
##
"Bunda kamu tadi ke sini," kataku sambil menghempaskan bokongku tepat di sofa, tepat berada di samping Reynand yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Reynand baru saja pulang bekerja dan kebetulan mampir ke butikku. Akhir-akhir ini kami jarang menghabiskan waktu bersama, karena kesibukan masing-masing. Jadi, Reynand berinisiatif untuk mampir agar kami dapat menghabiskan waktu sedikit lebih lama. Yah, meski pada kenyataannya Reynand kini malah sibuk sendiri dan mengacuhkanku. Bahkan saat aku berbicara tadi, ia hanya menjawabnya dengan gumanan tanpa menoleh ke arahku.
"Rey, kamu denger aku nggak sih aku tadi ngomong apa?" tanyaku sedikit kesal.
Dan tanpa menoleh, Reynand mengangguk dan menjawab, "Denger," jawabnya singkat.
"Apa?"
"Tadi Bunda ke sini kan?" balas Reynand, masih tanpa menoleh ke arahku.
Aku berdecak gemas. Kalau cuma mau nganggurin aku, ngapain dia ke sini sih. Heran.
"Kamu ke sini mau ngapain sih, Rey? Pamer muka sambil main hape? Kalau iya, nggak usah. Nggak perlu, mending kamu pulang sana!" ketusku mengusirnya, sambil menggeser tubuhku menjauh darinya.
Dan itu sukses membuat Reynand menoleh ke arahku dengan tatapan herannya.
"Kenapa ngomong begitu?" tanya Reynand tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun.
Aku langsung menatapnya sengit. "Menurut kamu?"
Dengan wajah polosnya, Reynand malah garuk-garuk kepala dan meletakkan ponselnya lalu menghadapku.
"Kamu ngambek, ya?"
"Jelas," ketusku snewen.
"Kenapa?"
"Kamu nyuekin aku, Rey, dan kamu tanya kenapa? Kamu serius?"
Aku menatapnya tidak percaya, lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Sayang--"
"Nggak usah panggil-panggil sayang!"
Aku menatap Reynand sengit. Karena kesal bukan main. Lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Kamu lagi periode-nya, ya?" tanya Reynand, membuatku kembali menoleh ke arahnya dengan pandangan tak kalah sengit.
Maksudnya apaan itu tadi? Memangnya yang bisa marah-marah cuma orang yang sedang periode si merah? Enggaklah.
"Kamu bisa nggak sih kalau aku lagi marah, nggak usah bawa-bawa periode menstruasiku. Nggak ada hubungannya, Rey."
"Nggak ada hubungannya gimana sih, sayang. Kamu itu setiap di periode si merah, pasti bawaannya sensi loh, kalau enggak. Ya, enggak. Biasa aja. Anteng, adem ayem, tuh. Wajar dong kalau aku mikir gitu?"
"Kamu, tuh, nyebelin, Rey."
"Iya, iya, oke, aku nyebelin. Jadi, Bunda ke sini tadi ngapain?"
Sekali lagi aku mendengkus lalu melirik Reynand dengan tatapan datarku.
"Nanyain kamu pengen konsep untuk acara ngunduh mantu gimana."
"Terus kamu jawabnya?"
"Ini aku mau tanya kamu, kamu maunya gimana?"
"Terserah kamu, aku sih ngikut aja. Mau kayak gimana aku nggak masalah, asal mempelainya kamu."
Aku sontak langsung memutar kedua bola mataku karena sebal. Ini orang ya, diajak ngobrol serius malah bercanda. Nggak tahu apa perempuan kalau jelang nikahannya itu suka sensi mendadak yang nggak masuk akal, karena terlalu pusing ngurusin ini itu. Belum kalau calon Mertuanya super perhatian, yang sampai sedetail-detailnya nanyain apa yang aku mau pas acara ngunduh mantu nanti. Astagfirullah! Aku pusing.
"Bisa nggak sih, Rey, kalau aku lagi ajak ngomong serius, jangan malah kamu bercandain begini? Enggak bisa, ya?"
"Loh, siapa yang lagi bercanda sih? Aku serius tahu, mau acaranya di mana, kayak gimana, aku sih nggak masalah. Selagi ijab qobul sah di mata hukum dan agama, itu aja udah cukup, sayang," kata Reynand sedikit gemas. "Jadi, kamu mau yang kayak apa, aku ikut. Nggak masalah dan nggak akan protes," imbuhnya kemudian.
"Kok kamu gitu sih? Tega ya, kamu, ngebiarin aku mikir ini-itu sendirian, lalu kamu terima beres. Kalau gitu kenapa nggak nyuruh aku nikah sendirian aja sekalian."
