
Orang bilang cinta itu tidak harus memiliki.
Orang bilang cinta itu harus siap terluka.
Orang bilang cinta itu harus buta
Orang bilang cinta itu..... omong kosong
Dan masih banyak lagi pendapat orang-orang tentang cinta itu seperti apa. Tapi bagiku sendiri, cinta itu suci. Haha, terdengar seperti judul sinetron kegemaran Mama. Baiklah, aku hanya bercanda. Bagiku sendiri cinta itu seperti permen nano nano kesukaan Kafka, ponakan Aqilla.
Ah, Aqilla. Nama yang sebenarnya tidak ingin ku sebutkan atau tidak ingin ku dengar. Tapi begitu ingin ku temui karena rasa rindu.
Astaga, baru tahu aku rasanya merindukan mantan kekasih seenggak mengenakkan ini. Begitu menyiksa dan membuat sesak seluruh rongga dada.
Ya, benar. Kami pacaran cukup lama tapi baru berpisah beberapa hari yang lalu. Karena masa jabatanku untuk jagain jodoh orang sudah berakhir dan tidak dapat ku perpanjang lagi. Membuatku kini menyandang status jomblo baru, yang tentunya masih bermental krupuk karena belum terbiasa. Jadi wajar bukan kalau aku sedih dan bergalauria karena baru putus?
Tolong katakan, iya!
Kalau tahu akan berakhir tragis seperti ini, mungkin aku tidak memilih untuk pacaran saja. Setidaknya terbiasa sendiri jauh lebih baik daripada membiasakan untuk sendiri. Oh, astaga! Sepertinya patah hatiku cukup serius melihat pikiran ngacoku barusan.
"Kenapa, Mas?"
Aku mengerutkan dahiku bingung, saat mendengar pertanyaan Kesha, adik semata wayangku yang sudah dilamar kekasihnya beberapa bulan yang lalu.
Astaga, adikku yang jaraknya lima tahun lebih muda dariku sama sudah punya calon suami, masa aku tidak punya calon istri. Ck. Benar-benar memalukan.
"Lah, kenapa malah ngelamun lagi? Lagi mikirin apaan sih?" Kesha bertanya dengan wajah kekepoannya yang sudah mendarah daging.
Sementara aku hanya mendengkus, lalu mengatainya kepo.
"Mikirin Mbak Qilla?" tebak Kesha, yang tidak sepenuhnya benar, tapi tidak salah juga.
Aku berdecak jengkel. "Nggak usah kepo!" Kemudian mengusirnya.
Tapi bukan Kesha namanya kalau diusir langsung pergi begitu saja dengan sukarela. Perempuan yang berprofesi sebagai teller di salah satu bank swasta ini tersenyum meremehkan. Membuatku dengan spontan mengambil bantal sofa yang ada di sampingku, lalu melemparkan ke wajahnya.
"Mukanya biasa aja," ujarku sewot.
Maklum orang patah hati gampang sensi.
"Kalian udah putus, ya?" ucapnya tiba-tiba.
__ADS_1
Tubuhku menegang. Mampus! Kesha tahu dari mana?
"Dari Mbak Qilla. Tadi aku ke butiknya, buat ngukur."
Aku menatapnya panik. "Ngukur apa?"
"Ngukur badan aku. Buat baju nikahan."
"Kamu jadi bikin di sana?"
Dengan raut wajah santainya, Kesha mengangguk.
"Kok bisa?"
Kesha berdecak tak suka sambil menatapku galak. "Ya bisa lah, orang dari awal emang mau bikin di sana," ketusnya kemudian.
"Tapi Mas--" Aku menghentikan kalimatku. Hampir saja keceplosan.
"Udah putus sama Mbak Qilla," kata Kesha menambahkan tanpa beban.
Aku melongo.
Aku panik.
Mampus! Ini si Qilla udah cerita apa saja sama Kesha? Astaga, habis ini aku pasti diomelin habis-habisan sama Kesha.
Kesha berdecak. "Aku nggak ngerti ya, sama jalan pikiran kamu, Mas. Sebenarnya apa sih yang ada di otak kamu ini? Apa? Cara meracik kopi yang enak?"
"Apaan sih, Ke," gerutuku. "Ini urusan aku sama Qilla. Kamu nggak usah ikut campur."
"Kalau aku nggak ikut campur, kamu nggak bakalan bisa tahu isi hati Mbak Qilla, Mas."
Aku menelan ludahku, gugup. Anjir, gini banget deh diintrogasi adek sendiri. Bikin jiper setengah mampus.
Kesha menghela nafas putus asa. "Jadi, sekarang apa yang mau Mas lakuin?"
Pertanyaan macam apa itu. Ambigu banget, nggak jelas. Orang yang abis diputusin cuma bisa ngelakuin dua hal. Kalau nggak move on ya, bunuh diri. Eh, kok opsi kedua serem ya. Oke, oke, kita ganti. Kalau nggak move on ya, berjuang sekali lagi. Berhubung Aqilla sudah tidak mau aku perjuangkan, ya, satu-satunya yang bisa aku lakuin, ya move on.
"Malah ngelamun," gerutu Kesha.
Aku berdecak. "Move on," ketusku galak.
__ADS_1
"Hah?"
"Ya, tadi kan kamu tanya apa yang mau aku lakuin kan?" Kesha mengangguk membenarkan. "Ya, move on yang mau aku lakuin."
"Oh." Kesha beroh'ria' sambil mangguk-mangguk paham. "Perlu bantuan?"
Aku menatapnya sekilas, kemudian mengangguk. "Boleh. Kayaknya emang perlu."
"Minggu ini ada event nggak di Cafe?" tanya Kesha.
Aku berpikir sembari mengingat, lalu menggeleng. "Kayaknya sih, enggak."
"Udah siap kencan buta?"
"HAH?!"
"Biasa aja," protes Kesha sambil memukul lenganku.
"Mas terkejut," gumanku jujur.
"Lebay!"
"Ya udah, iya. Mas siap. Tapi cariin yang tipe-tipe Mas, ya?"
"Ngarep! Cari yang mau sama Mas aja lah, minta bantuan kok nglunjak."
"Hei! Kamu yang nawarin, ya. Bukan Mas."
"Sama aja."
"Beda."
"Sama."
"Beda."
"Sama. Titik."
Aku langsung bungkam. Oke, kali ini aku mengalah karena mau dicariin penawar hatiku yang sedang patah. Tapi lain kali? Ya, liat situasi juga sih. Hahaha.
*****
__ADS_1