Telat Nikah?

Telat Nikah?
Kembali Ke Rutinitas


__ADS_3

Hari ini aku sudah kembali ke Jogja diantar Bapak dan juga Ibu. Jujur, ini pertama kalinya aku diantar lagi oleh Bapak dan Ibu begini, terakhir kali diantar itu waktu aku masih ngekost dan kerja ikut orang. Tapi, setelah mampu buka butik dan punya mobil sendiri, Bapak tidak pernah mengantarku. Yang ada kalau ingin pergi-pergi, aku yang disuruh nyupirin beliau.


Alhamdulillah, acara lamaran kemarin berjalan lancar tanpa kendala. Mas Adi yang sempat membuatku khawatir, tidak menunjukkan ulahnya. Oh, oke, sebenarnya Mas Adi bukan tipekal yang akan membuat onar sih meski itu sesuatu hal yang tidak ia sukai. Tapi, setidaknya Mas Adi cukup welcome lah dengan keluarga Reynand. Apalagi saat Kafka yang terus menempel pada Reynand, membuat Mas Adi mau tidak mau, akhirnya menyerah kalah dan merestui kami. Meski agak ada perdebatan lumayan alot juga sih. Mas Adi tuh, kalau nggak suka sama orang itu susah diluluhin. Nggak suka, ya nggak suka. Tapi luar biasanya, kali ini enggak. Hehe, sepertinya semesta masih sayang padaku, jadi tidak ingin membuat drama kecil-kecilan menuju hari H.


Kalau kalian tanya kapan hari H itu akan tiba, jawabannya tunggu dua bulan lagi. Ya, kemarin memang sekalian di-rembuk untuk acara ijab qobul dan resepsinya. Sempat ada selisih paham waktu membahas acara ijab qobul dan juga resepsi. Keluarga Reynand inginnya acara resepsi dan ijab qobul sehari saja--persis seperti keinginanku sebenarnya, tapi Ibu tidak setuju. Katanya takut aku dan Reynandnya kecapekan. Padahal kalau dipikir-pikir, sekalian yang capek kan? Dari pada hari ini ijab, baru besok yang ijab qobul.


Tapi mengingat aku pernah bilang kalau untuk acara ijab qobul dan resepsi, aku serahkan pada Ibu, ya sudah aku akhirnya mengalah saja. Meski sebenarnya aku sangat-sangat tidak rela kalau boleh jujur.


"Mbak, ini catatan dari costumer baru dan lama."


Sandra menyerahkan buku bindernya, buku yang biasanya ia gunakan untuk mencatat keinginan costumer kami.


Meski agak sedikit malas--efek kelamaan libur--, aku kemudian menerima buku itu dan membuka isinya. Terdapat lumayan banyak catatan, membuatku meringis tak enak. Kalau melihat catatan sebanyak ini, berarti aku sudah lumayan lama ya, pergi ninggalin butik.


Aku melirik ke arah Sandra. "Hehe, dapat banyak pelanggan, ya," cengirku kemudian menutup buku bindernya.


"Iya, lah, pokoknya aku mau banget bonusku banyak. Sesuai yang Mbak Qilla janjiin."


Aku mengangguk. "Iya, nanti aku transfer, ya."


Sandra mengacungkan jempolnya dan duduk di hadapanku. Ekspresinya berubah berbinar antusias, membuatku mengernyit heran. Loh, kemana ekspresi cemberutnya tadi? Kok cepet banget gantinya.


"Gimana acara lamarannya, Mbak?"


Dasar Sandra, si tukang kepo. Pantesan ekspresinya berubah antusias, lha wong ada maunya ternyata.


Aku mengangguk. "Alhamdulillah, lancar, San. Makasih, ya, doanya."


"Terus nikahannya kapan?"


"Dua bulan lagi."


"Cepet banget. Udah ngebet banget, ya," goda Sandra sambil terkikik geli.


Aku mendengkus lalu memukul kepala Sandra menggunakan buku bindernya.


"Enak saja. Niat baik itu harus segera disegerakan. Lebih cepat lebih baik."


"Dih, bisa aja," cibir Sandra, membuatku terkekeh geli.


"Bisa dong. Udah sana kerja! Aku juga mau kerja, nih."


"Mbak Qilla nggak mau aku jelasin dulu?"


"Jelasin apa?"


Telunjuk Sandra kemudian menunjuk ke arah buku bindernya, tanpa mengatakan apapun. Aku membalasnya sambil tersenyum dan menggeleng.


