Telat Nikah?

Telat Nikah?
Jemput Ponakan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam lebih, kami akhirnya sampai di Semarang tanpa kendala macet atau semacamnya. Aku langsung melepas seatbelt-ku saat mobil Reynand, berhenti tepat di depan rumah.


"Mau mampir dulu atau langsung pulang?" tanyaku berbasa-basi, meski pada kenyataannya aku tahu Reynand sedang melepas seatbelt-nya.


"Pertanyaannya. Masa habis perjalanan jauh nggak disuruh mampir dulu."


Aku terkekeh, baru kemudian mengajaknya turun. Reynand dengan sigap langsung mengeluarkan travel bag-ku dari dalam bagasi, baru kemudian mengekor di belakangku.


"Mau minum apa?" tawarku saat kami sudah masuk ke dalam rumah.


Reynand meletakkan travel bag-ku dan duduk di sofa. "Apa aja deh, yang penting dingin. Air putih juga nggak masalah."


Aku mengangguk, lalu berjalan menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas dan kembali ke ruang tamu.


"Nih! Air putih nggak papa kan?" kataku sambil menyodorkan botol air mineral ke Reynand.


Reynand tersenyum sambil mengangguk, baru kemudian menerima botol yang kusodorkan. Setelah mengucapkan terima kasih lengkap dengan kedipan genit dari sebelah matanya, ia kemudian membuka botol itu dan meneguknya hingga setengah. Tanpa sadar aku meringis. Sepertinya, Reynand kehausan.


"Aku ke atas bawa tasku dulu, ya," kataku sambil meraih travel bag-ku dan menentengnya menuju kamar.


Reynand hanya mengangguk dan mempersilahkan.


Aku menghentikan niatku untuk masuk ke dalam kamar, karena ponselku bergetar. Sambil sedikit menggerutu, aku kemudian mengeluarkan ponselku dari dalam saku celana, mengintip siapa yang menelfon, dan menemukan nama Mas Adi yang tertera di layar ponsel.


"Ya, hallo, ass--"


"Posisi di mana?" potong Mas Adi terdengar tak sabaran.


Aku mendengkus dengan kebiasaan Mas Adi yang satu itu. Lalu sambil mengapit ponselku di antara telinga dan pundak, aku kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.


"Rumah," jawabku singkat sambil meletakkan travel bag-ku di atas ranjang.


"Rumah siapa? Rumah Bapak?"


"Hmm."


"Ya udah, langsung jemput Kafka kalau gitu."


Aku mendengkus lalu keluar kamar dan menutup pintu kamarku.


"Aku baru sampai ini loh, Mas," rengekku ogah-ogahan.


"Sebentar doang, Dek. Habis itu bisa istirahat sepuasnya."


Dasar, kalau ada maunya aja panggil-panggil 'Dek'.


"Sekarang banget?"


"Iya, dari pada Kafka harus nunggu kan kasian. Jemputnya pake motor Mbakmu aja, motornya ada di rumah Bapak. Kuncinya udah ada di motor sekalian. Terus makannya, jangan kamu kasih mie instan, soalnya kemarin dia udah makan mie."


"Ada lagi?"


"Ada. Kafka jangan kamu beliin es krim, soalnya dia baru sembuh batuknya."


"Terus?"


"Udah. Mas matiin, ya. Ingat pesen Mas tadi, jangan kamu langgar!"


"Iya. Keponakanku--Tut tut tut


Lah, dimatiin?


Astagfirullah, Masku! Untung aku sayang, Mas, coba kalau enggak. Mana mau aku jemput anakmu.


Sambil terus menggerutu tentang betapa nyebelinnya Mas Adi, aku menuruni anak tangga dan menghampiri Reynand.


"Mau pulang sekarang atau nanti?" tanyaku sambil mendudukkan bokongku menyamping pada bahu sofa yang Reynand.


"Aku diusir?" tanyanya tersinggung.


"Bukan. Aku mau jemput Kafka, kalau kamu mau pulang--"


"Siapa itu Kafka?" potong Reynand dengan kedua mata menyipit curiga.


Aku hanya tertawa sebagai respon pertamaku.


"Serius tanya ini, kenapa malah diketawain?" protes Reynand dengan wajah cemberut.


"Kafka itu keponakan aku."


Reynand ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Mau jemput di mana emang?"


"Sekolahnya."


"Ya udah, aku ikut."


"Eh, masa ikut, enggak usah lah. Kamu di sini aja," cegahku tidak setuju.


