
"Mbak, Mbak Arisha bakalan fitting, ya? Sebelum jam makan siang, jadi jangan bikin janji sama Mas Kenzo dulu, oke?"
Aku hanya mengangguk sembari mengacungkan jempol, kemudian mengaduk coklat hangatku. Baru setelahnya mempersilahkan Sandra kembali turun ke bawah dan mengurusi pekerjaannya. Semenjak perdebatanku dengan Kenzo kemarin, mood-ku menjadi sedikit kacau. Dan coklat panas selalu membuat mood-ku sedikit membaik.
Aku menyesapnya sedikit lalu memeluk cangkir mug-ku dengan kedua tangan. Pikiranku berkelana entah kemana.
Kenzo memang tetap menghubungiku sejak perdebatan kami tempo hari, ia pun sudah mengajakku untuk bertemu beberapa kali. Tapi ku tolak, entah kenapa perasaanku seperti belum siap untuk bertemu dengannya lagi. Aku merasa takut jika kami akan bertengkar kembali saat bersama.
Astaga. Memikirkannya saja sudah cukup membuatku stress.
"Apa memang sudah saatnya kami menikah?" gumanku kemudian.
"Belum."
Aku langsung menoleh ke asal suara, saat mendengar suara Kenzo yang berdiri tak jauh dari posisiku.
Tunggu! Sejak kapan dia berdiri di sana? Dan kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali?
"Kenzo? Kamu... sejak kapan kamu di sana?" tanyaku sedikit gugup karena terkejut.
Kenzo mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum, kemudian berjalan pelan ke arahku.
"Belum lama kok. Abis Sandra laporan tadi kayaknya," ujar Kenzo seperti biasa, tanpa canggung atau yang lainnya. Bahkan tanpa sungkan ia langsung merebut coklat panasku.
"Panas, panas kok minum coklat panas? Ntar hatinya tambah panas loh," goda Kenzo setelah menyesap coklat panasku.
Aku hanya tersenyum sebagai respon.
"Aku bikin kamu stress banget, ya?" bisik Kenzo sambil menyingkirkan anak rambut di belakang telingaku. "Gara-gara candaanku kemarin. Serius sayang, aku murni bercanda kemarin. Nggak lagi ngekode."
Kedua mata kami bertemu. Melihat pancaran mata tulusnya, aku tersenyum kemudian menggeleng. "Enggak, aku nggak stress. Kenapa kamu mikir gitu?"
Ternyata ketakutanku tidak terjadi. Melihat wajah Kenzo sekarang justru membuatku lebih tenang, tidak emosi sama sekali seperti yang kutakutkan kemarin.
"Itu." Dagunya sedikit diangkat, menunjuk secangkir coklat panasku yang tinggal kini setengah.
"Lagi pengen aja. Lagian kalau aku stress, nggak melulu karena kamu kan? Kerjaanku juga banyak."
Kenzo langsung mendengkus tak percaya, "Kalau kamu stres karena kerjaan, nggak mungkin kalau jawab chat dari aku singkat gitu. Aku udah cukup mengenalmu dengan baik. Dan kamu nggak bisa bohongin aku sembarangan kalau kamu nggak mau ketahuan."
Aku tersenyum kecut dan memilih untuk langsung memeluknya. Tanpa dapat ku bendung, aku pun menangis. Harus aku akui, aku merindukannya. Merindukan candaan garingnya, merindukan aroma parfum bercampur keringatnya, yang entah kenapa terasa memabukkan ini.
"Maafin, aku! Maafin keegoisan aku. Ak-"
Kenzo memotong kalimatku sembari menggeleng dan memegang kedua bahuku. "Hei! Kita udah bahas ini sebelumnya, sayang. I'm fine. Aku nggak butuh nikah cepat-cepat, asal aku nikahnya sama kamu. Itu udah lebih dari cukup. Aku nggak akan maksa kamu biar bisa segera aku nikahi. Aku yang harusnya minta maaf, karena candaan aku ternyata melukai hati kamu."
"Sepertinya memang sudah seharusnya kita segera menikah?" bisikku dengan suara sedikit bergetar dan kepala tertunduk
Ku lirik wajah Kenzo dengan takut, wajahnya terlihat seperti sedang menyimpan amarahnya saat mendengar ucapanku.
"Apa menurut kamu nikah sebercanda itu, Aqilla?" tanyanya dingin.
