Telat Nikah?

Telat Nikah?
Diskusi Itu Penting


__ADS_3

Aku melirik ponselku yang tergeletak di atas meja sedang berkedip, menandakan ada panggilan masuk. Aku tidak langsung menjawabnya setelah tahu kalau si penelfon itu Reynand. Baru pada panggilan kedua, aku menjawabnya meski sedikit enggan. Egoku masih tergores, rasa kecewa itu terasa nyata adanya. Aku kesal bukan main dengan sikap Reynand. Kenapa tega-teganya dia melakukan ini padaku. Aku benar-benar tidak habis pikir.


"Ya, hallo. Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumussalam. Yang, kamu di mana? Ini aku di rumah Bunda, tapi kok kamu nggak ada. Kamu udah pulang apa di butik sekarang?"


"Aku pulang ke apartement," jawabku sekenanya.


"Kok nggak ngasih kabar?"


Terdengar suara decakan samar dari seberang. Membuatku memutar kedua bola mataku kesal.


"Lupa," jawabku singkat.


"Apa?! Lupa kamu bilang? Maksudnya kamu lupa udah punya suami gitu, makanya nggak ngabarin? Iya?" Suara Reynand terdengar kesal.


"Iya, kamu puas?"


"Apa kamu bilang? Kamu itu kenapa sih?"


"Kurang jelas?"


"Heh? Kamu lagi dapet, ya?"


"Kalau udah nggak ada yang penting, aku matiin," jawabku tidak nyambung.


"Kamu itu kenapa sih? Aku bikin sal--"


"Langsung aku matiin," potongku, memotong ucapannya dan langsung mematikan sambungan telfon darinya.


Aku kemudian meletakkan kembali ponselku di atas meja, dan menunggu kepulangan Reynand setelahnya.


Sedikit lama menunggu, Reynand akhirnya pulang.


"Assalamualaikum!" ucap Reynand saat memasuki ruang tengah.


"Wa'allaikumussalam."


Aku langsung berdiri dan meraih tas kerjanya. "Mau mandi dulu atau makan?"


"Kamu marah?" tanya Reynand.


"Mandi dulu? Ya udah, aku siapin makannya."


"Sayang kalau kamu nggak kasih tahu aku salahku di mana, gimana aku mau memperbaikinya?"


"Kamu nggak sadar kesalahan kamu apa?" Aku menatapnya datar.


Dengan gerakan polos, Reynand menggeleng.


"Aku akan kasih tahu nanti. Sekarang kamu mending mandi dulu, aku siapin makannya," kataku lalu membawa tas kerjanya menuju kamar.


Tak lama setelahnya, Reynand mengekor di belakangku sambil mendesah pasrah dan berkata, "Kesalahan aku fatal banget, ya?"


"Mandi dulu aja aku siapin makannya," kataku lalu keluar dari kamar.


Sekali lagi, Reynand mendesah panjang sebelum akhirnya meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedang aku langsung menuju dapur untuk menyediakan makan malam Reynand di atas meja. Setelah semuanya sudah tertata rapi di meja, aku langsung menuju ruang tengah. Meraih remote tv dan menyalakannya, mencari-cari tontonan yang dapat kunikmati. Tak lama setelahnya, Reynand keluar dari kamar dengan rambut bawahnya. Aku hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada saluran televisi, yang sebenarnya tidak benar-benar kutonton.


Aku kemudian berkata, "Makan malamnya sudah aku siapin di meja. Kalau udah tinggal gitu aja, nanti aku beresin. Nggak usah cuci piring juga," kataku tanpa menoleh ke arahnya.


Lagi-lagi Reynand menghela nafas. "Kamu udah makan?"


Masih tanpa menoleh ke arahnya, aku mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Enggak mau nemenin aku makan gitu?" tanya Reynand, dan kali ini cukup sukses membuatku langsung menoleh ke arahnya.


