
Aku tersenyum puas saat mendapati fakta yang baru saja Bapak beberkan. Kalau ditanya siapa sosok yang paling berarti dalam hidupmu selain kedua orangtua, aku pasti tidak akan ragu untuk menjawab Bapak. Kenapa demikian? Karena selain berarti sebagai seorang Ayah bagiku, Bapak adalah sesosok panutanku dalam segala hal. Selain, karena dukungan beliau yang memberiku kebebasan dalam menentukan pilihan hidupku. Bapak selalu menjadi sesosok yang aku andalkan untuk meyakinkan Ibu kalau pilihanku memang yang terbaik untukku.
Ya, seperti pilihanku untuk berkuliah dan berkerja di Jogjakarta dulu. Lalu sekarang, Bapak berhasil membujuk Ibu agar acara lamaranku tidak usah memakai acara segala. Lega rasanya, Bapak memang panutanku, tidak menyesal rasanya pernah menjadikan beliau cinta pertamaku. Hehe.
"Seneng?" tanya Bapak di sela kekehannya.
Aku tersenyum sembari mengangguk antusias. "Banget, Pak. Makasih, ya, Pak. Bapak memang panutanku." Aku langsung memeluk Bapak dengan erat.
Bapak tersenyum lalu mengangguk dan mengelus kepalaku. "Iya, sama-sama. Bapak seneng kalau Putri Bapak seneng."
"Tapi Ibu nggak marahkan?"
"Memang Ibu-mu bisa marah sama Bapak?"
Aku langsung terbahak. "Pernah sih, Pak."
"Kapan?" tanya Bapak pura-pura tidak ingat, atau mungkin memang Bapak tidak ingat.
"Yang waktu itu loh, Pak. Waktu Bapak--"
Ehem Ehem
Baik, aku dan Bapak langsung menoleh ke asal suara. Kami menemukan Ibu tengah menatap kami dengan ekspresinya, yang sedikit ngambek. Aku dan Bapak saling bertatapan, sebelum memfokuskan pandangan kami ke Ibu.
"Ada apa, Bu?" tanya Bapak mewakili.
"Ibu mau ngomong sama Qilla."
Aku menatap Bapak ragu. Bapak langsung mengangguk, dan berkata, "Sudah, turuti saja dulu. Masih agak sensitif soalnya," bisiknya kemudian.
Aku mengangguk dan berdiri, kemudian mengekor di belakang Ibu.
"Kamu serius nggak mau diadakan apa-apa untuk acara lamaran kamu?"
Aku mengangguk yakin, tanpa keraguan sedikit pun.
"Untuk acara lamaran cukup keluarga inti saja, Bu. Biar terasa kekeluargaannya, baru untuk acara ijab qobul dan lainnya. Ibu mau yang seperti apa, Qilla nggak masalah."
"Loh, kok malah terserah Ibu, kamu pikir yang mau nikah Ibu?" tanya Ibu dengan nada sedikit sewot.
Aku meringis sambil menggaruk kepalaku yang mendadak gatal. Sepertinya memang benar, suasana hati Ibu masih belum terlalu bagus. Salah sedikit dalam bertutur kata, maka kelar sudah nasibku.
"Kamu itu serius mau nikah atau enggak to? Ibu heran, kok seperti ora karep ngono. Opo pancen ora karep?"
Tarik nafas perlahan, lalu hembuskan! Tarik nafas lagi, lalu hembuskan!
Sabar, Aqilla, sabar! Ingat, surga berada di bawah telapak kaki Ibu. Jangan dibalas dengan nada sewot, Ibu sedang banyak pikiran. Beliau juga ingin dipahami, dan berhubung kamu yang lebih muda, jadi mengalah saja dulu.
"Mboten, Bu. Insha Allah, Qilla sudah siap dan serius untuk menikah," jawabku berusaha kalem.
"Mana buktinya?"
Aku kemudian mengangkat tangan kananku, yang kini tersemat cincin berlian pemberian Reynand. Bukan hadiah ulang tahun, tapi memang cincin yang ia gunakan untuk melamarku.
"Itu apa?" tanya Ibu dengan ekspresi terkejutnya.
"Cincin yang Reynand kasih buat lamar aku."
"Kalian--"
"Enggak, Bu. Nggak ada acara lamaran kayak yang di tv-tv begitu kok," potongku sebelum Ibu melanjutkan kalimatnya.
"Biasa aja?"
Aku terkekeh lalu mengangguk. "Iya, Bu. Biasa aja, nggak pake acara lain-lainnya kok. Rey lamar ke aku pribadi aja, nggak pake rombongan."
Ibu menghela nafas pendek lalu melirikku tak yakin. "Serius, ini kita nggak usah nyiapin apa-apa untuk lamaran kamu?"
