Telat Nikah?

Telat Nikah?
Hah, Hamil?


__ADS_3

Risha:


Mbak, aku bikin rujak nih sama Bunda. Mbak Qilla mau?


Risha:


Sent a pict


Seketika aku langsung menelan ludahku dengan susah payah, saat melihat gambar yang Arisha kirimkan. Susah payah aku menahan diri agar air liurku tidak menetes. Entah kenapa, aku gambar rujak yang Arisha kirimkan terlihat sangat menggoda, membuatku ingin memakannya saat ini juga. Duh, apalagi cuacanya sedang mendukung begini. Ah, aku pengen!!


Tanpa perlu banyak berpikir, aku kemudian langsung mengirimkan balasan untuk Arisha.


Me:


Mauuuuuuu😩


Me:


Pengen.


Rasanya mau ngeces nih 😁


Risha:


Ke sini aja, Mbak.


Masih banyak lohh


Me:


kirim ke sini dong 😭😭


Me:


Kok aku kayak ngeces sih


Arisha:


Sent a pict


Me:


Arishaaaaaa!!!!!! 😠😡


Setelah mengirimkan balasan untuk Arisha, aku langsung memutuskan untuk menelfon Reynand. Butuh waktu sedikit lebih lama, akhirnya sambungan terhubung.


"Ya, assalamualaikum, istri. Ada apa, sayang?"


"Mas, kamu ke rumah Bunda, gih!"


"Eh, ngapain ke rumah Bunda?" tanya Reynand keheranan.


"Risha bikin rujak."


"Terus?"


"Kamu mintain buat aku dong, tadi dia kirim fotonya. Aku mendadak jadi pengen," rengekku sambil mengigit ujung kukuku.


"Kamu ngidam?" celetuk Reynand spontan.


"Malah bercanda, mintain dong sana! Aku tungguin."


"Loh, kok bercanda? Ini aku tanya lho."


"Tanya apaan, ngaco gitu. Udah deh, sana buruan, mintain! Nanti keburu abis," kataku masih dengan nada merengek, agar segera dikabulkan.


"Harus sekarang banget? Nanti pas makan siang sekalian gimana? Aku mau bahas proyek nih sama anak-anak."


"Tapi aku pengennya sekarang, Mas."


"Tapi aku mau metting dulu sama anak-anak, soalnya abis makan siang nanti siang kita mau ketemu kliennya, sayang. Kan sebelum ketemu klien harus metting dulu. Lagian kan kamu nggak ngidam, kalau ngidam baru deh langsung aku ambilin buat kamu. Detik ini--"


Tanpa membiarkan Reynand menyelesaikan kalimatnya, aku langsung mematikan sambungan telfonku dari pada efeknya aku menjadi kesal sendiri. Apa aku pergi ke rumah Bunda dan minta sendiri? Tapi aku sedang malas keluar, apa lagi cuaca di luar sedang terik-teriknya. Duh, jadi galau kan.


Aku kemudian memutuskan untuk turun ke lantai bawah, setelah tadi sempat meraih dompet yang ada dalam tas.


"San, sibuk?" tanyaku saat sampai di depan meja kerja Sandra.


"Eh, Mbak Qilla, enggak, Mbak. Kenapa?"


Sandra mengalihkan pandangannya dari layar komputer dan beralih menatapku.


"Mau minta tolong boleh?"


"Mau minta tolong apa, Mbak?"


"Beliin rujak deket Indomaret depan dong."


Kedua bola mata Sandra langsung melebar secara spontan, saat mendengar kalimatku. Detik berikutnya, ia menerjapkan bulu mata letiknya lalu berkata, "Hah? Rujak, Mbak? Sekarang banget?"


Aku langsung mengangguk sebagai tanda jawaban. Kemudian mengeluarkan uang lima puluh ribuan dan menyerahkannya pada Sandra.


"Semua?" tanya Sandra tak yakin.


"Terserah, aku sih sebungkus aja. Kalau kalian mau, boleh semua. Tapi kalau mau dipake buat beli jajan lain juga boleh." Aku kemudian menengok ke arah Mbak Husna dan Jihan. "Mbak, Han, mau rujak?" tawarku kemudian.


"Jihan nggak mau, kemarin sore abis makan rujak di tujuh bulanan sepupu. Habis banyak, perutnya ngamuk, Mbak."


"Mbak Husna?"


"Enggak, Mbak."


