
#####
"Makan dulu, yuk, itu suamimu habis beli makanan. Kita makan bareng-bareng."
Aku menggeleng pelan, saat mendengar ajakan Bunda. "Nanti aja, Bun, Qilla belom laper," ucapku seadanya.
Bunda menghela napas, lalu kembali duduk di tepi ranjang dan mengelus rambutku. "Sayang, jangan begini dong, kamu juga perlu makan. Itu Rey udah beli makanannya lho, Ayah juga ikut ke sini tadi, terus sekarang nungguin kita. Makan dulu, yuk, nanti baru istirahat lagi," ajaknya beliau tak ingin menyerah.
Namun aku masih tetap enggan.
Aku menggeleng. "Nanti aja, Bun, Qilla janji kalau lapar, nanti langsung makan kok."
Kali ini Bunda menyerah. Beliau mengangguk pasrah dan keluar dari kamar. Tak lama setelahnya, Reynand muncul sambil membawa nampan berisi piring untuk alas nasi bungkus dan segelas air putih.
"Makan dulu, yuk!" ajak Reynand langsung meletakkan nampan di atas meja nakas, baru kemudian duduk di sebelahku, "makan sendiri apa disuapin?"
Aku tahu betul Reynand saat ini sama terpukulnya, tapi melihat ekspresi Reynand yang dibuat biasa saja, seolah tidak terjadi apa pun ini. Justru membuat hatiku sakit. Rasanya tidak adil, aku dan Reynand harusnya sama-sama saling menguatkan, bukan hanya aku saja yang dikuatkan begini.
"Sayang, kok malah bengong? Ini kamu mau makan sendiri apa mau disuapin, biar romantis?"
"Mau peluk."
Aku kembali menangis dan memeluk tubuh Reynand. Dengan gerakan sigap, ia langsung membalas pelukanku dan menepuk pundakku pelan.
"Ssssst... udah nggak usah nangis, kan sudah dipeluk," bisik Reynand, kali ini tanggannya berganti mengelus rambutku.
"Maafin aku, ya, Mas."
Kami mengurai pelukan kami. Aku menunduk karena perasaan bersalah. Lalu Reynand menyentuh kedua pipiku, mengintruksi agar aku menatap wajahnya.
"Mau minta maaf tentang apa?"
"Kita sama-sama terpukul dengan berita ini, tapi aku dengan egoisnya hanya mementingkan perasaanku sendiri. Padahal aku tahu betul, kita sama-sama terluka dan sakit dengan fakta yang baru saja kita dapat, kalau ternyata aku nggak benar-benar hamil."
Reynand kembali memelukku, lalu berkata, "Enggak papa, sayang. Lagian, kalau kamu egois atau tidak memikirkan perasaanku, kamu tidak akan bicara begitu. Itu sudah cukup menjadi bukti kalau kamu memikirkan perasaan juga. Jadi, berhenti berpikir begitu, karena kamu tidak demikian, sayang. Udahan nangis, ya, sekarang makan dulu. Nanti kalau mau dilanjut boleh kok. Hari ini aku kasih kamu nangis sepuasnya, asal besok, udah nggak boleh nangis lagi. Oke?" Ia mengurai pelukannya dan mengelap pipiku yang basah.
Mau tidak mau aku akhirnya tersenyum dan mengangguk patuh.
"Nah, gitu dong, itu baru namanya istri baik dan pintar."
Aku mengangguk sekali lagi, lalu memeluk Reynand kembali. Setidaknya, pelukan kami sedikit menenangkanku.
"Sekarang makan dulu, ya?" kata Reynand sambil mengurai pelukannya.
Aku mengangguk. Reynand kemudian meraih piring berisi nasi bungkus, lalu membukanya, sebelum akhirnya disodorkan kepadaku.
"Kamu?" tanyaku sebelum menerima nasi bungkus yang ternyata berisi ayam rames.
"Nanti. Sekarang penting kamu makan dulu."
"Kok gitu? Ya, udah buat berdu--"
"Ya udah, aku ambil punya aku."
Reynand langsung berdiri dan keluar dari kamar, lalu aku menyusulnya. Di ruang tengah ada Ayah dan Bunda yang sedang menikmati nasi bungkus masing-masing, ditemani siaran televisi yang kini menyiarkan berita gosip. Ayah terlihat tidak perduli dengan layar, sedang Bunda tampak serius mengamati layar televisi. Bahkan, beliau tak jarang berkomentar.
