Telat Nikah?

Telat Nikah?
Kembali ke Jogja


__ADS_3

####


Aku memutuskan langsung kembali ke Jogja, keesokan hari setelah acara acara nikahan Airin. Baik Bapak maupun Ibu sempat melarangku pergi, karena aku harus menyetir sendiri. Tapi aku tidak punya pilihan lain karena sore nanti aku sudah harus menemui salah satu anak pejabat daerah yang akan fitting baju di butikku. Selain karena Ayahnya pejabat penting, Ibu dari costumer yang akan fitting nanti juga termasuk pelanggan tetapku jadi aku tidak enak kalau tidak menyempatkan waktu untuknya.


Aku tiba di butik tepat pukul setengah sebelas lebih lima menit. Saat aku masuk ke dalam, semua terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka bahkan tidak menyadari keberadaanku.


"Masha Allah rajinnya, karyawan siapa ini?" celetukku sambil terkekeh.


Semuanya mengangkat wajahnya dengan kompak, lalu menghentikan aktifitasnya sebelum akhirnya langsung berhambur, mendekat ke arahku.


"Mbak Qilla!!" seru Jihan yang lalu memelukku. "Kangen."


"Iya. Tapi oleh-oleh cuma ini ya. Aku males cari, capek banget rasanya. Mana tadi agak macet," curhatku agak menyesal.


"Yo wes to, Mbak, nggak papa. Masih mending kita dibeliin oleh-oleh."


Aku mengangguk. "Tapi itu aku belinya nggak di Semarang, ya. Maaf."


Raut wajah Jihan terlihat yang paling kecewa, tapi dia tetap berusaha mengangguk.


"Sebenernya pengen protes, tapi liat Mbak Qilla kayaknya capek gini bikin aku nggak tega."


Aku tersenyum berterima kasih kepada Jihan.


"Ngapain aja di Semarang, Mbak, kok kayaknya sampai kurang tidur gini?" tanya Mbak Husna heran.


"Habis bantu-bantu temenku yang nikahan, Mbak. Jadi emang agak kurang tidur," jawabku lalu beralih ke Sandra. "San, tolong cariin makan sama panadol gitu deh. Aku agak pusing deh, kalau udah langsung bawa ke atas, ya," kataku meminta tolong.


"Mau makan apa, Mbak?"


"Apa aja deh. Nasi padang juga boleh."


Sandra mengangguk paham. Kemudian langsung bergegas keluar butik. Sementara aku langsung naik ke atas, Jihan dan Mbak Husna pun sudah kembali bekerja.


Aku memijit pelipisku yang terasa berdenyut. Kemudian memilih merebahkan tubuhku di atas sofa sampai akhirnya aku tertidur. Aku baru terbangun sesaat setelah Sandra membangunkanku.


"Mbak, ini makanannya sudah saya belikan. Mau makan sekarang?" tawar Sandra.


Aku mengangguk sambil mengucek mataku, mengumpulkan nyawaku yang tadi sempat berkelana entah kemana.


"Aku siapain, ya?" tawar Sandra lagi.


Lagi-lagi aku mengangguk dan kali ini sambil tersenyum.


"Mau air putih apa teh, Mbak?" tanya Sandra setelah sampai di dapur.


"Putih aja."


"Hangat atau dingin?"

__ADS_1


"Hangat aja kayaknya."


"Oke."


Tak berapa lama Sandra ikut bergabung di sebelahku, meletakkan piring dan juga air hangatku. Aku tersenyum senang saat menyambutnya.


"Makasih loh, kamu perhatian banget, San. Mau minta nambah gaji, ya?" candaku yang membuat Sandra langsung cemberut.


"Aku cuma nggak tega lihat Mbak Qilla."


"Nggak tega kenapa?" tanyaku sambil membuka bungkus nasi padang yang Sandra belikan tadi.


"Aku udah denger, Mbak," ucap Sandra pelan.


Aku mengerutkan kening, menatapnya bingung. Dia sudah denger tentang apa?


"Mas Kenzo. Emang bener ya?"


"Hah?" Aku melongo secara spontan.


Namun, beberapa detik kemudian aku mengangguk, membenarkan.


"Mbak Qilla baik-baik saja?" tanya Sandra khawatir.


Aku tersenyum sambil mengangguk mantap. Namun, bukannya lega Sandra justru malah berdecak.


Kini giliran aku yang berdecak. "Itu karena aku lagi nggak enak badan. Udah sana kamu turun, kerja!" usirku kemudian. Meski sebenarnya aku masih ingin ditemani sih, cuma karena bahasannya tadi seperti itu ya, aku jadi malas ditemani olehnya. Mending sendiri kan.


"Ya udah, aku turun. Kalau ada apa-apa bilang ya, Mbak."