"Oke." Aku kemudian beralih ke Sandra kembali. "Ya udah, rujaknya satu. Sisanya terserah mau kalian beliin apa."


"Tapi aku belinya naik apa, Mbak?"


"Han, tadi kamu bawa motor apa dianter ke sininya?"

__ADS_1


"Naik motor, Mbak. Kenapa, mau pinjem?"


Aku mengangguk lalu menghampiri Jihan, untuk meminta kunci motornya.


"Jangan lupa diisiin bensin, ya, Mbak San," seru Jihan kepada Sandra, setelah ia menyerahkan kuncinya kepadaku.


"Lah, kok aku yang diminta isi bensin. Mbak Qilla dong harusnya, kok bisa-bisa aku ini lho," protes Sandra tidak terima.


Sedang Jihan dan aku hanya tertawa setelahnya. Aku kemudian kembali menghampiri Sandra dan menyerahkan kunci motor Jihan pada Sandra.


"Aku langsung berangkat, ya," pamit Sandra sebelum meninggalkan kami.


Aku mengangguk, mempersilahkan Sandra pergi.


"Aku langsung naik lagi, ya," pamitku pada Jihan dan Mbak Husna.


"Sip, Mbak, nanti kalau Sandra udah dapet rujaknya biar dianter ke atas."


Aku tersenyum lalu berjalan menaiki anak tangga. Begitu sampai di atas, aku langsung menghempaskan tubuhku di sofa sambil memejamkan kedua mataku. Entah kenapa rasanya, hari ini aku lelah sekali. Padahal kalau dipikir-pikir kegiatan yang kulakukan tidak banyak.


Drrt Drrt Drrt


Aku langsung membuka kelopak mataku dan menegakkan tubuhku secara spontan. Lalu meraih ponselku yang terlihat berkedip, bertanda ada panggilan masuk. Nama Sandra yang tertera di layar ponsel, aku kemudian langsung menggeser tombol hijau sebelum menempelkannya pada telinga kiriku.


"Ya, hallo, San. Assalamualaikum, ada apa?"


"Wa'allaikumussalam, Mbak. Ini, Mbak, penjual rujak yang di deket Indomaret nggak jualan, Mbak. Katanya anaknya lagi sakit, gimana dong? Aku balik aja?"


"Eh, kok balik? Jangan dong! Cari di tempat lain, atau kamu mau ke rumah Mertuaku dan ambil di sana aja?"


"Hah? Ke rumah Mertua Mbak Qilla? Big no!" tolak Sandra mentah-mentah.


"Ya udah, cari di tempat lain. Kan yang jualan rujak nggak cuma di sana, San," kataku kemudian.


"Ini Mbak Qilla beneran lagi ngidam, ya? Harus banget dipenuhi, kalau nggak mau anak Mbak Qilla ileran gitu?"


"Enggak, San, cuma aku emang lagi pengen aja. Lagian pengen makan rujak kan nggak harus hamil dulu."


"Ya udah, aku keliling cari dulu. Moga-moga dapet."


"Harus dapet," kataku tak ingin dibantah, "kamu nggak boleh balik ke butik sebelum dapet rujaknya. Ngerti?"


"Astagfirullah! Ini serius, Mbak?"


"Duarius."


"Fix, emang ngidam kayaknya Mbak Qilla."


"Iya in deh, biar cepet dapet rujaknya."


"Ya udah, aku tutup biar cepet dapet rujaknya. Udah nggak tahan aku sama panasnya cuaca hari ini."


Aku terkekeh geli, lalu mengiyakan ucapan Sandra sebelum akhirnya mengakhiri sambungan telfon.


Aku kemudian kembali menyandarkan tubuhku pada sofa, dan bersiap untuk tidur sejenak. Namun, seperti semesta tidak sedang mengizinkan aku untuk tidur meski hanya sejenak. Karena saat kedua mata ini baru saja terpejam, suara getaran dan nada dering dari ponselku kembali meraung-raung. Membuatku berdecak jengkel lalu meraih ponselku dari atas meja. Saat aku melihat nama yang tertera di layar ponselku, aku kembali berdecak.


"Wa'allaikumussalam, yang. Rujaknya jadi?" tanya Reynand dari seberang.


Aku kemudian menegok ke arah jam dinding. Oh, sudah siang ternyata. Tapi kok si Sandra belum kembali ke sini? Apa rujaknya tidak berhasil ia dapatkan?


"Yang, ini ditanya lho. Kalau ditanya itu dijawab, bukannya diam aja."


