Telat Nikah?

Telat Nikah?
Quality Time With Bapak


__ADS_3

"Jadinya Kapan, Nduk?"


Aku menghentikan pergerakan sendok es krimku, yang tadinya sudah hampir menyentuh bibir. Lalu menoleh ke arah Bapak yang kini sedang menatapku penasaran. Saat ini kami sedang bersantai di ruang tengah keluarga, aku ditemani semangkuk cup besar es krim. Lalu Bapak yang selalu setia dengan secangkir teh herbal dan singkong gorengnya. Ibu sendiri jelas sedang berada di rumah Mas Adi, maklum sedang punya Cucu baru, ya begitu. Padahal acara aqiqahnya sudah diadakan kemarin, tapi Ibu jelas masih ingin terus menempel dengan Cucu barunya.


Aku menerjap kebingungan. "Kapan apanya, Pak? Balik ke Jogja?"


Bapak tertawa mendapati ekspresi kebingunganku.


Lah, kok malah diketawain?


"Lamaran kamu to, Nduk. Lamaran resminya."


Aku langsung ber'oh'ria, sambil mangguk-mangguk paham. "Oh, menurut Bapak enaknya kapan?"


Sekali lagi, Bapak tertawa. Aku heran, sebenarnya di mana sih letak lucunya. Kok dari tadi Bapak ketawa terus.


"Lebih cepat, lebih baik."


Jawaban klise. Bener sih, cuma...


"Kata Nak Rey, setelah aqiqahnya Kayla. Jadi?" Bapak kembali bersuara dan menoleh ke arahku, setelah meletakkan cangkirnya.


Aku menyendok es krimku, lalu memasukkannya ke dalam mulutku dengan pandangan kosong dan sedikit melamun. "Memangnya Bapak udah siap belum Mantuin aku?" Aku malah balik bertanya, karena bingung harus menjawab apa.


Bapak mengangguk yakin. "Alhamdulillah, Bapak udah siap. Siap melepas kamu dan siap dikasih Cucu lagi," gurau Bapak sambil terkekeh geli dan mencomot singkong gorengnya.


Aku cemberut, merespon kode yang Bapak lempar barusan. Sumpah, aku tuh jadi suka serba salah sendiri gitu loh, kalau dikode begitu.


"Tapi Mas Adi nggak begitu suka sama Rey deh, Pak. Gimana, ya?"


"Masmu?" tanya Bapak di sela kunyahannya.


Aku kemudian mengangguk sebagai tanda jawaban, dan kembali menyendok es krimku.


"Iri sama kegantengan calon suamimu kali," celetuk Bapak diiringi tawa kecil, yang kuyakini hanya candaan semata.


Aku mendengkus samar lalu ikut tertawa.


"Loh, Bapak serius," kata Bapak tiba-tiba.


Seketika aku melongo.


"Hah?" responku spontan.


"Kalau menurut Bapak Nak Rey memang lebih ganteng kok. Lebih ganteng dari Masmu maupun Nak Kenzo."


Aku kembali melongo, karena tidak percaya. Bentar, bentar, oke, aku akui Reynand memang ganteng. Tapi kalau dibilang lebih ganteng dari Kenzo, masa iya sih. Perasaan masih gantengan Kenzo deh.


"Ya, enggaklah, Pak. Gantengan Kenzo," sanggahku sambil menggeleng tidak setuju.


"Loh, kok malah belain suami orang, bukannya calon suami sendiri. Hayo, mau jadi pelakor kamu, Nduk?"


"Astagfirullah! Bapak, iih, omongannya. Saru! Qilla itu nggak belain siapa-siapa, tapi bersikap adil, menilai sesuai fakta yang ada," kataku membela diri.


Enak saja, aku si pihak paling ngotot untuk pisah. Masa setelah dia bahagia dengan pasangan barunya mau aku rebut. Kesannya aku wanita murahan banget dong jadi Hamba Allah.


"Moso to? Kok Bapak ndak percaya," goda Bapak iseng.


"Ya, enggak papa. Bagus itu, Pak, percaya sama Qilla sama aja musyrik," balasku dengan ekspresi cemberut.


"Bisa aja... Tapi, Nduk, menurut Bapak kegantengan seorang pria itu tidak dilihat dari wajahnya saja lho."


Aku terkekeh geli. "Terus dari apanya lagi, Pak?"


"Dapat dilihat dari kesungguhannya yang ingin mempersunting perempuan pujaan hatinya dengan serius," ucap Bapak tanpa keraguan. Membuatku tertawa spontan setelahnya.


"Loh, kenapa malah diketawain?"


"Bapak lucu sih."


