Telat Nikah?

Telat Nikah?
(Masih) Mencoba Belajar Menerima Kenyataan


__ADS_3

#####


Hari ini aku dijadwalkan untuk tindakan kurete. Meski sudah menyiapkan diri dari kemarin, rasa gugup itu masih tetap ada. Semuanya sudah berkumpul di ruang rawat inapku, mulai dari Ibu, Bapak, Bunda, Ayah, dan beberapa suadara iparku. Reynand sendiri begitu setia berada di sampingku, meski sudah ada Ibu yang seakan tidak ingin berada jauh dariku.


"Deg-degan?"


Reynand berbisik, sambil menggenggam telapak tangan kiriku yang bebas dari infus. Sambil tersenyum masam, aku mengangguk.


"Padahal udah nyiapin mental dari kemarin, tapi tetap aja, rasanya masih deg-degan."


"Enggak papa, aku temenin kok. Aku akan terus di samping kamu, sebelum kamu masuk ruang operasi."


Aku berusaha memaksakan senyumanku, lalu mengangguk sekali lagi. Tak lama setelahnya, seorang perawat dan dokter muda masuk ke dalam ruanganku.


"Selamat pagi, Nyonya Aqilla!" sapa si dokter berperawakan tidak tinggi, namun putih ini. Ia tersenyum cerah ke arahku, sebelum tadi sempat menyapa beberapa keluargaku. Kedua tangannya berada di saku snelli-nya, lalu dikeluarkan satu untuk mengecek selang infusku. "Sudah siap untuk proses kuretenya?"


Meski dengan senyum canggung, aku mengangguk. Antara siap dan memaksakan diri untuk siap.


Dokter muda itu kembali memasukkan tangannya ke dalam saku snelli-nya sambil mengangguk, kemudian berkata, "Tegang, ya?"


"Sedikit," ringisku malu-malu.


Dokter muda itu mengangguk maklum. "Enggak papa, proses kurete tidak akan memakan waktu lama kok. Hanya lima belas menit, juga tidak akan terasa karena akan dianastesi. Jadi, tidak perlu tegang. Insha Allah semua aman dan baik-baik saja, karena dokter yang melakukan sudah profesional di bidangnya."


"Dokternya pria atau wanita?" tanya Reynand tiba-tiba.


Suasana mendadak senyap. Semua orang langsung menatap Reynand. Dokter muda itu tersenyum canggung dan berkata, "Yang ambil tindakan sih perempuan, Bapak."


"Alhamdulillah."


"Tapi saya tetap akan ada di sana," sambung Dokter muda itu dengan ekspresi tak enaknya.


"Kenapa begitu?"


"Karena saya harus ada di sana dan memperhatikan proses kurete itu sendiri."


"Apa?!" seru Reynand tidak terima, "memang seberap hebatnya anda, sampai harus di sana dan memerhatikan?"


"Kalau saya sudah hebat, saya jelas tidak akan di sana dan memperhatikan proses kurete, Bapak."


"Jadi, anda ini dokter magang?"


"Waduh, bukan, Bapak. Saya dokter co-as, atau bisa dibilang dokter muda."


Aku kemudian tersenyum tidak enak kepada dokter muda itu lalu menoleh ke arah Reynand.


"Mas, apa-apaan sih? Udah dong." Aku kembali menoleh ke dokter muda tadi dan berkata, "maafkan suami saya, dok."


"Hehe, tidak apa-apa, Bu. Langsung ke ruang OK, ya. Eh, maaf, ruang operasi maksudnya."


"Iya."


Lalu aku didorong menuju ruang operasi. Selama perjalanan menuju ruang operasi, Reynand masih setia mengenggam tangan kiriku. Baru saat aku tiba tepat di depan pintu ruang operasi Reynand mulai mengendurkannya.


"I love you," bisik Reynand sambil mencium keningku. "aku temeninnya dari luar, ya. Makasih karena sudah tegar dan tidak menangis."


Aku mengangguk lalu mencium punggung tangan Reynand. "Doain semua lancar, ya."


"Semoga semua lancar, sayang," bisik Ibu lalu mencium keningku.


Aku mengangguk, sebagai tanda jawaban.


"Bunda dan yang lain bantu doa, sayang. Cepet sehat dan pulih, ya."


Aku mengangguk. "Makasih, Bun."