"Maaf tadi aku ambil minum dulu. Mau makan di ruang tengah aja?" tawar Reynand, membuat Ayah dan Bunda langsung menoleh ke arah kami.
Aku kemudian mengangguk sebagai tanda jawaban. Lalu Reynand ikut mengangguk dan mengajakku untuk bergabung dengan Ayah dan Bunda.
"Ayah juga di sini?" Aku sedikit berbasa-basi dengan Ayah.
"Iya, nganter Bundamu tadi," jawab Ayah, "sini, sini, duduk! Kita makan sama-sama," sambung beliau.
Aku mengangguk. "Maafin Qilla, ya, Yah, Bun, udah ngerepotin."
"Halah, ngerepotin apa to orang Ayah sama Bundamu nggak ngapa-ngapain kok. Udah, ayo makan dulu. Nggak usah mikirin yang enggak-enggak," kata Ayah.
Aku mengangguk sambil menahan diri agar tidak kembali menangis. Mungkin kalau saja Reynand mengusap pundakku dan menenangkanku, aku pasti benar-benar akan menangis.
"Ayah tadi sudah nyuruh Rey buat ngabarin kedua orangtua kamu, jadi kamu nggak usah khawatir."
Hah?
Reynand sudah memberi kabar orang rumah?
Aku langsung menoleh ke arah Reynand dengan pandangan bertanya-tanya.
"Kamu udah ngabarin Bapak sama Ibu tentang kondisi aku?" tanyaku.
"Belum. Tapi aku udah ngasih kabar ke Mas Adi, dan biar Mas Adi yang ngasih tahu ke Bapak sama Ibu."
"Mereka pasti khawatir, Mas."
"Jelas itu, tapi akan terasa nggak adil kalau seandainya mereka tidak tahu, sayang. Kamu mungkin kini sudah tanggung jawabku, Bapak pun sudah tidak terlalu bertanggung jawab atas kamu. Tapi, meski demikian, Bapak tetap wajib tahu dengan kondisi kamu."
"Tapi, aku takut mereka kecewa dan sedih, Mas."
Kali ini isak tangisku kembali pecah. Aku Sudah tidak berminat untuk meneruskan makan siangku. Perasaanku kembali kacau. Membayangkan wajah sedih bercampur kecewa Ibu benar-benar menggangguku. Aku rasanya tidak sanggup kalau harus melihatnya secara langsung.
"Perasaan sedih mau pun kecewa itu pasti, Nak. Tapi, kami tidak kecewa dengan kamu. Ibumu mungkin akan jauh lebih kecewa kalau tidak dikasih kabar info sepenting ini. Kamu paham maksud Bunda kan?"
__ADS_1
Sambil menghapus air mataku, aku akhirnya mengangguk, mengiyakan. Bagaimana pun juga, apa yang diucapkan Bunda benar adanya. Ibu mungkin akan sangat kecewa, dan mungkin akan marah kalau sampai kami tidak memberitahu tentang kondisiku saat ini.
"Ya sudah, tidak usah terlalu dipikirin. Yang penting kamu fokus dengan kondisi kamu dulu, nggak usah pikirin yang lain. Biar suamimu yang mikirin yang lain-lainnya."
"Ayah bener, kamu nggak usah mikirin yang lain-lain dulu. Fokus ke kesehatan dulu, ya?"
Kali ini aku mengangguk setuju. Melirik Reynand, Bunda, dan juga Ayah secara bergantian.
"Masalah Blighted ovum-ku. Boleh aku menentukan sendiri tindakan apa yang harus diambil?"
Bunda langsung mengangguk setuju, tak lama setelahnya Ayah ikut mengangguk. Lalu aku beralih ada Reynand yang masih diam bergeming.
"Mas," panggilku pelan.
Reynand menoleh ke arahku, memandangku serius selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk.
"Kan kamu yang ngejalani, aku cuma bisa nemenin sama kasih dukungan. Apa pun yang kamu pilih, insha Allah memang yang terbaik," kata Reynand kemudian. Ia kembali tersenyum lalu mengangguk, menyakinkanku.
"Aku... aku memutuskan dikurete aja."
"Bunda setuju."
"Ayah juga."
"Aku apa lagi, sayang. Kan dokter Lutfi juga nyaranin demikian."
Aku tersenyum lalu mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
#####
"Kenapa belum tidur?" tanya Reynand saat aku keluar dari kamar.
"Enggak bisa tidur. Susah."