"Kamu pikir Bapak Kirun, lucu. Wayahe... Wayahe... Wayahe..."


Seketika aku langsung terbahak. Apalagi pengucapan Bapak saat mengucapka kata 'wayahe' terdengar agak mirip dengan pelawak aslinya.


"Tapi Bapak serius, kesungguhan Nak Rey terlihat jelas lho. Bapak bisa melihatnya sendiri."


Tiba-tiba aku tertarik dengan kalimat yang Bapak ucapkan. "Maksud Bapak?" tanyaku penasaran. "Kenzo dulu nggak kelihatan bersungguh-sungguh gitu?"


"Bukan nggak terlihat sungguh-sungguh, cuma kurang bisa meyakinkan kamu."


Seketika aku meringis, saat mendengar jawaban jujur Bapak.


"Kenapa bisa begitu ya, Pak?"


Bapak menoleh ke arahku dengan ekspresi bingungnya. "Kenapa apanya?"


"Kenapa Qilla dulu nggak bisa yakin sama Kenzo, ya, Pak? Padahal Kenzo itu paket komplit kan?"


Bapak mengangkat kedua bahunya secara bersamaan lalu meraih cangkir tehnya, menyesapnya penuh nikmat sebelum kembali bersuara, "Mungkin karena Nak Kenzo terlalu baik."


"Hah?"


Melihat ekspresi kebingunganku, sontak Bapak langsung tertawa.


Kok aku malah diketawain?


"Bukannya itu kalimat andalan perempuan saat memutuskan pacarnya, Nduk?"


Seketika aku langsung konek. Astagfirullah! Bapak gaul juga, ya. Peka.


Aku kemudian langsung terkekeh geli setelahnya. "Bisa aja, Bapak ini. Pernah ngalamin, Pak?" godaku kemudian.


Tanpa keraguan sedikit pun, Bapak kemudian mengangguk dan menjawab, "Pernah."


Aku kaget. "Hah? Pernah, Pak?"


Bapak tertawa. "Kenapa ekspresimu kaget gitu to, Nduk?"


"Aku kaget, Pak," akuku jujur.


"Kenapa kaget? Hampir semua laki-laki baik pasti pernah dan akan ngalamin itu."

__ADS_1


Saat mengatakan kalimat barusan, Bapak tiba-tiba tertawa kecil. Membuatku mengernyit heran. Tiba-tiba teringat masa mudanya dulu mungkin kali, ya.


"Kenapa, Pak?" tanyaku ikut terkekeh. "Keinget masa muda dulu?"


Bapak mengangguk. "Keinget Ibu-mu."


"Kenapa sama Ibu?" tanyaku penasaran bercampur kepo.


"Dih, kepo," ledek Bapak.


Aku melotot karena terkejut. Kok Bapak tahu kepo sih?


"Emang Bapak tahu kepo itu apa?"


"Tahu."


"Siapa yang ngajarin?"


"Cucu Bapak dong."


Wah, nggak bener nih Kafka, Kakungnya diajarin kepo segala. Lagian, itu bocah tahu dari mana sih kata kepo. Bikin kepo saja.


"Balik ke topik, Nduk!"


Aku langsung menoleh ke arah Bapak dengan ekspresi bingung.


"Kapan?"


Serius. Aku tidak bisa membedakan, apa Bapak sedang bercanda atau serius. Soalnya, ngomongnya diiringi tawa renyahnya.


"Apanya lagi ini, Pak?" tanyaku, pura-pura tidak paham. Padahal asli, aku paham betul arah pembicaraan beliau.


Mendengar jawabanku, Bapak langsung berdecak. "Pura-pura lupa to?" sindirnya kemudian.


Aku menggaruk kepalaku yang mendadak gatal.


"Kapan? Akhir minggu ini?"


Aku langsung menoleh ke arah Bapak dengan ekspresi terkejutku. "Minggu ini? Nggak kecepetan, Pak?"


"Lebih cepat lebih baik," balas Bapak, membuatku mendadak kincep.


"Udah, langsung telfon Nak Rey-nya. Tanyain langsung!"


Aku mengangguk. "Iya, nanti ditanyain orangnya," kataku kemudian.


"Kok nanti, sekarang to."


Aku memajukan wajahku secara spontan. "Sekarang banget, Pak?"


"Ingat, lebih cepat lebih baik,  Nduk."


Mendengar kalimat andalan Bapak barusan, benar-benar membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain meraih ponselku, yang tadinya tergeletak di atas meja. Aku mengutak-atiknya sebentar, mencari kontak nomor Reynand sebelum akhirnya menghubunginya.


"Nggak diangkat, Pak," kataku sambil melirik Bapak sebentar, namun tetap mencoba untuk menghubungi Reynand kembali.


