
####
Pacarnya mana?
Hampir setengah hari ini aku cukup kenyang dengan pertanyaan itu. Sudah lebih dari sepuluh orang menanyakan itu padaku hari ini. Entah hanya untuk berbasa-basi atau memang mereka yang kelewat kepo dengan hubunganku. Ini belum genap sehari loh, gimana nanti kalau seharian.
Aku akui jika pertanyaan itu memang hal yang wajar jika ditanyakan pada orang yang jarang bertemu dengan kita, apalagi di acara nikahan. Hal itu seperti sudah menjadi pertanyaan wajib yang harus diterima bagi mereka yang masih berstatus lajang. Tapi bukan berarti semuanya harus menanyakan hal sama bukan?
Ohya, aku belum memberitahu ya. Jadi saat ini aku sedang di acara nikahan Airin, temanku dari jaman belum bisa berjalan. Ya, temanku yang berprofesi sebagai guru ini baru saja melepas masa lajangnya beberapa menit yang lalu dan tugasku hari ini adalah bater nganten. Aduh, apa ya bahasa Indonesianya? Pokoknya tugasku itu nemenin Airin kemana-mana. Mulai dari nemenin dirias, nemenin dia ijab qobul, nyiapin apa yang dia perluin sampai jadi tempatnya menitip amplop dari beberapa teman atau kerabatnya. Eh, kenapa amplopnya nggak ditaruh dikotak khusus aja? Karena yang kotak khusus itu untuk para orang tua, jadi kalau yang ingin menyumbang ke pengantin ya, harus ke pengantinnya langsung.
"La, tisu."
Aku tersentak kaget, kemudian menoleh ke arah Airin dengan tatapan bingung.
"Kenapa? Minum?"
Airin saat ini sedang dirias. Padahal menurutku riasan untuk ijab tadi sudah lumayan tebal lho.
"Bukan. Minta tisu," pintanya membuat keningku mengkerut.
Lah, dia kan lagi dirias buat apaan tisu?
"Buat apa?" tanyaku bingung.
Airin menunjuk meja yang ada di sampingnya. Di sana ada bekas tumpahan teh. Aku ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk, lalu mengeluarkan beberapa lembar tisu dari dalam tasku. Kemudian mengelap meja yang terkena tumpahan air.
"Thanks," ucap Airin sambil tersenyum, aku mengangguk.
"La, mintain air dingin dong. Aku haus deh."
Aku menoleh dan mendapati Mas Ridwan yang kini duduk di sebelahku. Jas hitamnya kini sudah berganti dengan jas koko putih gading, senada dengan gaun yang dipakai Airin. Aku mendengkus. Airin tersenyum.
"Minta tolong urusin bentar ya, La, aku masih riweh nih."
"Yaelah, Mas, dapurnya di sana. Ambil sendirilah, manja banget. Yang punya rumah orangnya nggak ribet. Santai."
Ohya, sekedar informasi aja ya. Di kampungku memang biasanya menggunakan rumah tetangga untuk merias pengantin dan pager ayunya.
"Enggak enak, La, ambilin dong. Minta tolong nih."
Aku berdecak, namun tetap mengambilkan air untuk Mas Ridwan.
"Makasih, La. Jangan cemberut aja dong, nanti cantiknya ilang."
__ADS_1
Mulutku ternganga. Jujur ini pertama kalinya aku tahu kalau Mas Ridwan bisa bercanda. Karena selama aku kenal Mas Ridwan, pria ini memang bukanlah tipekal pria yang punya selera humor. Apalagi berani menggoda begitu.
"Kenapa heran gitu, La?" kekeh Airin.
"Kaget aku, Rin, aku pikir Mas nggak bisa becanda lho," akuku jujur.
Baik Mas Ridwan dan Airin saling berpandangan, beberapa detik kemudian mereka tertawa bersama. Ck, dasar pengantin baru.
*****
Aku bisa bernafas lega karena proses krumpul-nya sudah selesai. Kedua pengantin pun kini sibuk menyalami tamu, dan aku bisa sedikit lebih bebas sekarang. Setidaknya aku sudah bisa mengisi perutku yang terasa sedikit perih karena lapar. Dengan langkah percaya diri aku berjalan menuju meja prasmanan. Pilihanku jatuh pada bakso kuah, setelah tadi sempat antri untuk mendapatkannya. Setelah dapat aku langsung bergegas mencari meja dan kursi.
"Sendirian aja, Neng, pacarnya ke mana?"
