Telat Nikah?

Telat Nikah?
Merasa Dikhianati


__ADS_3

#####


Hari ini aku berencana untuk tidak datang ke butik, karena ingin berkunjung ke rumah Bunda. Semalam Arisha mengirimiku pesan, dia ingin mengajakku dan Mbak Silfi makan rujak di rumah Bunda. Berhubung Arisha sedang hamil, jadi aku mengiyakan saja. Toh, mungkin aku perlu berkunjung ke rumah Bunda tanpa Reynand. Karena kalau boleh jujur, selama kami menikah hampir tiga bulan lebih ini, aku belum pernah ke rumah Bunda tanpa Reynand, berdua saja jarang apa lagi sendiri. Reynand cukup sibuk akhir-akhir ini, sering pulang telat lalu masih lembur di apartemen, kadang-kadang. Membuatku cukup khawatir akan kesehatannya.


"Jadi main ke rumah Bunda?" tanya Reynand sambil memasang seatbelt-nya, tanpa menoleh ke arahku.


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Reynand, lebih memilih untuk menjawab pertanyaannya dulu dan membuka pesan dari Arisha dulu.


"Yang, jadi enggak ini, kok malah mainan hape sih?" decak Reynand sembari menyandarkan punggungnya di kursi kemudinya dan menoleh ke arahku. "Yang, arah rumah Bunda sama butik kamu enggak searah lho, ini aku harus anterin kamu ke mana?"


"Bentar, nunggu balesan Risha, Mas."


"Kamu main ke rumah Bunda yang ajak Risha?" tanya Reynand, yang langsung kujawab dengan anggukan kepala.


"Eh, ini udah dibales. Jadi ke rumah Bunda, tapi mampir ke toko buah dulu, aku di suruh beliin mangga muda dulu soalnya."


Setelah mendengar jawaban kepastian dariku, Reynand langsung menjalankan mobil. "Di belakang rumah kan ada pohon mangga, kenapa beli mangga lagi?" tanyanya heran.


"Di belakang rumah kan mangganya Manalagi, tapi Risha pengennya mangga apel."


"Ngidam?"


Aku mengangkat kedua bahuku secara bersamaan. "Enggak tahu, pas aku tanya sih enggak. Katanya kalau Manalagi enaknya itu kalau udah mateng, kalau yang muda dia nggak suka."


"Terus kenapa kamu yang beliin? Kenapa nggak beli sendiri aja dia-nya atau nyuruh suaminya dong. Kan yang ngehamilin Farhan, kok pas ngidam kamu yang menuhin. Nggak sopan banget dia jadi adik ipar," gerutu Reynand tidak suka.


"Enggak papa, sama adik sendiri kok itung-itungan. Kan Risha lagi hamil, Mas."


"Risha itu dari kecil manja, apa-apa mau-nya dituruti. Tapi meski begitu, kamu nggak harus nurutin kemauan dia dong, sayang."


Aku tersenyum sembari mengangguk. "Enggak papa, Mas. Cuma beli mangga ini, bukan minta dibeliin i-Phone baru yang penting. Udah deh, nggak papa," kataku meyakinkan Reynand.


"Tapi, Risha sekalinya dituruti pasti besok-besok minta lagi. Suka kurang ajar pula permintaannya."


"Ya, selagi permintaannya masih wajar, ya, enggak papa, Mas. Yang penting nggak aneh-aneh."


Reynand langsung berdecak kesal lalu menggerutu, "Jangan terlalu baik deh."


"Kenapa? Nanti diputusin?" kekehku sambil memasukkan ponselku ke dalam tas.


Kali ini Reynand mendengkus sebelum berkata, "Nanti dimanfaatin," dengan nada ketus, "apa lagi sama Risha baiknya. Jangan deh! Bahaya."


"Astagfirullah! Jahat banget sih kamu, gitu-gitu adek kamu loh, Mas. Lagian, kalau bukan karena Risha, kamu mana bisa ketemu aku?"


"Iya, iya, dia cukup berjasa dalam hubungan kita. Puas?"


Aku menggeleng. "Enggak, biasa aja sih." kemudian terkekeh geli, saat mendengar dengkusan samar dari Reynand.


"Ini jadi beli mangga dulu?" tanya Reynand sambil menoleh ke arahku.


