
####
"Minta maaf ya, buat yang tadi," sesal Reynand dengan ekspresi tidak enaknya. Rupanya dia masih bersalah gara-gara es krim tadi.
Ya, sebenarnya sih emang Reynand yang salah sih karena beliin es krim tanpa bertanya dulu padaku, tapi menurutku harusnya Mas Adi nggak sampai harus sebegitunya juga kan. Judesin calon adek iparnya kok sampai sebegitunya. Kan Reynand sudah minta maaf juga, kenapa sih sampai dijudesin sampai sebegitunya. Heran aku.
"Udah lah, Mas Adi lagi sensi aja. Kan lagi ngurusin istrinya yang habis lahiran, terus harus begadang buat jagain debay juga. Nah, ditambah Kafka agak anget kan bawaannya jadi, pengen ngajak gelut orang. Maklumi aja, ya. Maafin juga kalau agak menyinggung perasaan kamu.
Reynand menggeleng. "Enggak, aku paham kok. Lagian yang salah emang aku kan?"
Mau tidak mau akhirnya aku mengangguk. "Ya, kamu emang salah. Sok tahu banget sih, pake segala beliin es krim lagi. Kafka itu rayuannya gampang, nggak kayak Bapaknya."
"Ya, mana aku tau kalau rayuannya gampang. Kamu juga sih, nggak bilang-bilang."
"Kamu juga nggak tanya," balasku tak mau kalah. "Udah, sana! Buruan pulang," usirku kemudian. Aku hendak berbalik dan kembali masuk ke kamar Mbak Lusi tapi ditahan Reynand.
"Aku mau tanya sesuatu dulu."
"Apa itu?"
"Masalah lamaran resminya gimana? Kapan kira-kira keluarga aku bisa ke sini?"
Aku mengigit bibir gue ragu, lalu garuk-garuk kepala. Bukan karena aku merasa ragu atau takut menikah sih, hanya saat ini belum cukup tepat membahas ini. Karena keluargaku masih sibuk mengurus Cucu barunya, belum harus menyiapkan acara aqiqah dan lainnya.
"Bentar dong, Rey, maksudnya keluargaku kan baru aja ketambahan anggota baru nih, masih riweh lah. Nanti setelah acara aqiqahnya anak kedua Mbak Lusi, kita bahas lagi, ya?"
Meski dengan raut wajah sedikit kecewa, Reynand tetap mengangguk maklum.
"Sorry, aku bukannya mau nunda-nunda acara ini, cuma kamu tahu sendiri kan--"
"Iya, aku tahu, sayang," sela Reynand memotong kalimatku. "Aku pamit, ya," imbuhnya kemudian.
Aku mengangguk dan membalas pelukan Reynand.
"Jangan rindu," ucap Reynand lalu mencium puncuk rambutku dan melepaskan pelukannya.
Seketika aku langsung tertawa dan menyindirnya, "Kenapa? Karena rindu itu berat, maka aku tidak akan kuat?"
Dengan ekspresi seriusnya, Reynand menggeleng tegas. Membuatku mengernyit bingung.
"Lha terus kenapa?" tanyaku kepo.
"Kangen aja."
"Kok gitu?"
Aku memandangi Reynand dengan kedua mata menyipit, tak puas dengan jawaban yang ia berikan. Oke, lebih tepatnya tidak suka.
"Karena rindu itu hanya butuh momen-momen tertentu untuk merasakannya, sedang kangen kan bisa setiap saat. Jadi, kamu jangan rindu, mending kangen aja," kedip Reynand genit.
Aku melongo sambil menerjapkan kedua bulu mataku secara spontan. Reynand sedang menggombal dengan cara anti mainstrem gitu, ya, ini ceritanya?
"Iih, kok ekspresinya begitu?" protes Reynand tidak terima.
"Tadi itu kamu lagi ngegombal, ya?"
"Enggak. Kamu pikir aku anak SMA kayak Dilan apa yang hobinya ngegombal buat luluhin hati pacarnya, Milea, sama cewek-cewek di luar sana. Enggaklah, aku ini pria dewasa. Pria dewasa itu nggak butuh ngegombal, tapi cukup tunjukkan keseriusannya di depan calon mertua."
Aku hanya mampu geleng-geleng kepala, mendengar ucapan ngelantur Reynand yang makin kemana-mana. Sambil terkekeh geli, aku kemudian mendorong Reynand untuk masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
"Udah sana, pulang! Dari pada di sini makin ngelantur nggak jelas."