Aku melirik ke arah pria yang kini duduk di sampingku, yang ternyata teman SD sampai SMA-ku, yang bernama Saiful, teman Airin juga sih. Atau lebih dikenal sebagai Bang Ipul. Aku tersenyum, kemudian memilih kembali menyantap bakso kuahku yang kini tinggal setengah. Dia ini Content creator yang punya banyak follower di IG dan juga banyak subscriber di Youtube. Tubuhnya kecil tapi lumayan tinggi, dengan kulit sawo matang khas Indonesia. Dan katanya baru saja melamar pacarnya yang seorang perawat.
"Sombong amat sih," gerutunya sambil tertawa.
"Lagi ngunyah, Bang."
"Njir, gue belum setua itu kali buat dipanggil Abang," protes Saiful tak suka.
"Lah, situ yang manggil aye neng kan?" tanyaku balik.
"Widihh, udah jadi anak Jakarte banget nih roman-romannya. Lo-gue banget," sindirku setengah bercanda, setelah berhasil menandaskan air minum gelasanku. Bakso kuahku pun sudah habis tak tersisa dua menit yang lalu.
"Hehe, yoi. Biar gaul dikit. Ohya, ngomong-ngomong sendirian aja? Kemana Kenzo?" tanya Saiful sambil celingukkan mencari keberadaan Kenzo. Ia memang mengenal Kenzo karena aku selalu mengajak Kenzo saat acara reuni. Bahkan Saiful pernah membuat vlog di Cafe Kenzo.
"Enggak sendirian kok. Tuh, rame-rame," kataku sambil menunjuk beberapa tamu yang aku kenal mau pun tidak.
"Maksud gue, gue nanyain Kenzo-nya. Gue mau bahas bisnis nih sama laki lo. Mayan lah, buat nambah-nambah. Kan sekarang biaya resepsi dan kawan-kawannya mahal."
"Kalau ngomongin bisnis ya, samperin lah. Dia masih di Jogja kok, belum pindah," kataku berusaha biasa saja.
"Gue mencium bau-bau..." Saiful tidak melanjutkan kalimatnya, kedua matanya menatapku curiga.
Aku mendadak gugup. "Apaan sih, nggak jelas."
Saiful terbahak, membuatku cemberut.
"Jadi udah kandas nih?" godanya sambil memainkan alisnya naik-turun.
Aku berdecak. "Mulutnya masih banyak bacot, ya."
__ADS_1
Saiful makin terbahak. "Duh, masih pedes aja mulutnya. Betewe, kalau bener udah kandas, berarti gue masih ada kesempatan dong?"
Tanpa sungkan langsung ku toyor kepalanya. "Pala lu!"
Saiful mengusap kepalanya tak terima. "Bukan muhrim juga, pegang-pegang," gerutunya kemudian.
Aku mendengkus. Gemas rasanya pengen jambak rambutnya sekalian.
"Aku jambak juga rambutmu, Pul. Ngeselinnya kok nggak berkurang, malah nambah," gerutuku gemas. "Lagian udah lamar anak gadis orang kok masih ganjen."
Tawa Saiful langsung pundar begitu aku menyelesaikan kalimat terakhirku. Dan entah kenapa raut wajahnya jadi terlihat sedikit sendu.
Apa aku salah bicara?
"Lo udah denger ya, kabarnya?"
Aku mengangguk. "Berita panas gitu," celetukku asal.
Saiful terkekeh. "Tapi masak lo nggak ada simpati-simpatinya sama gue?" kemudian wajahnya berganti sedih, meski aku tahu kalau ia hanya berpura-pura.
"Aku pake im3 ooredoo," balasku makin ngasal.
Saiful berdecak, namun beberapa saat kemudian ikut menimpali. "Berarti kita beda operator ya?" balasnya yang aku tahu itu hanya candaan semata.
Aku hanya mengangkat bahu.
"Lo belum tahu kalau gue putus sama cewek yang gue lamar?"
"Hah?" Aku melongo.
"Iya. Gue diselingkuhin," ungkapnya santai. Wajahnya biasa saja saat mengatakannya, seolah dia bukan korban dari perselingkuhan.
"Kok bisa?"
Saiful mengangkat bahunya. "Kayaknya kurang ganteng sih gue," celetuknya asal. "Ohya, lo pulang ke Jogja kapan? Mau bareng gue aja?"
"Aku nyetir sendiri."
"Ck. Mandiri banget, mentang-mentang jomblo," ejeknya setengah bercanda.
"Sialan!" umpatku kesal. Saiful hanya terbahak.
Tbc,
__ADS_1
hehe, saya udah update lagi. lupa klo weekend, review-nya pasti lama. tapi saya udah nggak sabar buat up, jadi ya udah, saya update. hehe 😅