Aku mengangguk sebagai tanda jawaban. Lalu Reynand mulai menepikan mobilnya saat di depan toko buah.


"Kamu mau buah juga nggak?" tanyaku sebelum turun dari mobil.


Tanpa ragu, Reynand langsung menggeleng sebagai tanda jawaban. Aku mengangguk paham, dan langsung turun dari mobil. Menghampiri si Bapak-bapak penjual toko buah.


"Cari apa, Mbak?"


"Cari mangga muda, Pak."


"Waduh, ngidam, Mbak? Kebetulan kita nggak jual mangga muda, tuh, ada yang yang sudah matang semua. Coba cari di toko lain. Mohon maaf, Mbak."


Aku tersenyum canggung lalu mengangguk paham. "Ya sudah, kalau begitu permisi, ya Pak. Mari, Pak!" pamitku lalu kembali masuk ke dalam mobil.


"Iya, Mbak. Monggo-monggo!"


"Loh, mana?" tanya Reynand keheranan, saat mendapati aku tidak membawa apa pun begitu masuk ke dalam mobil.


"Enggak ada. Bapak-bapaknya nggak jual, cari di toko lain aja, ya."


Mendengar jawabanku, Reynand langsung mendengkus dan menggeleng tidak setuju. "Enggak usah, aku udah telat. Beli buah mangganya biar Risha sendiri, atau suruh Farhan," tolak Reynand.


"Ya udah, nanti kamu turunin aku di toko buah yang ada di depan. Terus kamu bisa langsung berangkat kerja, nanti aku ke rumah Bunda naik ojek aja."


Reynand melirikku tajam. "Maksudnya apa itu?" tanyanya tersinggung.


Aku menghela nafas panjang dan menatapnya lebih lembut. "Biar sama-sama enak maksud aku, Mas. Kamu nggak terlambat kerja, aku bisa beliin mangga buat Risha, terus Risha nggak kecewa. Begitu maksud aku."


"Tapi aku nggak suka, itu bukan tanggung jawab kamu lho. Itu anak Risha sama Farhan, kenapa kita yang repot?" protes Reynand.

__ADS_1


"Anak Risha dan Farhan juga ponakan kita, Mas. Ingat!"


"Tahu lah," balas Reynand jutek.


Setelahnya ia lebih banyak diam, bahkan melirikku pun enggan.


"Kalau mau langsung berangkat nggak papa, aku bisa naik ojek. Itu di depan ada pangkalan ojek," kataku sambil melepas seatbelt-ku.


Reynand tidak berkata apa-apa, hanya melirikku tajam dan kembali membuang mukanya ke luar jendela. Terlihat sekali kalau ia sedang ngambek.


Aku menghela nafas sekali lagi dan berkata, "Ya udah, aku turun bentar, nggak akan lama," kataku kemudian.


Reynand kali ini menjawab, meski hanya berupa deheman pelan.


Aku langsung turun dan menghampiri penjualnya. "Permisi, Bu!" kataku menyapa si Ibu-ibu penjual buahnya.


"Iya, Mbak, mau cari apa?" tanya si Ibu-ibu dengan logat Jawa-nya yang ketara.


"Ada mangga muda, Bu?"


"Ada, Mbak. Mau berapa kilo?"


"Yang mangga apel ada, Bu?"


"Ada, tapi agak kemampuh ki, Mbak? Ndak apa-apa? Kalau mau tak ambilkan."


Aku berpikir sejenak, lalu melirik ke arah mobil. Kalau tidak aku iya kan, nanti makin lama cari mangganya. Tapi, kalau tidak aku iyakan, nanti ribet pasti. Reynand bisa-bisa mengamuk.


"Ya udah, nggak papa, Bu. Dari pada nggak dapet."


Si Ibu mengangguk sambil tersenyum senang. "Mau berapa kilo, Mbak?"


"Sekilo saja, Bu. Cuma buat campuran rujak."


"Ngidam?" tebak si Ibu sambil memasukkan beberapa buah mangga apel ke dalam timbangan.


"Iya, kayaknya, Bu--"


"Oh, sudah berapa bulan?"


"Adik ipar saya yang hamil, Bu."


Si Ibu ber'oh'ria sambil mengangguk. "Sama apa lagi, timunnya nggak sekalian? Atau bengkuangnya mungkin?"