Aku tersenyum lalu mengangguk yakin. "Enggak usah, Bu. Cukup siapin hidangan buat menjamu keluarga Rey, sudah cukup."
"Background pake tulisan Engagement, enggak juga?"
Aku menggaruk kepalaku bingung. "Harus pake begituan, Bu? Kalau enggak usah kenapa?"
"Kalau enggak pake tulisan Engagement, nanti kalau mau foto-foto gimana?"
"Kalau mau foto, ya, tinggal foto. Yang penting ada kamera," jawabku santai.
Ibu langsung berdecak gemas. "Masa nggak ada backgroundnya to?"
Aku mendesah pasrah. "Ya, sudah. Terserah Ibu lah, mau gimana. Yang penting nggak usah ngundang tamu, ya, Bu. Biar keluarga kita aja."
"Kabar bahagia ini lho, Nduk. Moso ora dik bagi-bagi."
"Bu," rengekku kemudian.
"Iya, iya, keluarga kita sendiri yang terima. Nggak pake undang tetangga dan yang lainnya. Puas?"
Dengan senyum cerahku, aku mengangguk antusias dan memeluk Ibu erat. "Makasih, Bu," ucapku tulus lalu mencium kedua pipinya secara bergantian.
Ibu mendengkus, lalu pura-pura memasang wajah tidak sukanya.
"Wes arep dadi bojone uwong, ra sah manja," pesan Ibu.
Aku mengangguk antusias sambil mengacungkan kedua jempolku dan mencium sebelah pipi Ibu sekali lagi.
"Sayang, Ibu!"
__ADS_1
"Halah, enek mau-nya yo bilange sayang. Coba kalau enggak, boro-boro."
Aku meringis sebagai respon.
"Sudahlah, Ibu mau ke rumahnya Budhe Parti dulu. Suruh bantuin masak untuk acara besok," kata Ibu lalu meninggalkanku.
"Perlu aku antar, Bu?" tawarku kemudian.
"Ora usah. Biar Bapakmu yang nganterin," tolak Ibu.
"Halah, padhune biar bisa pacaran itu," ledekku, menggoda Ibu.
"Lha biar to, wong punya kok," jawab Ibu santai.
Seketila aku melongo.
"Ibu pergi dulu!" pamit Ibu kemudian. "Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam," balasku lalu aku berjalan menuju dapur. Mengambil beberapa camilan lalu kembali ke ruang tengah.
"Nikmatnya bersantai," kataku sambil menghempaskan bokongku di sofa.
Aku kemudian menyalahkan televisi dan membuka bungkusan kripik kentang. Baru saja, ingin menikmati, eh, telfonku malah berbunyi. Dengan sedikit tidak rela, aku akhirnya meletakkan kripik kentangku dan meraih ponselku, yang tadinya tergeletak di atas meja.
Seketika aku langsung mendengkus kesal, saat mendapati nama yang tertera di layar ponsel.
"Mbak Qilla!! Kapan balik ke sini?" jerit seseorang dari seberang.
Sudah bisa menebak siapa pemilik suara itu? Ya, benar sekali. Suara itu milik Sandra.
"Jangan ganggu masa liburanku dulu dong, San?" balasku sengit.
Aku kemudian kembali meraih sebungkus kripikku, mengambil beberapa kripik dan mengunyahnya dengan sedikit kasar.
"Mbak Qilla jahat!!"
Aku langsung terbahak di sela kunyahanku. Yang untungnya tidak sampai membuatku tersedak.
"Sabar, sayang, tunggu hari senin, ya," kataku kalem.
"Kelamaan dong, Mbak. Astagfirullah!Jangan mentang-mentang bos, Mbak Qilla bisa seenaknya gitu dong, Mbak. Kasian aku."
Emang sepertinya, cuma Sandra yang melarang bosnya untuk tidak seenak sendiri terhadap karyawannya secara langsung.
"Loh, saya bos loh, San. Kamu jangan macam-macam, saya pe--"
"Nggak lucu!" potong Sandra judes. Karena terlalu akrab, Sandra jadi hafal betul dengan candaanku.
"Aku mau lamaran dulu loh, San. Masa kamu gitu?"
"Iya, serius dong. Masa bercanda."
"Kapan?"
"Minggu."
"Wah, sebentar lagi jadi istri orang dong?"
Pipiku mendadak panas, mendapati fakta yang baru saja Sandra utarakan. Benar juga, ya, sebentar lagi aku akan jadi istri orang? Istri Reynand? Astaga, kok tiba-tiba rasanya deg-degan, ya?
"Mbak, Mbak Qilla masih di sana?"