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, lalu mengubah posisi dudukku membelakanginya.
"Kok kamu ngomong gitu?" protes Reynand dengan nada tak terimanya.
Aku kemudian menoleh ke arahnya sekilas, lalu kembali memalingkan wajahku ke arah lain.
"Kamu pikir aja sendiri! Ini, itu untuk acara kita berdua, Rey, bukan acaraku sendiri. Yang nikah itu kita, bukan cuma aku."
"Iya, aku tahu, yang nikah itu bukan cuma aku, tapi kita. Ma--"
"Kalau kamu tahu, harusnya kamu nggak nyerahin semua ke aku. Aku udah cukup pusing untuk acara resepsi kita yang di Semarang. Bisa nggak kalau untuk resepsi di Jogja, kamu yang urus."
Reynand mendesah putus asa. "Oke, nanti aku bilang sama Bunda, biar Bunda nggak usah tanya-tanya ke kamu untuk acara ngunduh mantu nanti. Oke, sekarang masalah udah kelarkan?"
Aku memejamkan kedua mataku sejenak. Berharap emosiku yang terasa sudah di pucuk ubun-ubun, sedikit mereda dan tidak berakhir dengan menyembur Reynand.
"Nggak sesederhana itu, Rey. Maksud aku itu, kamu bantuin Bunda gitu lho," kataku berusaha kalem.
"Oke, aku harus bantuin Bunda ngapain?"
"Ya, pilih dekor kek, pilih suvenir kek, atau apa gitu dong. Inisiatif."
__ADS_1
"Astaga, kamu yang bener aja dong, sayang. Aku mana ngerti yang begituan." Ekspresi Reynand berubah frustrasi. "Ini serius, aku harus banget bantu milih-milih begituan? Enggakkan?"
Aku mendelik sebal ke arahnya. "Menurut kamu?"
Reynand menggeleng.
"Rey!!"
"Sayang, dengerin aku! Aku itu bukannya nggak mau bantu kamu atau Bunda. Masalahnya, seleraku untuk masalah begituan cukup payah, aku nggak ngerti, sayang. Bukan karena nggak mau bantu. Aku--"
"Pulang aja kamu sana deh!" usirku kesal lalu berdiri dan berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dan meneguknya, guna meredam emosiku.
"Kok malah ngambek sih?"
"Ya, kamu itu ngeselin. Nggak peka!"
"Loh, loh, kok malah bawa-bawa nggak peka segala," protes Reynand tidak suka.
"Ya, menurut kamu, apa kalau bukan nggak peka, kalau kamu nggak bisa ngertiin aku?"
Reynand garuk-garuk kepalanya frustrasi, terlihat ketara sekali kalau dia sedang kebingungan harus bicara apa.
"Serius, kita marahan cuma gara-gara ini? Kita jarang punya waktu bareng loh, akhir-akhir ini. Dan sekalinya kita luangin waktu buat bareng, kamu malah ngajak ribut?"
Jujur, aku cukup kaget dengan perubahan ekspresi dan juga nada suaranya yang tiba-tiba sedikit naik. Tidak terdengar seperti membentak memang, tapi cukup membuatku shock dan agak takut. Mendadak, aku merasa bersalah karena membuatnya seperti itu. Sebenarnya memang sejak pertama melihatnya masuk ke butikku tadi, aku merasa Reynand terlihat kelelahan. Wajahnya sedikit kuyu dan kantung matanya terlihat cukup jelas, meski aku tahu sangat kalau dia berusaha menutupinya dengan tersenyum cerah saat aku menyambutnya. Tapi, sekarang aku malah mengajaknya ribut?
Astaga, calon istri macam apa aku ini. Bagaimana pun, sebagai seorang pria Reynand pasti sedang kerja gila-gila karena jelang pernikahan kami. Mau dielak karena kedua orangtua kami sama-sama mampu dan siap membantu untuk dana pernikahan, tapi yang namanya seorang pria pasti egonya akan tersentil kalau untuk nikahan masih dibiayai kedua orangtua.
Ingin meminta maaf, kok aku sudah terlanjur gengsi, ya.
"Kenapa diam saja?" tanya Reynand sambil menatapku sedikit tajam.
"Tahu lah!"
Serius, yang barusan itu jawaban spontan. Aku tidak bermaksud bilang seperti itu, tapi berhubung aku sudah terlanjur gengsi, ya begitu.
"Aqilla!" panggil Reynand.
