Telat Nikah?

Telat Nikah?
Alhamdulillah, Sah!


__ADS_3

#####


Aku tersenyum sembari mematut diriku di depan cermin. Perasaanku bercampur aduk saat ini, antara senang bercampur deg-degan luar biasa, rasa-rasanya aku sampai tidak sanggup untuk sekedar menelan air putih. Aku belum dirias, baru selesai mandi dan masih menunggu kedatangan periasku.


Tok Tok Tok


"La, sarapan dulu!"


Mbak Lusi masuk ke dalam kamarku dan membawa sepiring nasi dan segelas air putih. Ia kemudian menyodorkan keduanya, yang langsung aku tolak.


"Nanti deh, Mbak, aku deg-degan parah nih. Nggak nafsu."


"Dikit aja nggak papa, yang penting perutnya keisi, La. Kan nggak lucu nanti kalau kamu malah pingsan karena belum makan sesuatu. Ayo, makan dulu!" paksa Mbak Lusi, "mumpung periasnya belum nyampe ini. Dari pada makannya habis dirias, nanti malah malah berantakan make up-nya. Udah buruan makan dulu!"


Aku berdecak tidak rela, namun pada akhirnya tetep menerima piring yang Mbak Lusi sodorkan.


"Dikit, dikit, nggak papa," kata Mbak Lusi sambil meletakkan gelas berisi air putih di atas meja riasku, "apa mau Mbak ambilin teh manis?"


Aku menggeleng sebagai tanda jawaban, lalu menyendokkan sesuap nasi beserta daging bistik ke dalam mulutku, dan mengunyahnya secara perlahan.


"Ya udah, buruan dihabisin," kata Mbak Lusi sambil menepuk pundakku pelan, "Mbak mandiin Kafka dulu, ya. Nanti kalau udah habis, nggak langsung dibawa turun nggak papa kok, ntar biar Mbak yang bawa," imbuhnya kemudian.


Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala pelan, lalu berusaha dengan susah payah untuk menelan nasi yang sedang kukunyah. Pada suapan ketiga aku akhirnya menyerah, kalau aku memaksakan diri, yang ada aku justru merasa mual.


Kalian pernah tidak sih, merasa mual saat sedang gelisah? Aku sering mengalami, seperti yang sedang aku alami sekarang ini. Rasanya tidak nyaman, sudah deg-degan ditambah mual, rasanya tuh seperti sudah mau pingsan.


Aku kemudian langsung memilih menegak air minumku hingga setengah dan turun ke bawah, untuk membawa piring kotor.


"Duh, pengantennya kok bawa piring kotor sendiri. Kan bisa minta tolong yang lain."


Aku hanya tersenyum super tipis, saat mendengar sapaan Budhe Harti saat aku berpapasan hendak ke dapur. Beliau langsung meminta piringku dan menyuruhku kembali ke kamar dan bersiap-siap. Aku hanya mengangguk pasrah dan kembali ke kamarku, tak lama setelahnya periasku datang. Duh, kok rasanya semakin deg-degan, ya.


"Sudah siap, Mbak?" sapa si perias sambil meletakkan peralatan tempurnya.


Aku menarik nafasku dalam lalu menghembuskan secara perlahan, baru kemudian mengangguk setelahnya. Membuat periasku terkekeh geli.


"Tegang, ya, Mbak?"


Aku meringis canggung lalu mengangguk malu-malu.


"Nggak papa, Mbak, wajar kok. Langsung mulai, ya."


Aku mengangguk, lalu mempersilahkan sang perias mulai merias wajahku. Butuh waktu hampir dua jam lebih, akhirnya aku selesai dirias. Tak lama setelahnya Mbak Lusi masuk ke dalam kamarku sambil terkikik geli.


"Udah siap?"


Aku mengangguk dengan wajah tegangku. Mbak Lusi juga sudah siap dengan kebaya baby blue-nya, tersenyum cerah lalu menggandeng lenganku. Acara hari ini memang dikhususkan untuk acara ijab qobul saja, sedang untuk resepsi akan diadakan besok. Sedikit kurang efisien sih, kalau menurutku, tapi berhubung aku sudah menyerahkan semuanya pada Ibu, ya sudah. Aku hanya bisa pasrah.


"Calon suami kamu ganteng parah, La," bisik Mbak Lusi sambil terkikik geli, "aku kasih bocoran biar nanti kamu nggak kaget."


Aku hanya merespon Mbak Lusi dengan lirikan tajam. Bukan apa-apa, saat ini aku sedang cukup tegang luar biasa, sedang tidak butuh jokes receh seperti yang dilemparkan Mbak Lusi barusan.


"Santai, La, aku masih setia kok sama Masmu, nggak akan kutikung juga calon kamu."


