
####
"Benerkan, ada something?"
Aku hanya mampu menelan ludahku dengan susah payah, saat mendengar nada bicara Monik yang terdengar dingin itu. Tatapan matanya pun tak kalah seram dari nada bicaranya, membuat bulu kudukku berdiri. Meski pada kenyataannya aku dan Reynand tak ada hubungan spesial, entah kenapa aku tetap merasa panik saat dipergoki seperti barusan. Aneh bukan?
"Kalian beneran udah putus?" tanya Monik terlihat jengah.
"Belum," jawabku sambil menundukkan kepala.
"Belum?" ulang Monik terdengar tak percaya. "Kamu berencana putus dengannya?"
"Mo, kok kamu ngomongnya gitu?" protesku tak terima.
"Tahu lah, La, pusing aku ngurusin kisah kamu. Mending pulang. Cuma satu hal yang harus kamu inget! Jangan kasih harapan ke anak orang. Kamu nggak bisa natap orang dengan tatapan memuja kayak tadi di saat hubungan kamu sama Kenzo lagi butuh banyak perhatian. Pikirin pelan-pelan, siapa yang benar-benar ada di hati kamu," pesan Monik panjang lebar.
Lalu melemparkan kunci mobilku ke arahku. Yang untungnya kali ini direspon dengan sangat baik oleh tubuhku.
Sepanjang perjalanan pun suasana di mobil tampak hening. Monik lebih memilih fokus mengutak-atik ponselnya ketimbang mengajakku mengobrol.
"Thanks ya, udah nganterin. Nggak perlu mampirkan?"
Aku tau maksud dari basa-basinya itu hanya bercanda, tapi entah kenapa aku merasa kesal betulan dengannya. Mungkin karena hormon pms kali, ya. Oke. Sepertinya hari ini aku terlalu banyak menyalahkan hormon itu.
Dan setelah memastikan Monik masuk ke dalam rumahnya, aku kembali melajukan mobilku dan kali bertujuan menuju rumah Tante Linda.
****
Drrrt.... Drrrttt.... Drrrtt
Aku memilih menghentikan mobilku, saat merasakan ponselku bergetar. Dengan gerakan sigap, aku menggeser tombol hijau sebelum tadi melihat siapa si penelfon dan langsung menempelkannya di telinga kananku.
"Assalamulaikum, ada apa, San?" tanyaku begitu sambungan terhubung.
"Wallaikumsalam. Mbak Qilla masih di rs? Kok lama bener."
"Enggak, San, ini udah di jalan. Tadi aku mampir ke rumah Tante Linda dulu. Kenapa?"
"Pantesan lama banget. Ini ada Mbak Kesha, nyariin Mbak Qilla. Katanya mau ngomong penting."
Deg.
Kesha. Ke butik. Mau ngomong penting.
Duh. Kenapa perasaanku jadi nggak enak, ya?
"Mbak! Mbak Qilla masih di sana?"
"Iya, aku langsung pulang sekarang."
"Iya, Mbak. Aku matiin, ya? Assalamualaikum."
Aku berdehem sambil mengangguk secara reflek. "Wallaikumsalam."
Dengan sedikit tegang aku pun kembali melajukan mobilku menuju butik. Begitu sampai di butik, aku langsung berlari menuju lantai atas.
"Nggak usah lari-lari, Mbak, aku sabar nunggunya kok," canda Kesha sambil terkekeh. Saat melihatku sedikit ngos-ngosan, begitu sampai di lantai atas. Aku meringis sambil tersenyum canggung.
"Nggak enak sama kamu. Kamu kan jarang main," kataku lalu mendekat padanya.
Kesha langsung berdiri, menjabat tanganku dan menempelkan punggung tanganku ke pipi kirinya.
"Sehat, Mbak?" tanyanya mulai berbasa-basi.
Aku mengangguk, kemudian mempersilahkannya kembali duduk.
__ADS_1
"Aku langsung duluan ya, Mbak Qilla, Bobby udah ngomel-ngomel gara-gara Mbak Qilla lama," bisik Sandra sebelum aku duduk di sofa.
Aku menatap Sandra tajam. Merasa aneh dengan nama pria yang barusan disebut olehnya.
