
####
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku saat ini. Entah mulai kehilangan kewarasan atau bagaimana. Yang jelas tidakanku saat ini mungkin akan aku sesali suatu saat nanti. Atau mungkin bisa saja sebentar lagi.
Sambil menghela nafas putus asa, aku melepas sabuk pengamanku. Meraih paperbag yang ada di bangku penumpang di sebelahku, baru kemudian turun dari mobil. Tekatku sudah bulat, aku harus segera mengembalikan jaket Reynand. Aku jelas tidak boleh bertemu lagi dengannya, jika aku masih punya akal sehat dan juga perasaan. Aku tidak boleh menciptakan peluang agar aku masih bisa bertemu dengannya. Tidak boleh.
Aku tidak menemukan Arisha, saat aku masuk ke dalam tokonya. Yang ku temukan seorang perempuan berjilbab orange sedang tersenyum menyambutku.
"Selamat datang di Pram's Bakery & Mini Cafe, Kaka! Ada yang bisa saya bantu?"
Aku membalas senyumannya. "Maaf, saya mau tanya. Saya mau bertemu dengan Kakak Arisha yang buka firma arsitek di atas, kira-kira ada tidak ya?"
"Oh, Mas Rey. Ada di atas, Kakak. Langsung naik saja!"
Aku tersenyum sambil mengangguk, tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum naik ke lantai atas. Setidaknya hal yang aku takuti tidak terjadi. Bertemu dengan Arisha. Mungkin akan terasa aneh kalau sampai dia tahu aku menemui kakaknya.
Aku mematung seketika saat melihat pemandang-yang sebenarnya wajar kalau itu dilakukan oleh pasangan kekasih-di hadapanku. Tanpa sadar aku menjatuhkan papperbag berisi jaket Reynand. Mataku terasa memanas dan dadaku mulai terasa sesak. Aku ingin menangis saat melihat cara mereka saling menatap. Tanpa membuang waktu, aku memutuskan untuk berbalik dan langsung menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Yang aku yakini pasti menimbulkan suara, sehingga bisa saja mengacaukan adegan mesra mereka.
Sial. Kenapa aku harus melihatnya dan kenapa pula aku menangis. Tidak mungkin aku sedang cemburu kan? Astaga.
Aku bisa gila.
"Tunggu!"
Aku meruntuki diriku sendiri yang lemah iman seperti ini. Bisa-bisanya aku langsung berhenti dan tak bergerak sedikit pun hanya mendengar suaranya. Kenapa aku sebodoh ini?
"Aqilla?" panggil Reynand terdengar ragu. "Itu kamu kan?"
Aku memilih diam tak menjawab. Karena takut ketahuan menangis. Suaraku akan bergetar saat menangis, dan akan sangat memalukan kalau Reynand sampai tahu alasanku menangis.
"Iya, benar itu kamu," ucapnya menyimpulkan sendiri. "Kenapa nggak nemuin saya kalau mau membalikkan jaket? Kenapa malah ditaruh di tangga?"
Aku berdehem. Mengatur suaraku agar tidak terdengar bergetar.
"Maaf. Saya nggak enak, takut mengganggu."
"Mengganggu?" beo Reynand terdengar tidak paham.
"Iya. Sudah lah. Masuklah kembali, saya yakin pacar kamu nungguin."
Aku berniat kembali melangkah, namun sialnya tangan Reynand tiba-tiba menahanku, membuatku secara reflek membalikkan badan. Buru-buru aku menyeka air mataku.
"Tunggu, tunggu! Kamu lagi ngomongin pacar siapa ini?" tanyanya bingung.
"Ya pacar kamu lah, masa iya pacar saya," bentakku kembali ingin menangis.
"K.ka.mu nangis, Aqilla? Gara-gara saya?" Ekspresi Reynand terlihat ragu sekaligus tak yakin.
Sialan. Kenapa dia bertanya seperti itu.
"Tidak."
__ADS_1
"Ah, syukurlah. Saya pikir gara-gara saya."
Aku menatapnya tak percaya sambil mendengkus samar.
"Di mana mobil kamu?" tanyanya kemudian sambil celingukan.
"Kenapa nyari mobil saya?"
"Kita perlu bicara."
"Tidak perlu. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Saya ke sini mau mengembalikan jaket kamu. Dan sekarang saya mau pulang," ucapku sambil berjalan mendahuluinya, namum lagi-lagi tanganku ditahan olehnya.
"Kamu pikir, kamu bisa pergi begitu saja setelah saya lihat kamu menangis tanpa sebab begini? Jangan harap!" tegasnya, membuatku merinding.