Butuh hampir lima menit aku menunggu, sambungan telfonku akhirnya tersambung.


"Oh, iya, nggak papa sih. Kamu lagi apa?" basa-basiku sebentar.


Terdengar suara kekehan ringan dari seberang, yang kuyakini itu milik Reynand sendiri. Yang artinya Reynand memang sedang menertawakanku.


"Ngetawain apa kamu?"


"Kamu. Kan tadi aku udah jawab kalau habis dari kamar mandi, jam segini habis dari kamar mandi artinya ngapain? Mandi kan? Kamu ini aneh-aneh aja. Ada apa sih?" tanya Reynand heran. "Kalau ada yang mau ditanyain, tanyain aja, yang. Kayak sama siapa aja."


Aku garuk-garuk kepala sembari melirik Bapak. Bapak mengangguk di sela kunyahannya. Aku kemudian meletakkan es krimku di atas meja dan beranjak berdiri, namun ditahan Bapak.


"Itu es krimnya dimasukin ke kulkas dulu, nanti meleleh di situ. Basahin meja, diomelin Ibu-mu nanti," tegur Bapak sambil menunjuk wadah es krimku.


Aku meringis malu, lalu meraih wadah es krimku dan membawanya ke dapur dan meletakkannya di dalam freezer. Baru setelah itu, aku menarik kursi yang ada di ruang makan dan mendudukinya.


"Kenapa sih?" tanya Reynand keheranan.


"Itu... Anu... Kamu akhir minggu ini sibuk?"


"Enggak. Mau jalan sama calon istri sih sebenarnya, cuma nggak bisa. Kan lagi LDR-an."


"Eummm..."


"Iya, sayang. Ngomong aja kenapa sih? Kok ragu-ragu gitu?"


"Masalah lamaran resmi," cicitku ragu-ragu.


"Iya, kenapa sama lamaran resmi?"


"Bapak nyaranin acaranya akhir minggu aja. Menurut kamu gimana?"


"Kalau Bapak yang nyaranin, aku sih yes," ucap Reynand meniru ala-ala Mas Anang Hermansyah saat menjadi juri di Indonesian Idol.


"Jadi, fix minggu ini?" tanyaku memastikan.


Tanpa keraguan sedikit pun, Reynand langsung mengiyakan.


"Aku bawa keluarga inti aja, atau sama rombongan?" tanyanya kemudian.


Aku berpikir sejenak. Kalau bawa rombongan, berarti acara harus agak besar, ya, cuma kalau keluarga inti saja. Aku nggak yakin Ibu akan setuju. Tapi, menurutku lebih baik keluarga inti saja kayaknya. Kan lebih kekeluargaan, nggak ngerepotin banyak orang maupun pihak.


"Keluarga inti aja deh. Biar lebih kekeluargaan juga kan?"


"Iya sih, aku setuju. Cuma keluarga kamu nggak masalah kalau gitu aja?"


"Enggak. Insha Allah aman."


"Oke. Nanti aku kabarin keluarga deh. Tapi ngomong-ngomong, nanti kita harus dateng jam berapa dari Jogja?"


"Jam sembilan atau sepuluh aja gimana?" tawarku.


Reynand terdiam sebentar, mungkin sedang berpikir. Aku pun menunggunya dengan sabar. Tak beberapa lama setelahnya Reynand kembali bersuara.


"Oke. Nanti kalau ada perubahan aku kabarin, ya?"

__ADS_1


"Hmm," responku seadanya.


"Lagi apa?"


"Nyantai aja sih sama Bapak, tadinya."


"Sekarang?"


"Duduk di dapur sambil telfonan sama kamu."


"Oh iya. Udah makan?"


"Belum sih kalau nasi, tapi kalau ngemil udah banyak," jawabku sambil nyengir malu.


"Ngemil apa aja?"


"Banyak. Kamu sendiri?"


"Ngeringin rambut."


"Ya udah, kalau gitu aku matiin, ya?"


"Loh, kenapa begitu? Enggak kangen sama aku, emang?"


Aku langsung tertawa mendengar nada bicara Reynand yang mendadak manja.


"Kok malah diketawain?" protes Reynand terdengar merajuk.


"Lucu sih kamu."


"Lucu di mananya?"


"Lucunya tuh di kamu," kataku di sela tawaku.


Kini giliran Reynand yang ikut tertawa. "Apaan sih? Kenapa jadi ikutan acara yang di tv itu?"


"Ya, soalnya mau ikutan ngeringin rambut kamu jauh. Jadi, mending ikutan yang kayak di tv-tv itu deh."