Dengan gerakan tegas, aku langsung menggeleng. Jelas tidak. Mana mungkin aku menganggap pernikahan itu sebuah candaan. Apa menurutnya aku ini sudah tidak waras.
"Apa aku pernah bujuk kamu agar segera dapat aku nikahi?" tanyanya lagi.
Aku hanya menjawannya dengan gelengan kepala pelan karena takut. Ekspresi wajah Kenzo saat marah itu sangat menyeramkan.
"Maaf," sesalku kemudian. "Aku pikir itu mungkin bisa bikin kamu bahagia."
__ADS_1
"Lalu kamu? Kamu menderita karena belum siap. Kamu pikir aku seegois itu? Yang hanya mikirin kebahagianku sendiri, gitu?" Kenzo menaikkan nada suaranya, tanda jika dirinya sudah tidak dapat membendung amarahnya lagi. Dan itu semakin membuatku ketakutan.
"Enggak. Enggak gitu maksud aku, Ken. Aku cuma merasa kamu terlalu ngebahagiain aku dan--"
Kenzo kembali memotong ucapanku. "Lihat kamu bahagia itu udah cukup bikin aku bahagia sayang. Aku nggak mau serakah dengan meminta kamu bikin aku bahagia padahal hati kamu sengsara. Aku nggak mau kayak gitu dan jangan bikin aku melakukan itu," ucapnya bersungguh-sungguh.
Membuat tangisku makin pecah. Aku merasa seperti orang jahat. Bukankah aku terlalu egois jika membiarkan hubungan ini terus seperti ini?
"Tapi kamu mungkin yang akan sengsara."
Dengan tegas Kenzo menggeleng. "Aku bahagia asal sama kamu," ucapnya yakin.
Aku hanya memejamkan kedua mataku karena frustasi. Kalimatnya membuatku sedikit tertekan.
"Kayaknya lebih baik aku balik ke Cafe lagi, bentar lagi jam makan siang. Kita bahas ini lain waktu. Mungkin benar, kita perlu waktu sendiri-sendiri untuk mikirin hubungan kita secara serius," ucapnya kemudian, raut wajahnya terlihat kecewa.
"Ken," panggilku, bermaksud untuk menahannya agar tidak pergi.
"Jaga diri kamu baik-baik! Mungkin aku akan sangat jarang mampir, meski nanti aku bakalan kangen berat sama kamu. Kita nggak putus ya, hanya memberi waktu untuk memikirkan seberapa besar rasa saling membutuhkannya kita. Sayang kamu," bisik Kenzo sebelum mengecup keningku lalu pergi begitu saja.
Aku merasa kacau dan juga pusing.
Astaga. Apa yang harus aku lakukan?
Apakah hubungan kami akan baik-baik saja?
Kenapa Kenzo pergi begitu saja?
"Mbak, maaf ganggu, Mbak Arisha-nya udah nungguin di bawah. Kira-kira Mbak Qilla udah bisa nemuin belum?"
Aku sedikit tersentak karena suara Sandra, yang tanpa aku sadari sudah berada tak jauh dariku. Baru kemudian mengangguk sembari memijit pelipisku yang mendadak berdenyut kencang.
"Iya. Kamu bikinin minum dulu sana!"
Aku ber'oh'ria sambil mengangguk.
"Ya udah, suruh tunggu sebentar. Aku mau cuci muka dulu."
Sandra mengangguk paham sebelum undur diri. Kalau dilihat dari ekspresi dan juga gelagatnya, sepertinya dia tahu kalau aku dan Kenzo... ah, sudah lah. Mungkin ada benarnya juga kalau aku maupun Kenzo memang butuh waktu sendiri-sendiri.
Karena tak ingin terlalu membebani pikiranku, aku langsung berdiri dan beranjak dari sofa menuju kamar mandi. Sebagai seorang pemilik butik dan desainer, aku jelas tidak boleh tampil kucel karena habis nangis bombay.
Setelah selesai membasuh muka dan sedikit menaburkan bedak tipis di wajahku, aku langsung turun ke bawah. Samar-samar aku mendengar suara Arisha dan juga calon suaminya mungkin, bertengkar kecil karena kelamaan menungguku.
"Maaf, udah nunggu lama ya?"
Sambil tersenyum Arisha menggeleng.
