
\=\=\=\=\=!!\=\=\=\=\=
Reynand:
Aku di bawah
Bukain dong!
🤗😘
Aku mengerutkan keningku saat membaca chat yang Reynand kirimkan, melirik jam dinding yang kupasang di dalam kamar, yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih, dan Reynand ingin bertamu? Ck, benar-benar tidak sopan. Aku memang sudah bersiap untuk tidur, awalnya. Tapi setelah membaca chat tersebut, aku mengurungkan niatku untuk segera tidur. Sambil sedikit menggerutu tak jelas, aku menyibak selimutku dan turun dari ranjang, berjalan sedikit ogah-ogahan saat menuruni anak tangga sembari mengikat rambutku secara asal.
"Nggak sopan banget sih, malam-malam bertamu," semburku saat setelah membuka pintu.
Reynand meringis sungkan. "Udah tidur, ya?"
"Tadinya. Tapi gara-gara kamu aku jadi batal tidur."
"Maaf. Aku tadi abis pulang lembur, liat tukang martabak, terus inget status kamu. Ya, aku pikir kamu lagi ngekode aku. Bukan ya, ternyata?"
Dahiku mengerut tanpa bisa dicegah. Status martabak katanya, kapan aku bikinnya? Perasaan aku nggak ngerasa lagi pengen martabak deh.
"Kamu liat di mana?" tanyaku heran.
"Story Whatsapp."
"Kapan aku bikinnya?"
"Tadi siang, tapi aku baru liatnya tadi sore sih," aku Reynand sambil nyengir salah tingkah.
Tadi siang?
Aku berpikir sejenak. Lalu ingatan tentang cerita Sandra kembali berputar di otakku.
"Itu bukan kode kalau aku lagi pengen martabak, Rey. Kamu lihat dong emoticon-nya ketawa begitu, kalau aku lagi pengen harusnya emoticon-nya kan ngiler, bukan ngakak begitu. Itu aku lagi nyindir si Sandra, dia baru aja ngalamin kejadian lucu sama gebetannya dan itu ada hubungannya sama martabak. Begitu," kataku menjelaskan.
Reynand meringis sambil menggaruk belakang kepalanya, karena malu. "Terus ini martabaknya aku apain?" tanyanya kebingungan.
"Ya, kamu makanlah."
"Sendiri?"
"Sama calon mertua kamu juga boleh, Rey."
"Aku harus ke Semarang?"
Reynand melotot tak setuju. Sementara aku tertawa. Aku kan hanya bercanda, kenapa responnya begitu banget deh.
"Bawa pulang aja kalau gitu," kataku kemudian.
"Orang rumah udah pada tidur jam segini. Risha kan udah ikut suaminya sekarang. Makan berdua sama kamu aja, ya?" bujuk Reynand sambil mengedip-kedipkan kedua matanya, merayuku.
Aku menggeleng horor. Ini sudah jam sembilan lebih, dan dia minta aku makan. Big no! Meski aku bukan tipekal yang gampang gemuk, tapi aku tetap tidak suka makan di atas jam segitu.
"Takut gemuk?" tanya Reynand setengah meledak.
"Bukan. Aku cuma nggak suka aja makan di atas jam segitu."
"Kenapa?"
"Enggak suka aja. Takut ketagihan."
"Emang biasanya kalau lembur, nggak ada cemilan gitu?"
__ADS_1
Aku tersenyum sambil menggeleng. "Kan aku mau lembur, bukan mau nyemil."
"Emang lembur nggak bikin laper?"
Aku melirik Reynand dengan kedua mata menyipit, ini kenapa jadi ngoborol di depan pintu, unfaedah lagi obrolannya. Nggak penting banget.
"Apaan deh, kenapa jadi ngobrol di sini."
"Kan kamu belum nyuruh aku masuk."
"Emang siapa yang bakal ngizinin kamu masuk? Enggak ada, pulang sana!" usirku sambil berdecak tak suka.
"Oke, aku pulang. Tapi kamu yang abisin martabaknya."
"Kok gitu?" protesku tidak terima.
"Gini aja, aku yang abisin tapi kamu temenin. Enakkan?" usul Reynand sambil memainkan kedua alisnya naik turun.
Aku langsung mendengkus kasar saat mendengar idenya. Namun, pada akhirnya tetap mempersilahkan Reynand masuk, meski tadi aku sempat mengatainya.
"Dasar tukang modus. Ada aja idenya."
Yang hanya Reynand tertawa puas sebagai respon, lalu mengedip genit sebelum akhirnya mengekor di belakangku.
"Kamu sekarang tinggal di Jogja, Rey, bukan di Jakarta lagi. Aku nggak suka kamu main ke sini malam-malam begini," omelku sambil berjalan menuju dapur.
"Iya, lain kali nggak lagi," balas Reynand sambil mengangguk paham.