"Ya udah, iya. Terserah kamu deh. Kamu matiin kalau gitu, aku juga mau lanjut kerjaan nih."


Hah, tumben Reynand sampai bawa kerjaan ke rumah. Biasanya, area rumah tidak boleh tercium bau-bau kerjaan, makanya dia nggak suka bawa kerjaan pulang. Apa jangan-jangan dia masih di tempat kerja?


"Kamu lagi di mana, Rey?" tanyaku penasaran.


"Kamar."


"Kamu bawa kerjaan ke rumah?" tanyaku tidak percaya.


"Iya, lagi dapet rezeki lebih, nggak boleh disia-siakan. Lagian, kita sebentar lagi nikah, biaya resepsi pernikahan kan nggak murah. Jadi aku harus kerja, sedikit lebih extra."


Mendengar jawaban Reynand, hatiku mendadak menghangat dan merasa telah dispesialkan. Meski tidak dapat kupungkiri, perasaan bersalah tetap hinggap dalam diriku. Ya, kan secara tidak langsung dia kerja extra buat aku.


"Jangan terlalu ngoyo, ah. Lagian aku juga nggak pengen acara resepsi yang gede-gede. Pun seandainya, harus agak dibuat acara besar, kan kita bisa patungan. Aku bukan pengangguran atau wanita yang mau enaknya saja, Rey," balasku kemudian.


"Iya. Sampai ketemu akhir minggu nanti."


"Hmm, jangan lupa makan dan jaga kesehatan," kataku mengingatkan.


Reynand hanya mengiyakan, lalu aku mematikan sambungan telfon setelahnya. Berdiri dari dudukku dan mendorong kursi yang tadi sempat kudorong ke belakang, agar memudahkanku untuk keluar. Aku mengembalikannya ke tempat semula dan berjalan keluar dari dapur menuju ruang tengah dan menghampiri Bapak.


"Dadi?" sambut Bapak saat aku baru saja keluar dari dapur.


Aku langsung mengangguk dan mengambil posisi duduk di sofa panjang dan mencomot singkong goreng Bapak dan langsung melahapnya.


"Akhir minggu ini?"


Lagi-lagi aku menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Acaranya siang apa malem?"


"Kalau siang saja gimana, Pak? Kasian perjalanan agak jauh juga loh."


Bapak terlihat mengangguk tidak masalah. "Wes, gimana baiknya, gimana enaknya. Bapak manut saja."


"Tapi Ibu, Pak?"


Aku tiba-tiba mendadak teringat dengan Ibu, yang kemungkinan besar tidak setuju kalau acara lamaranku diadakan secara kekeluargaan saja.


"Kenapa sama Ibu?" tanya Bapak dengan ekspresi bingungnya.


"Anu... Kalau acara lamarannya nggak usah gede-gede gimana, Pak?"


"Ya, enggak papa. Lebih sederhana juga bagus, malah terasa kekeluargaan to?"


Aku setuju sih dengan Bapak. Tapi bagaimana dengan Ibu?


"Emang Ibu ngebolehin?" tanyaku tidak yakin. Aku cukup hafal dengan sifat Ibu, mana mau beliau mengadakan lamaranku--acara yang begitu ditunggu-tunggu oleh Ibu--diadakan biasa saja. Ibu pasti akan langsung heboh menyiapkan ini dan itu.


Dengan ekspresi kebingungannya, Bapak menjawab, "Kenapa Ibu-mu sampai nggak ngebolehin? Ini kan acara yang ditunggu-tunggu Ibumu."


"Ya, karena justru acara yang ditunggu-tunggu Ibu, Pak. Ibu pasti pengen acaranya diadain gede-gede."


Mendengar pengakuanku, sontak membuat Bapak langsung tertawa. "Iya, juga, ya. Bapak nggak kepikiran sampi ke sana," kekehnya kemudian.


"Terus gimana, Pak?" tanyaku mulai khawatir. Ibu kalau punya keinginan itu susah sekali untuk dibantah.


"Gampang. Kan Bapak ini pawangnya,  masalah Ibu-mu, urusan Bapak."


"Kalau nggak berhasil?"


"Pernah lihat Bapak gagal meluluhkan hati Ibu-mu?"


Aku diam sesaat, dan mencoba mengingat-ngingat. Sepertinya memang Bapak cukup ahli dalam meluluhkan hati Ibu.


"Kayaknya enggak sih. Kan Bapak pawangnya," gurauku kemudian.


"Nah, kalau sudah begitu kenapa kamu masih khawatir? Tenang saja, serahkan semua pada Bapak," ucap Bapak penuh percaya diri.


Aku mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolku.


"Bapak memang yang terbaik!" ucapku langsung memeluk beliau.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2