Telat Nikah?

Telat Nikah?
Bimbang


__ADS_3

#####


Aku terkejut saat meletakkan ponselku, dan menyadari jaket milik Reynand, yang seharusnya dibawa justru masih tergeletak di atas meja. Dengan sedikit berlari-lari aku menuruni anak tangga, berharap Reynand belum meninggalkan butik. Namun, begitu aku sampai di bawah motornya bahkan sudah tak terlihat. Membuatku gemas ingin mengumpat.


Sial.


Terus kenapa tadi dia kesini, kalau pada akhirnya jaketnya masih di sini.


Astaga.


Karena cuaca lumayan dingin, aku pun memutuskan untuk kembali naik ke lantai atas. Perutku mulai terasa lapar, dan aku butuh sesuatu untuk dicerna oleh lambungku. Namun, belum juga sampai di dapur, layar ponselku tampak berkedip, membuatku mengurungkan niatku untuk memasak mi instan.


Aku meraih ponselku dan mendapati nama Kenzo pada layar ponsel. Dengan sedikit berat hati, aku pun menggeser tombol hijau dan menempelkannya pada telingaku.


"Ya, hallo. Assalamualaikum," sapaku begitu sambungan terhubung.


"Wallaikumsalam. Maaf baru bisa nelfon, La. Aku mau--"


"Minta maaf?" tebakku sengaja memotong kalimatnya. Dan langsung dibenarkan Kenzo.


Aku menghela nafas sambil memijit pelipisku. "Kesha nggak salah, Ken," kataku pelan. "Mungkin benar malah. Mengingat fakta apa yang dia ucapin tadi, kalau aku nyakitin kamu." Aku mengangkat bahu secara reflek, kemudian tersenyum kecut kala mengingat fakta itu.


"Kamu ini ngomong apa sih?" balas Kenzo tak suka."Aku bahagia sama kamu. Kamu bahagiain aku dengan cara kamu sendiri dan Kesha nggak tahu fakta itu. Tapi dia dengan sok tahunya malah labrak kamu dan nyakitin perasaan kamu. Dan itu justru bikin aku lebih menderita. Aku nggak mau itu."


Aku kembali menghela nafas. "Kesha nggak ngelabrak aku, Ken. Dia cuma minta tolong."


Aku dapat mendengar suara dengkusan dari seberang. "Nyuruh kamu buat ninggalin aku, kamu sebut itu minta tolong, La?"


Aku diam sejenak. Memilih untuk tidak langsung menjawab.


"Kesha ngasih pilihan, Ken," kataku setelah terdiam cukup lama.


Kenzo mendengus. "Kamu sebut itu pilihan?" tanyanya tidak percaya.


"Ken, aku capek, serius. Bisa kita bahas ini besok?"


Aku memilih menyerah dan ingin segera mengakhiri obrolan yang memusingkan ini. Serius, aku nggak kuat lama-lama. Apalagi perutku mulai terasa perih. Sepertinya ngambek karena telat ku kasih makan. Bisa gawat kalau maagku sampai kambuh.


"Maaf," sesal Kenzo, membuatku jadi tak enak.


"No. Kamu nggak salah. Dan aku rasa nggak ada yang perlu disalahin."


"Oke. Kamu istirahat, ya. Kasih tahu aku kalau kamu udah siap bahas ini."


Aku mengangguk sambil mengiyakan.


"Jangan terlalu mikirin omongan Kesha tadi. Assalamualaikum."


"Iya. Waalaikumsalam."


Setelah mematikan sambungan telfon, aku langsung meletakkan ponselku di atas meja. Kemudian bergegas untuk merebus mi instan untuk mengganjal perutku yang benar-benar sudah perih, bahkan sekarang disertai sedikit mual. Setelah mi rebusku matang, aku langsung melahapnya walau tidak sampai habis. Baru setelahnya aku langsung bergegas tidur.


****


"Mo, Kesha kemarin nemuin aku. Dia minta tolong."


"Minta tolong apaan?" tanya Monik terlihat sibuk membolak-balikkan majalah fashion langganku yang telah terbit entah kapan tahun.