Aku memilih mengabaikan dan berjalan menuju kamarku. Dapat kudengar sayup-sayup Reynand menghela nafas putus asa dan berpamitan di ambang pintu kamarku, yang memang sengaja tidak aku tutup.
"Aku pulang dulu, jangan lupa kunci pintunya. Kamu tenangin dulu diri kamu, kita bicara lagi kalau sama-sama udah nggak emosi. Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam," balasku tanpa menoleh ke arahnya. Langsung membiarkan dia pulang begitu saja tanpa aku antar, lalu aku mengintip dari kaca jendelaku untuk memastikan dia benaran sudah pulang atau belum.
Setelah mobil Reynand meninggalkan butikku, aku kemudian menghela nafas panjang dan membanting tubuhku di atas kasur.
"Ah, nyiapin pernikahan itu ternyata berat, ya," gumanku sambil memandang langit-langit kamarku.
####
"Kayaknya butuh curhat nih," gumanku sambil meraih ponselku untuk menelfon Monik.
"Kenapa, La?" sambut Monik saat sambungan telfon terhubung.
Aku mengatur posisi dudukku menyamping dan memeluk bantal sofa.
"Aku galau deh, Mo. Stress."
"Mau curhat? Ke sini aja deh, aku lagi di rumah kok."
"Nggak bisa lewat telfon aja, ya?"
"Bisa aja sih, cuma kalau face to face kan lebih enak kalau curhat. Cuma terserah kamu sih, kan kamu yang mau curhat. Aku sih cuma jadi pendengar aja kan?"
Sambil memainkan ujung kukuku, aku mengangguk, membenarkan ucapannya. Curhat kalau cuma lewat telfon emang kurang puas sih.
"Jadi, curhat langsung atau mau ke sini dulu?"
"Aku ke sana aja, deh, Mo. Biar nggak suntuk juga di rumah terus."
"Kamu di Semarang?"
"Ya, enggaklah, masih di Jogja kok. Biaya nikah nggak sedikit, bok, ya kali aku udah di Semarang," balasku keki.
Di seberang, Monik terbahak sebelum menjawab, "Halah, anak juragan tanah sama pemilik pabrik kain textil gitu loh, urusan duit mah, mana pernah seret."
Aku mendengkus. "Siapa yang bilang?"
"Aku. Barusan banget itu suara aku, La, kalau kamu lupa."
"Tahu lah, aku tutup sekarang. Otewe nih, aku. Kamu jangan kemana-mana," kataku sambil mematikan sambungan telfon dan bergegas untuk siap-siap ke rumah Monik.
#####
"Jadi, galau kenapa calon penganten?" sambut Monik, saat aku bahkan baru akan masuk ke dalam rumahnya. Masih berdiri di bibir pintu, dan belum masuk ke dalam rumah Monik sepenuhnya.
"Biarin aku masuk dulu kenapa, sih, Mo?" protesku sambil berdecak sebal.
Monik terkekeh sejenak, baru kemudian mempersilahkan aku masuk setelahnya.
"Jadi, kenapa?" tanya Monik, yang saat ini ikut duduk di sebelahku.
Posisinya menyamping ke arahku, dengan sebelah kaki yang ditekuk dan sebelah kaki yang menapak lantai, tangan kirinya mengamit bantal sedang tangan kanannya menyangga kepalanya.
__ADS_1
Sekali lagi, aku berdecak. Ini tuan rumah benar-benar deh, nggak tahu banget gimana caranya menjamu tamu dengan baik dan benar.
"Mo, aku baru nyampe, loh. Minimal, Mbokyo tawarin minum dulu. Begini-begini, aku juga tamu," protesku kesal.
"Ya ampun, La, kayak di rumah siapa aja sih. Kalau mau minum, noh, di dapur. Bikin sendiri! Biasanya juga gitu kan? Ini kenapa mendadak protes gini deh? Berat banget ya, masalah yang lagi kamu alamin sekarang. Sampai-sampai nyembur aku begini," balas Monik kesal.
Aku langsung cemberut dan mengangguk membenarkannya.
"Kenapa? Langsung cerita!"
"Rey."
"Kenapa sama Rey? Berantem?"
Aku mengangguk, sebagai tanda jawaban dan memeluk bantal sofa, yang tadinya ada di sebelahku.
"Dia itu ngeselin."
"Ngeselinnya?"
"Nggak peka."
Mendengar jawabanku, Monik langsung terbahak. "Sekarang aku tanya, di mana sih kita bisa nemuin laki-laki yang peka? Mantan anak pramuka? Atau programmer? Ngehalu aja sana deh, La! Kode yang bisa mereka pecahin jauh lebih mudah, ketimbang harus mecahin kode yang perempuan tebar. Percaya sama aku!"