Aku menerjap bingung. "Eh, gimana tadi, Mas? Kamu tanya apa tadi?"


Terdengar suara decakan samar dari seberang, lalu helaan nafas panjang, sebelum akhirnya Reynand berkata, "Ini lho, yang, rujak yang katanya kamu pengenin tadi. Sekarang masih kepengen apa udah enggak?"


Aku langsung ber'oh'ria. "Masih, bawain ke butik, ya. Sama cariin makan sekalian."


"Mau makan apa?"


"Apa aja deh, ngikut kamu. Yang penting rujaknya jangan sampai lupa."


"Kalau seandainya aku bawa makanan dari rumah Bunda gimana?"


"Eh, apa kamu bilang? Mau bawa makanan dari rumah Bunda? Enggak, enggak boleh lah! Kamu yang bener aja dong, masa udah setua itu punya istri makan minta Bunda. Enggak, enggak. Mending beli dong, kamu mau ya, aku keliatan buruk banget jadi istri, sampai makan aja minta Bunda. Yang bener aja kamu?"


"Santai, yang, nggak usah ngegas! Kali aja nanti kalau ditawarin Bunda gitu lho. Ya udah, kalau nggak boleh. Aku matiin, mau berangkat sekarang."


"Iya, hati-hati! Rujaknya nggak boleh lupa, terus makannya beli. Ngerti?"


"Ngerti sayangku, udah, ya, aku matiin. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam."


Aku kemudian meletakkan kembali ponselku di atas meja, tak lama setelahnya suara Sandra terdengar memanggilku.


"Mbak Qilla, Mbak! Rujaknya dapet, alhamdulillah. Perjuangan banget buat dapetinnya, astagfirullah, kulitku rasanya sampai kebakar tahu. Pokoknya, aku minta bonus untuk gajian nanti buat beli skincare."


"E buset, bisaan banget situ modusnya, minta dibeliin skincare. Kayak skincare situ murah aja," balasku sambil berdecak kesal, lalu merebut plastik yang Sandra bawa. Tanpa perlu membuang waktu, aku langsung membuka dan menikmatinya tanpa berniat untuk menawari Sandra.


"Enak banget, Mbak?" tanya Sandra tiba-tiba, ekspresinya terlihat jelas kalau ia ingin ikut mencicipinya.


Tanpa keraguan aku pun mengangguk, membenarkan.


"Mbak, berbagi itu indah lho."


"Bodo amat, San, aku ora urus. Sana, turun! Bentar lagi Rey ke sini lho."


"Eh, kok Rey sih, Mbak, bukan Mas?" protes Sandra tiba-tiba.


"Mas itu untuk panggilan langsung ke orangnya, kalau nggak manggil orangnya aku belum terlalu bisa nyebut pake imbuhan Mas," akuku jujur.


Setelahnya, Sandra hanya mangguk-mangguk lalu kemudian turun ke lantai bawah dengan ekspresi kecewanya, karena tidak kubagi rujak yang dia belikan. Sebut aku kejam, tapi aku memang sedang tidak ingin berbagi entah kenapa.


"Loh, yang, kamu lagi makan apa?"


Aku menghentikan niatanku untuk menyuapkan sesendok rujak yang tinggal sesuap, lalu beralih pada Reynand yang sudah berada tak jauh dariku. Aku bahkan tidak menyadari suara langkah kakinya tadi.

__ADS_1


"Kok udah nyampe, cepet amat?" kataku balik bertanya.


Reynand berdecak lalu meletakkan dua plastik bawaannya di atas meja. Lalu duduk di sampingku dan menatapku datar.


"Itu apa?" ulang Reynand sambil menunjuk wadah bekas rujakku, yang kini sudah berpindah tempat ke dalam perutku.


"Rujak," jawabku tanpa beban.


"Dari mana?"


"Beli. Aku nyuruh Sandra beliin, soalnya kamu lama. Kan aku udah pengen itu dari tadi, Mas."


"Terus itu rujak yang dari rumah Bunda mau diapain?" tanya Reynand dengan ekspresi datarnya, terlihat sekali kalau ia sedang berusaha menahan diri agar tidak marah.


"Aku makan juga, masih muat kok. Lagian yang beli Sandra tadi isinya dikit, aku kurang puas makannya."


Di luar dugaanku, mulut Reynand tiba-tiba menganga lebar. Ekspresinya terlihat seperti orang yang sedang kehabisan kata-kata, megap-megap seperti ikan koi. Ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi.