Aku memang memilih menyimpang majalah-majalah lama. Buat koleksi. Lumayan juga kalau lagi suntuk bisa buat nambah inspirasi. Meski jarang.

__ADS_1


"Biar cepet nikah sama kakaknya atau ninggalin kakaknya aja."


"Huh? Maksudnya?"


Aku meletakkan sepiring buah apel dan juga pir di atas meja, menusuknya sepotong lalu memberikan pada Illa. Baru kemudian duduk di sebelah anak Monik yang belum genap berumur empat tahun ini.


"Jadi dia minta aku biar cepet nikah gitu sama Kenzo, cuma kalau aku nggak mau, aku disuruh ninggalin dia aja. Menurutmu aku harus gimana?"


"Nikah aja! Udah tua juga, daripada disuruh ninggalin. Yang ada ntar kamu jomblo, umur segitu katanya Tuhan udah angkat tangan loh kalau urusan jodoh."


Aku berdecak sebal. Bersiap melempar Monik menggunakan bantal sofa yang ada di sampingku. Namun, aku harus menghentikan niat tersebut saat Illa tiba-tiba menarik ujung kaosku.


"Ada apa sayang?" tanyaku sambil menatap Illa lembut.


"Aunty, mau gambar."


Pandanganku beralih pada Monik. "Ini yang dimaksud gambar apaan, Mo?"


"Ngegambar, La. Kasih aja kertas sama pensil."


"Sama pensil warna," kata Illa menambahkan.


"Aunty mana punya pensil warna," jawab Monik pada Illa, baru kemudian menoleh ke arahku. "Kasih pensil sama kertas aja udah, La."


"Ada kok. Bentar ya, Aunty ambilin dulu."


Aku langsung berdiri menuju ruang kerjaku, mengambil selembar kertas HVS, pensil dan juga pensil warna yang biasa aku gunakan untuk menggambar desain. Lalu menyerahkannya pada Illa yang sudah duduk bersila di atas karpet lantai.


"Makasih, Aunty," ucap Illa sambil tersenyum.


"Sama-sama sayang," balasku sembari mengusap rambutnya gemas.


"Udah, nikah aja, La. Udah cocok jadi emak-emak kamu. Kalau kamu ninggalin Kenzo, yang ada keburu telat kamu nikahnya. Mending nikah secepatnya. Percaya sama aku, nikah itu enak. Nggak bakalan rugi deh kamu. Yang ada menang banyak."


Aku menghela nafas sambil menggeleng tak yakin. Menikah dengan Kenzo belum masuk daftar rencana hidupku. Aku juga belum siap menyandang status sebagai suami Kenzo. Yang entah kenapa tedengar berat untuk kusandang. Aku merasa tidak yakin akan hal itu, meski membayangkan melewati hari-hari bersama Kenzo terdengar menyenangkan.


"Kenapa? Kurang apa sih si Kenzo itu? Ganteng, jelas. Berduit, iya. Mapan, lumayan. Baik, banget. Perhatian, pengertian dan juga romantis. Kurang apa lagi sih?"


"Kurang yakin," gumanku lirih.


"APA?!" pekik Monik. "Enam tahun pacaran dan kamu belum yakin? Sampai sekarang? Seriosly? Jangan bercanda kamu, La."


Aku diam. Mulai mencerna kalimat Monik barusan. Iya juga ya. Kenapa aku sampai detik ini belum yakin untuk menikah, padahal aku tidak memiliki pengalaman buruk tentang pernikahan dari orang terdekatku. Bukankah ini aneh? Mengingat Kenzo yang nyaris sesempurna itu.


"Jangan bilang kamu nggak beneran cinta sama Kenzo?" selidik Monik penuh curiga.


Aku menatapnya tak paham. "Maksud kamu?"


"Dan jangan bilang ini ada hubungannya sama cowok itu?"


"Apaan? Ini masalahku dan juga Kenzo, Rey nggak ada urusannya. Dia orang asing," bantahku tak terima.