"10.000 saja, buat penglaris."


Aku mengangguk lalu mengeluarkan dompetku dari dalam tas, lalu menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.


"Enggak ada pas saja, Mbak?"


Aku menggeleng. "Tidak ada, Bu. Adanya yang paling kecil itu."


Iya lah, yang paling kecil itu. Lha wong uang tunai yang kupegang ya, cuma lima puluh ribu. Hehe, kemarin lupa belum narik uang ke atm.


"Sebentar, tak cari ke belakang dulu."


Aku mengangguk tidak masalah lalu mempersilahkan si Ibu masuk ke dalam. Tak lama setelahnya si Ibu kembali.


"Enggak ada ki, Mbak, adanya 35.000, piye?"


"Ya sudah, dikasih timun saja, Bu, kalau begitu."


"Enggak papa, Mbak?" tanya si Ibu tidak yakin.


Mau tidak mau, aku akhirnya mengangguk untuk meyakinkan si Ibu. "Enggak papa, Bu."


"Tenang, Mbak, tak imbuhi iki."


Aku mengangguk sekali lagi. " Iya, terima kasih, Bu," kataku sambil menerima plastik yang berisi mangga dan timun, "mari, Bu!" imbuhku berpamitan dan langsung masuk ke mobil.


Reynand diam saja saat aku masuk, bahkan tanpa menoleh ke arahku, ia langsung melajukan mobilnya begitu saja.


"Marah?" tanyaku membuka obrolan.


"Enggak," jawab Reynand singkat.


"Ngambek?"


"Enggak. Kesel aja sama sifat kamu."

__ADS_1


Setelahnya, aku hanya diam. Tak menjawab atau meresponnya, bahkan aku lebih memilih memalingkan wajahku ke luar jendela setelahnya.


"Sekarang kamu yang ngambek?"


Aku kemudian langsung menoleh ke arah Reynand dan menatapnya datar. "Enggak. Cuma kesel aja sama sifat kamu," kataku menirukan kalimat yang sempat Reynand ucapkan tadi.


####


"Nanti pulangnya nunggu aku jemput aja," pesan Reynand saat aku hendak melepas seatbelt-ku.


Saat seatbelt-ku sukses terlepas, aku langsung menoleh ke arah Reynand. "Lihat nanti, kalau ada tebengan. Nebeng aja, cuma kalau enggak, ya, aku tungguin kamu," ucapku berniat langsung turun, namun dicegah Reynand.


"Kan, kan, kan, lupa lagi," decak Reynand, membuatku mengurungkan niat untuk segera turun dan akhirnya berbalik menatap Reynand dan mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum, aku turun dulu. Kamu hati-hati nyetirnya," pesanku.


Reynand mangguk-mangguk, lalu mencium keningku dan membiarkan aku turun.


#####


"Kok bawa timun segala, Mbak? Aku udah belu loh," respon Arisha saat aku meletakkan plastik berisi mangga apel dan timun.


"Iya, soalnya tadi nggak ada kembalian. Ya udah, aku suruh ngasih timun."


Arisha mengangguk paham, lalu menyuruhku untuk duduk.


"Bunda ke mana?" tanyaku sambil celingukan mencari keberadaan Bunda. Tumben-tumbenan rumah terlihat sepi.


"Arisan," jawab Arisha singkat.


"Kamu apa kabar, sehat? Masih suka ngelamin morning sick nggak?"


"Aku nggak ngalamin morning sick, alhamdulillah, Mbak. Ya, hampir kayak nggak hamil gitu, paling cuma jadi gampang laper sama gampang capek aja. Lainnya normal."


"Oh, alhamdulillah, ya. Tapi masih kuat jaga toko atau enggak?"


"Masih sih, cuma nggak boleh sama Farhan, dia itu orangnya agak lebay, Mbak. Terus pas tahu aku hamil, tambah lebay deh. Kadang aku gemes sendiri lihatnya, kayak pengen ngelakban mulutnya yang cerewet abis, kalau pas lagi ngelarang-ngelarang. Hih, untung aku sayang, coba kalau enggak."


Mendengar curhatan Arisha, aku langsung tertawa. Bohong kalau aku tidak iri dengan kehamilan adik iparku ini, tapi sebisa mungkin aku memaksakan senyumku. Toh, aku dan Reynand sepakat untuk menikmati waktu berdua tanpa harus terburu-buru untuk segera memiliki anak.