"Sudah siap?"


Aku mengangguk, lalu brankarku didorong masuk ke ruang operasi, yang ternyata terasa dingin ini. Aku menghela nafas panjang, untuk menenangkan diri.


"Selamat pagi menjelang siang, Ibu Aqilla. Perkenalkan, saya dokter Hito, dokter anestesi yang akan menganastesi Ibu, supaya tidak merasakan sakit selama proses kuret. Saya masih single loh."


"Dokter Hito ini lho, masih aja godain istri orang. Langsung lakukan prosedur dok, jangan modus aja, nanti dilaporin baru tahu rasa."


Aku tersenyum mendengar candaan mereka. Sejenak aku lupa, kalau tujuanku di sini untuk dikuret. Bukannya malah menyaksikan dua dokter beda usia ini debat.


Dokter Hito berdecak jengkel. "Kamu ini lho, Dek co-as, jangan ngerecokin senior kalau mau usaha kenapa. Nanti, kalau kamu ada di stase anastesi dan saya yang harus jadi pembimbing kamu, saya buat kamu nggak aman, ya. Saya suruh mengulang satu stase penuh, meski nilai ujian kamu memuaskan."


"Dokter Hito serem," balas si dokter muda tadi, yang sampai saat ini belum kuketahui siapa namanya. Mau mengintip ke tanda pengenalnya, tidak kelihatan, karena tanda pengenalnya terbalik. Ck. Padahal aku penasaran siapa nama dokter muda tampan ini.


Dokter Hito mangguk-mangguk sambil mengacungkan jempolnya. "Betul itu, makanya jangan macem-macem kamu sama saya. Meski kamu ini ganteng. Ngerti?"


"Ngerti, dok!"


"Good." Dokter Hito kemudian mendekat ke arahku sambil membawa jarum suntik. "Ibu Aqilla, ini anastesi umum, ya, jadi nanti Ibu benar-benar akan kehilangan kesadaran penuh. Beda dengan anastesi spinal yang hanya setengah badan atau anastesi lokal yang masih bisa merasakan kebas pada bagian *** , ya."


Aku mengangguk sebagai tanda jawaban. Meski pada kenyataannya, aku tidak benar-benar paham dengan apa yang dijelaskan dokter Hito.


"Saya suntikkan, ya, Bu."


Aku mulai merasakan sedikit ngilu di bagian tanganku yang diinfus.


"Hitung sampai sepuluh, abis itu Ibu bisa tidur!"

__ADS_1


Aku menatap dokter Hito ragu. Tak lama setelahnya, aku tetap berhitung, meski aku yakin, kalau aku belum selesai berhitung tapi sudah tidak ingat apa-apa. Lalu tahu-tahu aku sudah berada di ruang rawat inapku.


"Alhamdulillah, makasih sayang," bisik Reynand sambil menciumi punggung tanganku, lalu ia mencium keningku.


Aku melihat ke sekelilingku. Ternyata ramai, bahkan samar-samar aku mendengar suara Monik dan juga Lina.


"Nggak papa, nggak usah dipaksain. Kata dokternya, kamu dianastesi umum jadi, efeknya agak lama."


"Haus, Mas," lirihku pelan.


"Eh, emang kamu udah kentut?"


Aku menggeleng lemah. "Tapi aku kan nggak abis operasi usus buntu, Mas."


"Eh, beda?"


"Enggak tahu juga." Aku kembali menggelengkan kepala.


"Bu, ini Qillanya haus, boleh aku kasih minum?"


Samar-samar aku mendengar suara Reynand bertanya pada Ibu, tak lama setelahnya, sebuah sedotan sudah menempel pada bibirku.


"Minum dulu, sayang."


Aku mengangguk, lalu menyesap air mineral melalui sedotan setengah sadar.


######


Hari-hari sudah kembali normal setelah selesai keluar dari rumah sakit, meski minggu depan aku tetap harus kontrol. Bapak dan Ibu sudah kembali ke Semarang, Reynand sudah kembali sibuk bekerja, meski ia lebih sering bekerja di rumah untuk sementara waktu. Ia hanya ke kantor kalau ada hal mendesak atau harus bertemu klien. Bahkan kalau harus rapat dengan timnya, Reynand lebih memilih untuk melakukan Skype, dari pada datang langsung ke kantor, asalannya sederhana. Agar ia lebih leluasa memantau kegiatanku. Terasa sedikit terterkan sih di awal, karena Reynand benar-benar berubah super cerewet saat aku keluar dari rumah sakit. Banyak hal yang ia larang, aku bahkan benar-benar harus lepas tanggung jawab dari butik.