"Costumer sebelum yang ini juga belum pada kepegang, San," kataku sambil membuka buku bindernya dan berkata, "Lagian catatannya lumayan lengkap kok," imbuhku kemudian.


Sekedar informasi, ya, Sandra memang aku percaya untuk menerima costumer. Tapi biasanya, costumer yang agak rewel langsung ke aku dan Sandra hanya menerima yang, yah, nggak mau ribet plus gampang maunya.


Sandra kemudian mengangguk paham dan bangkit berdiri, baru setelahnya ia undur diri.


Aku kemudian berdiri dan berjalan ke meja potongku sambil mengalungkan meteran di leherku. Saat aku hendak bersiap mengeksekusi kain milik costumerku, suara Lina dan Monik tiba-tiba menyapa gendang telingaku dengan suara hebohnya. Oke, ralat, hanya nada suara milik Lina yang heboh, sedang Monik, biasa aja.


"Gila, ya, lamaran nggak undang-undang. Temen macam apa sih lo ini," sembur Lina sambil melempariku menggunakan bantal sofa.


Monik terkekeh sambil menyenderkan badannya di bibir pintu.


Aku menggaruk kepalaku dan berjalan menghampirinya, lalu mencoba memeluk Lina. Namun, dielak olehnya, membuat bibirku manyun tanpa bisa dicegah.


"Ngobrol di sana aja, yuk!" ajakku kemudian.


"Nggak usah, La, kamu kalau mau kerja, kerja aja deh," kata Monik.


"Enggak! Aku butuh penjelasan, Mo," kata Lina lalu menyeret lenganku menuju ruang tengah.


Aku pun hanya bisa pasrah, lalu Monik ikut mengekor di belakang kami.


"Jelasin!"


"Santai dulu lah, Lin, duduk!" kataku saat sambil menyuruh Lina duduk, karena saat ini hanya aku duduk. Sedangkan Lina berdiri di sampingku dengan kedua berkecak pinggang. Monik sendiri, sekarang sudah ikut duduk di sofa dengan wajah kalemnya.


Lina mendengkus tak suka lalu duduk di sofa, meski dengan ekspresi wajah yang tidak terlalu suka. "Jelasin! Kenapa bisa kamu lamaran tanpa ngundang kita, kamu anggap apa kit ini sih, La? Kok tega-teganya kamu giniin kita?"


"Bukan nggak mau ngundang kalian, Lin, masalahnya, acara lamarannya beneran cuma keluarga inti doang. Nggak ada acara gede-gede yang sampai ngundang tetangga atau temen. Beneran cuma keluarga inti aku dan Reynand," kataku menjelaskan.


"Mana ada acara lamaran, nggak ngundang-undang. Kamu jangan coba ngarang cerita, ya!"


Aku menggaruk kepalaku bingung. Tidak menyangka saja kalau ternyata aku akan disidang habis-habisan begini. Huh, tahu begini kemarin aku menurut sama Ibu saja. Biar nggak diamuk Lina dan acara resepsi dan ijab qobul bisa sehari saja. Huh, penyesalan memang selalu datang di akhir, ya.


"Ada, Lin, buktinya lamaranku begitu."


"Enggak bisa dipercaya," sahut Lina tegas.


Aku menghela nafas sambil memijit pelipisku yang mendadak berdenyut. Lalu melirik Monik, bermaksud untuk meminta bantuan.


"Nggak usah dipikirinlah, La, kalau ini emak-emak mau ngambek biarin aja. Perduli amat sih kamu," balas Monik cuek.

__ADS_1


Dan itu jelas membuat Lina makin meradang. Dengan penuh emosi, ia kemudian meraih bantal sofa yang ada di sampingnya, lalu kemudian melemparkannya pada Monik.


"Diem deh lo!" ketus Lina dengan nada suara judesnya.


Monik tidak marah, ekspresinya masih tenang dan kalem, meski begitu ia tetap membalas Lina dengan melemparkan bantal sofa tadi hingga mengenai wajah Lina.


"Lo yang harusnya diem, temen lagi berbahagia kok malah dijudesin. Biar apa itu, hah?"


"Ya, karena temen lagi berbahagia, Mo. Gue juga mau ikut berbahagia atas lamarannya, tapi gimana gue mau berbahagia kalau kenyataannya temen kita nggak mau berbagi kebahagiaan itu. Jelas gue kesellah."


"Iya, iya, sorry, Lin, Mo. Aku bukannya nggak mau berbagi kebahagiaan, tapi memang acara lamarannya itu untuk keluarga inti saja. Nggak ngundang yang lain," kataku menjelaskan sekali lagi.