"Kenapa? Enggak berani makan sendiri? Aku masih di sini loh, nggak pergi ke Malioboro."


"Ya udah, kalau nggak mau nemenin, ya udah. Nggak usah sewot juga, bisa kan?" gerutu Reynand lalu berjalan menuju dapur.


Aku hanya diam saja. Tidak ada niat untuk meresponnya, malas saja begitu rasanya.


Aku langsung berdiri saat mendengar suara gemericik air dari kran. Tanpa banyak berpikir, aku langsung berjalan menuju dapur dan mendapati Reynand sedang mencuci piring. Meja makan sudah bersih dan juga rapi.


"Kan, aku bilang nggak usah cuci piring. Nanti aku beresin juga. Kenapa ngeyel banget sih," gerutuku sambil berdecak tak suka.


Reynand tak langsung meresponku, ia memilih menyelesaikan kegiatan mencuci piringnya terlebih dahulu. Baru setelah selesai, ia mematikan kran dan mengibaskan kedua tangannya dan berbalik menatapku.


"Aku coba meringankan pekerjaan rumah kamu, apa itu juga sebuah kesalahan?"


Kedua mata Reynand menyorotku tajam. Wajahnya terlihat menyimpan kekesalan yang sama denganku. Membuatku tidak bisa berkata-kata dan akhirnya memilih untuk meninggalkannya begitu saja. Tak lama setelahnya, Reynand menyusulku.


"Ini mau diomongin atau mau diem-dieman aja sampai besok?" tanya Reynand sambil menatapku.


"Jelas diomongin lah," jawabku dengan nada ketus.


Reynand kemudian duduk di sofa single dan berkata, "Ya udah, sekarang kamu ngomong. Aku abis bikin salah apa."

__ADS_1


"Kamu nggak pengen ngakuin sesuatu?" sindirku.


Reynand mengernyit tak paham. "Ngakuin sesuatu apa? Aku nggak ngerasa abis ngelakuin sesuatu yang salah."


"Yakin?" desakku tak sabaran.


"Coba kamu jelasin, aku benaran nggak ngerti, sayang. Plis, jangan bikin aku bingung."


Rahangku semakin mengeras, mendengar jawaban yang Reynand ucapkan. Hatiku bertambah sakit saat mendengarnya, kenapa rasanya semengecewakan ini?


"Kamu ada rencana beli ruko untuk kamu jadiin kantor?"


Kali ini, aku tidak bisa menyembunyikan nada suaraku yang penuh kekecewaan. Bahkan kedua mataku terasa memanas, menahan tangis saat ini. Kulirik, ekspresi wajah Reynand berubah tegang. Terlihat sekali kalau ia sedang gugup.


"K.kamu tahu dari siapa?"


"Jadi, bener?"


Dengan ekspresi penuh penyesalan, Reynand mengangguk.


"Kenapa kamu bisa nggak ngasih tahu aku hal sepenting ini, Mas?! Apa memang aku tidak sepenting ini di dalam hidup kamu, iya?!"


Aku berseru penuh dengan emosi. Amarahku sudah tidak bisa kutahan lagi. Aku kecewa, aku juga marah. Tapi, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak dan menangis. Katakan aku berlebihan, tapi, bagiku ini jelas mengecewakan karena dia tidak mengajakku berdiskusi terlebih dahulu.


"Aku... aku bisa jelasin," kata Reynand, ia kemudian berpindah duduk tepat di sebelahku. Kedua tangannya langsung meraih kedua tanganku, namun aku elak.


"Jelasin! Aku memang perlu mendengar semuanya, sejelas-jelasnya," kataku sambil mengangguk lalu mengusap kedua pipiku yang basah.


"Aku... sebenarnya punya niat pengen kasih kejutan sama kamu--"


"Ya, dan kamu sukses bikin aku terkejut," potongku dengan nada ketus.


