Telat Nikah?

Telat Nikah?
Belum Tentu


__ADS_3

#####


"Gimana? Beneran telat?"


Aku melirik Reynand ragu lalu menggaruk-garuk pelipisku. Menurut catatan tanggal kalenderku, memang harusnya aku menstruasi seminggu yang lalu. Tapi, terkadang kalau sedang capek-capeknya siklus menstruasiku suka telat, dan berhubung akhir-akhir ini aku mudah lelah, bisa jadi ini menjadi salah satu penyebab kenapa aku belum menstruasi. Jadi, aku tidak bisa dengan mudah menyimpulkan kalau aku sedang hamil, takutnya nanti kita sama-sama kecewa kalau seandainya aku tidak benar-benar hamil.


"Yang, jangan bikin tambah penasaran dong. Beneran telat apa belum waktunya?"


Aku menggaruk bagian belakang kepalaku lalu berkata, "Harusnya seminggu yang lalu udah dapet sih--"


"Jadi, beneran udah jadi? Kamu hamil?!" seru Reynand heboh.


Aku langsung berdecak. "Belum tentu dong, Mas. Akhir-akhir ini aku lumayan capek, biasanya kalau kecapekan aku suka telat, nah bisa jadi ini aku telatnya karena kecapekan itu belum tentu karena hamil," kataku menjelaskan.


Rasanya memandangku serius. "Tapi, gimana kalau bukan karena kecapekan, dan justru karena kamu hamil beneran?"


"Mas, aku bilang be--"


"Yang, kan kamu bilang belum tentu hamil, tapi belum ada kepastian juga kan kalau kamu telatnya karena kecapekan? Nah, untuk memastikannya mending kita tes."


"Kalau hasilnya negatif?"


"Ya, nggak papa, kita berusaha lagi. Yang penting kan kita tahu kepastiannya, sayang. Enggak cuma menerka-nerka doang. Aku beliin test pack, ya?"


Aku diam, tak langsung menjawabnya. Berpikir sejenak. Apa yang diucapkan Reynand benar sih, memang, tapi perasaan takut itu lebih mendominasi perasaanku saat ini. Sebut aku pecundang, tapi, rasanya aku benar-benar belum siap jika harus menelan kekecewaan.


"Yang, aku beliin, ya? Kita coba cek?"


"Jangan dulu deh, Mas, baru telat seminggu loh, aku takut hasilnya negatif, ah," kataku menolak.


Reynand mendesah. "Yakin? Kamu emang nggak penasaran?"


"Penasaran sih, cuma aku... aku belum siap, Mas."


Mau tidak mau akhirnya, Reynand mengangguk maklum. Ia kemudian menggeser tubuhnya mendekat ke arahku, lalu mengelus pundakku.


"Ya, udah, kalau emang belum siap, nggak papa. Nggak usah dipaksain, nanti kita tes minggu depan kamu belum dapet, ya?"


Kali ini aku mengangguk setuju lalu berkata, "Makasih, ya, atas pengertiannya. Aku janji, nanti kalau belum dapet-dapet juga, kita tes. Oke?"


"Iya," balas Reynand sambil mencium puncuk rambutku, "udah, nggak usah terlalu dipikirin," imbuhnya kemudian.


Aku mengangguk sekali lagi, sebagai tanda jawaban.


"Aku balik ke kantor, ya?"


Bibirku maju beberapa senti lalu melirik meja yang berantakan. "Enggak mau bantu beresin?"


"Eh, tumben? Ya udah, kalau kamu males beresin, aku bantu beresin."


Dengan gerakan sigap, Reynand langsung berdiri dan membuang bungkus kertas minyak bekas nasi Padang kami.


"Makasih, sayang, sendok sama gelasnya nanti aku yang cuci," kataku saat Reynand mulai membereskan bekas sendok dan gelas kami.


Reynand tersenyum lalu mengangguk. Namun, ia tidak benar-benar menuruti perintahku, ia tetap mencuci piring bekas makan kami


"Nanti aja aku yang cuci, Mas," kataku sedikit menegok ke belakang.


"Enggak papa, tadi katanya kamu kecapekan. Jadi, yang ini biar aku aja yang ngerjain."


"Terserah kamu deh," kataku pada akhirnya.


Aku tidak tahu apa respon Reynand setelahnya, karena aku sudah memfokuskan pandanganku pada layar televisi yang menayangkan acara gosip.


"Butuh cemilan?" tanya Reynand sambil berjalan menghampiriku, aku menengok ke arahnya dan menggeleng, lalu kembali menyandarkan kepalaku pada punggung sofa, kemudian aku menunjuk ke arah meja. "Itu rujak yang kamu bawa masih, nanti kalau butuh ngunyah, kan tinggal ngunyah itu."


