Telat Nikah?

Telat Nikah?
Reynand & Sikap Berlebihannya


__ADS_3

######


"Mau ke mana?" tanya Reynand dengan suaranya yang masih terdengar agak serak, efek dari bangun tidur.


Kedua mata Reynand masih setengah terbuka, dengan kepala yang agak terangkat. Menatapku yang kini bersiap untuk turun dari ranjang.


Aku menoleh ke arah Reynand sambil mengikat rambutku asal. "Kamar mandi, ambil air wudhu. Mau subuhan. Kamu bangun juga dong."


Reynand berguman dengan kepala mengangguk dan mata kembali terpejam. "Iya, nanti, habis kamu."


Aku mengangguk, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai aku langsung keluar kamar mandi, dan Reynand masih teridur pulas. Aku mendesah pasrah lalu meraih guling untuk membangunkannya.


"Mas, salat shubuh dulu, yuk! Nanti disambung lagi tidurnya."


"Hhmmm, lima menit. Eh, enggak, dua menit. Iya, dua menit cukup. Aku masih ngantuk soalnya, yang."


"Bangun sekarang, Mas! Astagfirullah! Nanti kan bisa disambung lagi. Ayo, buruan bangun! Jadi imam rumah tangga tuh, nggak cuma kasih nafkah lahir dan batin. Tapi kasih contoh yang baik buat makmumnya, dong," omelku kemudian.


Reynand kemudian melirikku, dan berdecak jengkel. Dengan ekspresi tidak relanya, ia kemudian bangun. Mengucek sebelah matanya, lalu menyibak selimut dan turun dari ranjang.


"Hati-hati, itu matanya dibuka dulu, nanti nabrak," kataku memperingatkan, karena Reynand langsung turun dari ranjang dengan kedua mata yang belum terbuka sempurna, jalannya pun masih sempoyongan.


"Iya, sayangku," balas Reynand, tidak benar-benar menuruti perkataanku. Karena setelah mengatakan itu, dahi Reynand membentur tembok.


"Kan, dikasih tahu istri nggak nurut sih gitu. Benjolkan?"


Reynand menoleh ke arahku sambil meringis dan berkata, "Hehe, jangan benjol dong. Masa doainnya gitu."


"Udah, buruan wudhu!" kataku kemudian.


Reynand memamerkan senyumnya dan mengacungkan jempol. Baru setelahnya, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Tak lama setelahnya Reynand keluar, lalu kami menunaikan ibadah salat berjamaah.


"Mau sarapan apa pagi ini?" tanyaku sambil melipat mukena dan juga sajadah kami.


"Kamu pengennya apa?" Reynand malah balik bertanya.


"Lagi nggak pengen sesuatu. Jadi, sarapannya ngikut kamu."


"Ya udah, bubur ayam nggak papa?" tawar Reynand, mulai bersiap kembali masuk ke dalam selimutnya.


Aku meletakkan mukena dan sajadah kami di tempat semula. "Kok bubur ayam? Maksudnya, aku mau masak buat sarapan kita lho, Mas. Apa kamu nyuruh aku bikin bubur ayam ini?"


"Nggak usah!"


"Enggak usah apa?" tanyaku tidak bisa menahan ekspresi kebingungan.


"Enggak usah, masak, nanti aku beli bubur ayam aja," balas Reynand dengan kedua matanya yang kini mulai terpejam.


Aku langsung berdecak sambil berkecak pinggang. "Kok malah beli bubur sih, Mas?" protesku kesal.


"Iya, kan kamu lagi hamil, yang. Hamil muda itu katanya kita harus super hati-hati."


"Saking hati-hatinya, kamu sampai larang aku masak?"


Reynand tidak mengatakan sesuatu untuk menjawabku, ia hanya mengacungkan jempolnya sebagai tanda jawaban.


Aku melongo selama beberapa detik, lalu meraup wajahku dengan frustrasi. Astaga, suamiku!


"Astagfirullah! Enggak gitu-gitu amat dong, Mas. Kan aku sehat, baik-baik saja, udah nggak mual-mual juga. Masa cuma mau masak aja nggak boleh."


Reynand membuka kedua kelopak matanya, mengubah posisinya menjadi duduk. Lalu menatapku. "Yang, kamu inget Siska?"


Aku mengernyit dan menatapnya heran. Jujur, aku tidak terlalu ingat itu nama siapa. Memang siapa dia, mantan pacarnya?


Karena tidak ingat siapa nama yang disebutkan Reynand barusan, aku kemudian menggeleng sebagai tanda jawaban.


"Enggak. Emang dia siapa? Mantan kamu?"


Reynand berdecak sambil menggeleng tegas. "Bukan. Dia itu dulu yang bantu aku di kantor lama pas masih nebeng Risha, tapi sekarang udah freelance sih kerjanya soalnya kan dia udah ada baby."


Aku menggeleng. "Aku nggak ngerasa kenal."