Rasa-rasanya agak malas kalau ditanya-tanya tentang Reynand, oleh Ibu-ibu di sekolah Kafka. Aku yakin seratus persen, gosip itu akan langsung menyebar ke seluruh kampung jika mereka tahu Reynand itu siapa-ku. Bukan apa-apa, Bapak termasuk lumayan tersohor di kampung ini, dan aku Putri satu-satu yang sudah genap berusia dua puluh delapan tahun tapi beluk menikah. Jadi, urusan asmaraku termasuk berita yang paling dicari.


"Enggak enak, ah. Nanti kalau ada yang ke sini tiba-tiba gimana?"


"Kan tinggal bilang kalau yang punya rumah lagi pergi."


"Kalau aku ambil barang berharga kamu gimana? Kamu nggak takut?"


"Kamu berniat nyolong di rumah calon mertua kamu sendiri?"


Reynand menggeleng. "Enggak."


"Terus?"


"Ajak aja kenapa sih," decak Reynand gemas.


Aku menghela nafas pasrah. "Ya udah, ayo, kamu ikut kalau gitu," kataku pasrah pada akhirnya.


Aku kemudian berdiri. Dan tak lama setelahnya Reynand mengekor di belakangku.


"Kita motoran, ya?"

__ADS_1


"Boleh. Siapa yang di depan, aku atau kamu?"


"Ya, kamu lah," jawabku cepat. Aku kemudian mengajak Reynand masuk ke dalam garasi yang berada tepat di sebelah rumah.


Reynand langsung mengeluarkan motor scoopy milik Mbak Lusi dan menaikinya.


"Buruan naik!" perintah Reynand sedikit berteriak.


Aku mengangguk dan langsung nangkring di atas motor.


"Ini kita mau lewat di mana?"


"Kanan. Udah, jalan aja, biar nanti aku kasih aba-aba sambil jalan."


"Oke."


Tanpa keraguan dan sedikit tiba-tiba, Reynand memutar stang motor agak kencang. Membuatku menjerit secara reflek dan memukul pundaknya ganas.


"Hati-hati dong! Kalau nggak bisa bawa motor, sini, mending aku aja!" omelku kesal.


Dan tanpa perasaan bersalahnya, Reynand malah terbahak puas. Sepertinya, dia memang sengaja ingin mengerjaiku. Huh, dasar!


"Kok sepi?" tanya Reynand setelah mematikan mesin motor. Ia kemudian menoleh ke arahku dengan pandangan tak yakin. "Bener ini bukan sih tempatnya?"


"Bener kok," kataku sambil turun dari atas motor.


"Kok enggak ada tulisan nama sekolah nya?"


Aku kemudian celingukan mencari papan nama sekolah dan memang saja tidak menemukannya. Eh, apa sekolahnya udah ganti? Kok nggak ada tulisan sekolah PAUD atau semacamnya, ya?


"Seingat bener kok, Rey, bentar aku coba telfon Mas Adi--"


"Eh, Mbak Qilla? Tumben ada si Semarang?"


Aku menghentikan pergerakan tanganku, yang tadinya sibuk mencari nomor ponsel Mas Adi. Lalu menoleh ke asal suara dan menemukan seorang Ibu-ibu dengan postur agak berisi turun dari motor Mio-nya. Samar-samar aku merasa seperti mengenal beliau, tapi, aku tidak ingat siapa. Aku tersenyum untuk membalas sapaannya dan mengangguk pelan.


"Lah, cah bagos iki siapa, Mbak? Pacarnya mesti, ya?"


Aku tersenyum risih. Suka heran dan agak bosan dengan kebiasaan warga Indonesia yang terkenal ramah ini, kenapa sih pada kepo banget. Kulirik Reynand tersenyum sambil menggeleng saat melirikku.


"Kenapa?" tanya Reynand tanpa bersuara.


Aku hanya menggeleng malas sebagai respon.


"Ini tumben, ya, anak-anak jam segini belum pada keluar, ya."


Si Ibu-ibu yang belum kuingat siapa ini, bermonolog dengan kedua mata menjelajah ke arah sekitar. Dalam hati aku berkata, "Oh, benar, paud-nya emang masih di sini, belum pindah."


"Lagi mau jemput anaknya ya, Bu," sapa Reynand berbasa-basi.


