
****
Kalau boleh jujur, sampai saat ini aku masih cukup menyesal dengan tindakanku kemarin. Yang bisa-bisanya dengan mudah mengikuti perintahnya, mulai dari memberikan kunci mobilku, membiarkan Reynand menyetir dan membawaku tanpa tujuan jelas. Bahkan dengan mudahnya aku memberikan nomor ponselku secara tidak langsung kepadanya.
Aku cukup heran dengan isi otakku yang mendadak seperti orang bodoh begini. Oh, astaga. Sepertinya aku memang sebodoh itu.
Masalahku dan juga Kenzo bahkan belum menemui titik terang sampai detik ini. Aku bahkan belum menghubunginya lagi sejak malam itu. Dan aku justru malah membuat masalah baru. Kalau seperti ini aku jadi terlihat seperti orang yang sudah bosan menginjakkan kaki di bumi pertiwi ini. Astaga, bagaimana aku akan menghadapi hari-hariku esok?
"Kerja, woy! Kerja! Ngapain ngelamun mulu? Noh, karyawan kamu di bawah udah kerja keras. Masa bosnya cuma ongkang-ongkang kaki doang."
Aku cukup terkejut kedatangan Monik yang tidak sempat ku sadari, yang tahu-tahu kini sudah berdiri di depan meja kerjaku sambil memandangku dengan tatapan iba.
Hei, aku tidak semenyedihkan itu sampai harus diberi tatapan seperti itu.
"Ngapain ke sini? Illa mana?" tanyaku saat tak menemukan siapa pun di belakang atau sampingnya.
"Di bawah. Main sama anaknya Mbak Husna."
"Terus kamu ngapain ke sini?" tanyaku heran.
Monik memang jarang main semenjak menikah dan punya anak, ke sini kalau ada perlunya saja. Makanya aku heran karena Monik akhir-akhir ini sering kemari.
"Mandorin kamu," ujar Monik santai.
Aku langsung memandang Monik sengit. "Kenapa mandorin aku?"
"Karena kamu kebanyakan melamun daripada kerja. Jadi butuh mandor."
Aku berdecak jengkel dengan candaannya yang sama sekali tidak lucu ini. "Nggak lucu banget sumpah, Mo. Pulang sana!" usirku galak.
Namun bukannya menuruti perintahku, Monik malah duduk di hadapanku.
"Aku ke sini mau dengerin curhatan kamu."
"Kapan aku bilang mau curhat?" Aku memandang Monik bingung.
"Ya, emang kamu nggak bilang mau curhat. Tapi, sebagai perempuan yang peka sekaligus berpengalaman, aku tahu kamu pasti butuh curhat."
Aku memandang Monik sejenak.
Haruskah aku menceritakan kejadian yang ku alami kemarin?
"Udah cerita aja!"
Aku memandang Monik sekali lagi. Perasaanku masih sedikit ragu untuk bercerita dengannya. Bagaimana pun kejadian kemarin terasa seperti aib, dan tidak mungkin kan aku menceritakan aibku sendiri, sekalipun itu kepada sahabatku sendiri. Yang memang pada dasarnya sudah mengetahui baik buruk kita, mungkin lebih baik ketimbang Bapak dan juga Ibu di Semarang.
"Kalau mau cerita ya, cerita. Jangan kebanyakan mikir! Waktu terus berjalan."
Aku mendesah pasrah. Kemudian mulai menceritakan semuanya. Mulai dari kedatanganku ke tempat kerja Reynand, adegan mewekku, sampai aku dan Reynand yang secara tidak langsung bertukar nomor ponsel. Aku menjelaskan sedetail mungkin. Namun Monik tidak merespon ceritaku dengan baik. Ia hanya menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Membuatku jengkel sekaligus menyesal karena telah bercerita panjang lebar kepadanya.
"Balik sana!" usirku galak. "Tadi maksa aku cerita, giliran udah diceritain responnya gitu aja. Nyebelin banget sih," rajukku kemudian.
Monik masih dengan ekspresinya tadi, belum berubah sedikit pun. Membuatku kesal setengah mati.
Oh, astaga. Semoga aku masih cukup memiliki kesabaran, sehingga tidak nekat mencekik lehernya karena kesal.
"Sorry, aku agak shock. Nggak nyangka kalau udah sampai tahap itu. Ups, sorry lagi. Aku nggak mak--"
"Iya," balasku pura-pura tidak perduli. Meski dalam hati agak-agak gimana juga sih.