Kali ini aku lebih memilih untuk mengabaikannya, dari pada buang-buang tenaga. Beruntung Mbak Lusi tidak banyak bicara setelahnya, lalu kami tahu-tahu sudah sampai di halaman rumah yang sudah didekorasi seapik mungkin. Tamu-tamu undangan sudah ramai dan duduk di kursi masing-masing, fokus mereka ke arahku, dan itu membuatku semakin bertambah gugup. Reynand sudah duduk di hadapan penghulu dan juga Bapak. Harus aku akui, apa yang Mbak Lusi bilang tadi benar. Reynand memang terlihat jauh lebih tampan dari biasanya, auranya memancar dengan sempurna, membuatku sesaat seperti lupa bagaimana cara bernafas.


Masha Allah, calon suamiku kok ganteng banget begini. Kan, bikin aku jadi ketar-ketir sendiri.


Mbak Lusi kemudian mendudukkanku di kursi, tepat di samping Reynand. Sumpah, aku rasanya seperti mau pingsan saking tegangnya. Padahal yang harus mengucapkan ijab qobul kan Reynand, bukan aku. Tapi kenapa Reynand terlihat jauh lebih tenang dan kalem, sedangkan aku tegang luar biasa begini.


"Sudah siap, ya, bisa langsung mulai?" tanya Pak Penghulu, sambil melirikku dan Reynand secara bergantian. Tanpa keraguan Reynand langsung mengangguk mantap sebagai tanda jawaban.


"Saudara Reynand Pramuji Bin Pramuji SaudaraSetyawan, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Aqilla Khanza Binti Hendrawan dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang tunai tersebut dibayar, tunai.”

__ADS_1


“Saya terima nikah dan kawinnya Aqilla Khanza Binti Hendrawan dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai.”


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah!!"


"Alhamdulillah."


Setelah Pak Penghulu membacakam doa, aku dan Reynand menandatangani buku nikah. Aku langsung diintruksi untuk bersalaman dengan Reynand dan mencium punggung tangannya. Lalu Reynand mencium puncuk rambutku. Alhamdulillah, niat baik kami berjalan dengan baik. Semua prosesi berjalan lancar, tinggal menyalami tamu undangan dan kami bisa beristirahat. Lalu besok tinggal mikirin acara resepsinya. Huh, jadi pengantin itu capek juga ternyata, tapi menyenangkan. Aku suka, terima kasih, ya Allah, engkau telah memberikan kesempatan yang indah ini, ke depannya insha Allah, aku akan menjalankan peranku sebagai istri dengan baik. Amin, semoga jalanku mudah.


#####


"Capek?" tanya Reynand sambil melirikku.


Saat ini kami sedang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, masih menggunakan pakaian lengkap kami tadi. Acara hari ini sudah selesai, tamu-tamu sudah pada pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal keluarga inti saja yang masih di rumah, sisanya, jelas memilih untuk kembali ke rumah masing-masing. Istirahat untuk mempersiapkan tenaga untuk acara besok.


Aku hanya mengangguk, sebagai tanda jawaban.


"Padahal baru gini aja lho, pantes Ibu minta ijab qobul sama resepsi dipisah, ternyata kamunya begini. Coba kalau digabung sekalian, bisa-bisa kamu pingsan dan aku gagal dapet jatah malam per--"


Tanpa membiarkan Reynand melanjutkan kalimatnya, aku langsung menimpuk wajahnya menggunakan bantal sofa.


"Heh, nggak boleh durhaka sama suami. Ingat! Nanti kena azab kayak yang di tv-tv gitu loh. Yang judulnya panjangnya ngalahin jalan tol."


Aku terkekeh geli lalu menimpuk wajahnya sekali lagi. "Apaan sih, nggak jelas. Udah, ah, ayo naik! Aku gerah banget nih, udah nggak sabar--"


Reynand tiba-tiba berseru heboh, padahal aku belum selesai bicara. Membuat dahiku berkerut, kebingungan.


"Kenapa sih?" tanyaku heran.


"Ternyata istriku agresif, sore belum nyampe aja, udah nggak sabar."


"Apaan sih? Aku nggak paham deh, kamu ini ngomongin apa?"


Aku kemudian memilih diam. Berpikir sejenak, dan mengingat kalau ada yang aneh dari ucapanku. Beberapa detik kemudian aku menyadari maksud dari ucapan Reynand, membuatku langsung menimpuk Reynand sekali lagi.


"Iiih, bukan itu, Rey, maksudnya aku. Aku itu gerah, nggak sabar buat mandi. Otak kamu itu lho, astagfirullah!"


Bukannya bersalah, Reynand malah terbahak puas.


"Iya, iya, bercanda doang, sayang. Udah, yuk! Naik, kita mandi biar nggak gerah. Mau digendong?" tawar Reynand sambil menoleh ke arahku.


Aku menggeleng. "Alay," cibirku judes dan langsung berjalan mendahuluinya.


Sedang Reynand langsung cemberut dan menggerutu, "Dasar nggak romantis!"


Mendengar gerutuannya, aku langsung menoleh ke arahnya. "Romantis nggak bikin kenyang."


"Sadis."


"Realistis, sayang," kataku mengoreksi sambil menyengir.