"Bukan, Mas, mau jemput Cucu. Ini biasanya jam segini udah pada keluar loh, kok tumben-tumbennya belum. Masnya ini orang mana to? Belum pernah lihat saya. Orang Jakarta, ya?"


tanya si Ibu-ibu dengan nada penuh kekepoan.


Reynand tersenyum lalu menggeleng. "Bukan, Bu, saya orang Jogja."


"Oalah, wong Jogja to. Iso ngomong Jowo berarti to? Tak pikir ki jauh ngono lho. Bagos tenan, ek. Mbak Qilla pancen pinter tenan ngolek pacar e."


Melihat gaya Reynand yang sok malu-malu membuatku langsung mencibirnya.


"Ganjen."


"Ini berarti Pak Hendra sebentar lagi mantu, ya?"


Sumpah. Aku mulai tidak suka dengan obrolan ini. Tapi dengan wajah sumringahnya, Reynand malah menjawabnya dengan antusias.


"Inggih, Bu, minta doa restunya saja. Semoga bisa dikasih kelancaran."


Mendengar jawaban Reynand, aku langsung melotot tajam ke arahnya. Mana si Ibu malah langsung mangguk-mangguk heboh dan tertawa sok asik lagi.


"Iya, pasti itu Mas. Semoga saja semua persiapan dilancarkan sampai hari H, ya, terus segera diberi momongan secepatnya. Saran saya ojo dik tunda ya, Mas, langsung wae. Wes podo-podo umur mathuke lek lik to."


"Hehe, iya, Bu. Terima kasih atas doanya."


"Eh, itu Cucu saya sudah keluar. Saya tak duluan, ya. Mari, Mas, Mbak!"


"Inggih, Bu. Monggo-monggo dherek aken."


Reynand tersenyum, mempersilahkan si Ibu-ibu tadi untuk segera naik ke motornya, dan membawa Cucunya pulang. Sementara aku hanya tersenyum canggung lalu mengangguk, saat Ibu-ibu tadi menekan klaksonnya dan meninggalkan kami.


"Masih muda tapi Cucunya udah segede itu, ya," celetuk Reynand tiba-tiba.


Aku langsung menoleh ke arahnya. "Soalnya anaknya nikah muda," kataku asal sambil melambaikan tanganku saat melihat Kafka sudah keluar dari kelasnya.


Aku kemudian langsung berlari kecil untuk menghampirinya.


"Kesayangan Bulek!" seruku lalu mengangkat tubuhnya dan menghujami kedua pipi Kafka secara bergantian. "gimana sekolahnya? Tadi belajar apa aja?"


"Mewarnai."


"Ohya? Mewarnai apa?"


"Rumah."


"Rumah siapa?"


"Kakak nggak tahu rumah siapa," jawab Kafka dengan wajah polosnya. "soalnya tadi nggak tanya dulu ke Bu guru-nya."


Aku tertawa saat mendengar jawaban menggemaskan yang Kafka berikan.


"Kenapa nggak tanya Bu guru tadi?"


"Karena Kakak nggak penasaran itu rumah siapa. Eh, Kakak tahu itu rumah siapa?" ralat Kafka tiba-tiba.


"Rumah siapa emang?"


"Rumah Kafka dong," ucap Kafka yakin.


"Kenapa begitu?"

__ADS_1


"Kan yang mewarnai Kakak, berarti jadi rumah Kakak dong."


Aku langsung tertawa mendengar jawabannya. Ini bocah emang paling bisa, ya, bikin aku gemes begini. Ah, jadi pengen gigit hidungnya. Batinku sambil terkikik geli, setelah mengecup pipi sebelah kanannya. Aku langsung menurunkan Kafka dari gendonganku saat kami sudah tiba di dekat motor.


"Pulang sekarang, yuk!" ajakku pada Reynand.


Reynand mengangguk ke arahku lalu berjongkok di hadapan Kafka. "Halo, ganteng! Siapa namanya?" sapanya kemudian.


Kafka mendongak ke arahku dengan ekspresi kebingungannya.


"Ini Om Rey, temen Bulek. Ayo, salim dulu," suruhku kemudian.


"Pacar baru Bulek," ceplos Kafka dengan wajah polosnya.


Secara spontan aku melotot. Apa tadi katanya?


"Biasa aja dong, Bulek. Nggak akan Kakak tikung kok kalau iya."


Astagfirullah!


Kenapa bocah umur empat tahun bisa tahu istilah pacar dan tikung-menikung deh. Serem bener.


Mengabaikan wajah speechless-ku, Kafka langsung mengajak Reynand salim.


