
#####
###
Setelah pulang dari rumah Monik, aku memutuskan untuk langsung ke tempat kerja Reynand. Bagaimana pun juga, aku tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlanjut. Kami akan segera menikah, dan memang tidak seharusnya, aku ngambek tidak jelas seperti kemarin. Lagian kalau dipikir-pikir, Reynand juga pasti sama pusingnya saat ini. Dan aku tidak boleh menambah pikirannya.
Astaga, calon istri macam apa aku ini?
Baru jadi calon istri saja, tingkahnya udah begini. Apa kabar kalau resmi jadi istinya. Duh, kenapa aku mendadak ngeri, ya, sama kelakuanku nantinya. Maksudnya begini, menurut pengalaman orang-orang di sekitarku yang sudah menikah. Perempuan cenderung, lebih bersikap makin menjadi. Dikit-dikit minta dingertiin, tapi kalau disuruh ngertiin balik, susah. Ya, persis seperti yang sedang aku alami kemarin. Dan itu cukup membuatku was-was dengan tingkahku selanjutnya. Astagfirullah, semoga kelakuanku nggak makin menjadi ke depannya.
"Mbak Qilla, nyari Mas Rey, ya? Ada di atas kok, sendiri. Langsung naik aja," kata Arisha saat dia melihatku. Aku padahal belum membuka suara, tapi calon adik iparku ini sepertinya memang terlalu peka sih.
Aku mengangguk sambil tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih dan langsung pamit untuk naik ke atas.
Perasaan bersalah kian menjadi begitu aku sampai di lantai atas. Apalagi saat menemukan wajah kuyu dan lelahnya Reynand, yang kali ini terlihat sedang terpejam. Ruangannya terlihat sedikit berantakan, ada beberapa lembar kertas berhampuran secara tidak teratur di atas meja, tubuh Reynand disandarkan pada punggung kursi. Aku kemudian berjalan mendekat ke arahnya dengan suara pelan, takutnya mengganggu, kalau seandainya ia beneran terlelap secara tidak sengaja, meski kalau dilihat dari posisinya sedikit tidak memungkinkan sih untuk tertidur beneran.
"Rey," panggilku pelan.
Tanganku kemudian menyentuh pundaknya pelan, namun cukup membuatnya berjenggit kaget. Bahkan saat ia membuka mata, kedua matanya terlihat memerah, khas orang bangun tidur. Astaga, merem di sandaran kursi aja bisa ketiduran? Bisa kebayangkan, betapa kelelahan Reynand saat ini?
"Hai," sapa Reynand sambil merenggangkan ototnya dan mengucek sebelah matanya, "maaf ketiduran, kamu udah lama nyampe-nya?" ia kemudian menegakkan tubuhnya dan menatapku lembut.
Aku menggeleng, sebagai tanda jawaban. Entah angin apa yang merasukiku, tiba-tiba aku merasakan kedua pipiku memanas. Aku mencoba untuk memalingkan wajahku sedikit mendangak, agar air mata ini tidak jatuh. Tapi usahaku itu gagal beberapa detik setelahnya, karena aku berkedip.
"Hei, kok malah nangis sih?"
Reynand kemudian meraih sebelah tanganku, dan menariknya pelan agar kami bisa saling berhadapan.
"Hei, kenapa nangis? Aku bikin salah lagi, ya?"
Aku hanya menggeleng sekali lagi, sebagai tanda jawaban. Duh, air mata, kenapa kamu tidak ingin diajak berkompromi begini sih. Kenapa malah mewek coba?
"Terus kenapa dong? Jangan bikin aku bingung, kamu kalau nggak bilang, ya mana aku ngerti, yang." Reynand kemudian berdiri dan menuntunku menuju sofa, "duduk sini dulu, aku ambil minum sebentar," intruksinya kemudian.
Setelah aku duduk di sofa, Reynand hendak beranjak untuk mengambil air minum untukku, namun aku tahan.
"Cuma ambil minum doang, sayang. Nggak akan lama."
Aku menggeleng tidak perduli. Membuat Reynand menghela nafas pendek dan akhirnya berjongkok di hadapanku. Aku sudah menyuruhnya untuk berdiri, namun Reynand menolaknya. Ia malah menggenggam kedua tanganku dan mengelus-elus punggung tanganku secara perlahan.
"Aku... aku mau minta maaf," isakku dengan kepala tertunduk.