"Udah deh, aku matiin, ya. Kamu kerja sana!" kataku mengalihkan pembicaraan. "jangan mentang-mentang aku nggak di sana, kamu bisa seenaknya, ya," imbuhku kemudian.
"Iih, jahat. Ya udah, semoga acara lamarannya sukses dan lancar, ya, Mbak. Sampai hari H."
"Amin. Makasih doanya, San. Titip but--"
"Iya. Cepet pulang lho, Mbak. Jangan keenakan cuti, nanti jadi males kerja."
Aku langsung tertawa dan mengiyakan saja, sebelum mematikan sambungan telfon.
Dasar Sandra!
#####
Aku mematut diri di depan cermin. Perasaanku saat ini campur aduk, antara bahagia, cemas, campur deg-degan.
Hello, ini baru acara lamaran loh, belum ijab qobul. Kok aku sudah sedeg-degan ini, ya. Cemas dan juga gelisah yang nggak nanggung. Astaga, ini gimana caranya biar nggak tegang begini, ya? Ada yang bisa ngasih saran?
Tok Tok Tok
Aku langsung menoleh ke arah pintu, dan menemukan Mbak Lusi sedang menyempulkan kepalanya di balik pintu. Ia terkikik geli lalu masuk ke dalam kamarku.
"Cie, cantik bener sih calon penganten," goda Mbak Lusi sambil menyenggol lenganku.
Aku hanya mendengkus samar, guna menutupi rasa gugupku.
Mbak Lusi tertawa lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang, kami saling bertatapan melalui cermin riasku.
"Kenapa, La, deg-degan, ya?"
Aku mengangguk sambil memegang dada sebelah kiriku. "Wajar nggak sih, Mbak? Kok aku ngerasanya agak alay, ya. Baru lamaran kok udah sebegini deg-degannya," curhatku kemudian.
Mbak Lusi mengangguk. "Wajar kok. Dulu Mbak juga begitu. Kayaknya, semuanya juga begitu. Kayaknya sih."
Aku kemudian menghela nafas lega. Seenggaknya, apa yang aku alami ini normal, jadi aku bisa agak sedikit tenang.
__ADS_1
"Turun, yuk, rombongan udah dateng."
"Hah, udah dateng? Kok cepet?" tanyaku kaget.
Perasaan tadi Reynand masih ngabarin kalau masih butuh sekitar setengah jam lagi untuk sampai. Kok tahu-tahu udah dateng aja.
Mbak Lusi mengangkat kedua bahunya secara bersamaan dan beranjak berdiri.
"Mbak nggak tahu juga sih. Tapi, emang udah nyampe kok, makanya Mbak ke sini, disuruh Ibu untuk manggil kamu."
"Kayla mana, Mbak?"
"Ada di kamar lama Mas Adi. Ayo, turun! Kenapa malah nanyain Kayla. Kayla udah dijagain Mbak Lastri kok, nanti kalau rewel, aku-nya pasti dipanggil."
Aku juga sedikit heran sih, kenapa aku malah nanyain Kayla, ya. Mungkin efek dari gugup kali, ya.
"Aku makin deg-degan deh, Mbak," kataku gelisah. "gimana ini?"
"Nggak papa, La. Mbak temenin kok turunnya," kata Mbak Lusi mulai menenangkanku.
Tapi kata-kata Mbak Lusi barusan tidak cukup membuatku tenang. Yang ada aku makin gelisah dan juga gugup.
"Tarik nafas pelan-pelan, La, terus hembuskan perlahan," intruksi Mbak Lusi.
Aku langsung menuruti intruksinya. Menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan. Aku mengulanginya sampai beberapa kali sampai aku merasa agak lega. Setelah mulai agak berkurang rasa gugupku, aku dan Mbak Lusi turun ke bawah.
Di ruang tamu, keluarga Reynand dan keluargaku sudah berkumpul. Mereka terlihat sedang asik mengobrol dan saling melempar guyon, bahkan Reynand terlihat ikut terkekeh kecil.
"Lah, ini yang ditunggu-tunggu sudah ada, langsung dimulai saja, yo?" celetuk Om Pram, Ayah Reynand. Orang pertama yang menyadari keberadaanku.
Bapak mengangguk setuju lalu menyuruhku untuk duduk. Aku kemudian duduk di sebelah Ibu. Kami memang memilih duduk lesehan saja, selain karena alasan biar terasa makin kekeluargaannya, juga biar muat untuk orang banyak. Meski yang datang hanya keluarga inti saja, tapi kalau kita duduk di ruang tamu pasti tidak akan muat.
"Baiklah, saya mulai, ya. Bissmilahhirohmanirohim! Assalamualaikum Wr. Wb." Ayah Reynand memulai membuka acara.