"Di sini ada dua kemungkinan, La. Yang pertama mungkin ini jawaban atas keragu-raguan kamu, karena selama ini selalu menolak ajakan nikah dari Kenzo. Dan kemungkinan kedua, ini hanya ujian untuk kisah kalian. Iya, kan, siapa tahu kehadiran Reynand dan apa yang kamu rasain sekarang bukan benar-benar cinta, melainkan hanya ujian untuk kisah kalian."
Aku mangguk-mangguk mendengarkan penjelasan Monik yang terdengar masuk akal.
"Cuma saranku tanyain betul-betul ke hati kamu, La, siapa yang ada di sana. Jangan terfokus sama siapa yang lebih dulu atau lebih lama kenal sama kamu."
Sekali lagi aku mengangguk paham. Kemudian berdiri dan menghampirinya.
__ADS_1
"Thanks, Mo, buat pencerahannya."
Monik tersenyum puas sambil menepuk-nepuk pundakku pelan.
"Jadi udah tahu siapa yang bakal kamu pilih?" tanyanya terlihat kepo.
"Belum," jawabku santai.
Aku tidak bohong. Karena aku memang belum tahu pasti siapa yang bakalan aku pilih jadi suami dan juga bapak untuk anak-anakku kelak.
"Bocah gendheng!"
Aku hanya tertawa mendengar umpatan Jawa Monik.
******
Setelah ngobrol ngalor-ngidur nggak jelas dengan Monik, aku langsung menghubungi Kenzo, mengajaknya bertemu untuk membahas masalah kami. Tepat setelah adzan isya' berkumandang, Kenzo sampai di butik. Aku langsung menyambutnya dengan senang.
"Macet?" tanyaku berbasa-basi.
"Enggak. Kan jam kantor udah selesai," jawabnya langsung mengambil posisi duduk di sofa.
"Aku masak pasta. Kamu mau?" tawarku dari dapur.
Tanpa menoleh Kenzo mengangguk. Fokusnya kini sedang mencari saluran tv yang menarik minatnya.
"Apa hubungan kita udah baik-baik saya?" tanya Kenzo saat aku meletakkan dua piring pasta dan dua gelas air putih di atas meja.
Aku terkekeh. "Makan aja dulu! Nanti ngobrolnya, oke?"
Tanpa berniat membantah, Kenzo mengangguk. Lalu mulai menikmati masakanku, sesekali ia melemparkan candaanya saat mengomentari masakanku. Bukankah semua terlihat baik-baik saja?
"Berhubung kamu udah masak, berarti ini giliran aku buat cuci piring?" tanya Kenzo, setelah kami selesai menghabiskan pasta kami.
Aku menggeleng. "Enggak. Kita harus bicara sekarang," tolakku kemudian.
Meski Kenzo terlihat kecewa, ia tidak membantah. Ia kembali menurunkan piring kotor dan meletakkannya kembali di atas meja. Aku mencoba memaksakan senyumku sambil menggumankan terima kasih.
Kenzo melirikku sekilas kemudian mengangguk. "Capek itu wajar, La, cuma bukan berarti karena aku capek aku mau nyerah gitu aja. Aku sayang sama kamu, jadi aku harus berjuang dan bersabar nunggu kamu."
"Sampai kapan?"
Kenzo mendesah pasrah. "Sampai kamu tidak mau lagi aku perjuangkan," ujarnya terdengar putus asa. Dia menatapku dalam, seperti mencari sesuatu dari kedua bola mataku. "Kamu masih mau aku perjuangkan atau tidak?" tanyanya tenang.
Aku menggeleng lemah. Kenzo tentu tidak boleh memperjuangkan hal yang sia-sia. Aku tidak harus menahannya.
"Mari kita berhenti sampai di sini, Ken."
Aku tahu aku bodoh. Melepaskan Kenzo sama aja melakukan tindakan terbodoh dan hal yang mungkin akan aku sesali di kemudian hari. Namun, menurutku menahan Kenzo juga bukan pilihan bagus. Aku tidak boleh terus-terusan menahannya, aku tidak boleh egois. Meski sakit dan berat, aku memang harus melepaskannya.
Kenzo masih tetap diam dengan tenang, tidak merespon. Ekspresinya sulit ditebak. Antara pura-pura untuk tidak terkejut, atau memang ia sudah memprediksi sebelumnya.