"Sayang, dengerin aku dulu! Aku tahu aku salah--"


"Kalau kamu tahu itu salah, harusnya kamu nggak ngelakuin itu, Mas. Tapi, kenapa kamu lakuin ini? Aku ini istri kamu, Mas. Kamu anggep aku ini apa sih?"


Aku kembali memotong ucapan Reynand dengan penuh emosi.


"Kamu ini ngomong apa sih? Kamu itu istri aku, ya, jelas aku nganggep kamu istri aku. Memang aku harus nganggep apa? Kamu jangan aneh-aneh, deh."


"Oh, jadi yang aneh-aneh aku. Kamu enggak gitu? Fine."


Aku kemudian langsung berdiri, bersiap masuk ke dalam kamar, namun ditahan Reynand.


"Kita belum selesai bicara, kamu nggak boleh pergi gitu aja dong. Kita harus segera selesaikan masalah ini malam ini juga."


"Oke, aku minta maaf."


"Nggak segampang itu, Mas."


Tanpa dapat kutahan, air mataku kembali jatuh.


"Aqilla, plis, jangan nangis dong, sayang! Aku nggak suka lihatnya."


"Lalu kamu pikir aku suka gitu? Enggak, Mas. Aku juga nggak suka."


Reynand langsung meraih tubuhku dan merengkuhnya. Kali ini aku tidak memberontak, hanya pasrah. Karena mungkin memang aku butuh ditenangkan. Pelukan Reynand ternyata cukup ampuh menenangkanku.


"Maafin aku, sayang," bisik Reynand sambil mengecup pucuk rambutku.


"Kenapa kamu nggak ngajak aku diskusi dulu sih, Mas? Kenapa?"


"Bukan aku nggak mau ngajak kamu diskusi. Cuma, aku emang ada rencana mau bikin kejutan buat kamu. Karena kamu tahu, ruko yang pengen aku jadiin kantor itu deket sama butik kamu."


Aku kemudian langsung melepaskan pelukannya, dan menatap Reynand curiga.


"Bukan aku mau ngikutin kamu, sayang. Tapi kebetulan dapetnya di situ, terus aku ngincer itu tempat jauh sebelum kenal kamu. Pas udah kenal, makanya aku makin gencar pengen beli itu. Tapi ya, emang susah dapetinnya."


"Terus kenapa kamu bisa ditipu?"


"Hah? Ditipu?" Reynand memandangku dengan ekspresi kebingungannya.


"Kata Risha kamu ditipu."


Reynand ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Sebenernya, nggak sepenuhnya ditipu." ia kemudian menggaruk-garuk kepalanya, mungkin sedang bingung mau menjelaskannya.


"Maksudnya gimana sih? Aku nggak paham."


"Jadi gini, aku minta tolong gitu sama temen aku yang kerja di bagian properti gitu kan."


"Ditipu berapa? Uangnya bisa balik enggak?"


"Eh, bentar dong, sayang. Dengerin aku dulu!"


Aku mengangguk, meski sebenarnya agak malas. Kekecewaanku belum hilang begitu saja. Aku masih kesal dengan Reynand.


"Uang nggak bisa balik--"

__ADS_1


"Apa?!" seruku spontan dengan kedua bola mata melotot tajam ke arah Reynand, "nominalnya berapa itu, Mas?"


"Sayang, dengerin dulu dong! Kamu jangan terbawa emosi dulu, tenang! Dengerin sampai selesai baru tanya, jangan dipotong dong ucapanku. Kan aku belum selesai."


Bagaimana bisa aku tidak terbawa emosi. Membeli ruko dengan dua lantai untuk dijadikan kantor, jelas uangnya tidak sedikit. Bagaimana bisa aku tenang?


"Aku jelas bisa nebak kalau nominalnya enggak sedikit, Mas. Gimana aku bisa tenang? Kamu jangan bercanda?"


Aku berseru dengan nada suara yang kembali agak meninggi dan ekspresi wajah tidak setuju.