"Tapi masa gitu?" Lina kembali bertanya dengan ekspresi wajah dan nada suara tak percayanya.


Monik mendengkus bosan, kemudian melirikku. "Telfonin Rey sana, La, biar ini Emak-emak percaya."


"Nah, iya, betul, tuh! Telfon Rey, pake panggilan video tapi, ya. Aku mau lihat calonnya."


Aku sontak langsung berdecak, dan berdiri dari sofa untuk mengambil ponselku yang berada di ruang kerjaku. Setelah itu aku kembali duduk dan mencoba menghubungi Reynand. Beruntung panggilan pertama langsung dijawab olehnya.


"Ya, assalamualaikum, calon istri. Ada apa gerangan nih, jam segini sudah telfon? Kangen atau rindu?"


Aku langsung mendengkus samar saat mendengar kalimat yang Reynand lontarkan. Aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya aku melakukan panggilan video, pasti Lina akan semakin heboh.


"Wa'allaikumussalam. Enggak, enggak ada apa-apa sebenernya. Ini temenku mau ngomong," kataku lalu menjauhkan ponsel dari telingaku, aku kemudian menekam tombol speaker dan mendekatkannya pada Lina.


"Kok cuma suara?" protes Lina dengan suara agak berbisik.


"Ya, halo," sapa Reynand.


"Buruan ngomong dong, Lin. Katanya tadi mau ngomong sama Reynand."


"Mau ngomong apaan gue?" bisik Lina  sambil menggeleng. "kamu aja yang ngomong, aku cukup dengerin."


Aku langsung berdecak tidak setuju dan masih ngotot minta agar Lina bertanya sendiri. Tapi tidak ditolak Lina.


"Tadi siapa yang ngotot?"


"Emm... Sorry, mengganggu obrolannya. Ini jadi ngomong sama aku atau kalian mau ngobrol sendiri sih? Aku bentar lagi mau presentasi nih."


"Enggak jadi, kamu lanjut kerja aja. Maaf, ya, ganggu," sesalku tak enak. Aku kemudian langsung melotot tajam ke arah Lina yang kini malah meringis sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V.


"Yakin? Takutnya temen kamu nanti penasaran, kalau sekarang masih ada waktu kok," balas Reynand.


Aku menoleh ke arah Lina, bermaksud untuk menanyakan apakah dia masih ingin bicara atau tidak. Tapi Mamah muda itu menggeleng tegas.


"Enggak, Rey, kamu lanjut kerja aja deh. Maaf ya, ganggu," kataku kemudian.


"Iya."


"Ya udah, kalau gitu. Enggak ganggu dong, aku malah seneng. Bilangin ke temen kamu makasih, ya."


"Maksudnya?"


"Ya, berkat temen kamu kan aku jadi denger suara kamu."


Astaga! Masih sempet-sempatnya ini lho. Mana loud speaker ponselku masih menyala lagi, kan Lina dan Monik masih bisa mendengar.


"Aku tutup," kataku mengabaikan ucapannya dan langsung mematikan sambungan tanpa membiarkan Reynand membalas.


"Cie cie," goda Lina setelah aku mengakhiri telfonku.


Aku hanya mendengkus lalu meletakkan ponselku di atas meja, dan menyilangkan kedua tanganku di depan dada, lalu menatap Lina sengit


"Udah nggak ngambek?" sindirku kemudian.


Dan direspon Lina dengan tawa renyahnya.


"Gue nggak pendendam kok, jadi, ya udah lah. Lupain aja."


Sekali lagi aku mendengkus, lalu melempari wajah Lina menggunakan bantal sofa.


"Dasar!" decakku kesal.


"Jadi, kapan ijab qobul dan resepsinya?" tanya Lina dengan ekspresi antusias. Bahkan tubuhnya kini sudah agak mencondong ke arahku, dengan kedua mata berbinarnya.


"Dua bulan lagi."


"Gercep, ya," balas Lina sambil terkikik geli. "semoga lancar, ya, beneran jadi suami orang. Nggak ditinggal kawin kayak yang ke--"


BUGH!!


"Pulang sana lo!" usirku snewen. Yang dibalas Lina dan Monik dengan tawa renyahnya.


"Bercanda, La," kekeh Lina.


"Bercandanya nggak lucu, ya. Pulang sana! Aku mau kerja."


Masih dengan tertawa, Lina kemudian mengangguk dan mengajak Monik berdiri.