"Halo, Om, namaku Kafka. Kafka Putra Pradipta, umurku empat tahun, dan sebentar lagi aku punya adek."


"Pinternya anak siapa ini," gemas Reynand sambil mencubit kedua pipi Kafka dengan gemas.


"Anak--"


"Udah, udah, dilanjut nanti ngobrolnya. Kita pulang sekarang," kataku memotong ucapan Kafka.


"Iiih, Bulek, Kakak kan mau ngomong," protes Kafka sambil menghentakkan kedua kakinya dan bersedekap. Khas anak kecil yang sedang ngambek pada umumnya.


"Nanti. Ayo, naik!"


Dengan wajah polosnya, Kafka menoleh ke arahku. "Naik di mana?"


"Di motor dong, Kak," decakku gemas.


"Emang muat?"


"Muat."


Reynand terbahak melihat perdebatan kecil kami, lalu geleng-geleng kepala.


"Kok malah pada ribut sendiri sih," kekeh Reynand masih sambil geleng-geleng kepala. "Gini aja, Kafka mau duduk di mana? Berdiri depan Om, apa di tengah, duduk sama Bulek Qilla?"


"Depan aja deh. Kakak nggak mau duduk deket Bulek."


"Heh! Apa kamu bilang?" Aku melotot tajam ke arah Kafka.


Dengan wajah polosnya, Kafka malah menyengir dan langsung naik ke atas motor.


"Biasa aja matanya. Buruan naik!" tegur Reynand, membuatku cemberut dan akhirnya naik atas motor.


"Habis ini langsung pulang?" tanya Reynand sambil memelintir stang gas.


Aku menggeleng. "Mampir ke warung dulu. Beli makan buat bocah itu."


"Loh, buat Kafka aja? Aku enggak?"


"Kamu mau?" tanyaku sambil menempelkan daguku di pundaknya.


Tanpa keraguan, Reynand mengangguk.


"Kak, nanti makannya mau pake apa? Nasi rames di warungnya Bude Tasmi, mau?"


"Enggak. Kakak mau makan pake telor ceplok sama kecap aja," tolak Kafka membuatku cemberut.


"Telurnya nggak usah diceplok, ya?" negoku kemudian.


Namun, lagi-lagi Kafka menggeleng. "Enggak mau. Kalau dikocok, pasti nanti nggak digoreng Bulek sendiri, tapi beli. Kakak nggak suka kalau telurnya dingin, nggak enak. Amis."


Aku langsung mendengkus kecewa dengan respon yang Kafka berikan. Emang paling jago, ya, keponakan kesayanganku ini bikin Buleknya kesel.


"Jadi mampir warung enggak?"


Aku menggeleng. "Enggak. Langsung pulang."


"Oke," balas Reynand.


####


"Sampai!" seru Reynand saat kami sudah sampai di depan rumah Bapak.


Lalu dengan luwesnya, ia membantu Kafka turun.


"Hore!! Sampai!!" seru Kafka ikut-ikutan berteriak. "Makasih, Om ganteng, udah jemput Kakak," lanjutnya sebelum berlari masuk ke dalam rumah. Membuatku gemas dan langsung meneriakinya.


"Kok Bulek nggak dikasih ucapan terima kasih juga?" protesku kemudian.


"Dasar pinginan," cibir Reynand mengejekku. Dan dengan tidak tahu malunya, ia tiba-tiba merangkul pundakku dan mengajakku untuk masuk ke dalam rumah. "Masak gih, biar aku bantu Kafka ganti bajunya," imbuhnya kemudian.


"Enak di kamu, apes di aku dong?"


"Kenapa begitu?" Reynand menoleh ke arahku dengan ekspresi bingungnya.


"Ya, karena Kafka udah bisa ganti baju sendiri. Dan poin pentingnya, Kafka itu udah sok gede, yang selalu merasa melakukan ini-itu bisa sendiri. Ya, bisa dibilang mandiri lah."


Reynand mangguk-mangguk dengan ekspresi takjubnya.


"Keren, ya. Jadi pengen satu, eh, dua deng. Masa cuma satu, kurang seru dong, ya?"


Sebagai respon, aku langsung meliriknya sinis dan melepaskan tangannya yang tadi sempat merangkulku.


"Ngehalu aja sana!" ketusku lalu meninggalkannya masuk duluan.


Tbc,

__ADS_1


mumpung lagi rajin 😂 up teroosss ah 😁


__ADS_2