"Mau minum apa?"
"Apa aja deh, air putih juga cukup, tapi dingin, ya."
Aku langsung membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air mineral ukuran besar, membawa ke ruang tengah sambil menenteng gelas.
"Iya, makasih," ucap Reynand sambil tersenyum. Tangan kanannya memegang sepotong martabak manis rasa kacang, sedang tangan kirinya sibuk mengganti saluran televisi yang menarik minatnya, lalu mulutnya kembali mengunyah. "kok nggak ada yang bagus sih," gerutunya sambil mematikan televisi. Kedua matanya kemudian melirikku.
"Kenapa?" tanyaku was-was.
"Enggak ada." Reynand menggeleng. "ngobrol, yuk!" ajaknya kemudian, membuatku tertawa.
"Emang kita lagi ngapain sih, Rey? Main monopoli? Kan kita ini juga lagi ngobrol."
Aku berdecak sambil geleng-geleng kepala, tak habis pikir.
"Maksudku ngobrol serius, bahas sesuatu gitu."
"Contohnya?"
Reynand menegakkan tubuhnya, lalu melirikku. "Kamu pernah merasa takut nggak sih buat nikah?" tanyanya ragu.
"Hah? Serius kita mau bahas beginian? Malam-malam begini?" Aku terkekeh geli sambil melirik Reynand tak yakin.
"Ya, enggak papa, nggak ada yang salah sama waktu kan?"
"Iya, enggak ada," balasku sambil tersenyum geli.
"Jadi, pernah ngerasa takut apa enggak?" tanya Reynand penasaran.
Aku menggeleng. "Enggak sih kayaknya, karena menikah kan ibadah, sunnah Rosul juga, masa harus kita takuti?"
"Terus kenapa kamu belum nikah di umur segitu?"
Tanpa bisa dicegah, aku langsung berdecak tak suka mendengar pertanyaan Reynand. Bagaimana pun juga, pertanyaan semacam ini kan termasuk pertanyaan sensitif, dan harusnya tidak boleh sembarangan ditanyakan pada wanita.
__ADS_1
"Kamu ini benar-benar nggak sopan, ya, masa tanya begituan ke wanita," protesku kesal, yang justru disambut gelak tawa dari Reynand.
"Kalau aku sih jelas," ujar Reynand setelah tawanya reda.
"Jelas apa?"
"Ya, jelas, kan ketemu kamunya belum lama, jadi wajar kalau--AAWW, kok ditimpuk sih?" protes Reynand sambil tertawa dan mengusap-usap wajahnya yang terkena bantal sofa lemparanku.
"Katanya mau ngobrol serius, itu kenapa malah bercanda?" protesku kesal.
"Loh, bercanda gimana sih, aku serius kok. Kan kita emang ketemu--"
"Bodo amat!" judesku tak membiarkan dia meneruskan kalimatnya.
"Ngambek?" bujuk Reynand, sambil berpindah duduk di sampingku.
Aku mendengkus dan berpindah, menjauhinya.
"Iya, iya, aku--"
"Terserah, ah, mending kamu pulang sana. Aku mau tidur," ketusku sambil memalingkan wajahku.
"Terus martabaknya?"
"Ya, kamu bawalah."
"Ya udah, iya."
Dengan gerakan pasrah, Reynand mulai membereskan martabaknya. "Aku pamit, ya."
"Hhmm," balasku seadanya.
"Serius kamu beneran ngambek?" tanya Reynand mengurungkan niatnya untuk pulang.
"Lihat besok."
"Hah?"
"Udah sana kamu pulang!" usirku kesal.
"Iya, iya, ini pulang. Tapi besok nggak--"
"Pulang, Rey, Pulang!" potongku cepat.
Dengan langkah pasrah, Reynand menuruni anak tangga, yang kuikuti di belakangnya.
"Aku pulang dulu, langsung tidur ya, abis ini," ucap Reynand sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Aku mengangguk, mengiyakan. "Hati-hati! Kabari kalau udah sampai."
Reynand mengangguk sambil tersenyum cerah. "Hehe, aku pikir beneran ngambek. Udah deg-degan loh aku tadi."
"Enggak. Yang tadi cuma biar kamu cepet pulang aja, soalnya nggak tega aku mau ngusir langsung," kataku sambil tersenyum geli.
Meski dengan wajah sedikit masam, Reynand mengangguk. "Ya udah, aku pamit. Nggak usah mimpiin aku, karena aku ada dan nyata dalam hidupmu. Jangan lupa berdoa sebelum tidur," pesannya sebelum melajukan mobilnya.
Aku hanya terkekeh geli sambil geleng-geleng kepala dengan sikap anti mainstreamnya.
Tbc,
**Kok pendek?
Lumayan kan daripada lu manyun 😆😂
__ADS_1
hehe 😂✌**