"Wa'allaikumussalam," koor kami semua kompak.
"Pertama-tama saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas sambutan dan juga suguhan yang Bapak Hendrawan dan Ibu Widyawati berikan."
"Halah, seadanya tho." Bapak menimpali dengan nada suara merendah.
Om Pram tersenyum, lalu melanjutkan kalimatnya. "Maksud dan kedatangan kami kemari memang ada tujuannya, selain untuk menjalin silaturrahmi memang ada tujuan lain. Saya selaku dari Ayah anak saya yang bernama Reynand Pramuji ingin mengutarakan niat baik anak saya, yang ingin melamar dan mempersunting Putri bungsu Pak Hendrawan yang bernama Aqilla Khanza."
Bapak mangguk-mangguk sambil tersenyum. "Ya, saya terima niat baik saudara Nak Reynand dan sekeluarga. Tapi, keputusan ini harus dijawab langsung sama orangnya. Gimana, Nduk, kamu mau?"
Aku mendadak gelapapan, saat Bapak tiba-tiba menoleh ke arahku dan bertanya. Kok, aku pake ditanyain segala. Bukannya kalau aku sudah memberi izin Reynand dan keluarganya datang ke rumah untuk melamarku, itu artinya aku sudah setuju kan? Kenapa aku ditanya lagi.
"Piye, Nduk?"
Aku melirik Reynand, yang ekspresinya berubah tegang menanti jawabanku. Perasaan tadi biasa aja deh, kok sekarang mendadak tegang begitu, ya?
"La," panggil Mbak Lusi dengan bisikan.
Aku tersentak kaget dan akhirnya mengangguk pelan. Membuat semua orang langsung mengucap alhamdulillah dan langsung bernafas lega. Sementara aku, sepertinya hanya aku sendiri yang masih tegang dan juga gugup saat ini.
"Langsung tukeran cincin, ya," kata Tante Linda sambil mengeluarkan kotak cincin dari tas mahalnya.
Aku jadi kebingungan. Kok pake acara tuker cincin?
"Nduk, kok malah ngalamun," bisik Ibu saat mengajakku berdiri.
Aku yang masih agak kaget serta kebingungan hanya mampu menurut, saat dituntun menuju tempat yang sudah disediakan untuk foto-foto. Masih ingat, dengan ide Ibu yang ingin memasang background dengan tulisan Engagement? Yah, di situ lah kami sekarang. Nggak jauh dari tempat kami duduk tadi kok.
Aku dan Reynand sudah berdiri berhadapan.
"Ini cincinnya, Bunda pindah, ya?" tanya Tante Linda meminta izin, saat mendapati cincin berlian yang Reynand berikan.
Aku yang masih agak bingung, hanya mengangguk tidak masalah. Namun, Reynand tiba-tiba melarangnya.
"Jangan dong, Bun, itu cincin yang beliin Rey," cegah Reynand sambil menggeleng.
"Loh, kamu sudah beli cincin?" tanya Tante Linda dengan ekspresi terkejutnya.
Namun dengan wajah santainya, Reynand mengangguk. Membuatnya berhasil mendapat pukulan ringan dari Tante Linda.
"Loh, kenapa Nak Reynya dipukul, Jeng?" tanya Ibu kebingungan. Ibu tadi memang tidak terlalu memperhatikan obrolan kami.
"Enggak, ini lho Rey-nya malah ngajak guyon," kilah Tante Linda.
Ibu langsung ber'oh'ria. "Biar nggak tegang maksudnya itu, Jeng," balasnya kemudian.
"Iya, kali, ya, Jeng," kata Tante Linda lalu menatapku. "terus ini mau Bunda pasangin di mana?"
"Tangan kiri saja, Bu," sahut Reynand cepat.
"Masa tangan kiri?" protes Tante Linda terlihat tidak setuju.
"Biar yang difoto nanti yang dilihatin, cincin yang dibeliin Rey kemarin."
Tante Linda mengangguk pasrah lalu memasangkan cincin di jari manis tangan kiriku, sesuai keinginan Reynand. Lalu Ibu maju dan memakaikan cincin di jari Reynand. Baru setelah itu kami berfoto.
"Makasih, udah bikin aku deg-degan dan keringat dingin sampai rasanya mau pingsan, tapi abis itu bikin aku seneng sampai rasanya nggak mau pulang," bisik Reynand tiba-tiba, sebelum kami berdua difoto.
Aku tersenyum lalu mengangguk. Ternyata yang ngerasain bukan hanya aku, Reynand juga. Alhamdulillah, kami sudah resmi tunangan.
What? Tunangan?
Tbc,
__ADS_1