"Mulutnya pedas, ya, kayak cabe bubuk level 30 yang pernah diiklanin anaknya Kang Sule," balas Reynand dengan wajah pura-pura ngambeknya.
"Iya," kataku sambil dada-dada. "Kalau udah sampai jangan lupa ngabarin!"
"Siap!"
"Hati-hati, kalau capek atau ngantuk istirahat dulu. Nggak usah dipaksain!"
"Lebay!" balas Reynand sebelum pintu lift tertutup.
Kalau saja pintunya belum tertutup, sudah pasti kujitak sih kepalanya, bodo amat meski kita sekarang sedang ada di rumah sakit. Abis ngeselin sih, diperhatiin juga malah dikatain lebay. Emang perlu ngerasain santet online kayaknya itu Hamba Allah. Batinku sambil menggerutu dan berniat kembali masuk ke ruang inap Mbak Lusi. Namun, kaki ini baru melangkah tiga kali, Mas Adi tiba-tiba menghampiriku.
"Mas mau ngomong," ucapnya tiba-tiba. Nada suaranya terdengar sedikit judes dan juga ketus.
Aku yang masih terbawa suasana tadi, gara-gara es krim yang dibelikan Reynand. Hanya mampu mengekor di belakangnya dengan pasrah tanpa gerutuan.
"Kenapa, Mas?" tanyaku saat kami sudah duduk di kursi tunggu dekat lorong.
Mas Adi menoleh ke arahku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan sama sekali.
__ADS_1
"Yang tadi itu, yang pernah kamu ceritain sama Mbakmu? Yang namanya Rey-rey itu?"
Aku mengangguk, mengiyakan.
"Kalian pacaran?"
Aku menggeleng.
"Syukur deh."
"Tapi dia calon suami aku, Mas," ucapku tanpa beban sambil menunjukkan cincin pemberian Reynand kemarin.
"Maksudnya?"
"Rey udah lamar aku pas ulang tahun kemarin. Dan rencananya, secepatnya akan melamar ke Bapak secara resmi, setelah aqiqah anak Mas Adi," jelasku kemudian.
"Kamu serius?" Mas Adi menatapku tidak percaya.
Tanpa keraguan sedikit pun, aku mengangguk yakin. "Aku belum pernah merasa seserius ini sebelumnya, Mas."
"Sama yang kayak tadi?"
"Emang kenapa sih? Rey baik, Mas."
"Baik apanya? Dia yang bikin Kafka demam, La. Kamu sebut itu baik?"
Aku langsung memberikan tatapan mata tajamku. "Kok Mas Adi ngomongnya gitu? Dia emang salah, ya, untuk masalah esk krim tadi, tapi bukan berarti Mas Adi langsung bisa menilai kalau Rey itu bukan orang baik."
Sumpah, aku tidak terima. Apa-apaan dia, belum kenal main ngejudge orang seenaknya. Dia pikir dia siapa?
"Pokoknya Mas nggak suka."
"Bagus kalau Mas Adi nggak suka. Nggak lucu aja kan kalau Mas Adi suka sama calon suami adiknya sendiri," ketusku sambil melirik Mas Adi sengit.
Rahang Mas Adi langsung mengeras. "Bukan begitu maksud Mas, La. Astagfirullah! Kamu pikir Mas ini pria apaan? Sembarangan!"
Aku mengangkat kedua bahuku secara bersamaan, secara cuek sebagai responku.
"Kalian serius?" tanya Mas Adi, masih dengan ekspresi tidak percayanya.
Aku mendengkus lalu kembali meliriknya sinis. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja aku gemas aja gitu sama Mas Adi yang asal ngejudge orang seenaknya sendiri.
"Bukannya Mas Adi sendiri yang bilang, kalau udah yakin, suruh langsung. Kenapa sekarang begitu?"
Aku langsung beristigfar, "Astagfirullah, Mas. Kenzo udah nikah, udah punya istri. Mas Adi pengen aku jadi pelakor?" Aku memandang Mas Adi sambil geleng-geleng kepala dan mengelus dada prihatin.
"Ya, enggak gitu juga. Mas cuma--"
"Bandingin? Banding-bandingin orang itu nggak baik, Mas. Coba kalau Mbak Lusi aku bandingin sama mantan pacar Mas, emang Mas masih mau terima?"
