalahnya.
"Udah terlanjur. Yuk, berangkat sekarang!"
"Nanti kalau kena omel gimana?"
"Ya, dengerin."
"Oh, oke," ucap Reynand sambil membukakan pintu untukku dan Kafka.
#####
"Kenapa gendongan?" sambut Mas Adi saat aku dan Reynand masuk ke dalam ruang inap Mas Lusi. Kedua matanya melirikku tajam, sebelum akhirnya meraih Kafka dari gendonganku. "kok badannya anget? Kamu kasih apaan?"
Sebelum aku menjawab, Reynand dengan cepat menjawab, "Anu... Maaf, Mas, sebelumnya. Saya tidak tahu kalau--"
"Kamu beliikan anak saya es krim?" potong Mas Adi dengan kedua mata menatap Reynand tajam.
Dengan kepala tertunduk, Reynand mengangguk pasrah.
"Kan enggak tahu, Mas," kataku membela Reynand.
Entah kenapa aku tidak suka melihat kedua mata Mas Adi yang kini menatap Reynand tajam, terlihat sekali kalau Mas Adi seperti tidak suka dengan Reynand.
"Mas kan udah ngasih tahu kamu, La," omel Mas Adi sambil melirikku tajam.
"Kan udah minta maaf jug--"
"Sudah to, uwes kejadian juga kok. Nanti kan tinggal dikasih obat penurun panas bisa, Mas. Udah sana, bantuin istrimu dulu, mau ke kamar mandi tuh," kata Ibu menengahi perdebatan kami. "Mari duduk dulu, Nak Rey! Sampai di Semarang jam berapa tadi?" basa-basi Ibu setelahnya.
Sementara dengan ekspresi tidak sukanya, Mas Adi memberikan Kafka ke Ibu mertuanya.
"Titip dulu, Ma." Lalu menghampiri Mbak Lusi dan membopong tubuhnya menuju kamar mandi.
"Sehat, Bude," kataku menyapa Ibu mertua Mas Adi dan duduk di sebelah beliau.
"Alhamdulillah, sehat. Baru nyampe?"
"Enggak kok, Bude. Tadi sebelum Kafka pulang."
"Masih pagi, ya?"
"Iya, dikabarinnya pagi-pagi kebetulan."
Bude Ningsih langsung ber'oh'ria. "Pantesan."
"Lahir jam berapa tadi, Bude?"
"Jam berapa tadi lupa, sebelum dzuhur kayaknya."
"Cewek apa cowok?"
"Cewek."
Aku tersenyum senang lalu bangkit berdiri. "Aku lihat, ya, Bude?" kataku meminta izin.
"Iya, lihat aja."
Dengan ekspresi senang, aku langsung membangunkan Kafka. "Kak, katanya mau lihat adek. Jadi, enggak?"
Dengan ekspresi bingungnya, Kafka mengangkat kepalanya dan menatapku. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung merentangkan kedua tangannya. Lalu aku dengan sigap langsung menggendongnya.
"Lihat, Kak, adek Kakak cantik. Mirip Bunda," kataku sambil menunjuk keponakan baruku yang sedang tertidur pulas di box-nya.
Ekspresi Kafka berubah antusias. "Itu cewek apa cowok, Lek?"
Aku langsung tertawa mendengar jawaban polos Kafka. "Kak, kan tadi Bulek bilang cantik. Kalau cantik artinya cewek apa cowok?"
"Hayo, cewek apa cowok?" seloroh Bude Ningsih lalu menghampiri kami.
"Cewek," cengir Kafka dengan wajah polosnya.
Aku kemudian menoleh ke arah Ibu dan Reynand yang masih asik mengobrol. Tak lama setelahnya Mas Adi dan Mbak Lusi keluar dari kamar mandi.
"Mbak Lusi, selamat, ya?" ucapku semangat lalu mencium kedua pipinya secara bergantian. "Makasih buat keponakan barunya, cantik. Aku suka."
"Mbak juga mau satu ya, dari kamu."
Aku sontak langsung cemberut. "Kan Mbak Lusi udah punya dua. Masa masih minta ke aku. Maruk amat."
"Ya, beda dong." Perhatian Mbak Lusi kemudian beralih pada Kafka. "Sayangnya Bunda nggak nakal kan ikut Bulek?"
Kafka menggeleng. "Enggak. Kan Kakak pinter, ya, kan, Bulek?"
"Iya. Kakak kan udah punya adek, jelas pinter dong," kataku sambil mencium pipi sebelah kanan Kafka.
Tbc,
sepi peminat ya, cerita ini??? 🤔🙄😰😥ðŸ˜
__ADS_1