"Tapi, kan aku mau jelasin dulu ini, sayang."


"Ya udah, buruan jelasin!" ketusku judes.


"Iya, tapi jangan kamu potong-potong terus, biar cepet kelar."


Aku mengangguk.


"Uang nggak bisa balik itu karena aku dapetin rukonya, sayang. Gimana mau balik kalau aku dapetin itu tempat. Kan, aku pengen tempat itu." Reynand menjeda kalimatnya dan meraih kedua tanganku. "Kamu siapa yang ngasih tahu kalau aku ditipu?" tanyanya sambil menatapku.


Aku balas menatapnya dan berkata, "Risha."


Reynand langsung berdecak di detik berikutnya dan berguman, "Pantesan."


Aku menerjap kebingungan. Eh, Arisha salah dapet informasikah? Kalau iya, aku berdosa dong, karena sudah marah-marah dengan suami sendiri. Duh, kok perasaanku menjadi tidak enak begini.


Aku kemudian meringis canggung dan bertanya, "Risha salah dapet info, ya?"


"Enggak sepenuhnya salah, cuma kurang tepat aja."


"Eh, kenapa begitu?"


"Aku memang ditipu temen aku, yang. Cuma ditipunya itu, karena temenku ngambil keuntungan terlalu besar. Jadi semisal nih, si pemilik jual rukonya sebesar 10 juta, ini semisal aja ya. Tapi temenku jual ke aku 20 juta, tapi karena temen, aku dikasih 18 juta. Gitu, sayang."


"Gede banget dong temen kamu ambil keuntungannya?"


"Nah, makanya, aku kayak ngerasa ditipu gitu sama temen aku. Kamu ngerti kan, sayang?"


Aku mengerti, memang. Tapi, yang aku permasalahkan sekarang adalah berapakah jumlah nominal yang telah ia bayar?


"Terus nominal yang kamu bayar berapa?" tanyaku penasaran.


Reynand meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya. Terlihat sekali kalau ia sedang ragu-ragu.


"Udah kamu bayar?"


Dengan wajah penyesalannya, Reynand mengangguk.


"Berapa?" desakku tak sabaran.


"Aku takut kamu kaget. Kamu ada riwayat sakit jantung enggak?"


Aku langsung menyilangkan kedua tanganku di depan dada. "Jawab aja, Mas! Di keluarga aku nggak ada yang punya riwayat penyakit itu."


"Tapi, kamu janji jangan marah, ya?"


"Lihat nanti."


"Ah, kok gitu sih?" rengek Reynand sambil berdecak.


"Salah kamu sendiri, kenapa nggak jujur daei awal," balasku tidak peduli.


Membuat Reynand menunduk dan mangguk-mangguk, membenarkan dengan ekspresi wajah setengah tidak relanya.


"Iya, emang salah aku."


"Jadi, berapa nominal yg harus kamu bayar?"


"Duh, aku deg-degan deh, yang."


"Jawab aja, Mas! Katanya pengen cepet-cepet kelar."


Reynand melirikku ragu kemudian menggeleng.


"Maksudnya apa itu?"


"Pinjem hape," pinta Reynand sambil menodongkan telapak tangannya.


"Buat apa?" tanyaku heran, namun tetap memberikan ponsel kepadanya.


"Buat nulis nominalnya, aku nggak tega mau ngucapin langsung soalnya," kata Reynand sambil mengutak-atik ponselku, tak lama setelahnya, ia kemudian menyodorkannya padaku.


Aku meliriknya sebentar, sebelum akhirnya melihat ke arah layar dan melotot tajam.


"Segini banyak?" tanyaku yang hanya dijawab Reynand dengan anggukan kepala pelan. Dalam hati aku langsung beristigfar dan langsung memukul pundaknya.


"Reynand Pramuji!!!" jeritku penuh kekesalan.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2