"Wajar kok, Mbak. Aku kalau lagi sama Mas Banyu juga pengennya lama-lama," ujar Arisha yang jelas-jelas sedang menggodaku.
Aku hanya meringis kecil sebagai respon.
"Pantesan lama dandan dulu ternyata. Tahu banget ya, kalau saya mau ke sini."
Eh, tunggu!
Kayak kenal itu suara.
Astaga. Aku pikir itu tadi calon suaminya Arisha, tapi ternyata Kakaknya. Ya ampun, dia kelihatan beda banget. Tanpa sadar sadar aku malah memandangnya tanpa berkedip. Bahkan saat kedua mataku menangkap langkah kakinya yang kian mendekat ke arahku pun, aku masih tetap pada posisi ini. Dalam hati aku sedikit memuji ketampanannya. Kenapa aku baru sadar.
__ADS_1
Astaga. Ada apa denganku?
Aku pasti sudah gila.
"Terpesona?" bisiknya dengan senyum jahilnya, seperti biasa.
Aku akhirnya mampu berkedip saat Reynand sudah tepat di depanku dan mendengar ejekannya. Meski pada kenyataannya aku tetap saja masih kesulitan mengatur nafasku dan juga merasa salah tingkah.
Astaga.
Salah tingkah?
Aku pasti benar-benar sudah gila.
"Sudah mulai merasakan perasaan aneh? Ya ampun, sekuat itukah pesona saya sampai kedua pipimu bersemu seperti itu?"
"Kurang ajar," umpatku ikut berbisik agar hanya didengar olehnya.
"Mas Rey!! Kalau Mas Rey ke sini cuma mau godain Mbak Qilla, mending Mas Rey pulang deh. Bikin malu aja. Jelas-jelas Mbak Qilla itu udah punya pacar, Mas. Astagfirullah! Eling! Jangan bikin susah Ayah sama Bunda!"
Aku hanya mampu meringis sekali lagi, saat mendengar ucapan Arisha barusan. Ya ampun, mereka benar-benar terlihat sangat mirip.
"Apaan? Baru juga pacaran bisa putus. Orang nikah aja bisa cerai apalagi cuma pacaran," balas Reynand tak mau kalah.
"Mas Rey!!" teriak Arisha geram.
Membuatku secara reflek memejamkan mata dan menutup kedua telingaku. Ya ampun, badan sekecil itu tapi suaranya luar biasa sekali.
"Mohon maaf, Mbak Arisha, mari saya bantu pakai gaunnya."
Syukurlah. Sandra sang penyelamatku. Akhirnya perdebatan antara dua bersaudara ini berakhir. Baiklah, sepertinya abis ini aku perlu untuk mentraktirnya makan di luar.
"Oh iya, langsung dicoba dulu gaunnya, Ris, biar bisa langsung kita kerjain tahap finishing-nya," ucapku kemudian sembari mengangguk menyetujui saran Sandra.
"Oh iya, hampir lupa niatnya tadi mau ngapain. Ya udah, ayo, Mbak."
Arisha mengangguk paham kemudian berjalan di belakang Sandra, namun sebelum masuk ke ruang ganti ia berbalik.
"Awas ya kamu, Mas kalau berani modusin Mbak Qilla, aku nggak mau berbagi ruangan sama kamu lagi," ancam Arisha dengan kedua mata melotot.
"Iya, iya, bawel banget sih jadi manusia," balas Reynand sambil menggerutu. "Memangnya jatuh cinta sama pacar orang itu dosa besar. Lagian jatuh cinta itu kan nggak bisa direncanain dengan siapa." Reynand langsung menoleh ke arahku, membuatku mengerutkan dahi bingung.
"K.kenapa?" tanyaku gugup.
"Saya benarkan? Jatuh cinta itu tidak bisa direncanakan?"
Aku mendengkus malas sembari mengangguk. Membuat Reynand ikut mengangguk.
"Jadi kamu beneran sudah punya pacar?"
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Sudah berapa lama?"
"Sejak kuliah."
"Jangan terlalu lama berpacaran, tidak baik. Kalau sudah yakin, langsung menikah. Tapi kalau masih belum yakin, mending tinggalin. Karena siapa tahu kamu hanya sedang berusaha memaksa hati kamu untuk yakin bersamanya, padahal hati kamu sudah jelas berkata tidak."
Tubuhku langsung menegang saat mendengar kalimat Reynand.
__ADS_1
Apa mungkin iya?
Tbc