Reynand menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menjulurkan tangan kanannya untuk mengelap pipiku yang basah.
"Mau minta maaf soal apa sih, sampai bikin kamu nangis begini?"
"Yang kemarin. Aku egois bangetkan kemarin itu, mau menang sendiri. Nggak mau ngertiin kamu. Padahal kamu sendiri--"
"Ssst... udah. Kamu nggak salah, sayang. Kata Risha sama Mbak Silfi, perempuan kalau jelang nikah itu suka sensitif. Aku paham kok, mungkin memang aku juga yang salah karena nggak bantuin kamu. Maunya terima beres dan nggak perduli kesulitan yang kamu alami. Aku juga minta maaf, ya."
Air mataku kembali keluar. "Tapi aku egois banget kemarin. Kekanak-kanakan."
"It's okay, sayang. Kita sama-sama intropeksi diri, ya."
"Kamu udah nggak marah?"
Aku mengangkat wajahku dan menatap wajah Reynand yang saat ini tengah tersenyum kepadaku.
"Aku nggak marah, sayang," jawab Reynand sambil menghapus bekas air mataku yang masih tersisa.
"Terus kenapa, kenapa nggak nelfon aku kemarin?"
Kali ini Reynand terkekeh, sebelum akhirnya duduk di sebelahku. "Soal itu, ya? Kalau itu tuh, biar kamu kangen sama aku."
Aku langsung mencebik, dan langsung disambut tawa renyah dari Reynand.
"Bercanda, sayang. Jangan cemberut lagi dong! Kemarin aku nggak telfon kamu bukan karena aku marah."
"Terus?"
"Aku kasih kesempatan buat kamu mikir, sayang."
Aku kemudian mangguk-mangguk, sambil ber'oh'ria. "Aku pikir kamu marah."
"Enggak dong. Aku kebetulan, nggak terlalu suka ngambek sih."
"Makasih, ya, kamu--"
"Sayang, udah, ah, adegan menye-menyenya. Kayak sama siapa aja sih, pake segala bilang makasih," protes Reynand, yang membuatku langsung tertawa tanpa sadar.
"Ngetawain apaan kamu?" tanya Reynand dengan ekspresi keheranannya.
Aku menggeleng. "Kamu mirip sama kayak aku."
"Iya lah, mirip, kan aku jodoh kamu," gurau Reynand sambil memainkan kedua alisnya naik-turun dan tertawa kecil.
Aku hanya mampu mendengkus dan menggeleng tak percaya, dengan sifat narsisnya. Astaga, calon suamiku.
"Cari makan, yuk!" ajak Reynand tiba-tiba.
Aku mengernyit heran, lalu melirik jam tanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.10 WIB, aku kemudian langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan horor.
"Mau makan apa jam segini?"
Reynand mengusap-usap dagunya, khas seperti orang yang sedang berpikir. Lalu berguman, "Apa, ya?" ia kemudian menatapku dengan wajah polosnya, "enaknya makan apa?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Wah, sepertinya, Reynand tidak menangkap arti sorot mata tajamku saat ini.
"Nasi rames enak kali, ya."
Reynand masih bermonolog sendiri. Aku tak meresponnya sama sekali, karena kembali kesal. Jam segini mau baru mau makan nasi? Emang udah nggak sayang tubuh ini calon suamiku.
"Gimana menurut kamu?"
Kali ini Reynand menoleh ke arahku. Kedua mata kami saling bertatapan, aku menatapnya datar sedangkan Reynand kini meringis saat menyadari tatapan mataku saat ini.
"Kamu belum makan siang?"
"U.udah kok, cuma belum makan nasi aja. Nggak sempet, yang, sibuk. Aku bukannya mau skip--"
"Nggak usah banyak alasan," potongku galak lalu berdiri, "ayo, buruan kita cari makan!"
"Hehe, iya, makasih, yang."
"Lain kali nggak boleh begini lagi loh, aku nggak suka kalau kamu skip makan cuma buat kerja. Nggak baik loh, Rey, percuma uang kamu banyak kalau pada akhirnya kamu sakit juga karena keseringan skip makan."
Dengan cengiran polosnya, Reynand merangkul pundakku. "Iya, nggak lagi kok. Janji, ini yang terakhir."
"Aku nggak butuh janji doang, ya."
"Iya, istriku sayang!"