Mas Adi memandangku datar. "Pacar Mas cuma Mbak Lusi, kalau kamu lupa," ucapnya kalem.
Ohya, aku lupa. Mas Adi kan budak cinta yang hanya stuck di satu wanita. Dari zaman SMA sampai akhirnya memutuskan untuk menikah, perempuan yang berhasil dipacarinya hanya Mbak Lusi. Aku juga nggak tahu sih, ini karena memang cinta Mas Adi hanya untuk Mbak Lusi seorang, atau karena memang hanya Mbak Lusi yang mau sama dia.
"Kenapa bisa sampai dilepas sih, orang sepotensial Kenzo?" tanya Mas Adi. Meski tidak terlalu ketara, tapi aku yakin kalau ia sedang kepo.
Aku menoleh ke arah Mas Adi sambil menghela nafas pendek. Meminta restu dari Mas Adi jauh lebih sulit dari pada, meminta restu dari Bapak dan Ibu. Ya, iyalah, lha wong Ayah Reynand sama Bapak temenan pas zaman sekolah. Gimana bisa sulit ngasih restu, pengen segera gelar resepsi malah iya.
"Mas, Mas masih inget nggak kalau Mas Adi pernah bilang gini ke aku 'kalau kamu belum yakin-yakin juga sama Kenzo, udah lepasin. Cari yang lain, yang bisa bikin kamu yakin dan siap untuk menikah'. Mas Adi pernah bilang begitu loh sama aku, kenapa sekarang setelah beneran aku lepas, kok Mas Adi masih nggak terima. Mau Mas Adi tuh, apa sih?"
"Ya, maksud Mas itu biar kamu jadi lebih yakin gitu, La. Biar nggak ragu-ragu lagi. Bukan beneran nyuruh pisah. Kamu ini lho, masa gitu aja nggak ngerti."
Aku mendengkus. "Ya, mana aku tahu," balasku kemudian. "Mas Adi nggak jelas sih ngomongnya dulu."
"Tapi kenapa harus dia?"
"Emang kenapa sih sama Rey? Salah Rey apa sih, cuma nggak sengaja beliin es krim, Mas. Astagfirullah!"
"Bagi kamu mungkin cuma, tapi bagi Mas itu penting, La. Sangat penting, jaga kesehatan calon ponakannya nggak bisa, gimana mau jagain Buleknya."
Aku mengernyit saat mendengar kalimat tak berkorelasinya Mas Adi. Apaan banget deh. Reynand kan baru calon Omnya, yang Ibu kandung atau Ayah kandungnya saja kadang suka kecolongan, gimana Reynand yang baru ketemu sekali dan belum ngerti apa-apa. Emang aneh ini Mas Adi.
"Apaan sih, Mas, kok gaje. Nggak ada hubungannya, ya, sama Reynand yang nggak sengaja beliin Kafka es krim."
"Intinya Mas kurang suka sama dia, La."
"Ya, kan baru sekali ketemu, Mas."
"Mas nggak tertarik buat ketemu lagi," balas Mas Adi kalem, membuatku kesal.
"Kok gitu sih, Mas?" protesku tidak suka.
__ADS_1
Bukannya gimana-gimana, aku dan Reynand sudah menyiapkan rencana untuk melangkah yang lebih serius. Benar-benar serius dan nggak ingin main-main. Eh, sebentar, kenapa ini kesannya jadi seperti aku hanya main-main, ya, waktu sama Kenzo. Tapi enggak kok, kami juga serius waktu itu. Cuma, ya, keseriusan kami nggak mampu sampai dibawa ke pelaminan saja. Tapi intinya kami serius, dan nggak main-main. Yah, namanya jodoh dan maut kan rahasia ilahi, pengennya sama ini, eh, dapetnya itu. Miris memang, tapi aku percaya, Allah lebih tahu yang kami butuhkan daripada kami inginkan.
"Mas kurang suka, La."
"Tapi Rey udah mau lamar aku ke Bapak nanti selesai aqiqah adik Kafka lho, Mas."
"Iya, itu terserah kamu. Cuma kalau kamu mau minta doa restu, maaf, Mas belum bisa kasih."
Setelah mengatakan kalimat itu, Mas Adi langsung meninggalkanku begitu saja. Aku terbengong di kursi tunggu. Jadi, aku nggak dapet restu dari Kakakku sendiri? Serius, cuma gara-gara calon suamiku nggak sengaja beliin anaknya es krim? Astagfirullah!