"Ohya, Mbak, aku penasaran. Gimana kelanjutan khasus penipuan yang dialami Mas Rey, uangnya masih bisa balikkan?" tanya Arisha tiba-tiba.


Aku seketika terdiam dan menatapnya bingung. Kasus penipuan yang dialami Rey? Memangnya apa yang terjadi, kenapa aku sebagai istri malah tidak tahu.


"Maksudnya apa, Ris?"


"Yang itu loh, Mbak, yang Mas Rey pengen beli ruko dua lantai buat dijadiin kantornya, tapi ternyata malah ditipu temennya sendiri. Kan, aku padahal udah bilangin tuh, Mbak, ke orangnya. Nggak usah pindah, mending ngantor di tempatku itu, nggak usah bayar, asal aku juga nggak perlu ngelunasin utang. Eh, dianya enggak mau. Kan, kalau udah kena tipu begini, yang susahkan nggak cuma diri sendiri. Emang suka nggak pake otak Mas Rey kalau ambil keputusan."


"Kok aku nggak tahu ya, Ris."


"Hah? Maksudnya enggak tahu?"


"Mas-mu nggak pernah cerita apa pun ke aku."


Sungguh, rasanya sangat mengecewakan. Kenapa hal sepenting ini, aku tidak diberitahu. Aku dianggap apa selama ini, ya Tuhan. Kenapa Reynand tega menyembunyikan fakta sepenting ini. Apa setidak penting itukah aku di dalam hidupnya. Lalu kalau aku tidak penting, kenapa dia memintaku untuk menikah dengannya.


Tanpa aku sadari, air mataku jatuh. Aku menangis kecewa, lalu dengan sigapnya Arisha mengelus pundakku dan memberikan beberapa semangat, namun tidak terlalu kupedulikan, karena hatiku terlanjur kecewa.


"Kenapa Mas Rey nggak cerita apa pun ke aku ya, Ris, apa seenggak penting itu aku di dalam hidupnya?"


"Enggak gitu dong, Mbak. Mungkin Mas Rey belum cerita aja." Arisha kembali mengelus pundakku untuk menenangkanku.


"Tapi bahkan untuk masalah beli ruko pun, dia nggak cerita sama aku, Ris."


Mendengar jawabanku, Arisha langsung melepaskan pelukannya dan menggaruk-garuk kepalanya bingung.


"Maaf, Ris, aku boleh batalin acara rujakan kita? Aku--"


"Iya, Mbak, enggak papa. Maaf, ya, Mbak, gara-gara aku. Ah... harusnya tadi aku nggak kepo."


"Enggak, justru aku mau ngucapin makasih. Coba kalau kamu nggak bilang, aku nggak akan tahu tentang masalah ini."


Arisha meringis. "Ya, enggak gitu juga, Mbak. Kali aja, Mbak Qilla tahu langsung dari Mas Rey," ucapnya ragu-ragu.


Aku sudah tidak peduli. Intinya, aku kecewa. Aku merasa dikhianati suamiku sendiri. Lalu tanpa banyak berkata, aku langsung pamit pulang setelah tadi sempat memesan ojek online.


**Tbc,


part-part gaje akan terus hadir, ya. jangan kapok bacanya. mon maap, kmarin gk up, karena.... males 😆😝 abis kayaknya peminat or pembaca ini cerita minim yak. jadi, aku tuh, suka mendadak males. klo bkn karena target aku untuk segera menyelesaikan ini cerita, aku pasti milih buat gk up. serius. cuma berhubung ini cerita perlu segera diselesaikan, ya udah, agak aku paksa gitu deh. kalian tahu gk, kalo respon komen itu biasa sangat bagus utk mood nulis saya? hehe, gk tahu dan gk mau tahu, ya? ya udah, gpp. meski tanpa kalian komen, ini tetep akan dilanjut, iya, bener. meski agak kecewa sih, karena kalian gk kasih respon. cuma ya, gpp, yg masih nunggu, mksh ya. yg udah pindah ke lain hati, mksh jg karena sempet khilaf baca ceritaku. heheheheheehehehehe

__ADS_1


see you next part 🤗😘


tetep tungguin dong, plis**!!!!


__ADS_2