"Kok Bobby? Bukannya kemarin Candra?" tanyaku heran.
Sandra tak menjawab, hanya memasang wajah cengengesannya lalu pamit pada Kesha.
"Kabar keluarga sehat kan?"
"Sehat, Mbak. Ohya, Mbak, Kesha mau minta maaf ya, gara-gara Kesha minta dianterin ke Bogor, Mbak Qilla jadi pergi kondangan sendiri."
Aku tersenyum maklum. "Nggak papa. Ohya, tadi kata Sandra kamu mau ngomong penting. Ada apa?"
Wajah Kesha berubah tegang saat mendengar pertanyaanku. Membuat perasaanku jadi makin tak enak. Apa ini ada hubungannya dengan....
"Ini tentang Mas Kenzo," ucap Kesha tiba-tiba. Kepalanya yang tadi tertunduk, kini sudah terangkat kembali.
Aku mengangguk. Pas. Sesuai dugaanku di awal. Kesha pasti ingin membahas hubungan kami. Sepertinya ia cukup peka dengan hubungan kami yang sedang diterpa masalah.
"Bilang aja nggak papa, Ke," ujarku saat mendapati wajah ragu-ragu kembali menghiasi wajah manisnya.
Dapat ku lihat, tubuhnya yang mendadak tegang saat aku mengatakan kalimatku barusan. Kesha menghembuskan nafasnya panjang sebelum memutuskan untuk menatapku. Sebisa mungkin, aku tersenyum sambil mengangguk, meyakinkan Kesha agar tidak perlu ragu.
"Mbak Qilla sayang kan sama Mas Kenzo."
Dan sekarang, tubuhku yang mendadak tegang. Entah kenapa aku tak langsung menjawab, meski batinku langsung berteriak kalau aku sangat menyayangi Kenzo.
"Kenapa kamu tanya gitu, Ke?"
"Kesha cuma pengen tahu."
"Aku nggak mungkin berusaha mempertahan hubungan ini kalau aku nggak sayang sama Kakak kamu, Ke."
Kesha mengangguk. "Kalau Mbak Qilla sayang sama Mas Kenzo, Mbak Qilla jelas nggak pengen melihat Mas Kenzo menderitakan?"
"Mbak Qilla nggak sadar, kalau ajakan menikah Mas Kenzo yang Mbak Qilla selalu tolak itu nyakitin hati Mas Kenzo?"
Apa?
Oke. Aku tahu, aku sangat sadar jika ajakan Kenzo yang aku tolak itu jelas menyakiti perasaan Kenzo. Tapi aku juga tahu, jika aku maksain diri buat nerima lamarannya, itu jelas lebih menyakiti Kenzo, Kakaknya sendiri.
"Kenapa diem, Mbak?"
"Karena aku nggak cukup yakin kalau jawaban yang aku berikan bakal bikin kamu puas."
"Apa?!" Kesha tampak terkejut.
Aku mengangguk sekali lagi. Memberinya kode agar langsung pada intinya. Karena aku tidak terlalu suka basa-basi.
"Langsung aja, Ke. Aku udah cukup mempersiapkan diri," ujarku meyakinkan.
Kesha tersenyum tak percaya, membuatku ikut tersenyum.
"Aku punya permintaan."
"Katakan!"
"Menikahlah dengan Mas Kenzo atau tinggalkan Mas Kenzo sesegera mungkin."
Deg.
Itu bukan permintaan, tapi perintah.
"Aku mohon, Mbak," pinta Kesha bersungguh-sungguh. Kedua matanya pun tampak berkaca-kaca. "Aku cuma nggak mau liat Mas Kenzo menderita."
__ADS_1
Dari nada bicara dan juga ekspresi wajah yang Kesha tunjukkan, memang membuatku tahu seberapa besar ia menyayangi Kakaknya itu. Membuatku mendadak bimbang. Di satu sisi aku masih ingin berjuang bareng Kenzo, tapi di sisi lain aku juga takut jika apa yang ku inginkan ini benar-benar membuat Kenzo menderita. Jadi aku harus bagaimana?
"Apa menurut kamu kalau Kenzo bareng aku menderita, Ke?"
Tanpa ragu Kesha mengangguk. "Iya, kalau Mas Qilla nggak segera menerima lamaran Mas Kenzo," jawabnya yakin.