"Calon!" koreksiku mengingatkannya, yang dibalas dengan dengkusan kesal dan ekpresi cemberutnya. Membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. "iih, gemesin banget sih! Pacar siapa sih ini," gurauku sambil mencubit pipinya.
"Yang jelas pacar orang!" balas Reynand ketus, lengkap dengan ekspresi wajah pura-pura ngambeknya.
####
Setelahnya kami memutuskan untuk makan di warung nasi. Aku ralat, hanya Reynand yang makan, aku hanya menemaninya saja. Meski Reynand sempat protes waktu aku tidak ikut makan. Tapi untung, Reynand mencoba untuk mengalah karena takut aku sembur.
"Yakin nggak mau ikut makan?" tanya Reynand memastikan sekali lagi. Tangannya memegang sendok dan garpu, lalu menatapku.
Aku mengangguk yakin sebagai tanda jawaban. "Udah buruan dimakan," kataku kemudian.
Reynand mengangguk patuh, lalu mulai menyantap makanannya. "Malam ini lembur?" tanyanya kemudian.
Aku mengangguk sambil memainkan tempat wadah tisu. "Aku belum dapat nih, inspirasi buat gaun resepsi di sini."
Di sela kunyahannya, Reynand mengangguk. "Kalau untuk resepsi di Semarang udah ada?"
"Apanya?"
"Inspirasinya?"
"Oh, aku rencana mau pake koleksiku aja sih. Gimana menurut kamu?"
"Lembur itu wajib, Rey," kekehku sambil meraih es teh manisku dan menyesapnya melalui sedotan.
"Jangan dibiasakan lembur kenapa sih? Nggak baik buat kesehatan tauk."
"Buat latihan, Rey," kataku sambil tertawa kecil.
"Latihan apaan?" dengkus Reynand.
"Latihan kalau kamu ajak lembur," cengirku sengaja menggoda Reynand.
Membuat Reynand secara tiba-tiba tersedak dan batuk-batuk.
"Pelan-pelan, Rey! Enggak akan aku ambil juga makanan kamu, aku masih kenyang kok," kekehku kemudian.
Sementara Reynand mendengkus dengan wajah cemberutnya. "Kamu yang salah. Masa aku lagi makan juga, kamu ngomongin begituan." Ia kemudian menegak es teh manisnya langsung tanpa melalui sedotan. Sedang dalam mode stop pakai sedotan katanya.
Sekali lagi aku tertawa dan berkata, "Emang ada yang salah dengan ucapanku tadi?" tanyaku pura-pura tak paham.
"Banget," kata Reynand, masih dengan ekspresi cemberutnya.
"Bercanda doang, sayang."
Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk
Reynand kembali terbatuk, membuatku semakin ingin tertawa. Namun sebisa mungkin aku menahannya.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja. Dipersilakan kok," gerutu Reynand dengan bibir manyunnya.
"Enggak."
"Enggak apa?"
"Enggak mau ngetawain, takut dosa," kataku sambil terkekeh geli.
Reynand mendengkus sekali lagi, lalu menegak es tehnya hingga habis.
"Loh, serius lho aku," kataku kemudian.
"Iya, iya, udah pulang, yuk!" ajaknya kemudian. Ia kemudian mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit sambil menyenderkan punggungnya di kursi.
Aku kemudian mengangguk, sebagai tanda jawaban.
Reynand ikut mengangguk. "Aku bayar dulu, ya," pamitnya lalu berdiri dan berjalan ke tempat kasir. Aku hanya mengangguk sambil menyesap es teh manisku hingga habis. Tak lama setelahnya Reynand kembali.
"Yuk," ajak Reynand.
__ADS_1
Aku mengangguk lalu ikut beranjak berdiri dan berjalan di sininya.
"Mau mampir dulu?" tawar Reynand.
"Ke mana?"
Reynand mengangkat kedua bahunya secara bersamaan lalu menoleh ke arahku dan menyegir. "Kali aja gitu maksud aku, yang."
Aku menggeleng. "Enggak, langsung ke tempat kamu aja."
Reynand mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Lalu kami keluar dari warung makan. Tepat saat kami keluar dari warung makan, kami berpapasan dengan seorang perempuan cantik. Perempuan itu langsung berseru heboh dan memeluk Reynand tanpa rasa canggung, bahkan tanpa malu-malu, ia mengajak Reynand bercipika-cipiki. Astaga, siapa perempuan sok akrab ini. Dan kenapa Reynand tidak nampak canggung cenderung biasa-biasa saja.