"Kamu... kamu beneran ngidam, ya?"


Sambil memutar kedua bola mataku dan kedua tangan yang sibuk membuka nasi bungkus yang Reynand bawa, aku mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Kamu hamil?!"


Aku langsung berdecak dan memukul paha Reynand cukup keras. "Orang kalau pengen makan rujak atau ngidam rujak tuh, nggak musti harus nunggu hamil."


"Terus apa? Kamu juga akhir-akhir ini sensian loh."


"Aku kalau pas mau dateng bulan atau pas dateng bulan juga sensian, Mas. Nggak usah kamu sambung-sambungin bisa nggak sih?"


"Ya, abis kalau dipikir-pikir kamu aneh akhir-akhir ini."


Aku tidak memperdulikannya dan lebih memilih makan nasi bungkus, yang ternyata berisi nasi Padang ini.


"Kamu lagi mens?" tanya Reynand.


"Enggak."


"Fix. Berarti kamu hamil, yang."


"Emang tanda-tanda orang hamil kayak gimana?"


Reynand menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Enggak tahu juga sih, tapi Risha sensi terus bawaannya pengen makan rujak terus. Kamu juga gitu kan?"


"Berarti ngawur kamu."


"Telat dateng bulan?" celetuk Reynand tiba-tiba, "kamu bulan ini udah menstruas belum?"


"Belum--"


"Tuh, kan bener. Emang bener kamu itu hamil sayang. Duh, senengnya aku sebentar lagi jadi Ayah, kita--"


"Mas, jangan menyimpulkan sesuatu tanpa ada bukti yang jelas dong. Nanti kalau aku nggak hamil kita yang kecewa sendiri."


"Terus? Gimana? Mau periksa langsung ke dokter obgym?"


Aku menggeleng. "Mending kamu makan dulu deh."


"Tapi aku penasaran, yang," rengek Reynand membuatku menghentikan kegiatan makan siangku.


"Mas, plis, dong, kamu jangan bikin aku ikutan berharap. Nanti kalau kita kecewa, yang paling sakit nantinya aku, Mas. Kamu paham nggak sih?"


"Iya, iya, maaf," sesal Reynand dengan wajah penuh penyesalannya.


Aku mengangguk, lalu menyuruhnya untuk segera makan nasi Padangnya. Aku kemudian ikut meneruskan makanku.


"Lagian kan kita sepakat untuk nggak terburu-buru, tapi kenapa sekarang kayaknya kamu berubah pikiran gitu?"


"Bukan berubah pikiran, aku cuma--"


"Ngarep banget aku cepet hamil?" tembakku langsung.


"Enggak ngarep banget. Cuma berharap,"


kata Reynand kalem.


Aku langsung mendengkus samar. Lalu tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikiranku.


"Mau nyoba konsultasi sama dokter spesialis? Atau langsung program?" tawarku yang langsung membuat Reynand tersedak dan batuk-batuk.


Aku terkekeh geli lalu menepuk-nepuk punggung Reynand, sebelum akhirnya menyodorkan segelas air untuknya.


"Pelan-pelan!" kataku mengingatkan.


"Kamu aneh-aneh sih, kenapa sekarang malah ngajakin program?" tanya Reynand setelah selesai meneguk air putihnya.


"Ya, nggak papa. Namanya usaha, toh, kita nikahnya agak telat kan? Takutnya nanti kalau nggak disegerakan, aku hamilnya telat juga. Gimana?"


"Kok mendadak jadi bahas telat nikah? Enggak ada itu istilah nikah telat, sayang. Kan, kan, ngaco lagi pikirannya. Kamu lagi banyak kerjaan yang bikin kamu jadi banyak pikiran atau karena mau dapet sih?"


Aku menggeleng tanda tidak tahu.


"Coba deh kamu inget-inget, ini tanggal berapa, apa emang udah harusnya dapet apa gimana?"


"Bentar, aku cek dulu." Aku kemudian meraih ponselku dan mengutak-atiknya sebentar lalu memandang Reynand ragu-ragu.


"Kenapa?" tanyanya penasaran.


Aku tidak langsung menjawabnya, hanya menatapnya sambil mengigit bibir bawahku.


"Jangan bikin aku penasaran dong!" rengek Reynand bersiap merebut ponselku, namun dapat kuhalau.


**Tbc,


yuhuuuuuuuu


cerita gaje kumbek, siapa yang nungguin tamatnya????

__ADS_1


saya sih yg jelas 😝**


__ADS_2