Aku kemudian berjalan menghampiri Reynand dan duduk di sampingnya. Reynand masih sibuk dengan tablet drawing-nya, sedangkan aku sudah tidak boleh menyentuh pekerjaanku sama sekali. Ayah dan Bunda sudah pulang tadi siang, aku yang menyuruh mereka. Bukan, bukan bermaksud mengusir, hanya saja rasanya tidak enak kalau ditungguin Mertua padahal akunya masih sehat-sehat saja.
"Mau aku temenin dulu?" tawar Reynand tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet lalu meletakkan pen-nya.
Aku sedikit menunduk untuk melirik ke arah layar tablet drawingnya, yang sepertinya belum selesai.
"Kamu udah mau, udahan kerjanya?"
"Belum. Cuma ini deadline masih lama kok, santai."
"Terus kalau deadline-nya masih lama udah kamu kerjain?" tanyaku dengan ekspresi wajah keheranan.
"Nyicil. Soalnya lagi nunggu laporan dari Pras. Kan tadi harusnya aku ketemu klien, temenku sendiri sih, cuma kan aku nggak mungkin ninggalin kamu, jadi aku nyuruh Pras ketemu Aji, ditemeni Mayang sih."
"Kok malah nonton tv?"
"Belum ngantuk, nungguin kamu dulu sekalin," kataku menjawab pertanyaan Reynand sambil menopang daguku.
Reynand mendesah pasrah, antara ingin protes tapi tidak tega. Akhirnya, ia hanya menyandarkan punggungnya sejenak, sebelum akhirnya kembali berkutat dengan tablet drawingnya dan juga pen-nya. Namun belum ada lima menit ia tenggelam dengan dunianya sendiri itu, ponsel Reynand tiba-tiba berbunyi.
"Tuh, udah telfon!"
Reynand buru-buru meletakkan tablet drawing dan pen-nya, lalu meraih ponselnya yang berdering nyaring.
"Ya, hallo, Pras? Udah kamu kirim hasil laporannya? Kok lama sih, cuma bikin laporan abis ketemu klien? Biasanya juga cepet."
Reynand langsung mengomel begitu sambungan terhubung.
"..."
"Hah?! Aji minta desain baru?" pekik Reynand langsung berdiri dan menggeram tertahan.
"..."
"Seberapa banyak dia minta direvisi desain yang Siska bikin?"
"..."
"Tapi dia mau nambah budget-nya?"
"...."
"Enggak?! Emang kebangetan itu dokter kere. Ambil spesialis masih nodong orangtua masih segala mau renovasi rumah. Ya udah, kamu bisa pulang. Karena kamu lembur, besok berangkat setengah hari boleh, asal kerjaan beres. Aku tutup! Assalamualaikum!"
"..."
Tut Tut Tut
"Ada apa sih? Kok pake marah-marah?"
Reynand berdecak gemas. "Ini si Aji, minta revisi untuk desain yang udah bikinin."
"Terus kenapa kamu pakai segala marah-marah? Kali aja kemarin pas ketemu sebelumnya, tim kalian kurang paham dengan apa yang diinginkan temen kamu itu. Jadi, desain yang kalian bikinin kurang pas."
Aku mencoba mengeluarkan pendapatku, meski sejujurnya aku tidak terlalu paham.
"Nggak bisa gitu. Kita udah sesuaiin sama budget-nya, sayang. Kalau harus revisi konsep untuk desain, kita harus mikirin banyak hal lagi. Sedangkan, aku pake harga temen. Rugi dong aku, sayang."
__ADS_1
Aku menggaruk-garuk kepalaku bingung. "Terus aku harus gimana dong?"
Reynand memandangku dengan kedua mata menyipit, menatap mataku bingung. "Harus gimana apanya? Ya, mending tidur sih. Aku mau omelin Aji dulu. Lagian besok kita ke RS loh."
Aku menggeleng. "Nanti deh. Nungguin kamu."
Reynand mendesah lalu mengangguk pasrah. Tak lama setelahnya, ia berdiri, sedikit menjauh dariku sambil mengutak-atik ponselnya.
"Kok pake segala menjauh?" tanyaku tersinggung.
"Biar kamu nggak usah pake dengerin aku ngumpat, sayang. Udah, ah, aku mau nelfon bentar."
Setelah selesai mengatakan itu, Reynand menempelkan ponsdlnya pada telinga kirinya, menunggu sebentar sebelum akhirnya Reynand kembali bersuara.