Aku hanya mengangguk malas, kemudian mengusirnya sekali lagi. Dengan cemberut Sandra langsung beranjak dari sofa, tepat saat hendak menuruni anak tangga, ia berbalik.


"Ohya, Mbak, nggak mau ngecek gaun anaknya Pak--"


"Astaga! Aku baru sampai, San. Nanti aja deh, habis dzuhur," seruku memotong kalimatnya. "Udah, sana kerja!"


"Iya, iya, galak banget mentang-mentang baru putus," gerutu Sandra jelas-jelas mengejekku.


Ck. Ini nih, yang bikin aku malas memberitahunya kalau aku sama Kenzo sudah berakhir hampir tiga minggu ini. Selain karen Sandra itu orangnya kepoan, ia juga tipekal yang suka bersikap berlebihan. Menyamakan orang yang habis putus cinta itu dengan penderita penyakit serius. Ya, seberlebihan itu si Sandra itu.


*****


Pagi ini aku merasa kepalaku makin berat, mungkin efek tidak bisa langsung tidur semalam atau bagaimana, aku juga tidak tahu. Aku bahkan juga merasa seperti agak demam. Dengan langkah berat aku menyibak selimutku kemudian turun dari ranjang. Aku butuh air hangat.


"Duh, kok malah makin pusing, ya. Apa aku perlu pergi ke dokter," gumanku setelah menghabiskan air hangatku.


Aku berpikir sebentar. Mengingat pekerjaanku yang sudah menggunung karena sempat ku tinggal pulang ke Semarang kemarin. Rasa-rasanya aku tidak akan bisa bekerja dengan tubuh seperti ini. Baiklah, sepertinya aku memang perlu ke dokter demi kelancaran pekerjaanku yang akan mendatang.


Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku akhirnya bergegas untuk mengganti piyamaku dengan kemeja blus dan juga celana jeans. Setelah memastikan dompet dan juga ponselku masuk ke dalam tas, aku langsung bergegas turun ke lantai bawah.

__ADS_1


Semua orang sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Membuatku tersenyum senang melihatnya. Enaknya punya karyawan yang rajin-rajin begini.


"Mau kemana, Mbak?" tanya Jihan.


"Dokter. Masih nggak enak badan nih rasanya."


"Sama siapa, Mbak?" Kini giliran Mbak Husna yang bertanya.


"Sendiri dong, kan mandiri," jawabku percaya diri.


Kalau boleh jujur sebenarnya aku agak ragu sih jika harus menyetir sendirian dalam kondisi seperti ini. Takut menyebabkan kecelakaan.


Mbak Husna langsung melotot. "Jangan to, Mbak. Masa iya ke rumah sakit sendirian, mana muka Mbak Qilla pucet gini. Biar dianterin Sandra." Ia kemudian celingukan mencari keberadaan Sandra, yang ku tebak pasti sedang membuat kopi di belakang.


Dan benar saja, tak berapa lama Sandra muncul dengan secangkir kopi yang masih mengepul.


"Anterin Mbak Qilla, San," perintah Mbak Husna.


Sandra menatapku bingung. "Mau kemana, Mbak?"


"Rumah sakit. Periksa. Kasian Mbak Qilla tuh," kata Mbak Husna sambil menunjukku.


"Belum enakan, Mbak?"


Aku menggeleng lemah.


"Oke. Yuks," ajaknya setelah tadi sempat menyeruput kopi buatannya dan meletakkannya di atas meja.


Jihan dan Mbak Husna menatap Sandra heran, karena Sandra tidak mengomel karena jam ngopinya diganggu. Mungkin kalau dia belum tahu aku putus dengan Kenzo, bisa dipastikan kalau Sandra pasti akan mencak-mencak meski yang harus dianter olehnya itu aku, bosnya.


Aku mengangguk pasrah.


"Tapi aku nggak perlu nemenin kan, Mbak?" tanya Sandra setelah menerima kunci mobilku.


Aku menggeleng. Sandra langsung mengangguk paham. Kami pun langsung bergegas ke rumah sakit terdekat, setelah berpamitan dengan Jihan dan juga Mbak Husna.


Sandra tidak masuk ke dalam, ia hanya menunggu di luar sementara aku masuk sendiri. Mengurus ini itu sendiri. Dan sekarang antri obat pun sendiri. Duh, kepalaku rasanya sudah tidak tahan minta dibaringkan. Harusnya aku tadi mengajak Sandra biar aku tidak mengantuk karena antrian.


"Aqilla?"


Aku membeku. Aku mengenal suara ini. Dengan perasaan gugup aku menoleh perlahan, dan benar saja. Saat aku menoleh aku menemukan pria tinggi dengan kemeja kotak-kotaknya yang sepertinya tengah menatapku khawatir.


Oke. Persiapkan dirimu Aqilla Khanza!


Tbc,


hehe, update terosssss?


siapa yang setuju?

__ADS_1


__ADS_2