"Tapi itu kan asem pedes gitu, yang, lagian tadi kamu udah makan itu juga. Nanti kalau banyak-banyak perut kamu bisa sakit lho, kan perut kamu itu nggak tahan begituan."


Reynand kemudian duduk di bahu sofa dan mengelus rambutku. "Mau aku pesenin cake atau roti dari toko Risha?" tawarnya kemudian.


"Enggak, masih kenyang aku. Sana balik ke kantor kamu deh, aku mau tidur," usirku sambil menyingkirkan tangan Reynand yang tadinya menempel di pucuk rambutku.


"Loh, kok tidur? Enggak kerja?"


Aku menggeleng. "Ngantuk."


"Mau anter pulang aja gimana?"


"Enggak usah," tolakku sambil menggeleng.


"Kan kalau di rumah enak, yang, ada kasur. Dari pada tidur di sofa begini."


"Kalau cuma masalah kasur, itu di kamarku juga ada kasur, Mas. Masih lengkap semua loh, ngapain pulang?"


"Oh, iya, aku lupa. Kan dulu ini tempat tinggal kamu, ya."


"Udah tua sih, makanya lupa," sindirku bercanda.


"Dih, kayak kamu masih muda aja," balas Reynand tak mau kalah.


Aku kemudian menatapnya. "Seenggaknya, kalau dibandingin sama kamu, tuaan kamu sih."


"Ck. Iya, lah, kalau tuaan kamu, mana mau kamu sama aku."


"Eh, kenapa gitu?"


"Karena kamu nggak suka brondong," kata Reynand cuek sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan dan mengusap rambutku sekali lagi dan berkata, "Aku langsung balik ke kantor, ya?"


"Hmm, hati-hati! Aku nggak usah nganter sampai depan, ya? Ngantuk banget deh rasanya." Aku berguman dengan kedua mata terpejam.


"Iya, kamu langsung tidur aja. Aku berani sendiri kok. Assalamualaikum!"


"Hmmm, Wa'allaikumussalam."


#######


"Sayang!"


Aku samar-samar mendengar suara Reynand. Lalu menggeliat saat merasakan tepukan pelan di pundakku.


"Yang, udah salat Ashar?" tanya Reynand.


Aku membuka kedua mataku, lalu kembali menggeliat dan mengubah posisiku menjadi duduk.


"Udah salat?" ulang Reynand.


Aku menggeleng. "Jam berapa emang?"

__ADS_1


"Lima lebih empat menit, sana salat dulu!"


Aku mengangguk setuju, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, mengambil air wudhu untuk berwudhu. Setelah selesai, aku langsung menuju kamar untuk menunaikan ibadahku, setelah selesai aku kembali ke ruang tengah dan menemui Reynand yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Udah?" tanya Reynand saat menyadari aku sudah selesai menunaikan ibadah salat Asharku.


Aku mengangguk lalu duduk di sampingnya, menyandarkan kepalaku pada pundaknya.


"Aku kok berasa capek banget sih hari ini, Mas."


"Emang seharian kamu ngapain aja? Kan dibilang nggak usah capek-capek," balas Reynand masih dengan pandangan fokus ke layar ponselnya. Membuatku penasaran dan mengintip apa yang sedang ia lakukan, dan ternyata Reynand sedang bermain game.


"Enggak ngapa-ngapain, tidur seharian."


"Oh, berarti kamu kebanyakan tidur, tuh."


"Gitu, ya?"


"Bisa jadi."


Aku mangguk-mangguk setuju. Jawaban Reynand cukup masuk akal, sejak habis makan siang tadi aku memang tidur, sempat bangun beberapa kali, memang, tapi bangunku hanya untuk sekedar menengok pukul berapa saja.


"Aku mager deh, Mas. Kita nggak usah pulang, ya?"


Reynand langsung mengernyit dan mematikan gamenya, dan menoleh ke arahku dengan pandangan tidak setuju, sebelum akhirnya bertanya, "Aku di sini nggak punya baju loh, yang, masa nginep di sini?"


"Ya, kamu pulang dulu, terus balik ke sini lagi."


"Hah?" respon Reynand dengan spontan, beberapa detik setelahnya ia menggeleng tidak setuju, "Enggak, apaan sih? Enggak efisien banget, kita pulang. Nanti kalau kamu males jalan, aku gendong. Udah sana beresin barang-barang kamu, kita pulang sekarang!" kata Reynand tidak ingin dibantah, "jangan aneh-aneh, deh!" imbuhnya kemudian.


"Ya udah, aku ambil tasku dulu," kataku lalu berdiri dan menghampiri ruang kerjaku untuk mengambil tas.


"Udah, yuk, pulang sekarang!" ajakku, setelah selesai membereskan beberapa barang-barangku.