"Ya, ampun, Rey, lo apa kabar? Gila ya, lo, mentang-mentang punya yang baru, yang lama langsung dilupain. Emang rajanya tega lo."
Hatiku rasanya langsung bergemuruh. Marah dan juga kesal. Jadi, perempuan sok akrab ini mantan pacar Reynand?
"Ya, gimana, ya, Git, lo juga gampang move on sih dari gue, dulu. Jadi gue nggak mau kalah dong," balas Reynand sambil tertawa renyah.
"Udah sah?" tanya perempuan itu sambil melirikku dan Reynand secara bergantian.
Reynand tertawa. "Belum, tapi udah hampir. Jadi, kalau lo mau nikung masih ada ke--"
"Aku duluan," kataku langsung memilih untuk meninggalkan keduanya. Apa-apaan sih Reynand ini, bercandaannya nggak lucu banget. Padahal aku jelas-jelas berada di sebelahnya tepat, masa digituin, kan aku sakit hati jadinya.
Tak berapa lama, aku merasakan Reynand menyusulku. Sebelah lenganku dicekal olehnya, membuatku mau tak mau akhirnya berhenti dan berbalik menatapnya galak.
"Apa?!" semburku galak.
"Kamu ini kenapa? Masa aku ditinggalin gitu aja sih, kalau ada yang mungut gimana? Nanti yang ngucapin ijab qobul atas nama kamu siapa?"
Aku langsung melotot tak percaya. Kenapa di saat seperti ini, Reynand masih bisa bercanda begitu? Dia nggak sadar kalau sekarang aku sedang cemburu buta gara-gara perempuan tadi?
"Di saat situasi begini, kamu masih bisa bercanda?" tanyaku tidak percaya.
"Situasi gimana sih?"
Apa?!
Dia ini nggak peka, bodoh, masa bodoh sih? Kok begitu banget.
"Terserah kamu, Rey. Aku nggak peduli."
Aku kemudian melepaskan cekalan tangannya dan kembali melanjutkan langkah kakiku untuk kembali ke toko kue Arisha. Kebetulan, warung nasi ramesnya memang tidak jauh, jadi kami memutuskan untuk jalan kaki.
"Kok malah nggak peduli gimana sih," gerutu Reynand lalu kembali menyusulku.
"Kamu ini kenapa sih?" tanya Reynand terlihat gemas.
"Kenapa?" beoku mengulang pertanyaan yang aku ucapakan. "Kamu nggak sadar?"
Dengan wajah polosnya, Reynand menggeleng. Membuatku bertambah gemas ingin sekali menampar wajahnya. Astagfirullah!
"Ya, udah tunggu sadar dulu," ketusku lalu meninggalkannya lebih dulu.
Tak lama setelahnya, Reynand kembali bisa menyusulku, lalu menahan lenganku sekali lagi.
"Kamu itu kenapa sih, kok ngambek lagi? Kamu marah gara-gara Gita?"
Aku memalingkan wajahku ke sembarangan arah, asal Reynand tidak dapat melihatku, meski pada kenyataannya, ia tetep bisa melihat ekspresi wajahku saat ini.
"Aku nggak tanya siapa namanya," ketusku kemudian.
"Ya, oke. Kita balik ke tempat aku, terus nanti aku jelasin," kata Reynand mencoba membujukku.
"Nggak perlu!"
"Aqilla, plis, jangan--"
"Aku nggak mau denger apa pun itu, Rey, setidaknya untuk sekarang."
"Loh, kalau aku nggak segera jelasin siapa wanita tadi, yang ada kamu jadi makin ngambek."
"Bodo amat!"
"Sayang!"
"Nggak usah panggil sayang-sayang!" kataku judes, "nggak bakalan mempan."
"Terus mempannya?"
"Enggak tahu," balasku cuek lalu meninggalkannya.
"Aqilla!"
Aku berbalik. "Apa?!" semburku galak.
"E... eung, kamu beneran marah, ya, ini?"
"Menurut kamu?"
"Iya."
"Bagus kalau kamu sadar," kataku lalu meninggalkan Reynand begitu saja.
Tbc,
__ADS_1
mohon maaf, semalam aku updatenya sambil merem kayaknya 😆 gila! ngaco parah gitu lohhh, mohon maaf ya 🤗🙏🙏🙏