Setelah agak berhasil menenangkan diri, aku kembali ke kamar inap Mbak Lusi. Mas Adi juga di sana, duduk di lantai karpet menemani Kafka bermain. Kafka sudah kembali ceria dan tidak terlihat lesu lagi. Karena masih malas dengan Mas Adi, aku akhirnya memutuskan untuk menghampiri Mbak Lusi yang sedang menyusui.
"Kok cepet, udah pulang Nak Rey-nya?" tanya Ibu. "Nggak kamu antar sampai parkiran?"
Aku menggeleng. "Cuma sampai depan pintu lift," kataku sambil menjawil-jawil pipi kemerahan adik Kafka. "Dikasih nama siapa nih, Mbak?" tanyaku pada Mbak Lusi.
"Belum ada nama yang fix nih, kamu ada saran?"
"Lah, emang nggak nyiapin dulu gitu sebelumnya?"
"Udah. Cuma masih bingung milih nama yang fix."
Aku meringis sambil garuk-garuk kepala. "Aku nggak tahu mau nyumbang nama apa, cari di google aja deh, Mbak," saranku kemudian.
"Kinanti aja, Nduk!" celetuk Ibu di tengah-tengah obrolan kami.
"Terlalu mainstrem lah, Bu."
"Kesha sih kalau Mas bilang," sambar Mas Adi.
"Kesha itu nama adiknya Kenzo, Mas. Masa sama," kataku sedikit ketus.
"Eh, iya, ya. Tuh, kan! Jangan, ah, masa sama. Mana kenal lagi, kan nggak enak. Kalau sama, sama orang nggak dikenal, mah, nggak papa. Tapi ini kenal loh. Mending jangan deh, Yah."
"Ayah sih ikut Bunda," balas Mas Adi membuat Mbak Lusi cemberut.
Aku diam-diam menahan diri agak tidak menertawakannya. Aku tahu betul sih rasanya dimintai pendapat tapi yang dimintai pendapat malah ngikut pilihan kita. Lah, kalau begitu kan jadinya percuma, kenapa kita tanya kalau akhirnya kita sendiri yang harus ngambil keputusan sendiri.
"Baby Kay aja, Yah," celetuk Kafka tiba-tiba. "namanya Kayla aja, tapi dipanggilnya Baby Kay. Lucu kan?"
Aku berseru heboh, mendengar ide Kafka. Dan itu membuatku sukses mendapatkan pukulan ringan dari Ibu, namun aku tidak perduli dan langsung menghampiri Kafka dan menciumi kedua pipinya secara bergantian.
"Aduh, keponakan Bulek, pinter banget sih."
"Ya, pinterlah wong--"
"Buleknya pinter," sambarku cepat. Aku kemudian menjulurkan lidahku saat mendapati wajah kesal Mas Adi.
"Iih, Bulek nggak sopan. Masa melet gitu sama Ayah. Kakak bilangin Kakung loh nanti."
Walah, anak siapa ini Gusti. Jujur amat, kayak penggaris L. Nggak bisa nipu macem penggaris lurus.
"Emang, Bulek nggak sopan banget. Nanti aduin ke Kakung, ya," bisik Mas Adi mengompori Kafka.
"Oke. Tapi, Yah, nama Baby Kay itu yang ngasih Om Rey loh."
Mendengar nama Reynand disebut, aku langsung menoleh ke arah Kafka dengan ekspresi kepo.
"Kakak bilang apa barusan?"
"Nama baby Kay itu yang ngasih Om Rey," celetuk Kafka polos.
Aku langsung tersenyum puas dan melirik Mas Adi dengan ekspresi meledek. Wajah Mas Adi mendadak berubah tidak suka.
"Kalau gitu jangan Baby Kay, cari yang lain," ketus Mas Adi langsung berdiri dan meninggalkan kamar.
Seketika aku dan yang lain hanya melongo dan menatap punggung Mas Adi dengan pandangan bingung kami.
Dasar aneh!
Tbc,
**Helo, ada orang???
Udah gk ada yang minat bacakah? 😅 sepi amat dah 😩
saya udah rajin update ini loh, nongol dong yang katanya nungguin**
*kriiikk
kriiikkk
__ADS_1
kriiiikk*
oh, oke, gk ada ya? ya udah, ikhlas aku 😥ðŸ˜ðŸ˜”😌