"Mas, aku bosen," keluhku pada Reynand, yang masih sibuk dengan dunianya.


"Bosen gimana? Kamu bosen gitu tiap hari ketemu aku?"


Reynand bersuara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.


"Kata dokternya aku boleh aktifitas normal, Mas."


"Tapi nggak boleh aktivitas berat," kata Reynand mengimbuhi.


Aku mengangguk, membenarkannya.


"Aku nggak mau beraktivas berat, cuma--"


"Apa?" sela Reynand memotong ucapanku.


"Iiih, kok kamu gitu sih?" protesku tidak terima.


"Udah deh, yang, coba kamu cari kegiatan. Nonton youtube kek, apa nonton ftv. Youtube aja deh, banyak pilihannya."


"Biar apa?"


"Main hape aja, udah."


Aku berdecak kesal lalu meletakkan ponsel Reynand di atas meja.


"Tahu lah, aku mau tidur."


"Ngambek?"


"Iya," ketusku lalu pergi meninggalkan Reynand.


Aku kemudian masuk ke dalam kamar dan membanting tubuhku di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar dan berpikir keras. Apa yang harus kulakukan untuk membunuh rasa jenuh ini? Aku benar-benar sudah tidak tahan. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otakku. Sudah lama aku tidak menggambar. Sambil tersenyum puas, aku kemudian turun dari ranjang dan mengacak-acak laci meja. Bukannya menemukan buku gambar atau pun pensil, aku justru malah menemukan hasil testpackku beberapa waktu yang lalu. Kedua mataku mendadak langsung memanas, rasanya semenyakitkan ini ya.


Aku pikir, aku sudah benar-benar ikhlas. Benar-benar rela kalau aku gagal hamil. Tapi ternyata aku salah, salah besar. Karena nyatanya aku masih selemah ini.


Sambil menahan isakanku, agar tidak sampai terdengar ke ruang tengah, aku membekap mulutku sendiri sambil memeluk hasil testpackku.


Cklek!


Aku terlonjak kaget dan menoleh ke arah pintu dengan reflek. Reynand tampak terkejut melihatku yang berjongkok dengan kedua mata sembab. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menghampiri dan memelukku erat.


"Astagfirullah, kamu kenapa sayang?" tanya Reynand panik, "maaf, maaf, aku nggak bermaksud bikin kamu nangis begini. Tadi aku cuma..."


Aku menggeleng lalu menunjukkan hasil testpackku dulu, yang sempat aku temukan. Reynand tampak terkejut, lalu memelukku sekali lagi. Ia menghujami puncuk rambutku dengan beberapa ciuman.


"Tadinya aku mau cari buku atau kertas gitu buat gambar biar aku nggak bosen. Tapi aku malah nemu ini." Aku membenamkan wajahku ke dada Reynand, "aku pikir aku sudah benar-benar ikhlas, Mas. Tapi ternyata aku salah. Rasanya masih berat, Mas. Kenapa rasanya seberat ini."


"Ssst, nggak papa. Semua itu perlu proses, sayang. Dan setiap proses itu membutuhkan waktu."


Reynand mengelus rambutku, untuk menenangkanku.


"Tapi, ini berat, Mas."


"Hei, dengerin aku!"


Reynand mengurai pelukannya, lalu memegang kedua pipiku. Menyuruhku agar menatap wajahnya.


"Segala sesuatu kalau dibagi itu rasanya tidak akan sesulit itu, sayang. Kamu nggak sendiri. Ada aku, aku nggak ke mana-mana. Aku akan selalu di samping kamu, nemenin kamu. Mengikhlaskan sesuatu itu mungkin tidak lah gampang, tapi asal kita mau mencoba dan terus berusaha, kita pasti bisa. Ikhlas itu seperti surat Al' ikhlas, sayang, yang nggak ada kalimat ikhlas di setiap ayatnya. Oke?"


Mau tidak mau, aku akhirnya mengangguk setuju. Reynand dengan sigap langsung mengusap kedua pipiku secara bergantian, untuk menghapus sisa air mataku.