Aku mendadak bingung harus bagaimana, karena hampir 3 menit berlalu, tapi Kenzo masih dalam aksi diamnya.
"Ken," panggilku memecah keheningan.
Kenzo langsung mendesah sembari memijit pelipisnya, lalu menatapku.
"Kamu to the point banget," ujarnya sedikit bergurau.
Meski begitu, ia tidak terlalu bisa menyembunyikan raut wajah kecewanya. Membuatku meringis sungkan.
Kenzo mengangguk. "Oke. Kalau kamu emang udah nggak mau aku perjuangkan, ya udah."
"Ken,"
"Aku tahu. Aku tahu kamu pasti mau ngomong gitu, La. Maaf karena selama ini aku hanya menutup mata, dan menyangkal kalau kamu tidak cukup yakin sama aku," sela Kenzo sebelum aku berkata.
__ADS_1
"Enggak gitu, Ken. Aku cukup yakin sama kamu, hanya saja, beberapa hari yang lalu aku bertemu orang baru," lirihku pelan. Takut jika mungkin akan menyakitinya.
Kenzo sedikit terkejut mendengar pengakuanku, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum.
"Aku juga bertemu orang baru," ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Maksud aku itu-"
"Iya, La, lawan jenis." Kenzo mengangguk membenarkan.
Sontak membuat kedua mataku melotot secara spontan.
Tunggu!
Ini maksudnya apa?
"Meski aku belum sepenuhnya jatuh cinta dengan teman Kesha itu, tapi dia cukup manis dan juga menarik. Aku rasa cukup mudah bagiku untuk segera jatuh cinta dengannya."
Mataku tiba-tiba memanas kala mendengar pengakuannya. Aku merasa bersalah pada Kenzo. Dia terlalu baik untuk ku sakiti seperti ini. Dia menungguku bertahun-tahun, tapi justru jawaban seperti ini yang ku berikan.
"Ken, maafkan aku," ucapku lirih.
Ku lirik Kenzo yang kini tengah tersenyum tulus sambil menggeleng.
"Nggak penting siapa yang salah atau benar, La, karena nyatanya aku pun salah. Yang penting abis ini kita harus hidup bahagia, meski kita nggak bareng-bareng lagi."
Astaga, astaga, bahkan di saat kami hendak berpisah pun mulutnya semanis itu.
"Kenapa kamu nggak marah? Aku secara nggak langsung itu udah berkhianat. Dan harusnya kamu marah," isakku sembari menutup wajahku karena malu.
Dapat ku dengar tawa renyah dari Kenzo, membuatku secara reflek menurunkan kedua tangan dari wajahku. Apa yang dia ketawain?
"Kamu gemesin banget sih, bikin aku pengen nyium. Sayang status kita udah jadi mantanan, bukan mantenan."
"Nggak lucu, Ken. Sumpah," balasku yang membuat Kenzo kembali tertawa.
"Jadi kamu pengen banget liat aku marah sama ngamuk-ngamuk?" tanya kenzo tiba-tiba.
Aku menghentikan gerakan tanganku yang hendak menarik lembar tisu, menatapnya sebentar kemudian menggeleng tegas. Kenzo kalau marah itu serem, harusnya aku beruntung karena dia hanya tertawa. Kenapa aku malah protes tadi.
Kenzo berdecak. "Plin plan banget sih," gerutunya kemudian.
Tiba-tiba ide gila terlintas di benakku.
"Ken," panggilku sambil menatapnya serius.
"Kenapa?" tanyanya terlihat bingung.
"Mau farewell kiss?"
"APA?!"
Kedua mata Kenzo membulat sempurna. Terlihat jelas kalau dia benar-benar terkejut.
Aku tertawa kecil kemudian menggeleng. "Ya udah, nggak jadi."
Kenzo tersenyum canggung. "Kirain beneran. Nggak kebayang kalau beneran, bisa-bisa aku gagal move on."
Aku mengangguk. "Jadi kita pisah baik-baik ya, ini. Bukan karena aku selingkuh," tanyaku memastikan dengan sedikit bergurau.
Kenzo langsung terbahak menyambutnya, namun tetap mengangguk.
"Jadi kita udah resmi nih?" tanya Kenzo dengan nada jenaka.
"Iya." Aku mengangguk.
"Resmi mantanan,"
__ADS_1
"Bukan mantenan."
Tbc,