Reynand mengangguk lalu bangkit berdiri dan meraih ponselku yang tergeletak di atas meja. "Ini hape kamu, enggak kamu bawa?" sindirnya saat aku hendak menuruni anak tangga.


Aku menyengir, berbalik dan berkata, "Kan udah kamu bawain."


Respon Reynand hanya berdecak samar lalu geleng-geleng kepala dan mengajakku untuk segera turun.


"Langsung pulang?" tanya Reynand sambil memasang seatbelt-nya tanpa menoleh ke arahku.


Aku mengangguk. "Iya, emang mau mampir ke mana?"


"Cari makan mungkin, atau ke apotek misalnya," celetuk Reynand santai.


Aku langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan bingungku. "Ngapain ke apotek?" tanyaku heran.


"Cari testpack," kekeh Reynand, sengaja menggodaku.


Aku langsung melotot tajam dan memukul pundaknya. "Bercandanya nggak lucu."


"Aduh, sakit!" pekik Reynand berlebihan, "ya, maaf kalau nggak lucu. Kan aku suami kamu bukan pelawak."


Aku langsung mendengkus dan meliriknya sinis. "Dih, apa hubungannya coba?"


"Loh, jelas ada dong, yang. Aku ini kan suami kamu, yang tugasnya menyayangi dan mencintai kamu, sedang pelawak tugasnya menghibur semua orang."


"Kamu ngegombal, Mas?"


"Oh, aku pikir lagi nerangin perbedaan apa itu bedanya suami dan pelawak."


"Iya, juga sih. Tapi kan, sambil ngerayu, ah, kamu mah gitu, nggak asik."


Kali ini aku berdecak jengkel dan bersiap memukul pundak Reynand sekali lagi, namun ditahan olehnya.


"Udah, ya?"


Aku kembali menurunkan tanganku. "Apanya?" tanyaku tak paham.


"Si kampret merah."


Aku langsung tertawa mendengar kata ganti menstruasi yang Reynand gunakan. Baginya, periode itu adalah momok menakutkan, makanya ia menamainya si kampret merah. Emang nggak bener deh, suamiku ini.


"Lah, malah ketawa."


"Si merah nggak sekampret itu kali, Mas," balasku sambil geleng-geleng kepala.


"Loh, kurang kampret gimana sih? Pertama ya, dia itu udah bikin kamu sakit perut. Kedua, dia pasti akan bikin kamu sensi ampun-ampunan, mulai dari gampang marah dan tiba-tiba bisa bikin kamu mewek. Terus, yang paling penting, dia itu udah menghalangi kamu untuk melayani aku, loh. Tuh, kurang kampret apa lagi coba?"


"Hus, nggak boleh gitu, ah," kataku tidak suka.


"Iya, iya, maaf. Jadi, udah, ya?"


Aku menggeleng. "Belum."


"Nggak mau beli testpack?" tawar Reynand tiba-tiba.


Membuatku langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan gemas.


"Cuma nawarin aja, yang, kalau nggak mau ya udah. Aku nggak maksa, kali aja kamu berubah pikiran gitu lho," ucap Reynand saat menyadari perubahan ekspresiku.


Aku hanya membalasnya dengan tatapan datarku, lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Lalu mendapati penjual pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam serangga goreng. Duh, kok tiba-tiba kepengen, ya?


"Mas, berhenti deh," kataku mengintruksi Reynand agar menepikan mobilnya.


Meski dengan wajah kebingungan, Reynand tetap mencari tempat untuk menepikan mobilnya.


"Kenapa?" tanya Reynand saat mobilnya sudah mendapatkan tempat untuk berhenti.


"Aku mau itu," kataku sambil menunjuk ke arah Bapak-bapak penjual yang aku lihat tadi.


Reynand agak mencondongkan tubuhnya ke arahku, agar dapat melihat apa yang yang aku tunjuk.


"Itu jual apaan emang?"


"Nggak tahu pasti, tapi kayaknya serangga goreng gitu. Kayak belalang goreng, terus--"


"Hah? Belalang goreng?!" seru Reynand heboh.


"Apaan sih, lebay? Aku sering beli tahu."


Wajah Reynand masih tampak shock dan seperti tidak bisa berkata-kata.


"I.itu... nanti, benaran kamu makan? Kamu udah sering makan itu?"


"Belum pernah. Tapi aku sering beliin buat Mas Adi, soalnya Mas Adi suka nitip."

__ADS_1


"Jadi, kamu belum pernah?" tanya Reynand belum cukup mampu menghilangkan wajah shocknya.


"Belum, dan sekarang lagi pengen nyoba."


"Kok mendadak?"


"Emang kenapa?" tanyaku heran.


"Ya, aneh aja, yang. Ini kamu yakin kamu nggak--"


"Kamu ini sebenarnya, mau beliin nggak sih, Mas? Kalau enggak, biar aku turun dan beli sendiri," ucapku memotong ucapannya dengan ekspresi cemberut.