Dengan sedikit paksaan, ia malah menarik tanganku menuju mobilku yang sebenarnya berada tidak jauh dari kami. Dan bisa-bisanya aku menurut begitu saja, tanpa ada perlawanan sama sekali.
"Siniin kunci mobil kamu!"
Lagi-lagi dengan pasrah aku menyerahkan kunci mobilku.
"Masuk!" perintahnya tak ingin dibantah.
Aku hanya pasrah menurutinya. Aku juga heran sih, kenapa aku mudah sekali menurutinya.
"Mau ke mana?"
"Bicara. Kamu ada rekomen tempat yang enak buat bicara?"
"Oke. Kita bicara di mobil saja," ujar Reynand tapi mulai menyalakan mesin.
"Katanya di mobil? Ini kenapa malah keluar parkiran?"
"Muter-muter. Nggak enak kalau ngobrol di parkiran."
Aku berdecak. "Ngabis-ngabisin bensin aja," gerutuku pelan, yang sialnya terdengar di telinga Reynand.
"Nanti saya ganti."
"Harus," balasku ketus.
Reynand tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Pandangannya fokus ke arah jalan raya.
"Jadi yang tadi itu apa?" tanya Reynand, setelah tadi sempat hening beberapa saat.
Aku menoleh, menatapnya galak. "Kamu serius mau bahas ini?"
Tanpa rasa bersalahnya, Reynand mengangguk.
"Saya penasaran."
"Itu bukan urusan saya," balasku ketus.
__ADS_1
"Kamu serius mau seperti ini?" tanya Reynand, yang sepertinya mulai kesal.
Aku mengangkat bahuku cuek, dan lebih memilih untuk membuka instastory teman-temanku.
"Kita tidak sedekat itu sampai harus saling memperdulikan urusan masing-masing," kataku kemudian.
Ku lirik Reynand tampak menghela nafas putus asa sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Kita balik aja. Saya nggak enak sama pacar kamu--"
"Astagfirullah! Dari tadi kamu ngomongin pacar terus itu maksudnya apa sih? Serius saya nggak paham."
"Tidak usah pura-pura, saya sudah tahu. Maaf karena tadi sempet ganggu."
"Ganggu?" ulang Reynand masih tampak bingung. Namun beberapa detik kemudian ia memekik heboh. "Astaga! Jangan bilang yang kamu maksud itu adalah Siska?" tanyanya tak percaya.
"Saya tidak tanya siapa namanya," gerutuku kesal.
"Oke. Sorry. Jadi yang tadi itu salah satu anggota tim saya, dia itu desainer interior, tadi itu dia mau ngasih desain salah satu klien. Nah, pas mau ngasih dia-nya malah kesandung kabel. Masa sebagai orang yang ada di sana saya nggak nolongin, kan kesannya saya jahat banget. Apalagi dia lagi hamil muda. Bisa digorok suaminya saya, kalau sampai terjadi sesuatu sama dia."
Tubuhku mendadak menegang saat mendengar penjelasan Reynand. Mampus aku! Apa yang baru saja ku lakukan? Cemburu buta sama orang yang bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa denganku. Oh Tuhan, maafkan hambamu yang tidak tahu diri ini.
"Kamu tidak serius kan cemburu karena ini?" tanya Rey terdengar tak yakin.
"Siapa yang cemburu?" bentakku galak.
Reynand meringis kemudian menggeleng cepat.
"Saya hanya bertanya. Kalau kamu tidak cemburu, ya sudah."
Aku mendengkus lalu memalingkan wajahku ke luar jendela karena malu.
"Boleh saya pinjem ponsel kamu?"
Aku menoleh ke arahnya dengan kerutan di dahi. "Untuk?"
"Ada perlu."
"Kamu mau modusin saya?"
"Iya. Boleh enggak?"
Aku mendengkus, lalu menyodorkan ponselku padanya. Yang sialnya langsung aku sesali. Kenapa pula aku dengan mudahnya menyerahkan ponselku padanya, di saat Reynand dengan jelas mengatakan ingin modusin aku. Ck. Benar-benar nggak waras aku kayaknya.
Tak lama setelahnya, Reynand menyodorkan ponselku kembali.
"Itu nomor ponsel saya. Kamu bisa hubungi saya kalau sudah putus dengan pacar kamu," ujar Reynand tanpa beban. "Saya turun ya, terima kasih sudah mau bicara dengan saya," imbuhnya lalu turun dari mobilku.
Semetara aku hanya bengong. Sepertinya aku beneran sudah kehilangan kewarasanku.
Tbc,
__ADS_1