"Tahu, lah," rajuk Reynand.


Aku terkekeh geli, lalu menyuruhnya segera mandi.


"Nanti, nungguin kamu," balas Reynand tanpa dosa. Ia hanya melepas jas kokonya dan mlah memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Gantian dong, Rey! Sana kamu mandi dulu, aku apus make up dulu."


"Nanti aja deh, aku masih pengen rebahan. Lagian apus make up kan lama."


"Terserah kamu deh, Rey," kataku, akhirnya menyerah.

__ADS_1


Reynand hanya menjawabnya dengan gumanan dan acungan jempol. Membuatku berdecak sebal dan langsung melemparinya menggunakan kapas bekasku membersihkan make up. Reynand tidak protes atau sekedar membuka kedua matanya, hanya berdecak samar dan melemparkan bekas kapasku ke lantai, membuatku memekik heboh.


"Rey, itu kenapa dibuang di lantai?" protesku sebal.


Kali ini Reynand membuka kedua matanya, mendengkus samar lalu melirikku sinis.


"Kamu bahkan melempar ke wajah suamimu, Aqilla. Masa aku yang cuma lempar kapas ke lantai, kamu seheboh itu."


"Itu kapas bekasku, Rey, nanti lantainya kotor," balasku santai.


"Lah, bukannya sama, kapas bekas kalau kena wajahku, kan bikin kotor juga, sayang. Pilih kasih banget sih kamu jadi istri," gerutu Reynand dengan wajah cemberutnya.


Aku terkekeh geli, sambil meletakkan kapas bekasku dan berbalik ke arahnya. "Kan kamu belum mandi, kalau lantainya udah dipell."


"Asem! Jahat banget kamu sumpah!"


Aku kemudian meraih kapas yang baru, lalu menatap Reynand melalui cermin riasku. "Makanya kamu mandi dulu, sana! Kan rebahan abis mandi lebih enak, lebih seger."


"Aku kan setia, yang, nungguin istri dulu gitu loh. Aku sih romantis, enggak kayak kamu."


Aku menghentikan gerakan tanganku yang tadinya sibuk membersihkan wajahku, lalu menatap Reynand sekali lagi melalui cermin kaca dan mencibirnya.


"Nggak usah kebanyakan alesan deh, buruan mandi. Ini aku udah hampir selesai lho," kataku sambil berdecak sebal, karena Reynand malah mengajakku ngobrol, dan bukannya segera mandi.


"Ya, bagus kalau kamu udah mau selesai. Aku tungguin, biar bisa mandi bareng," kata Reynand dengan wajah tanpa dosanya. Membuatku langsung mendelik tajam ke arahnya.


Astagfirullah!


Tolong, siapa pun tahan aku, agar tidak mengumpati suamiku sendiri. Karena lama-lama aku kesal juga menghadapi kelakuan Reynand.


"Rey, jangan mancing keributan, ya. Kita baru resmi jadi sepasang suami istri lho ini."


Dengan wajah bak tak punya dosa, Reynand malah menyengir dan berkata, "Hehe, bumbu, yang, latihan gitu ceritanya. Biar makin kuat."


"Apanya?"


"Dih, mikir jorok pasti."


Aku langsung memutar badanku dan menghadap ke arah Reynand dengan wajah kebingungan. Serius, aku tidak paham apa maksudnya.


"Kenapa jadi mikir jorok?" tanyaku heran.


"Kuat."


"Apa hubungannya kuat sama mikir jorok, Rey?"


"Kamu mah, gitu nggak asik. Pura-pura polos."


Aku menggeleng dramatis. Tidak perduli dengan arah pembicaraannya yang makin ngaco dan tidak aku pahami ini. Dari pada aku-nya stress, mending dibiarin sesuka hatinya.


"Terserah kamu, Rey!" kataku, akhirnya menyerah.


Reynand mangguk-mangguk sambil mengacungkan jempolnya, lalu kembali berbaring di atas ranjang. Membuatku akhirnya kembali memekik heboh.


"Itu kenapa tiduran lagi, Rey? Mandi! Aku nyuruh kamu mandi, Rey! Astagfirullah!"


"Loh, katanya terserah, gimana sih? Kalau terserah, aku mau ngapain aja ya, terserah dong, sayang. Konsisten!"


Seketika aku melongo. Belum genap menikah sehari lho, ini, kok udah begini aja. Ngerebutin sesuatu yang nggak jelas. Ini ke mana adegan manis-manis buah manggisnya?


**Tbc,


aseli, gaje parah. sekedar curhatan nih, susah banget bikin ini part. sedih saya, sampai harus bolak-balik buka google dan youtube 😅 dan akhirnya saya sampai baper gegara nonton ijab qobul orang. astagfirullah! ngerasa ngenesnya saya 😆😂 makanya jadinya gaje parah begini. udah ya, segini aja cuap-cuapnya, blom tentu ada yg respon juga 😆 malangnya nasib saya ya Allah 😂**

__ADS_1


__ADS_2