"Maksud aku tuh, gini, Mo. Aku tuh, udah cukup pusing ngurusin buat acara ijab qobul dan resepsi di Semarang."
"Bentar," sela Monik sambil mengangkat sebelah tangannya. "Bukannya Ibu kamu yang ngurusin itu?"
"Ya, emang Ibu, tapi tetap aja aku bantuin dari sini."
Monik mangguk-mangguk. "Lanjut kalau gitu!" intruksinya kemudian.
"Nah, maksud aku, untuk acara ngunduh mantu, aku pengennya Rey bantuin Bunda. Biar, Bunda itu nggak tanya-tanya aku terus, La. Aku tuh, pusing. Ibu rajin banget nelfonin aku hampir tiap jam, masa calon mertua aku juga begitu. Bisa pecahkan kepalaku lama-lama?"
"Bentar, kamu pengennya Rey bantuin Bunda kamu?" tanya Monik.
Aku mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Bantuin apa? Bayarin sewa gedung atau--"
"Ya, enggak gitu juga kali, Mo. Maksud aku tuh, ya, milih-milihin gitu lho. Milih apa gitu kek, soven--"
"Aqilla, Aqilla, kamu belum move on dari Kenzo?" sela Monik, memotong kalimatku.
Aku mengernyit bingung. Kenapa jadi bawa-bawa belum move on dan Kenzo?
"Maksudnya?" tanyaku tak paham.
"Ya, itu, kamu. Nggak ngerasa kalau kamu tuh bandingin sama Kenzo secara nggak sadar."
"Apaan sih? Siapa yang bandingin, Mo? Ini tuh--"
"Kamu lah."
"Enggak ada, ya. Ini--"
"Oke, kita lupain aja apa yang sudah aku ucapin barusan. Sekarang, kita bahas tentang Rey yang kamu bilang nggak peka, karena nggak mau bantuin milih konsep dan segala macemnya tentang persiapan pernikahan." Monik menatapku malas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "La, nggak semua pria benar-benar tertarik dengan pernikahan--"
"Maksud kamu?" potongku kesal. Kalimat macam apa barusan tadi. Nggak enak didenger banget.
"Jangan motong pembicaraan orang dulu, dong. Nggak sopan. Maksudku, tidak benar-benar tertarik dengan pestanya. Iya, itu maksudku. Mereka mah, masa bodo kalau urusan begituan, La. Yang ada di pikiran mereka, mah, yang penting ijab qobul, sah, kalau malam ada yang ngelonin, udah. Mau pesta pernikahan kayak apa aja, mereka kebanyakan bodo amat, La. Lah, ini kamu malah minta Rey buat milih ini itu? Yang bener aja kamu," decak Monik dengan wajah kesalnya.
Aku mendadak langsung diam seketika, lalu melirik Monik dengan perasaan bersalah. "Jadi, aku yang salah?"
"Bukan masalah siapa yang salah atau benar sih, La. Kamu kan lagi kena sindrom jelang nikahan nih, kayaknya, jadi wajar kalau sensi dan pengennya dingertiin. Meski apa yang kamu pengenin agak-agak berlebihan nih."
Aku mangguk-mangguk, karena perasaan bersalah mendadak kian menggerogotiku. Bayangan wajah lelah dan nada suara kecewa milik Reynand kembali terngiang-ngiang.
"Minta maaf, baikan. Kelarkan?"
"Tapi gue gengsi," akuku jujur dengan bibir manyun.
"Ya, udah kalau gitu siap-siap gagal kaw--Akhh!" pekik Monik mengaduh kesakitan karena kupukul lengannya.
"Mulutnya iiih, nggak pake bismillah banget ngomongnya."
"Ya, abis lo, zaman udah serba canggih, lo masih aja pake gengsi segala," cibir Monik.
Aku mangguk-mangguk pasrah. "Iya, iya."
"Jangan cuma iya-iya aja."
"Harus pake apaan lagi?"
"Makasih kek."
Aku mendengkus. "Iya, thanks ya, Mo. Coba kalau nggak ada kamu, udah batal kawin aku."
"Nah, gitu kan enak. Sana balik, aku mau nyusul Killa tidur."
Dengan ekspresi cemberut, aku kemudian berdiri. "Nggak mau nawarin minum?"
"Ambil sendiri!" ketus Monik, membuatku gemas ingin menarik ujung kerahnya.
__ADS_1
Tbc,