Aku benar. Reynand memang orang asing. Kami hanya bertemu beberapa kali, itu pun karena tidak sengaja. Oke, yang kemarin memang kita sengaja bertemu, tapi itu dengan alasan dan bukan tanpa alasan. Reynand harus mengambil jaketnya dan ia sedang sial kemarin. Karena malah turun hujan dan membuatnya terpaksa untuk tinggal di butikku sampai hujan reda. Dan itu semua hanya kebetulan.


"Oke, kita anggap si Rey-Rey itu hanya orang asing." Monik beralih menatapku. "Apa dia pernah ke sini?" tanyanya penuh curiga.


"Pernah," jawabku tanpa keraguan. "Dia nganter adeknya fitting baju," imbuhku kemudian.


"Yakin cuma itu?"

__ADS_1


Aku berpikir sejenak. Haruskah aku bilang kalau tidak hanya sebatas itu.


"Nggak usah kamu omongin. Udah keliatan," ujar Monik sambil mendengkus.


"Dia ke sini mau ambil jaket. Tapi malah hujan dan dia pas bawa motor temennya, aku nggak punya jas hujan, di motor temennya pun enggak ada jas hujannya juga. Ya udah aku suruh di sini dulu sampai hujannya reda."


Aku tidak punya pilihan lain selain jujur. Berbohong sama Monik itu ibarat kata pergi ke tempat Gym buat olahraga tapi makan junk food setelahnya, pake nambah pula. Kan percuma.


"Ya udah, tinggalin Kenzo."


"MONIK!!" pekikku tidak terima.


Gampang banget sih itu mulut tinggal mangap. Nggak mikiran perasaanku banget.


"Kenapa, Aunty?" tanya Illa menatapku dan Monik heran secara bergantian.


"Nggak papa. Illa gambar lagi aja," kataku menenangkan.


Dengan patuh Illa mengangguk, setelah tadi sempat menatap Mamanya.


"Kamu kok gampang banget sih ngomong gitu, nggak mikirin perasaanku banget."


"Hidup udah susah, jadi jangan dibikin ribet," balas Monik santai.


Aku mendengkus.


"Soalnya hubungan kamu sama si Rey-Rey itu bikin aku mikir yang iya-iya. Entah kenapa aku tuh ngerasa kalian ada something, atau bakalan ada something."


Aku kembali diam sesaat sebelum bertanya. "Kenapa kamu ngerasa gitu?"


"Feeling aja," ucap Monik yakin.


Aku memandang Monik tidak pecaya. "Dan aku harus percaya sama feeling-mu itu?"


Monik mengangkat bahu. "Ya, itu terserah kamu-nya. Boleh ngikutin feeling aku atau feeling kamu sendiri, meski kemungkinan feeling kita sama."


"Kenapa kamu seyakin itu sih, Mo?"


"Karena kamu sendiri meragukan cinta kamu untuk Kenzo."


"Aku nggak ragu sama cintaku unt--"


"Tapi lo ragu mau nikah sama Kenzo," potong Monik cepat dan kali ini terdengar emosi. "Itu hampir sama kalau lo ragu sama cinta lo ke dia," geramnya jengkel.


Sementara aku memilih untuk diam. Monik itu kalau udah pake lo-gue, artinya udah emosi tingkat tinggi. Jadi, daripada kena sembur mending diam.


"Aku udah ngingetin kan kemarin, jangan php-in anak orang. Baik Kenzo dan juga Rey-Rey itu, kayaknya mereka sama-sama naruh harapan yang tinggi ke kamu, La."


Nada bicara monik sudah kembali, ia bahkan sudah menganti kata lo-gue menjadi aku-kamu lagi.


"Cari tahu dulu apa yang kamu rasain ke Rey, si pria asing yang kayaknya lumayan menyita perhatian kamu," saran Monik membuatku langsung terdiam.


Aku bingung dan juga bimbang. Aku bahkan sedikit takut, jika nantinya aku menginginkan Reynand.


"Bukannya lebih baik aku menikah sama Kenzo."


"Kenapa tiba-tiba mikir gitu? Bukannya tadi kamu bilang masih belum yakin?" Monik menatapku curiga.


"Tahu ah, pusing!" pekikku frustasi.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2