Masih dengan ekspresi tak yakinnya, Reynand mengangguk. "Mau, mau, mau kok. Bentar aku beliin, ya," ujarnya sambil membuka seatbelt dan bersiap turun.


Saat hendak turun, Reynand kembali menggelengkan kepalanya dan berguman, "Fix. Emang beneran hamil kayaknya."


"Masih kedengeran dari sini, Mas," responku.


Reynand meringis. "Ya, ini aku beliin kok. tunggu bentar, ya."


Aku hanya mengangguk lalu mempersilahkan Reynand keluar dari mobil untuk membeli belalang goreng yang aku mau. Berhubung antriannya tidak banyak, Reynand sudah kembali masuk ke mobil lebih cepat.


"Nih," kata Reynand sambil menyodorkan sekantung plastik berisi belalang goreng.


"Makasih, sayang," ucapku tulus, sambil mengedipkan sebelah mataku.


Reynand hanya mengangguk lalu memasang kembali seatbelt-nya, sebelum menjalankan mobil. Sedangkan aku, langsung membuka bangkus dan menikmati belalang gorengnya.


"Enak?" tanya Reynand sambil melirikku.


"Enak. Kamu mau?" tawarku.


Reynand menggeleng dengan tegas. "Enggak, enggak, makasih. Buat kamu semuanya."


"Ekpsresi kamu kok begitu sih?" protesku tidak suka.


"Hah? Emang kenapa sama ekspresi aku, yang? Ada yang salah?" tanya Reynand dengan ekspresi kebingungannya.


"Jelas. Ekspresi kamu ini menyinggung perasaanku."


"Hah?"


"Tahu lah, aku kesel."


"Berenti di pom bensin bentar, ya? Apartemen masih lumayan jauh kayaknya," celetuk Reynand tiba-tiba, membuatku mengernyit keheranan.


"Mau ngapain? Kebelet pipi kamu?"


Reynand dengan santainya menggeleng.


"Terus?"


"Ngecek, kali aja emang udah beneran bocor kamu-nya."


#####


Aku menggeliat, merasakan gejolak aneh di dalam perutku. Membuatku akhirnya terbangun dan memutuskan untuk berlari ke dalam kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, aku langsung muntah tak lama setelahnya Reynand menghampiriku dengan kedua matanya yang masih memerah.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Reynand panik, tangannya terulur dengan reflek memijat tengkukku untuk membantuku memuntahkan isi perutku.


"Enggak tahu, tiba-tiba kebangun gara-gara mual?"


"Gegara makan rujak kebanyakan?"


"Kayaknya enggak deh."


"Terus? Karena positif hamil?"


"Mas!!" jeritku sambil menatapnya galak.


"A.aku cuma tanya, yang, enggak usah ngegas?"


"Ya, abis kamu itu pertanyaannya dari kemarin itu terus. Enggak bosen apa?" tanyaku sewot.


"Enggak. Kan belum tahu kepastiannya, beda kalau kamu udah tes. Apa mau coba tes sekarang?" tawar Reynand, kembali membantu memijit tengkukku karena rasa mual kembali menyerangku.


Masih dengan usaha mengeluarkan sesuatu yang bergejolak di dalam perutku, aku menggeleng, sebagai tanda penolakan.


"Ya udah, periksa sekalian."


"Cuma masuk angin."


"Tapi aku nggak percaya. Aku yakin kamu itu hamil, loh," ucap Reynand penuh keyakinan.


Aku berdecak lalu membalikkan badan dengan spontan, membuat Reynand agak berjenggit kaget.


"Oke, aku mau tes, tapi sekarang juga. Gimana?" tantangku kemudian.


Reynand mangguk-mangguk lalu tersenyum. "Bentar, aku ambil testpacknya dulu."


"Ambil di mana?" tanyaku panik.


"Tas."


Reynand kemudian keluar dari kamar mandi, tak lama setelahnya ia kembali dan membawa testpack.


Loh, loh, loh?


"Kamu kapan belinya?"


"Kemarin. Udah, sana, buruan dipake. Aku tunggu di luar."


Reynand bersiap menutup pintu, namun aku tahan.


"Ini serius? Kalau hasilnya negatif gimana?"


"Ya, enggak gimana-gimana sayang. Kamu tetep istri aku, aku tetap suami kamu, lalu kita tetap usaha setelahnya. Nggak akan ada yang berubah. Udah, buruan dipake, aku tutup!"


Aku mematung, haruskah aku coba sekarang?


**Tbc,


positif atau negatif ya kira2 🤔🤔


dua garis merah atau dua garis biru**???


eh, dua garis biru itu judul film yak 😆😆

__ADS_1


__ADS_2