"Bro, maksud lo apaan minta revisi desain ulang? Lo berani bayar berapa sih, sampai minta aneh-aneh gitu? Lo yang bener aja dong, kalian pikir anak buah gue apaan sih?"
"...."
"Ya, enggak bisa lah. Lo nggak mau nambah budget-nya, tapi minta yang aneh-aneh. Wajar kalau gue kesel begini."
"..."
"Enggak! Lo kalau mau begitu, mending batalin aja deh, udah, ikhlas gue."
"..."
"Ya, lo nyebelin parah begitu. Ibarat kata, dikasih hati masih ngerogoh minta jantung sama ampela."
"..."
"Nah, gitu kan enak. Lagiaj lo, ambil spesialis di saat keuangan belum stabil mau renovasi rumah. Ya, begini jadinya kan."
"..."
"Tahu ah, udah gue matiin. Pokoknya, kita pake desain lama, nanti secepatnya gue sama anak-anak bahas ini lagi, biar proses pengerjaannya cepet juga."
"..."
"Hmm. Oke."
Reynand mematikan sambungan telfonnya, lalu bergabung kembali di sampingku.
"Mana, nggak ada umpatan, tuh?"
"Ya, kebetulan masih bisa tahan diri."
Reynand kemudian kembali asik dengan tablet drawingnya, sambil berguman tak jelas.
"Eh, yang, coba kamu tanyain Mas Adi. Kok Bapak sama Ibu belum sampai sini, apa emang belum berangkat apa gimana? Soalnya, takutnya nanti udah nyampe, tapi bingung sama gedung--"
Ting Tong Ting Tong
"Itu mungkin."
Aku kemudian berdiri dan langsung membuka pintu. Saat aku pintu terbuka, tamu kami memang Bapak dan Ibu. Aku langsung mencium punggung tangan Bapak dan Ibu secara bergantian, baru setelah itu aku memeluk Ibu dan menangis secara spontan. Tak lama setelahnya, Reynand menyusul. Mencium punggung tangan Bapak lalu mencium punggung tangan Ibu, begitu kami selesai berpelukan.
"Mari, Bu, Pak, silahkan masuk!"
Reynand langsung mempersilahkan Bapak dan Ibu masuk, lalu aku menutup pintu. Baru setelah itu, aku pergi ke dapur untuk membuat teh.
"Bagaimana keadaan istrimu?"
Aku samar-samar mendengar suara Bapak bertanya tentang kondisiku.
"Ya, alhamdulillah, Pak, seperti yang Bapak dan Ibu lihat tadi, udah bisa lah diajak ngobrol. Udah nggak diem aja kayak tadi siang."
"Yang sabar, ya, kalian. Ikhlaskan saja, mungkin memang belum rejekinya. Nanti kalau sudah saatnya, pasti dikasih lagi sama Gusti Allah. Yang penting jangan lelah berdoa dan berusaha."
Mendengar suara Ibu, mendadak, kedua mataku terasa memanas. Aku kembali menangis saat ini. Kalau boleh jujur, aku rasanya belum benar-benar ikhlas. Tapi, mau bagaimana lagi, benar kata Ibu. Mungkin belum rejekinya. Mungkin juga karena kami sama-sama belum siap, makanya kami belum dikasih kepercayaan itu sama Allah.
Aku kemudian menghapus air mataku, dan langsung membawa nampan berisi tiga cangkir teh ke ruang tengah.
"Tehnya, Pak, Bu."
Aku meletakkan cangkir teh di atas meja dan mempersilahkan untuk segera dinikmati oleh Bapak dan Ibu.
"Sini, nduk, Ibu mau peluk kamu."
Dengan suara yang sedikit bergetar, Ibu merentangkan kedua tangannya. Aku kemudian langsung memeluk Ibu dan mengusap punggung beliau.
"Insha Allah, Qilla ikhlasin, Bu. Meski rasanya agak berat."
"Iya, Ibu percaya kamu bisa melewati ini semua."
Meski agak sedikit berat, aku akhirnya tetap mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
**Tbc,
yuhuuuu, ku comeback. hehe, mon maap ya, updatenya tengah malam banget**. mon maap jg klo seumpama gk nyambung gtu alurnya, saya bikinnya agak sambil ketiduran gtu. mata ngantuk deh, mksdnya. hehe, nnti klo gk nyambung bilang aja ya. biar kukoreksi. tapi nanti. hehe, udah dulu, ya, ini mata soalnya kurang bisa dikondisiin, ngantuk berat gitu.
bye2, see you next part 🤗😘😚😍😴
__ADS_1