"Tahu apa kamu sama kebahagian Mas, Ke?"
Aku dan juga Kesha langsung menoleh secara kompak, saat mendengar suara Kenzo tiba-tiba menyahut di antara obrolan kita.
"Kenzo/Mas Kenzo," desis kami berbarengan.
"Mas nggak nyangka kamu lakuin ini, Ke? Kenapa kamu tega sama Mas? Kamu nggak sadar dengan sikap kamu ini nggak cuma nyakitin perasaan orang yang Mas sayang, tapi perasaan Mas juga. Kamu sadar itu, Ke?" bentak Kenzo penuh dengan emosi. Baru kali ini aku melihat Kenzo semarah ini.
"Kesha cuma pengen ngebantu Mas. Apa itu salah? Kesha tahu Mas selalu kecewa dan juga sedih saat Mbak Qilla tolak ajakan menikah. Mas pikir, Kesha bisa gitu diem aja liat Kakak aku digituin? Enggak, Mas. Aku nggak bisa diem aja. Aku nggak terima."
"Apa kamu bilang?" Tangan Kenzo terangkat, seperti ingin memukul-meski aku tidak yakin akan hal itu-.
Dengan gerakan sigap, aku beranjak berdiri untuk menahannya.
"Mau ngapain kamu, Ken?" tanyaku ikut kesal.
"Aku mau kasih pelajaran buat adikku. Dia adikku, La, kamu nggak usah ikut campur," ketus Kenzo masih terselimuti emosi.
"Dengan cara mukul dia? Kamu lupa gimana kamu berusaha mati-matian jagain adek kamu biar nggak disakiti orang lain? Dan sekarang kamu nyakitin adek kamu pake tangan kamu sendiri? Di depan aku?"
Kenzo menarik nafas pelan, lalu menghembuskan dengan sedikit kasar.
"Maaf," ucapnya lebih kepadaku.
Aku menggeleng. "Kamu harusnya minta maaf sama Kesha. Dia ngelakuin ini buat kamu, karena dia sayang sama kamu, Ken."
Kenzo menatap Kesha yang diam tertunduk di sofa. Helaan nafas kasar kembali terdengar keluar dari mulutnya.
"Kita pulang sekarang!" ajak Kenzo sedikit ketus.
Dan tanpa bersuara Kesha segera berdiri dan turun ke lantai bawah, tanpa pamit kepadaku. Membuat Kenzo kembali emosi.
"Anak itu," geram Kenzo.
"Udah," cegahku sembari mengelus lengannya yang terbungkus kemeja lengan panjang. "Ayo, aku anter sampai depan."
Kenzo mengangguk, menarik tubuhku ke dalam pelukannya sebentar lalu mencium keningku.
"Maafin adek aku, ya?"
Aku mengangguk maklum.
"Kamu keliatan capek banget. Buruan naik sana! Nggak usah nganter sampai depan."
Aku tersenyum senang. Jujur, aku memang sedikit merindukan perhatiannya seperti sekarang ini.
"Nggak papa. Nanggung, udah sampai sini juga," kataku sambil mendorong pintu butik.
"Hehe, iya, udah sampai ternyata. Ya udah, aku langsung pulang. Nanti aku telfon," ucapnya kembali mencium keningku sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Aku mengangguk. "Hati-hati!" Lalu melambaikan tanganku saat mobil Kenzo sudah bergerak perlahan meninggalkan butik.
Aku menghela nafas lelah. Kejadian barusan cukup menguras emosi dan juga tenagaku. Sepertinya aku harus segera masuk dan mandi.
"Wah, saya patah hati liat gebetan saya beneran udah punya pacar."
Tubuhku seketika langsung menegang saat mendengar suara--yang sebenarnya baru beberapa kali ku dengar--namun terdengar begitu familiar di telingaku. Dengan takut-takut aku membalikkan badan. Dan menemukan Reynand dengan wajah kuyunya sedang memainkan kunci motornya.
"Reynand," desisku tanpa mampu menyembunyikan rasa terkejutku.
__ADS_1
Tbc,
😩 masih berjuang untuk segera menyelesaikan ini cerita meski tanpa dukungan😧😢