"Halah, yang itu lho, yang bikin kamu cemburu sama nangis-nangis, pas kamu mau balikin jaket aku. Siska nggak sengaja nyandung kabel atau apa gitu, dia mau jatuh, terus aku tangkep biar dia-nya nggak jatuh. Eh, tapi kamu keburu cembur--"


Aku langsung memukul Reynand dengan bantal. "Aku nggak cemburu, ya?" bentakku emosi, "lagian ngapain juga aku ingat-ingat sesuatu yang nggak penting begitu."


"Enggak cemburu gimana? Kamu itu jelas-jelas cemburu berat waktu itu. Buktinya, kamu sampai lari-lari tanpa nyapa, terus taruh jaketku di tangga. Mana kamu pake adegan nangis-nangis lagi abis itu, bukti itu sudah cukup menjelaskan semuanya, sayang."


"Tahu lah, aku mau masak. Kalau kamu nggak mau aku masakin, ya udah, aku masak buat aku sendiri. Terus nanti kamu jajan sendiri."

__ADS_1


"Kok gitu? Jangan masak dong, Siska--"


"Ngapain sih kamu sebut-sebut dia? Naksir?"


"Buset, sekarang aja kamu juga masih cemburu? Astagfirullah, kan aku udah bilang kita ini cuma patner, sayang. Dulu, sekarang, mau pun masa yang akan datang, kami ini patner dan akan tetap menjadi patner nggak lebih."


Aku menatap Reynand datar sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada. "Kamu seneng banget ya, jadiin dia patner?"


"Hah?"


"Tahu lah, aku mau masak."


"Eh, jangan masak, sayang!" cegah Reynand kemudian menyusulku.


Aku mengangguk setuju lalu menatapnya sinis. "Oke, aku nggak akan masak. Tapi kamu yang masak, kalau begitu. Gimana?" tantangku kemudian.


"Hah? Aku?" Reynand menunjuk dirinya tidak yakin, "kamu nggak takut sakit perut atau semacamnya gitu?"


"Ya, udah, aku yang masak."


"Itu lebih nggak boleh! Oke, aku yang masak, tapi kamu kasih instruksi apa aja yang harus aku lakuin? Oke, deal?"


Di luar dugaan, Reynand tiba-tiba menyodorkan telapak tangannya, mengajakku berjabat tangan.


Detik itu juga, aku langsung melongo. Ini benar tidak sih?


"Kamu nggak serius kan ini, Mas?" tanyaku tidak percaya.


"Emang keliatannya begitu?"


Aku menggeleng, sebagai tanda jawaban, karena memang tidak tahu.


"Ya udah, ayo!"


"Ngapain?" tanyaku seperti orang bodoh.


"Masak, sayang. Tapi kamu duduk diem aja sih."


Aku kembali menatap Reynand tak percaya. "Mas, kamu ngerasa nggak, kalau sikap kamu ini berlebihan dan juga tidak wajar?"


Dengan wajah santainya, Reynand menggeleng. "Enggak kok, menurut aku ini wajar. Namanya suami siaga, calon Ayah yang baik, mah, begini, sayang. Udah, yuk!"


Aku berdecak sembari geleng-geleng kepala. Tidak cukup mampu memaklumi sikapnya sekarang ini. Astagfirullah! Suami siapa sih ini?


"Kamu nggak percaya sama suami kamu sendiri?"


"Kayaknya bagian ini, aku nggak terlalu bisa percaya kamu, Mas," kataku sambil menggeleng sekali lagi.


######


"Nggak usah kerja deh, aku masih mampu biayain kamu sama calon bayi kita."


Astagfirullah! Mulai lagi kan? Ini padahal aku sudah siap berangkat ke butik lho. Tapi dengan luar biasa menyebalkannya, Reynand malah tiba-tiba merajuk dan memintaku untuk duduk diam di rumah dan menunggu kepulangannya. Astaga, ini tidak benar.


Sambil menghela nafas pasrah, aku akhirnya ikut duduk di samping Reynand. Meliriknya sekilas lalu berujar, "Mas, jangan mulai, plis! Aku baik-baik saja, nggak ngerasa ada yang salah sama diri aku. Maksudnya, aku udah nggak mageran kayak kemarin-kemarin, udah nggak mual-mual apa lagi muntah. Jadi, bisa berhenti bersikap berlebihan begini? Aku lama-lama tertekan lho, Mas, kalau kamu giniin terus."


"Lagian, aku kerja itu nggak semata-mata cuma karena cari uang. Tapi, karena aku suka sama pekerjaan aku. Aku pun juga punya tanggung jawab, Mas. Plis, aku bener-bener butuh kamu ngertiin kali ini," sambungku kemudian.


"Tapi, aku khawatir, sayang. Aku..."


Aku berdecak gemas. "Apa sih yang kamu khawatirin? Kondisi aku baik-baik saja, Mas. Aku cuma hamil lho."


"Nah, justru karena kamu hamil, sayang. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa," balas Reynand masih ngotot.


Aku menepuk dahiku gemas. Serius, aku benar-benar merasa frustrasi menghadapi sikap Reynand saat ini. Aku tidak sanggup jika harus lama-lama menghadapi ini.