__ADS_1


"Pulang yuk, Mo, calon penganten butuh kerja bagai khuda. Biaya sewa gedung dan acara resepsi sekarang mahal. Yuk," ajak Lina.


Monik hanya geleng-geleng kepala lalu pamit padaku. "Cabut, ya, kalau udah capek istirahat." Ia kemudian memelukku dan cipika-cipiki sebelum menuruni anak tangga. Sedang Lina sudah ngacir ke lantai bawah.


"Nggak usah dianter," cegah Monik saat menyadari aku mengekor di belakangnya.


Aku mengangguk, mengiyakan. Namun tetap mengikutinya dari belakang.


Setelah selesai mengantar mereka sampai depan, dan memastikan keduanya meninggalkan butikku. Aku kemudian kembali naik ke lantai atas dan memulai aktifitasku. Memotong kain hingga menjadi potongan kebaya yang akan digunakan untuk acara lamaran.


"Mbak, sibuk?"


Aku mengurungkan niatku untuk duduk dan menghampiri Jihan. Biasanya, kalau Jihan yang mencariku, karena memang butuh bantuan.


"Enggak, Han, udah selesai sih, kebetulan. Ada apa?"


"Mau tanya nih, Mbak, ikut turun bentar, yuk!"


Aku kemudian mengangguk, dan mengajak Jihan untuk turun ke bawah.


"Ini lho, Mbak, rendanya mau ditaruh di mana sih? Pinggang aja atau sama kerung leher?" tanya Mbak Husna saat aku dan Jihan sampai di lantai bawah.


Aku kemudian menghampiri patung manekin yang berada sisi kiri Mbak Husna, dan memperhatikan gaun berwarna baby blue yang sedang mereka kerjakan.


"Bukannya sketsa yang saya gambar kemarin di pinggang aja, ya, Mbak?"


"Iya, sih, Mbak, tapi kemarin yang punya ke sini, minta kalau di kerung lehernya dikasih sesuatu gitu, biar enggak polos."


Aku mengangguk paham. "Kasih manik-manik atau payet saja kalau gitu, Mbak. Kalau sama dikasih renda kayaknya terlalu ramai deh." aku kemudian celingukan mencari keberadaan Sandra. "Sandra mana?"


"Keluar, Mbak. Beli kiranti katanya," jawab Jihan.


Aku mengangguk sekali lagi, lalu memegang bagian bawah gaun. "Ya udah, nanti suruh Sandra tanyain lagi ke yang punya."


"Tapi yang punya, kemarin bilang terserah kita," sahut Mbak Husna.


"Ya udah, pasang payet dulu kalau gitu," balasku kemudian.


"Kalau nggak suka?"


"Ya, bongkar dong," kekehku membuat Jihan cemberut.


"Resikonya kan emang begitu, Han. Nggak suka, ya, siap-siap ganti profesi," kata Mbak Husna yang langsung kuangguki dan acungan jempol.


"Tuh, dengerin yang lebih pengalaman, Han. Udah siap ganti profesi?"


"Pengennya, Mbak."


"Eh? Mau ganti profesi apaan emang?"


Dengan senyum sok malu-malu Jihan kemudian menjawab, "Pengen ganti profesi jadi istri orang," kelekarnya kemudian. Lalu kami tertawa setelahnya.


"Udah, ya, aku tinggal naik?"


Jihan dan Mbak Husna mengangguk, lalu mempersilahkanku untuk naik ke atas.


Aku kemudian mengangguk sambil mengacungkan dua jempolku dan naik ke lantai atas. Sesampainya di lantai atas, aku kemudian langsung melemparkan tubuhku di sofa panjang. Setelah lama libur, ya begini, kerja dua jam, rasanya capek luar biasa.


"Mbak!"


Aku kemudian mengangkat wajahku dan menemukan Sandra di sampingku.


"Kenapa?"


"Capek?"


Aku kemudian menyipitkan kedua mataku curiga. Kenapa pake basa-basi segala?


"Kenapa?" tanyaku dengan nada curiga.


"Mau izin?"


"Izin? Kemana?"


"Pulang lebih awal."


"Mau ngapain?" tanyaku curiga.


"Itu... Anu..."


"Iya, pulang aja."


"Eh?"


"Lagi PMS kan? Ya udah, sana pulang," kataku lalu bangkit berdiri menuju dapur.


"Hehe, iya, makasih, Mbak."


Aku mengangguk sambil menuang air ke dalam gelas. "Iya, sama-sama. Perlu dianter?"

__ADS_1


Sandra menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya. Aku hanya mengangguk setelahnya.


Tbc,


__ADS_2