"Aku nggak akan ngelarang kamu nangis, sayang. Nggak akan pernah! Aku izinin itu, tapi, sesekali aja, ya. Jangan sering-sering. Nanti cuciannya banyak, gara-gara aku harus ganti terus, karena kaosku yang basah."

__ADS_1


Aku mengernyit dan menatapnya tersinggung.


"Jahat kamu," rajukku sambil memukul dadanya.


"Tapi sayang kan?"


"Enggak!" ketusku judes.


"Yakin?"


"Enggak!"


"Masa?"


"Enggak, ya, enggak, Mas," jeritku emosi.


Bukannya bersalah, atau bagaimana, Reynand malah terbahak dan memelukku erat, lalu mencium pelipisku.


"I love you 4500."


Aku langsung terbahak. "Banyak amat," komentarku kemudian.


"Iya, dong. Kan cintaku emang sebanyak itu, sayang."


"Iya, deh," balasku sekenanya.


Membuat Reynand langsung berdecak tidak terima. "Masa cuma iya aja sih?" protesnya kemudian.


"Emang mau apa lagi?"


"Ya, dibales dong," decak Reynand kesal.


"Tapi aku nggak suka bales perbuatan orang, Mas. Biar Gusti Allah nanti yang bales," candaku sambil menyengir polos.


"Tahu ah, aku ngambek loh."


"Ngambek aja," balasku pura-pura tidak perduli.


"Oh, begitu."


Reynand kemudian bersiap untuk berdiri, namun kutahan.


"I love you 5000 to my husband. Terima kasih sudah hadir dan mencintai aku, jangan kebanyakan ngambek, ya, nanti cepet tua."


"Curang!" balas Reynand dengan wajah pura-pura kesalnya.


Aku mengernyit heran. "Curang gimana?"


"Ya, curang, kamu kalau ngerayu langsung bikin aku luluh. Sedang kalau aku yang ngerayu, susahnya minta ampun."


"Oh, itu berarti karena kamu yang kurang pinter ngerayunya, sayang."


Reynand mangguk-mangguk. "Aku kasih tahu satu rahasia deh."


"Apaan?"


"Aku lebih suka dipanggil sayang, ketimbang Mas, lho."


Aku diam. Reynand ikut diam. Lalu di detik berikutnya, kami tertawa.


*******



❤ 951 likes 🗨 456 comment


Rey_Reynand Terima kasih karena sudah menepati janji, untuk tidak menangis hari itu. I know you're so unbelievable, thanks to my wife. I love you 4500 😘😘😘😘 #*lastpost


All view comment


Arisha_Risha Mbak @Aqilla_Khanza Sehat-sehat, ya❤🤗


Silfiana tetep semangat buat kalian berdua 😚😚


Arifin_Putra Sehat-sehat buat adik ipar


Rey_Reynand buat gue enggak Mas @Arifin_Putra


Monik_Ah Sehat-sehat sayangku @Aqilla_Khanza 🤗❤😘😚😘😍 tetap semangat buat kalian berdua


Lisa_Mona kita semua tahu kamu memang seluar biasa itu @Aqilla_Khanza sehat-sehat, ya 😚😚🤗😍😘


Kenzo_Alvaro tetap semangat buat kalian berdua, jangan patah semangat 👍 nanti kalo sudah rejekinya, insha Allah dikasih


Rey_Reynand thanks bro @Kenzo_Alvaro


End??????


😆😆😆😆😆 enggak-enggak, masih ada satu part lagi kok. ya, moga beneran cuma satu part sih, gk lebih. karena saya mau segera bebas dari cerita ini yg hampir saya kerjakan selama setahun penuh.


buset, lama amat, thor.


ya, namanya juga nulisnya nyicil. jadi ya, gitu deh. lama prosesnya. saya tuh kadang suka iri sama yg bisa nulis cpet gitu. saya buat nentuin konsep ini aja hampir dua bulan lamanya, blom yg Adore You! setengah tahun. hehe, saya tipekal suka yg bikin konsep didiamkan sejenak baru dikerjakan lagi, begitu sih. hehe, udh kli, ya, moga2 masih pada betah nungguin sampai part terakhir nanti. aminnnn.

__ADS_1


see you next part, semoga bisa di up secepatnya 🤗😍😙😗😘😘😘😘😘


__ADS_2