"Kamu nggak percaya aku bisa jaga anak kita?" seruku emosi.


Kedua mataku kemudian melirik Reynand tajam. Emosiku siap kusemburkan detik ini juga, sebenarnya, namun sebisa mungkin aku menahan diri.


"Nggak gitu, sayang, maksud--"


"Terus apa?!" seruku kesal.


"Ya udah, ya udah, kita berangkat sekarang. Kamu jangan emosi! Nanti dedek bayinya stress."


Aku mendelik tajam. "Kamu yang bikin aku emosi dan juga stress, Mas."


Reynand langsung bungkam. Seperti tidak berani menjawab kata-kataku sama sekali. Hanya merangkul pundakku sambil mangguk-mangguk, lalu mengajakku segera berangkat.

__ADS_1


"Jangan begitu lagi, ah, bikin sensi aja."


"Iya, iya, diusahakan enggak lagi. Kan ini anak pertama kita, sayang, wajar kalau--"


"Ini, tuh, nggak wajar, Mas. Kamu berlebihan," potongku kesal.


"Oke, anggep aja aku emang berlebihan."


Aku hanya mendengkus sebagai responku. Dari pada kesal sendiri juga kan? Lalu kami berangkat setelahnya.


"Ingat, nggak usah capek-capek! Nggak usah, ngoyo! Kalau emang udah ngerasa capek, ya, udah. Istirahat."


"Hmmm," responku seadanya.


"Kok begitu sih responnya," protes Reynand setelah mencium keningku.


"Maunya gimana emang?"


Aku meliriknya sinis, emosiku yang tadi masih tersisa. Masih kesal aku rasanya.


"Ya udah, sana masuk! Nggak usah capek-capek!"


"Iyaaaaa."


"Aku berangkat. Assalamualaikum!" ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.


"Wa'allaikumussalam," balasku sebelum masuk ke dalam butik.


"Selamat pagi, bumilku. Makin cerah aja auranya," sambut Sandra sambil terkikik geli.


Aku mendengkus kesal lalu memprotes, "Nggak lihat wajah jutekku sekarang, San? Belum ketemu cogan, ya, matanya nggak fokus gitu."


Mendengar gerutuanku, Sandra langsung terbahak dan mengangguk setuju. "Bener banget Mbak Qilla, hari ini belum dapet konsumsi itu. Belum lihat yang bening-bening gitu dari tadi, rencananya sih mau ngintip calon hot daddy-nya Mbak Qilla, cuma aku kayaknya ketinggalan gitu deh."


"Asem, kamu! Mau jadi pelakor, ya?"


Sandra kembali terbahak. "Suami orang itu menggoda, Mbak," kelekarnya tak tahu malu.


Aku langsung mendelik. "Selera udah ganti? Terus brondong-brondong kamu, gimana kabar mereka?"


"Ke laut," jawab Sandra jutek, "udah, ah, kenapa jadi bahas itu. Mending bahas Mbak Qilla, jadi kenapa hari ini mukanya jutek lagi. Duh, bumil itu harusnya wajahnya berseri-seri, Mbak."


"Rey, lagi nyebelin parah."


"Lagi sensi, ya, Mbak," ringis Sandra takut-takut.


"Bukan!!"


"Terus? Duduk dulu, duduk!" ajak Sandra, sambil menuntunku menuju sofa, "mau Sandra bikinin teh atau ambilin air putih, atau--"


"Enggak! Thanks."


"Oke, sip. Jadi, kenapa, Mbak?"


"Reynand nyebelin, San," rengekku frustrasi.


Sandra meringis sekali lagi. "Hehe, maaf nih, Mbak, kan Mbak Qilla tadi udah ngomong itu. Kenapa nggak langsung dilanjutin aja sih? Maaf, nih, Mbak."


"Kamu makanya jangan nyela dulu, dong," protesku kesal.


"Hah?" Sandra melongo beberapa detik, kemudian mengangguk pasrah. "Iya, iya, lanjutkan, Mbak!"


"Jadi, gini, Rey tuh, lebay banget. Masa ngelarang aku kerja, ngelarang aku masak, pokoknya dia jadi bawel dan juga nyebelin parah. Aku kesel, San."


"Ya, namanya suami, Mbak. Kan, Mas Rey cuma ingin memberikan yang terbaik, meski, ya agak-agak berlebihan menurut Mbak Qilla. Cuma--"


"Ah, kamu nggak asik. Belain Rey terus."


"Loh, aku nggak belain Mas Rey. Sandra cum--"


"Aku langsung ke atas aja deh," kataku langsung berdiri dan meninggalkan Sandra begitu saja.


**Tbc,


hihi, pendek, ya? 😆😂


ya lumayan deh, dari pada gk up, hehe


yuk, yuk, komennya mana ini, ya?

__ADS_1


saya haus komenan lho ini 😆😆😆 gk kasian???? 🙄🙄🙄😆😂**


__ADS_2